Kamis, 27 September 2012

skenario 3 blok 13


Haloha teman2..kembali bersama mimin disini..:DD .,sekali lg skenario kita kali ini agak ngambang krena di modul Cuma bertuliskan suruh liat di vcd..=____=,,tap tenang aja ada bocoran ttg psikotik tapi karena psikotik juga luas  jadi maap kl tdk terlalu menjurus.,tak perlu berlma2 lg,,lngsng aja ya tman2..semoga bermanfaat.:DD

kata''''psikosis pertama kali digunakan oleh Ernst von Feuchtersleben pada tahun 1845 sebagai alternatif untuk kegilaan dan mania dan berasal dari bahasa Yunani''ψύχωσις''(''''psikosis), "jiwa memberikan atau hidup, menghidupkan , mempercepat "dan bahwa dari''ψυχή''(''''psyche)," jiwa "dan akhiran''-ωσις''(''-osis''), dalam hal ini" kondisi normal ".

Kata itu digunakan untuk membedakan gangguan yang dianggap gangguan pikiran, sebagai lawan dari "neurosis", yang dianggap berasal dari gangguan sistem saraf.
Para psikosis sehingga menjadi setara modern gagasan lama kegilaan, dan karenanya ada banyak perdebatan tentang apakah hanya ada satu (kesatuan) atau berbagai bentuk penyakit baru.
Pembagian psikosis utama ke penyakit manic depressive (sekarang disebut gangguan bipolar) dan dementia praecox (sekarang disebut schizophrenia) dibuat oleh Emil Kraepelin, yang mencoba untuk membuat sintesis dari berbagai gangguan mental yang diidentifikasi oleh psikiater abad ke-19, oleh penyakit pengelompokan bersama berdasarkan klasifikasi gejala umum.

PSIKOTIK/PSYCHOTIC

Psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidak mampuan individu menilai kenyataan yang terjadi, misalnya terdapat halusinasi, waham atau perilaku kacau/aneh. Psikotik yang dibahas pada kali  ini yaitu psikotik akut dan kronik.

Gangguan Psikotik Akut
Gambaran utama perilaku:

  • Perilaku yang diperlihatkan oleh pasien yaitu :
  • Mendengar suara-suara yang tidak ada sumbernya
  • Keyakinan atau ketakutan yang aneh/tidak masuk akal
  • Kebingungan atau disorientasi
  • Perubahan perilaku; menjadi aneh atau menakutkan seperti menyendiri, kecurigaan berlebihan, mengancam diri sendiri, orang lain atau lingkungan, bicara dan tertawa serta marah-marah atau memukul tanpa alasa2. Pedoman diagnostik

Untuk menegakkan diagnosis gejala pasti gangguan psikotik akut adalah sebagai berikut :

  • Halusinasi (persepsi indera yang salah atau yang dibayangkan : misalnya, mendengar suara yang tak ada sumbernya atau melihat sesuatu yang tidak ada bendanya)
  • Waham (ide yang dipegang teguh yang nyata salah dan tidak dapat diterima oleh kelompok sosial pasien, misalnya pasien percaya bahwa mereka diracuni oleh tetangga, menerima pesan dari televisi, atau merasa diamati/diawasi oleh orang lain)
  • Agitasi atau perilaku aneh (bizar)
  • Pembicaraan aneh atau kacau (disorganisasi)
  • Keadaan emosional yang labil dan ekstrim (iritabel)

Diagnosis banding
Selain diagnosis pasti, ada diagnosis banding untuk psikotik akut ini karena dimungkinkan adanya gangguan fisik yang bisa menimbulkan gejala psikotik.

  • Epilepsi
  • Intoksikasi atau putus zat karena obat atau alkohol
  • Febris karena infeksi
  • Demensia dan delirium atau keduanya
  • Jika gejala psikotik berulang atau kronik, kemungkinan skizofrenia
  • Jika terlihat gejala mania (suasana perasaan meninggi, percIstilah skizofrenia berasal dari kata schizos : pecah belah danphren: jiwa. Skizofrenia menjelaskan mengenai suatu gangguan jiwa dimana penderita mengalami perpecahan jiwa adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan perbuatan, Kraepelin seorang ahli kedokteran jiwa dari kota Munich memaparkan skizofrenia sebagai bentuk kemunduran intelegensi sebelum waktunya yang dinamakannya demensia prekox (demensia : kemunduran intelegensi) prekox (muda, sebelum waktunya).
  • Ada banyak perkiraan sebagai penyebab terjadinya skizofrenia, baik yang berasal dari badaniah (somatogenik) maupun psikologis (psikogenik). Perkiraan penyebab skizofrenia yang berasal dari segi fisik yang pertama adalah berasal dari faktor genetik atau faktor keturunan, hal ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga penderita skizofrenia. Potensi untuk mendapatkan skizofrenia tidak langsung diturunkan melalui gen resesif, potensi ini mungkin kuat tapi mungkin lemah sebab selanjutnya juga akan tergantung pada lingkungan individu apakah akan menjadi skizofrenia atau tidak. Sama seperti penderita diabetes mellitus walaupun ia adalah resesif diabetes namun jika ia dapat menjaga pola hidup yang sehat maka ia tidak akan menderita diabetes. Selanjutnya adalah kelainan susunan syaraf pusat, yang terletak pada diensefalon atau kortex otak, kelainan tersebut mungkin disebabkan oleh perubahan postmortem.
  • Ada beberapa ahli yang menjelaskan mengenai teori psikogenik yang pertama adalah teori Adolf Meyer, menurut meyer skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi, oleh karena itu timbul suatu disorganisasi kepribadian dan lama-kelamaan orang itu menjauhkan diri dari kenyataan (otisme). Kemudian teori Sigmund Freud, menurut Freud dalam skizofrenia terdapat kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenik maupun somatik, superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi dan Id yang berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase narsisisme.
  • Gejala-gejala skizofrenia dibagi menjadi dua yaitu gejala primer dan gejala sekunder, gejala primer diantaranya gangguan proses pikiran (bentuk,langkah dan isi pikiran), gangguan afek dan emosi, gangguan kemauan, banyak penderita dengan skizofrenia mempunyai kelemahan kemauan. Mereka tidak dapat mengambil keputusan dan tidak dapat mengambil tindakan dalam suatu keputusan. Dan yang terakhir adalah gejala psikomotor juga dinamakan gejala katatonik atau gangguan perbuatan. Kemudian gejala sekunder yang terdiri dari waham, waham yang diderita penderita skizofrenik sering tida logis dan bizar. Tetapi penderita tidak memahami hal tersebut dan menganggap bahwa wahamnya merupakan fakta dan tidak dapat diubah oleh siapapun. Gejala sekunder yang kedua adalah halusinasi, pada skizofrenia halusinasi timbul tanpa ada penurunan kesadaran dan hal ini merupakan suatu gejala yang hampir tidak dijumpai pada keadaan lain. Paling sering pada skizofrenia adalah halusinasi pendengaran, halusinasi penciuman, halausinasi citarasa atau halusinasi taktil (singgungan).
Kraepelin membagi skizofrenia mejadi beberapa jenis:
  • 1. Skizofrenia kompleks, gejala utama pada jenis simplex adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan.
  • 2. Jenis bebefrenik, gejala yang menonjol adalah gangguan proses berfikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi atau double personality.
  • 3. Jenis katatonik, biasanya akut dan didahului oleh stress emosional, dapat terjadi stupor katatonik (penderita tidak menampakkan sama sekali ketertarikannya terhadap lingkungannya) dan gaduh gelisah katatonik ( terdapat hiperaktifitas motorik, tetapi tidak disertai emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi rangsangan dari luar).
  • 4. Jenis paranoid, gejala-gejala yang menyolok adalah waham primer disertai dengan waham-waham sekunder dan halusinasi.
  • 5. Episoda skizofrenia akut, gejala skizofrenia muncul mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan mimpi. Dalam keadaan ini seakan-akan dunia luar dan dirinya sendiri berkabut.
  • 6. Skizofrenia residual gejala yang menyolok adalah gangguan afek dan emosi, gangguan pikiran dan kemauan.
  • 7. Jenis skizo-afektif disamping gejala skizofrenia menonjol pada saat bersamaan juga gejala depresi atau gejala mania.
  • Jenis- jenis pengobatan pada skizofrenia:
  • 1. Farmakologi, pemberian neroleptika dosis rendah untuk skizofrenia menahun sedangkan dosis yang lebih tinggi diberikan pada penderita dengan psikomotorik yang meningkat.
  • 2. Terapi elektro-konvulsi (TEK) terapi konvulsi dapat memperpendek serangan skizofrenia dan mempermudah kontak dengan penderita.
  • 3. Terapi koma insulin, bila diberikan pada permulaan penyakit, maka akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
  • 4. Psikoterapi dan rehabilitasi, psikoterapi yang dilakukan berbentuk suportif individual atau kelompok serta bimbingan yang praktis dengan maksud untuk mengembalikan penderita ke masyarakat.
  • 5. Lobotomi prefrontal, dilakukan bila terapi lain secara intensif tidak berhasil dan bila penderita sangat mengganggu lingkungannya.
  • Pengobatan pada skizofrenia tidak dapat sempurna sembuh tetapi dengan pengobatan dan bimbingan yang baik penderita dapat ditolong untuk berfungsi terus, bekerja sederhna dirumah ataupun diluar rumah. Keluarga atau orang lain dilingkungan penderita diberi penerangan (manipulasi lingkungan) agar mereka lebih sabar menghadapinya.
  • Kata kunci pencarian:
  • skizofrenia, pengertian schizophrenia, kecemasan pdf, schizophrenia psikologis, pengertian psikologi menurut sigmund freud, kecemasan menurut sigmund freud, psikologi menurut sigmund freud, pengertian gangguan jiwa menurut who, psikologi kognitif pada ibu hamil, sigmund freud, definisi skizofrenia menurut who, kecemasan kecemasan yang dikemukakan sigmund freud adalah, kecemasan moral sigmund freud, teori sigmund freud pdf, psikologi dalam menurut S Freud, makalah tentang sigmund freud dan teori gangguan jiwa, definisi schizophrenia menurut who, makalah penggolongan gangguan jiwa di indonesia, zkisofrenia, psikologi perkembangan menurut s freud
  • ketepatan bicara atau proses pikir, harga diri berlebihan), pasien mungkin sedang mengalami suatu episode maniak
  • Jika suasana perasaan menurun atau sedih, pasien mungkin sedang mengalami depresi

Penatalaksanaan
Pertama, saudara harus dapat memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang psikotik akut berikut hak dan kewajibannya

Informasi yang perlu untuk pasien dan keluarga
Untuk lebih memahami dan memperjelas isi dan metode pemberian informasi yang akan disampaikan saudara dapat dibaca lebih lengkap pada modul VI B tentang asuhan keperawatan pasien halusinasi, waham, isolasi sosial. Beberapa informasi yang perlu disampaikan pada pasien dan keluarga antara lain tentang :

  • Episode akut sering mempunyai prognosis yang baik, tetapi lama perjalanan penyakit sukar diramalkan hanya dengan melihat dari satu episode akut saja
  • Agitasi yang membahayakan pasien, keluarga atau masyarakat, memerlukan hospitalisasi atau pengawasan ketat di suatu tempat yang aman. Jika pasien menolak pengobatan, mungkin diperlukan tindakan dengan bantuan perawat kesehatan jiwa masyarakat dan perangkat desa serta keamanan setempat
  • Menjaga keamanan pasien dan individu yang merawatnya:

  1. Keluarga atau teman harus mendampingi pasien
  2. Kebutuhan dasar pasien terpenuhi (misalnya, makan, minum, eliminasi dan kebersihan)
  3. Hati-hati agar pasien tidak mengalami cedera

Konseling pasien dan keluarga

  1. Bantu keluarga mengenal aspek hukum yang berkaitan dengan pengobatan psikiatrik antara lain : hak pasien, kewajiban dan tanggung jawab keluarga dalam pengobatan pasien
  2. Dampingi pasien dan keluarga untuk mengurangi stress dan kontak dengan stresor
  3. Motivasi pasien agar melakukan aktivitas sehari-hari setelah gejala membaik


Pengobatan
Program pengobatan untuk psikotik akut :
1. Berikan obat antipsikotik untuk mengurangi gejala psikotik :
• Haloperidol 2-5 mg, 1 sampai 3 kali sehari, atau
• Chlorpromazine 100-200 mg, 1 sampai 3 kali sehari
Dosis harus diberikan serendah mungkin untuk mengurangi efek samping, walaupun beberapa pasien mungkin memerlukan dosis yang lebih tinggi
(2). Obat antiansietas juga bisa digunakan bersama dengan neuroleptika untuk mengendalikan agitasi akut (misalnya: lorazepam 1-2 mg, 1 sampai 3 kali sehari)
(3). Lanjutkan obat antipsikotik selama sekurang-kurangnya 3 bulan sesudah gejala hilang.
Apabila saudara menemukan pasien gangguan jiwa di rumah dengan perilaku di bawah ini, lakukan kolaborasi dengan tim untuk mengatasinya.
• Kekakuan otot (Distonia atau spasme akut), bisa ditanggulangi dengan suntikan benzodiazepine atau obat antiparkinson
• Kegelisahan motorik berat (Akatisia), bisa ditanggulangi dengan pengurangan dosis terapi atau pemberian beta-bloker
• Gejala parkinson (tremor/gemetar, akinesia), bisa ditanggulangi dengan obat antiparkinson oral (misalnya, trihexyphenidil 2 mg 3 kali sehari)

5). Rujukan
Tindakan rujukan diperlukan bila terjadi kondisi-kondisi yang tidak dapat diatasi melalui tindakan yang sudah dilakukan sebelumnya khususnya pada :
• Kasus baru gangguan psikotik
• Kasus dengan efek samping motorik yang berat atau timbulnya demam, kekakuan, hipertensi, hentikan obat antipsikotik lalu rujuk


Gangguan Psikotik kronik
Gambaran perilaku
Untuk menetapkan diagnosa medik psikotik kronik data berikut merupakan perilaku utama yang secara umum ada.

  • Penarikan diri secara sosial
  • Minat atau motivasi rendah, pengabaian diri
  • Gangguan berpikir (tampak dari pembicaraan yang tidak nyambung atau aneh)
  • Perilaku aneh seperti apatis, menarik diri, tidak memperhatikan kebersihan yang dilaporkan keluarga

Perilaku lain yang dapat menyertai adalah :

  • Kesulitan berpikir dan berkonsentrasi
  • Melaporkan bahwa individu mendengar suara-suara
  • Keyakinan yang aneh dan tidak masuk akal sepert : memiliki kekuatan supranatural, merasa dikejar-kejar, merasa menjadi orang hebat/terkenal
  • Keluhan fisik yang tidak biasa/aneh seperti : merasa ada hewan atau objek yang tak lazim di dalam tubuhnya
  • Bermasalah dalam melaksanakan pekerjaan atau pelajaran

Diagnosa banding
Beberapa kondisi yang dapat menjadi diagnosis banding psikosis akut diantaranya adalah :

  • Depresi jika ditemukan gejala depresi (suasana perasaan yang menurun atau sedih, pesimisme, perasaan bersalah)
  • Gangguan bipolar jika ditemukan gejala mania (eksitasi, suasana perasaan meningkat, penilaian diri yang berlebihan)
  • Intoksikasi kronik atau putus zat karena alkohol atau zat/bahan lain (stimulansia, halusinogenik)
  • Efek penggunaan zat psikoaktif atau gangguan depresif dan gangguan ansietas menyeluruh jika berlangsung setelah satu periode abstinensia (misalnya, sekitar 4 minggu)

Penatalaksanaan
Berikut ini akan diuraikan tentang penatalaksanaan pada pasien psikotik kronik secara medik.

Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga.
tentang asuhan keperawatan pada pasien halusinasi, waham, isolasi sosial, defisit perawatan diri. Beberapa informasi yang dapat saudara sampaikan pada pasien dan keluarga antara lain :

  1. Gejala penyakit jiwa (perilaku aneh dan agitasi)
  2. Antisipasi kekambuhan
  3. Penanganan psikosis akut
  4. Pengobatan yang akan mengurangi gejala dan mencegah kekambuhan
  5. Perlunya dukungan keluarga terhadap pengobatan dan rehabililtasi pasien
  6. Perlunya organisasi kemasyarakatan sebagai dukungan yang berarti bagi pasien dan keluarga

Konseling pasien dan keluarga
Beberapa topik yang dapat menjadi fokus konseling adalah :

  1. Pengobatan dan dukungan keluarga terhadap pasien
  2. Membantu pasien untuk berfungsi pada taraf yang optimal dalam pekerjaan dan kegiatan sehari-hari
  3. Kurangi stress dan kontak dengan stres


Pengobatan
Program pengobatan untuk psikotik kronik :
1. Antipsikotik yang mengurangi gejala psikotik :
• Haloperidol 2-5 mg; 1 – 3 kali sehari
• Chlorpromazine 100-200 mg ; 1 – 3 kali sehari
Dosis harus serendah mungkin; hanya untuk menghilangkan gejala, walaupun beberapa pasien mungkin membutuhkan dosis yang lebih tinggi
2. Obat anti psikotik diberikan sekurang-kurangnya 3 bulan sesudah episode pertama penyakitnya dan lebih lama sesudah episode berikutnya
3. Obat antipsikotik mempunyai efek jangka panjang yang disuntikkan jika pasien gagal untuk minum obat oral
4. Berikan terapi untuk mengatasi efek samping yang mungkin timbul :

  • Kekakuan otot (distonis dan spasme akut), yang dapat diatasi dengan obat anti parkinson atau benzodiazepine yang disuntikkan
  • Kegelisahan motorik yang berat (Akatisia) yang dapat diatasi dengan pengurangan dosis terapi atau pemberian beta-bloker
  • Obat anti Parkinson yang dapat mengatasi gejala parkinson (antara lain trihexyphenidil 2 mg sampai 3 kali sehari, ekstrak belladonna 10-20 mg 3x sehari, diphenhydramine 50 mg 3 x sehari)

Rujukan
Beberapa kriteria perlunya rujukan kasus adalah :

  • Semua kasus baru dengan gangguan psikotik
  • Depresi atau mania dengan gejala psikotik.
  • Perlu kepastian diagnosis dan terapi yang paling sesuai pada kasus kronis
  • Keluarga merasakan terbebani dengan kondisi pasien dan memerlukan konsultasi dengan pelayanan masyarakat yang sesuai
  • Pertimbangkan konsultasi untuk kasus dengan efek samping motorik yang berat



Daftar pustaka
  1. -^ (Inggris) "Schizophrenia" Concise Medical Dictionary. Oxford University Press, 2010. Oxford Reference Online. Maastricht University Library. 29 June 2010 prepaid subscription only
  2. ^ Carlson, N. R. (2010). Psychology, the science of behaviour. (4 ed., p. 575). Upper Saddle R http://dharmaguna.depsos.go.idiver, New Jersey: Pearson Education, Inc.


-yuni-

Skenario 3 Tutorial Blok 7


Skenario 3 Tutorial Blok 7
Author : fino
Seorang ibu bergolongan darah A, suaminya bergolongan darah B dan anak mereka bergolongan darah A, tetapi karena suaminya kurang pengetahuan, ia tidak mengakuinya sebagai anaknya.
Pembahasan :
Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dengan kata lain, golongan darah ditentukan oleh jumlah zat (kemudian disebut antigen) yang terkandung di dalam sel darah merah.
:Dalam tubuh manusia terdapat tiga golongan darah utama yaitu golongan darah ABO, golongan darah Rhesus (Rh) dan golongan darah MN.
 
Golongan darah ABO
Ditinjau dari golongan ini, manusia dikelompokkan menjadi 4 golongan.Pengelompokan ini didasarkan atas ada tidaknya suatu zat tertentu di dalam seldarah merah yaitu yang dikenal dengan nama aglutinogen (antigen) dan adatidaknya suatu zat tertentu di dalam plasma darah. Ada dua macam aglutinogenyaitu aglutinogen A dan aglutinogen B, dan dua macam aglutinin yaitu aglutininA/alfa dan aglutinogen B/beta. (Wulangi, 1993)
Aglutinin merupakan bentuk gama globulin dan dibuat di dalam sel-sel yang juga menghasilkan benda kebal. Menurut Wilson (Wilson, 1986 ) globulin itu sendiri merupakan benda penolak yang dapat melawan antigen/aglutinogen yang masuk ke dalam tubuh.  Jumlah/kadar  aglutinin pada manusia berbeda-beda menurut tingkat perkembangannya (usia). Menurut Wilson (Wilson, 1986) kadar maksimum aglutinin tercapai pada umur 8 sampai 10 tahun, kemudian menurun lagi pada umur berikutnya.
Aglutinogen merupakan polisakarida dan terdapat tidak saja terbatas didalam sel darah merah tetapi juga di kelenjar ludah, pankreas, hati, ginjal, paru- paru, testis dan semen. (Michael, 2009)
Seseorang disebut mempunyai golongan darah A, bila di dalam sel darah merahnya terdapat aglutinogen A dan aglutinin B/beta ; golongan darah B, bila didalam sel darah merahnya terdapat aglutinogen B dan agglutinin A/alfa ;golongan darah AB, bila mengandung aglutinogen A dan aglutinogen B, tetapi tidak memiliki agglutinin A dan agglutinin B ; golongan darah O, bila di dalam sel darah merahnya terdapat agglutinin A dan agglutinin B, tetapi tidak memiliki aglutinogen A dan aglutinogen B.

Table perbedaan antara golongan darah
Berdasar agglutinin dan aglutinogen yang dimiliki :
Golongan darah
Aglutinin
Aglutinogen
A
A
B
B
B
A
O
A & B
Tidak ada
AB
Tidak ada
A & B

Bila suatu aglutinogen (misalnya A) terdapat di dalam sel darah merah tertentu, maka aglutinin yang bersangkutan (anti A atau alfa) tidak boleh ada didalam plasma. Demikian pula, bila aglutinogen tidak terdapat di dalam sel darahmerah, aglutinin yang bersangkutan harus ada di dalam plasma.
Apa yang telah dijelaskan ini merupakan hukum Landsteiner. Kalau aglutinogen bertemu dengan aglutinin yang bersangkutan (misalnya, aglutinogenA bertemu dengan aglutinin/anti A atau aglutinogen B bertemu dengan aglutinin/anti B) maka terjadilah aglutinasi, yaitu sel darah merah akan berkelompok dan diikuti oleh “hemolisa”.
Hemolisa adalah peristiwa keluarnyahemoglobin dari dalam sel darah merah menuju ke cairan sekelilingnya. Keluarnya hemoglobin ini disebabkan karena pecahnya membran sel darah merah.(Eckert, 1978)
Ada 2 macam hemolisa yaitu :
1.      Hemolisa osmotic.
Hemolisa osmotic terjadi karena adanya perbedaan yang besar antaratekanan osmosis cairan di dalam sel darah merah dengan cairan disekililing sel darah merah
2.      Hemolisa kimiawi
Pada hemolisa kimiawi, membran sel darah merah dirusak olehmacam-macam substansi kimia. Pada dasarnya membran sel darahmerah terutama terdiri dari lipida dan protein yang membentuk suatulapisan yang disebut lipoprotein.
Jadi setiap substansi kimia yang dapatmelarutkan lemak (pelarut lemak) dapat merusak atau melarutkanmembran sel darah merah.
Kehadiran aglutinin di dalam plasma darah sudah ada sejak lahir, namun demikian kadar aglutinin akan berbeda menurut umur. Kadar maksimum agglutinin tercapai pada umur 8 sampai 10 tahun, kemudian menurun lagi pada umur  berikutnya. Sebagaimana diketahui bahwa aglutinin adalah gama globulin dan dibuat di dalam sel-sel yang juga menghasilkan benda kebal. Globulin merupakan benda penolak yang dapat melawan antigen yang masuk ke dalam tubuh. (Wilson,1986)

Golongan Darah Berdasarkan System Rhesus
Sistem penggolongan berdasarkan rhesus ini ditemukan oleh Landsteiner dan Wiener tahun 1940. Disebut “rhesus” karena saat itu Landsteiner-Wiener melakukan riset dengan menggunakan darah kera rhesus (Macaca mulatta), Selain aglutinogen A dan aglutinogen B, ada pula aglutinogen lain yaitu aglutinogen C, D, dan E. diantaranya, aglutinogen D adalahyang utama. Bila sesorang di dalam sel darah merahnya mengandung aglutinogenD, maka orang tersebut adalah bergolongan Rh+
(Rh positif).
Berbeda dengan golongan darah ABO, yang di dalam plasmanya tidak terdapat anti D, maka orang yang Rh- nya dapat membentuk anti D setelah mendapat transfusi darah dari orang yang Rh+. orang yang Rh+ tidak  dapat membentuk anti D, maka dari itu dapat menerima darah dengan aman , baik dari orang yang Rh+ atau dari orang yang Rh-. 
Jadi transfusi darah dari Rh- ke Rh+ selalu dapat dilakukan tanpa mengakibatkan hal yang diinginkan.Faktor Rh+ diturunkan secara dominant, jadi Rh+ dapat berupa Rhesus homozigot (DD) atau Rhesus heterozigot (Dd). Rh-  tidak mengandung aglutinogen D, sehingga satu-satunya kemungkinan Rh- adalah homozigot dd. (Wulangi, 1993).
Apa yang terjadi bila darah dengan rhesus positif didonorkan pada pasien dengan rhesus negatif ?
Pemilik rhesus negatif tidak boleh ditranfusi dengan darah rhesus positif. Ini dikarenakan sistem pertahanan tubuh si reseptor (penerima donor) akan menganggap darah (rhesus positif) dari donor itu sebagai “benda asing” yang perlu dilawan seperti virus atau bakteri. Sebagai bentuk perlawanan, tubuh reseptor akan memproduksi antirhesus.
 Saat transfusi pertama, kadar antirhesus masih belum cukup tinggi sehingga relatif tak menimbulkan masalah serius. Tapi pada tranfusi kedua, akibatnya bisa fatal karena antirhesus mencapai kadar yang cukup tinggi. Antirhesus ini akan menyerang dan memecah sel-sel darah merah dari donor, sehingga ginjal harus bekerja keras mengeluarkan sisa pemecahan sel-sel darah merah itu. Kondisi ini bukan hanya menyebabkan tujuan tranfusi darah tak tercapai, tapi malah memperparah kondisi si reseptor sendiri.

Golongan Darah MN
Pada tahun 1927, Landsteiner dan Levine menemukan aglutinogen macam lain di dalam sel darah merah, yaitu aglutinogen M dan N. hal ini akanmenghasilkan tiga macam golongan darah yaitu golongan darah M, N, dan MN.(Michael, 2009)
Berbeda dengan golongan darah ABO, golongan darah MN tidak disertai kehadiran aglutinogen di dalam plasma darah, maka dari itu pada transfusi darah, tidak perlu diperhatikan ketiga aglutinogen ini.
Aglutinogen ini bermanfaat untuk membantu menetukan orang tua seseorang. Karena aglutinogen M dan N diturunkan menurut hukum Mendel, dengan mengetahui jenis golongan darah seseorang, dapatlah ditentukan bahwa seseorang pasti ayahnya. Bila ada bayi tertukar di rumah sakit bersalin, dengan menguji golongan darah MN dapatdiketahui kemungkinan orang tua mereka yang sebenarnya. (Eckert, 1978)
            Golongan darah MN disebabkan oleh adanya antigen M, MN dan N. Antigen ini tidak membentuk zatanti (aglutinin), sehingga bila ditransfusikan dari golongan yang satu ke golongan yang lain tidak akan menimbulkan gangguan. Adanya antigen M ditentukan oleh gen Im dan adanya antigen MN ditentuklan oleh gen Im  In.
Sedang adanya antigen-antigen N,ditentukan oleh gen IM.
Berdasarkan hal tersebut maka macam fenotif, genotif dan kemungkinan macam gamet dari orang yang bergolongan darah M, MN dan Nseperti tampak pada tabel berikut : 

Fenotip golongan darah
Genotif
Kemungkinan macam gamet
M
ImIm
Im
N
InIn
In
MN
ImIn
Im , In
 Tabel. Genotif dan kemungkinan macam gamet golongan darah sistem MN

Pewarisan Golongan Darah dari Orang Tua ke Anak
Setiap orang akan mewarisi golongan darah kedua orang tuanya. Misalnya pada kasus di mana Ibu dan Ayahnya sama-sama bergolongan darah B. Seperti golongan darah A, golongan darah B juga terdiri dari 2 genotipe. Genotipe adalah hal-hal yang diturunkan. Genotipe dilambangkan dengan huruf.

Misalnya pada golongan darah B, genotipenya adalah IBIB (homozigot), dan I0IB (heterozigot). Atau seperti dalam gambar IBIB = BB, IOIB = OB. Artinya seseorang itu mungkin bergolongan darah B yang homozigot sementara orang lain bergolongan darah B heterozigot.
Setiap individu mempunyai kromosom 46 bh (23 dari ibu dan 23 dari ayah) dan satu pasang kromosom yang menentukan jenis kelamin yaitu XY bila laki-laki dan XX bila perempuan. Sehingga kalau laki-laki dilambangkan menjadi 46 XY dan wanita 46 XX. Dalam pewarisan golongan darah juga begitu dimana ayah memberi andil separo ibu separo, jadilah satu bagian yang utuh.
Misal seorang yang bergolongan darah B homozigot, dimana genotipenya IBIB atau BB, maka separo yang diturunkan semuanya IB (baik IB yang pertama maupun IB yang kedua hasilnya sama). Maka bila ayah dan Ibu semua bergolongan darah B homozigot, baik ayah maupun ibu akan menