Senin, 24 Oktober 2011

Faktor-faktor yang mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan



Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Secara
garis besar faktor-faktor tersebut dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu faktor dalam
(internal) dan faktor luar (eksternal/lingkungan). Pertumbuhan dan perkembangan
merupakan hasil interaksi dua faktor tersebut.
Faktor internal terdiri dari perbedaan ras/etnik atau bangsa, keluarga, umur, jenis
kelamin, kelainan genetik, dan kelainan kromosom. Anak yang terlahir dari suatu ras
tertentu, misalnya ras Eropa mempunyai ukuran tungkai yang lebih panjang daripada ras
Mongol. Wanita lebih cepat dewasa dibanding laki-laki. Pada masa pubertas wanita
umumnya tumbuh lebih cepat daripada laki-laki, kemudian setelah melewati masa pubertas
sebalinya laki-laki akan tumbuh lebih cepat. Adanya suatu kelainan genetik dan kromosom
dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, seperti yang terlihat pada
anak yang menderita Sindroma Down.
Selain faktor internal, faktor eksternal/lingkungan juga mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan anak. Contoh faktor lingkungan yang banyak mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan anak adalah gizi, stimulasi, psikologis, dan sosial ekonomi.
Gizi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang
anak. Sebelum lahir, anak tergantung pada zat gizi yang terdapat dalam darah ibu. Setelah
lahir, anak tergantung pada tersedianya bahan makanan dan kemampuan saluran cerna.
Hasil penelitian tentang pertumbuhan anak Indonesia (Sunawang, 2002) menunjukkan
bahwa kegagalan pertumbuhan paling gawat terjadi pada usia 6-18 bulan. Penyebab gagal
tumbuh tersebut adalah keadaan gizi ibu selama hamil, pola makan bayi yang salah, dan
penyakit infeksi.
Perkembangan anak juga dipengaruhi oleh stimulasi dan psikologis.
Rangsangan/stimulasi khususnya dalam keluarga, misalnya dengan penyediaan alat
mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain akan mempengaruhi
anak dlam mencapai perkembangan yang optimal. Seorang anak yang keberadaannya tidak
dikehendaki oleh orang tua atau yang selalu merasa tertekan akan mengalami hambatan di
dalam pertumbuhan dan perkembangan.
Faktor lain yang tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan dan perkembangan anak
adalah faktor sosial ekonomi. Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan,
kesehatan lingkungan yang jelek, serta kurangnya pengetahuan. (Tanuwijaya, 2003).

Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Pertumbuhan organ-organ tubuh mengikuti 4 pola, yaitu pola umum, neural, limfoid,
serta reproduksi. Organ-organ yang mengikuti pola umum adalah tulang panjang, otot
skelet, sistem pencernaan, pernafasan, peredaran darah, volume darah. Perkembangan
otak bersama tulang-tulang yang melindunginya, mata, dan telinga berlangsung lebih dini.
Otak bayi yang baru dilahirkan telah mempunyai berat 25% berat otak dewasa, 75% berat
otak dewasa pada umur 2 tahun, dan pada umur 10 tahun telah mencapai 95% berat otak
dewasa. Pertumbuhan jaringan limfoid agak berbeda dengan dari bagian tubuh lainnya,
pertumbuhan mencapai maksimum sebelum remaja kemudian menurun hingga mencapai
ukuran dewasa. Sedangkan organ-organ reproduksi tumbuh mengikuti pola tersendiri, yaitu
pertumbuhan lambat pada usia pra remaja, kemudian disusul pacu tumbuh pesat pada usia
remaja. (Tanuwijaya, 2003; Meadow & Newell, 2002; Cameron, 2002 ). Perbedaan empat
pola pertumbuhan tersebut tergambar dalam kurva di bawah ini.
Kurva pertumbuhan jaringan dan organ yang memperlihatkan 4 pola pertumbuhan
(Dikutip dari Cameron, 2002).
Usia dini merupakan fase awal perkembangan anak yang akan menentukan
perkembangan pada fase selanjutnya. Perkembangan anak pada fase awal terbagi menjadi
4 aspek kemampuan fungsional, yaitu motorik kasar, motorik halus dan penglihatan,
berbicara dan bahasa, serta sosial emosi dan perilaku. Jika terjadi kekurangan pada salah
satu aspek kemampuan tersebut dapat mempengaruhi perkembangan aspek yang lain.
Kemajuan perkembangan anak mengikuti suatu pola yang teratur dan mempunyai
variasi pola batas pencapaian dan kecepatan. Batasan usia menunjukkan bahwa suatu.
patokan kemampuan harus dicapai pada usia tertentu. Batas ini menjadi penting dalam
penilaian perkembangan, apabila anak gagal mencapai dapat memberikan petunjuk untuk
segera melakukan penilaian yang lebih terperinci dan intervensi yang tepat.

Deteksi Dini Pertumbuhan dan Perkembangan
Penilaian pertumbuhan dan perkembangan dapat dilakukan sedini mungkin sejak
anak dilahirkan. Deteksi dini merupakan upaya penjaringan yang dilaksanakan secara
komprehensif untuk menemukan penyimpangan tumbuh kembang dan mengetahui serta
mengenal faktor resiko pada balita, yang disebut juga anak usia dini. Melalui deteksi dini
dapat diketahui penyimpangan tumbuh kembang anak secara dini, sehingga upaya
pencegahan, stimulasi, penyembuhan serta pemulihan dapat diberikan dengan indikasi yang
jelas pada masa-masa kritis proses tumbuh kembang. Upaya-upaya tersebut diberikan
sesuai dengan umur perkembangan anak, dengan demikian dapat tercapai kondisi tumbuh
kembang yang optimal (Tim Dirjen Pembinaan Kesmas, 1997). Penilaian pertumbuhan dan
perkembangan meliputi dua hal pokok, yaitu penilaian pertumbuhan fisik dan penilaian
perkembangan. Masing-masing penilaian tersebut mempunyai parameter dan alat ukur
tersendiri.
Dasar utama dalam menilai pertumbuhan fisik anak adalah penilaian menggunakan
alat baku (standar). Untuk menjamin ketepatan dan keakuratan penilaian harus dilakukan
dengan teliti dan rinci. Pengukuran perlu dilakukan dalam kurun waktu tertentu untuk menilai
kecepatan pertumbuhan.
Parameter ukuran antropometrik yang dipakai dalam penilaian pertumbuhan fisik
adalah tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, lipatan kulit, lingkar lengan atas, panjang
lengan, proporsi tubuh, dan panjang tungkai. Menurut Pedoman Deteksi Dini Tumbuh
Kembang Balita (Tim Dirjen Pembinaan Kesmas, 1997) dan Narendra (2003) macammacam
penilaian pertumbuhan fisik yang dapat digunakan adalah:
1) Pengukuran Berat Badan (BB)
Pengukuran ini dilakukan secara teratur untuk memantau pertumbuhan dan keadaan
gizi balita. Balita ditimbang setiap bulan dan dicatat dalam Kartu Menuju Sehat Balita
(KMS Balita) sehingga dapat dilihat grafik pertumbuhannya dan dilakukan interfensi
jika terjadi penyimpangan.
2) Pengukuran Tinggi Badan (TB)
Pengukuran tinggi badan pada anak sampai usia 2 tahun dilakukan dengan
berbaring., sedangkan di atas umur 2 tahun dilakukan dengan berdiri. Hasil
pengukuran setiap bulan dapat dicatat pada dalam KMS yang mempunyai grafik
pertumbuhan tinggi badan.
3) Pengukuran Lingkar Kepala Anak (PLKA)
PLKA adalah cara yang biasa dipakai untuk mengetahui pertumbuhan dan
perkembangan otak anak. Biasanya ukuran pertumbuhan tengkorak mengikuti
perkembangan otak, sehingga bila ada hambatan pada pertumbuhan tengkorak
maka perkembangan otak anak juga terhambat. Pengukuran dilakukan pada
diameter occipitofrontal dengan mengambil rerata 3 kali pengukuran sebagai standar.
Untuk menilai perkembangan anak banyak instrumen yang dapat digunakan. Salah
satu instrumen skrining yang dipakai secara internasional untuk menilai perkembangan anak
adalah DDST II (Denver Development Screening Test). DDST II merupakan alat untuk
menemukan secara dini masalah penyimpangan perkembangan anak umur 0 s/d < 6 tahun.
Instrumen ini merupakan revisi dari DDST yang pertama kali dipublikasikan tahun 1967
untuk tujuan yang sama.
Pemeriksaan yang dihasilkan DDST II bukan merupakan pengganti evaluasi
diagnostik, namun lebih ke arah membandingkan kemampuan perkembangan seorang anak
dengan anak lain yang seumur. DDST II digunakan untuk menilai tingkat perkembangan
anak sesuai umurnya pada anak yang mempunyai tanda-tanda keterlambatan
perkembangan maupun anak sehat. DDST II bukan merupakan tes IQ dan bukan
merupakan peramal kemampuan intelektual anak di masa mendatang. Tes ini tidak dibuat
untuk menghasilkan diagnosis, namun lebih ke arah untuk membandingkan kemampuan
perkembangan seorang anak dengan kemampuan anak lain yang seumur.
Menurut Pedoman Pemantauan Perkembangan Denver II (Subbagian Tumbuh
Kembang Ilmu Kesehatan Anak RS Sardjito, 2004), formulir tes DDST II berisi 125 item yg
terdiri dari 4 sektor, yaitu: personal sosial, motorik halus-adaptif, bahasa, serta motorik
kasar. Sektor personal sosial meliputi komponen penilaian yang berkaitan dengan
kemampuan penyesuaian diri anak di masyarakat dan kemampuan memenuhi kebutuhan
pribadi anak. Sektor motorik halus-adaptif berisi kemampuan anak dalam hal koordinasi
mata-tangan, memainkan dan menggunakan benda-benda kecil serta pemecahan masalah.
Sektor bahasa meliputi kemampuan mendengar, mengerti, dan menggunakan bahasa.
Sektor motorik kasar terdiri dari penilaian kemampuan duduk, jalan, dan gerakan-gerakan
umum otot besar. Selain keempat sektor tersebut, itu perilaku anak juga dinilai secara umum
untuk memperoleh taksiran kasar bagaimana seorang anak menggunakan kemampuannya.

Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Masalah yang sering timbul dalam pertumbuhan dan perkembangan anak meliputi
gangguan pertumbuhan fisik, perkembangan motorik, bahasa, emosi, dan perilaku.
1. Gangguan Pertumbuhan Fisik
Gangguan pertumbuhan fisik meliputi gangguan pertumbuhan di atas normal dan
gangguan pertumbuhan di bawah normal. Pemantauan berat badan menggunakan KMS
(Kartu Menuju Sehat) dapat dilakukan secara mudah untuk mengetahui pola
pertumbuhan anak. Menurut Soetjiningsih (2003) bila grafik berat badan anak lebih dari
120% kemungkinan anak mengalami obesitas atau kelainan hormonal. Sedangkan,
apabila grafik berat badan di bawah normal kemungkinan anak mengalami kurang gizi,
menderita penyakit kronis, atau kelainan hormonal. Lingkar kepala juga menjadi salah
satu parameter yang penting dalam mendeteksi gangguan pertumbuhan dan
perkembangan anak. Ukuran lingkar kepala menggambarkan isi kepala termasuk otak
dan cairan serebrospinal. Lingkar kepala yang lebih dari normal dapat dijumpai pada
anak yang menderita hidrosefalus, megaensefali, tumor otak ataupun hanya merupakan
variasi normal. Sedangkan apabila lingkar kepala kurang dari normal dapat diduga anak
menderita retardasi mental, malnutrisi kronis ataupun hanya merupakan variasi normal.
Deteksi dini gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran juga perlu dilakukan
untuk mengantisipasi terjadinya gangguan yang lebih berat. Jenis gangguan penglihatan
yang dapat diderita oleh anak antara lain adalah maturitas visual yang terlambat,
gangguan refraksi, juling, nistagmus, ambliopia, buta warna, dan kebutaan akibat
katarak, neuritis optik, glaukoma, dan lain sebagainya. (Soetjiningsih, 2003). Sedangkan
ketulian pada anak dapat dibedakan menjadi tuli konduksi dan tuli sensorineural.
Menurut Hendarmin (2000), tuli pada anak dapat disebabkan karena faktor prenatal dan
postnatal. Faktor prenatal antara lain adalah genetik dan infeksi TORCH yang terjadi
selama kehamilan. Sedangkan faktor postnatal yang sering mengakibatkan ketulian
adalah infeksi bakteri atau virus yang terkait dengan otitis media.
2. Gangguan perkembangan motorik
Perkembangan motorik yang lambat dapat disebabkan oleh beberapa hal. Salah satu
penyebab gangguan perkembangan motorik adalah kelainan tonus otot atau penyakit
neuromuskular. Anak dengan serebral palsi dapat mengalami keterbatasan
perkembangan motorik sebagai akibat spastisitas, athetosis, ataksia, atau hipotonia.
Kelainan sumsum tulang belakang seperti spina bifida juga dapat menyebabkan
keterlambatan perkembangan motorik. Penyakit neuromuscular sepeti muscular distrofi
memperlihatkan keterlambatan dalam kemampuan berjalan. Namun, tidak selamanya
gangguan perkembangan motorik selalu didasari adanya penyakit tersebut. Faktor
lingkungan serta kepribadian anak juga dapat mempengaruhi keterlambatan dalam
perkembangan motorik. Anak yang tidak mempunyai kesempatan untuk belajar seperti
sering digendong atau diletakkan di baby walker dapat mengalami keterlambatan dalam
mencapai kemampuan motorik.
3. Gangguan perkembangan bahasa
Kemampuan bahasa merupakan kombinasi seluruh system perkembangan anak.
Kemampuan berbahasa melibatkan kemapuan motorik, psikologis, emosional, dan
perilaku (Widyastuti, 2008). Gangguan perkembangan bahasa pada anak dapat
diakibatkan berbagai faktor, yaitu adanya faktor genetik, gangguan pendengaran,
intelegensia rendah, kurangnya interaksi anak dengan lingkungan, maturasi yang
terlambat, dan faktor keluarga. Selain itu, gangguan bicara juga dapat disebabkan
karena adanya kelainan fisik seperti bibir sumbing dan serebral palsi. Gagap juga
termasuk salah satu gangguan perkembangan bahasa yang dapat disebabkan karena
adanya tekanan dari orang tua agar anak bicara jelas (Soetjingsih, 2003).
4. Gangguan Emosi dan Perilaku
Selama tahap perkembangan, anak juga dapat mengalami berbagai gangguan yang
terkait dengan psikiatri. Kecemasan adalah salah satu gangguan yang muncul pada
anak dan memerlukan suatu intervensi khusus apabila mempengaruh interaksi sosial
dan perkembangan anak. Contoh kecemasan yang dapat dialami anak adalah fobia
sekolah, kecemasan berpisah, fobia sosial, dan kecemasan setelah mengalami trauma.
Gangguan perkembangan pervasif pada anak meliputi autisme serta gangguan perilaku
dan interaksi sosial. Menurut Widyastuti (2008) autism adalah kelainan neurobiologis
yang menunjukkan gangguan komunikasi, interaksi, dan perilaku. Autisme ditandai
dengan terhambatnya perkembangan bahasa, munculnya gerakan-gerakan aneh seperti
berputar-putar, melompat-lompat, atau mengamuk tanpa sebab.


A.Pendahuluan
Mengamati seorang anak yang sedang berkembang
merupakan hal yang sangat menarik. Ia berkembang dari
bayi yang sedang terlentang pasif, kemudian dapat
tengkurap, duduk, berdiri, berjalan sampai
berlari-lari dengan aktif. Dari tidak mengerti
apa-apa, mengoceh, kemudian dapat berbicara. Proses
perkembangan otak yang optimal sesuai dengan tahapan
umurnya.
Perkembangan dapat dibagi menjadi perkembangan motorik
kasar, perkembangan pemecahan masalah visuo-motor yang
merupakan gabungan fungsi penglihatan dan motorik
halus, perkembangan bahasa dan perkembangan sosial.
Sebenarnya perkembangan seorang anak merupakan suatu
kesatuan yang utuh, pembagian tersebut semata-mata
hanya untuk memudahkan pengamatan, diagnosis dan
penanganan bila terdapat suatu penyimpangan.
Hubungan perkembangan motorik kasar dengan kecerdasan
di kemudian hari sangat sedikit, anak yang menderita
redartasi mental tidak selalu mengalami keterlambatan
perkembangan motorik kasar sedangkan anak dengan
perkembangan motorik kasar yang sangat cepat belum
tentu merupakan anak yang cerdas. Mengenai
perkembangan motorik kasar tidak dibicarakan hari ini.

Sesuai topik Autisma, yang penting diketahui adalah
perkembangan bahasa dan pemecahan masalah visuo-motor.
Kedua jenis perkembangan ini sangat berhubungan dengan
kemampuan intelek di kemudian hari.
Perkembangan motorik halus dan pemecahan masalah
visuo-motor
Perkembangan motorik halus dan pemecahan masalah
visuo-motor adalah kemampuan tangan dan jari-jari
serta koordinasi mata-tangan untuk memanipulasi
lingkungan. Sebagai contoh, misalnya seorang bayi
melihat suatu benda yang menarik perhatiannya
(visual). Ia berpikir bagaimana cara mendapat benda
yang menarik tersebut (kecerdasan). Ia akan merangkak
mendekati benda tersebut (lokomosi dan postur),
kemudian meraih benda tersebut dengan jari-jarinya dan
benda tersebut dimasukkan ke mulutnya (motorik halus).
Jelaslah bahwa kemampuan ini dipengaruhi oleh
matangnya fungsi motorik berupa postur dan koordinasi
saraf-otot yang baik, fungsipenglihatan yang akurat
dan kecerdasan. Kemampuan memecahkan masalah
visuo-motor merupakan indikator yang baik dari
intelegensi si kemudian hari. Bila ada gangguan, harus
dibedakan apakah penyebabnya motorik, gangguan
penglihatan atau kecerdasan.
Kontrol tangan dimuali dari bahu yang menghasilakan
gerak lengan yang kasar, menjadi gerak siku yang baik
dan akhirnya gerak pergelangan tangan dan jari-jari.
Gerak mengambil benda dimulai dari mengambil dengan
genggaman seluruh tangan kemudian menggunakan
jari-jari untuk melakukan pincer grasp (menjumput
dengan dua jari).

 Tahapan perkembangan motorik halus dan pemecahan
masalah visuo-motor

Visual
Fiksasi pandangan lahir
Mengikuti benda melaui garis tengah 2 bulan
Mengetahui adanya benda kecil 5 bulan

Motorik Halus
Telapak tangan terbuka 3 bulan
Menyatukan kedua tangan 4 bulan
Memindahkan benda antara kedua tangan 5 bulan
Meraih unilateral 6 bulan
Pincer grasp imatur 9 bulan
Pincer grasp matur dengan jari 11 bulan
Melepaskan benda dengan sengaja 12 bulan

Pemecahan Masalah
Memeriksa benda 7-8 bulan
Melemparkan benda 9 bulan
Membuka penutup mainan 10 bulan
Meletakkan kubus di bawah gelas 11 bulan


Menggambar
Mencoret 12 bulan
Meniru membuat garis 15 bulan
Membuat garis spontan 18 bulan
Membuat garis horisontal dan vertikal 25-27 bulan
Meniru membuat lingkaran 30 bulan
Membuat lingkaran spontan tanpa melihat contoh 3 tahun


Melaksanakan Tugas
Memasukkan biji ke dalam botol 12 bulan
Melepaskan biji dengan meniru 14 bulan
Melepaskan biji spontan 16 bulan


Menyusun Kubus (gunakan kubus dengan sisi 2,5 cm)
Menyusun 2 kubus 15 bulan
Menyusun 3 kubus 16 bulan
Kereta api dengan 4 kubus 2 tahun
Kereta api dengan cerobong asap 2,5 tahun
Jembatan dari 3 kubus 3 tahun
Pintu gerbang dari 5 kubus 4 tahun
Tangga dan dinding dari beberapa kubus tanpa melihat
contoh 6 tahun


Makan
Makan biskuit yang dipegang 9 bulan
Minum dari gelas sendiri/menggunakan sendok 12 bulan


Berpakaian
Membuka baju sendiri 24 bulan
Memakai baju 36 bulan
Membuka kancing 36 bulan
Memasang kancing 48 bulan
Mengikatkan tali sepatu 60 bulan

Keterlambatan perkembangan motorik halus
Adanya
keterlambatan harus difikirkan bila ditemukan hal
berikut :

* Tidak mau memegang atau mengenal benda yang
diletakkan di tangannya pada usia 4 bulan
* Tangan tetap terkepal erat sampai usia 4-5 bulan
* Tidak dapat melakukan gerak menjumput benda kecil
dengan ujung jari sampai 1 tahun
* Tidak dapat melepaskan benda kecil ke dalam gelas
usia 18 bulan
* Tetap bermain dengan jari sampai usia 6-7 bulan
* Tetap memasukkan benda ke dalam mulut disertai
ngiler berlebihan sampai usia 2 tahun

Pada anak yang agak besar, gangguan perkembangan
pemecahan masalah visuo-motor dapat diperiksa secara
bermain dengan anak. Gunakan kubus berukuran 2,5 cm
untuk menguji kemampuan anak. Uji lain dapat dilakukan
dengan menggambar menggunakan crayon. Beberapa
gangguan gerak dapat merupakan bagian dari suatu
kelainan saraf.

* Gerakan seperti mencuci tangan terus menerus pada
anak perempuan dapat merupakan ciri sindrom Rett,
suatu kelainan yang ditandai kemunduran mental seorang
anak.
* Gerakan tangan seperti melambai-lambai disisi tubuh
dapat menjadi salah satu autisma.
* Anak yang bermain monoton dapat menjadi ciri
autisma.

Perkembangan bahasa
Fungsi berbahasa merupakan proses paling kompleks di
antara seluruh fase perkembangan. Fungsi berbahasa
bersama fungsi perkembangan pemecahan masalah
visuo-motor merupakan indikator yang paling baik dari
ada tidaknya gangguan perkembangan intelek. Gabungan
kedua fungsi perkembangan ini akan menjadi fungsi
perkembangan sosial. Perkembangan bahasa memerlukan
fungsi reseptif dan ekspresif. Fungsi reseptif adalah
kemampuan anak untuk mengenal dan bereaksi terhadap
seseorang, terhadap kejadian lingkungan sekitarnya,
mengerti maksud mimik dan nada suara dan akhirnya
mengerti kata-kata. Fungsi ekspresif adalah kemampuan
anak mengutarakan pikirannya, dimulai dari komunikasi
preverbal (sebelum anak dapat berbicara), komunikasi
dengan ekpresi wajah, gerakan tubuh, dan akhirnya
dengan menggunakan kata-kata atau komunikasi verbal.

Fungsi berbahasa pada bayi baru lahir
Fungsi reseptif terlihat dengan adanya reaksi terhadap
suara. Hal ini pada mulanya bersifat refleks. Kemudian
ia memperlihatkan respons motorik berupa terdiam kalau
mendengar suara, mengedip, atau seperti gerak
terkejut. Fungsi ekspresif muncul berupa mengeluarkan
suara tenggorok misalnya bertahak, batuk dan menangis.
Fungsi suara tenggorok berangsur menghilang umur 2
bulan, digantikan dengan suara "ooo-ooo". Senyum
sosial telah dapat dilihat pada umur 5 minggu dengan
berbicara atau mengelus pipinya. Senyum simetris,
tidak seperti senyum asimetris yang dapat terlihat
pada saat anak buang air besar atau kecil yang disebut
sebagai meringis. Reaksi orientasi terhadap bunyi
seperti respons motorik, mengedip atau gerakan seperti
kaget merupakan hal yang penting untuk diperhatikan.
C.2. Fungsi berbahasa pada umur 2-12 bulan

Pada umur 2 bulan, bayi dapat mengeluarkan suara
"ooo-ooo" dengan irama yang musikal. Pada umur 4
bulan, terdengar suara "agguuu-aguuu". Pada umur 6
bulan terdengar anak dapat menggumam. Pada umur 8
bulan ia dapat mengucapkan "dadada" lalu menjadi
"dada" yang belum berarti, disusul "dada" yang
diucapkan saat ia melihat ayahnya. "Mama" akan muncul
lebih belakang. Ia dapat mengerti "Tidak boleh!" yang
disertai suara nada tinggi pada umur 9 bulan. Pada
umur 11 bulan ia dapat mengucapkan kata pertama yang
benar, disusul kata kedua pada umur 1 tahun. Orientasi
terhadap bel dapat digunakan untuk menguji kemampuan
reseptif dan orientasi. Pada umur 5 bulan ia menoleh
tetapi tidak menatap kepada suara. Umur 7 bulan
menoleh dan menatap sumber suara. Umur 10 bulan ia
mencari dan menatap sumber suara. Bel tidak dapat
digunakan untuk menguji pendengaran dengan baik.

Keterlambatan, disosiasi dan deviansi

Kemungkinan adanya kesulitan berbahasa harus
difikirkan bila seorang anak terlambat mencapai
tahapan unit bahasa yang sesuai untuk umurnya. Unit
bahasa tersebut dapat berupa suara, kata, dan kalimat.
Selanjutnya fungsi berbahasa diatur pula oleh aturan
tata bahasa, yaitu bagaimana suara membentuk kata,
kata membentuk kalimat yang benar dan seterusnya.
Keterlambatan bicara terjadi pada 3-15% anak, dan
merupakan kelainan perkembangan yang paling sering
terjadi. Sebanyak 1% anak uang mengalami keterlambatan
bicara tetap tidak dapat bicara. Tiga puluh persen
diantara anak yang mengalami keterlambatan ringan akan
sembuh sendiri, tetapi 70% diantaranya akan mengalami
kesulitan berbahasa, kurang pandai atau berbagai
kesulitan belajar lainnya. Kemampuan berbahasa sangat
terlambat bila :

* Bayi tidak mau tersenyum sosial sampai 10 minggu
* Bayi tidak mengeluarkan suara sebagai jawaban pada
usia 3 bulan
* Tidak ada perhatian terhadap sekitar sampai usia 8
bulan
* Tidak bicara sampai usia 15 bulan
* Tidak mengucapkan 3-4 kata sampai usia 20 bulan

Disosiasi ditandai perbedaan yang bermakna antara
kecepatan perkembangan 2 fase yang berbeda. Hal ini
penting untuk deteksi gangguan komunikasi, dimana
fungsi bahan jelas tertinggal dari fungsi pemecahan
masalah. Pada retardasi mental, keduanya terlambat
sedangkan pada gangguan motorik yang disebut sebagai
palsi selebral fungsi motorik terlambat dibandingkan
fungsi bahasa dan pemecahan masalah. Deviansi
menunjukkkan progresi berbahasa yang tidak teratur
atau tidak menurut aturan yang seharusnya. Keadaan
inilah yang sering lolos dari pemeriksaan.
Kadang-kadang salah diagnosis sebagai kelainan jiwa.
Misalnya anak berumur 15 bulan sudah mempunyai
perbendaharaan kata 10-15 kata (kemampuan anak 18-20
bulan) tetapi tidak menunjukkan jargoning yang imatur
(kemampuan anak 14-15 bulan) terlihat juga adanya kata
yang diucapkan tetapi tidak dimengerti artinya. Pada
anak prasekolah, misalnya dapat membuat kalimat 5 – 6
kata tetapi perbendaharaan baru terbatas pada 200-300
kata (kemampuan anak berumur 2,5 tahun). Deviansi yang
hebat sering terlihat dan menjadi ciri autisma. Dalam
keadaan ini kemampuan ekspresif lebih menonjol
dibandingkan kemampuan reseptif.

Penyebab gangguan bicara dan berbahasa

Redartasi mental. Redartasi mental adalah kurangnya
kepandaian seorang anak dibandingkan anak lain
seusianya. Redartasi mental merupakan penyebab
terbanyak dari gangguan bahasa. Pada kasus redartasi
mental, keterlambatan berbahasa selalu disertai
keterlambatan dalam bidang pemecahan masalah
visuo-motor.

Gangguan pendengaran. Anak yang mengalami gangguan
pendengaran kurang mendengar pembicaraan disekitarnya.
Gangguan pendengaran selalu harus difikirkan bila ada
keterlambatan bicara. Pengobatan dengan pemasangan
alat bantu dengar akan sangat membantu bila kelainan
ini dideteksi sejak awal. Pada anak yang mengalami
gangguan pendengaran tetapi kepandaian normal,
perkembangan berbahasa sampai 6-9 bulan tampaknya
normal dan tidak ada kemunduran. Kemudian menggumam
akan hilang disusul hilangnya suara lain dan anak
tampaknya sangat pendiam. Adanya kemunduran ini juga
seringkali dicurigai sebagai kelainan saraf
degeneratif.

Gangguan bicara karena kelainan organ bicara. Keadaan
ini tidak dibahas disisni.

Gangguan berbahasa sentral adalah ketidak sanggupan
untuk menggabungkan kemampuan pemecahan masalah dengan
kemampuan berbahasa yang selalu lebih rendah. Ia
sering menggunakan mimik untuk menyatakan kehendaknya
seperti pada pantomim. Pada usia sekolah, terlihat
dalam bentuk kesulitan belajar.

Yang paling berat adalah autisma yang merupakan
gangguan komunikasi yang paling menunjukkan deviansi.
Istilah autisma digunakan untuk ciri gangguan
berbahasa dan tingkah laku. Hal yang lebih mendalam
tentang autisma akan dibahas oleh pembicara lain.


Mutisme selektif biasanya terlihat pada anak berumur
3-5 tahun, yang tidak mau bicara pada keadaan
tertentu, misalnya di sekolah atau bila ada orang
tertentu. Atau kadang-kadang ia hanya mau bicara pada
orang tertentu, biasanya anak yang lebih tua. Keadaan
ini lebih banyak dihubungkan dengan kelainan yang
disebut sebagai neurosis atau gangguan motivasi.
Keadaan ini juga ditemukan pada anak dengan gangguan
komunikasi sentral dengan intelegensi yang normal atau
sedikit rendah.

Deprivasi. Dalam keadaan ini anak tidak mendapat
rangsang yang cukup dari lingkungannya. Apakah
stimulasi yang kurang akan menyebabkan gangguan
berbahasa? Penelitian menunjukkan sedikit
keterlambatan bicara, tetapi tidak berat. Bilamana
anak yang kurang mendapat stimulasi tersebut juga
mengalami kurang makan atau child abuse, maka kelainan
berbahasa dapat lebih berat karena penyebabnya bukan
deprivasi semata-mata tetapi juga kelainan saraf
karena kurang gizi atau child abuse.

Bicara dalam 2 bahasa hanya kadang-kadang saja
menyebabkan keterlambatan. Umumnya anak dapat
menguasai 2 bahasa dengan mudah.

Keterlambatan fungsional: Dalam keadaan ini biasanya
fungsi reseptif sangat baik, dan anak hanya mengalami
gangguan dalam fungsi ekspresif: Ciri khas adalah anak
tidak menunjukkan kelainan neurologis lain.

 Cara membedakan berbagai keterlambatan berbahasa
Dengan memperhatikan fungsi reseptif, ekspresif,
kemampuan pemecahan masalah visuo-motor dan pola
keterlambatan perkembangan, dapat diperkirakan
penyebab kesulitan berbicara.
Diagnosis Bahasa reseptif Bahasa ekspresif Kemampuan
pemecahan masalah visuo-motor Pola perkembangan
Tuli < normal < normal normal Disosiasi
Redartasi mental < normal < normal < normal
Keterlambatan global
Gangguan komunikasi sentral < normal < normal normal
Disosiasi, deviansi
Kesulitan belajar normal, normal normal,< normal
Disosiasi
Autisma normal,< normal Tampaknya normal, normal,
selalu lebih baik dari bahasa Deviansi, disosiasi
Mutisme elektif normal normal normal,< normal
Keterlambatan fungsional normal < normal normal Hanya
ekspresif yang terganggu


Kesimpulan
Dalam perkembangannya menjadi manusia dewasa, seorang
anak berkembang melalui tahapan tertentu. Diantara
jenis perkembangan, yang paling penting untuk
menentukan kemampuan intelegensi di kemudian hari
adalah perkembangan motorik halus dan pemecahan
masalah visuo-motor, serta perkembangan berbahasa.
Kemudian keduanya berkembang menjadi perkembangan
sosial yang merupakan adaptasi terhadap lingkungan.
Walaupun kecepatan perkembangan setiap anak
berbeda-beda, kita harus waspada apabila seorang anak
mengalami keterlambatan perkembangan atau penyimpangan
perkembangan. Untuk mendeteksi keterlambatan, dapat
digunakan 2 pendekatan : Yang pertama adalah
menyerahkan kepada orang tua, nenek, guru atau
pengasuh untuk melaporkan bila anak mengalami
kesulitan berbahasa. Kerugian cara ini adalah bahwa
orang tua sering menganggap bahwa anak akan dapat
menyusul keterlambatannya dikemudian hari dan cukup
ditunggu saja, atau nenek mengatakan bahwa ayah atau
ibu juga terlambat bicara, atau anggapan bahwa anak
yang cepat jalan akan lebih lambat bicara.
Kadang-kadang disulitkan oleh reaksi menolak dari
orang tua yang tidak mengakui bahwa anak mengalami
keterlambatan bicara Pendekatan kedua adalah dengan
deteksi aktif, membandingkan apakah seorang anak dapat
melakukan fungsi bahasa yang sesuai dengan baku untuk
anak seusianya. Pendekatan kedua juga mempunyai
kelemahan yaitu akan terlalu banyak anak yang
diidentifikasi sebagai "abnormal" karena bicara
terlambat. Sebagian besar diantaranya memang secara
alamiah akan menyusul bicara dikemudian hari.
Kadang-kadang masih ditemukan dokter yang dengan
ringan mengatakan : "Tidak apa-apa, ditunggu saja".
Menurut hemat saya peran orang tua untuk melaporkan
kecurigaannya dan peran dokter untuk menanggapi
keluhan tersebut sama pentingnya dalam penatalaksanaan
anak. Bila dijumpai keterlambatan atau penyimpangan
harus dilakukan pemeriksaan atau menentukan apakah hal
tersebut merupakan variasi normal atau suatu kelainan
yang serius. Jangan berpegang pada pendapat :"Nanti
juga akan berkembang sendiri" atau "Anak semata-mata
hanya terlambat sedikit" tanpa bukti yang kuat, yang
akan mengakibatkan diagnosis yang terlambat dan
penatalaksan
aan yang semakin sulit.

                                                                                                 By : yeyen

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar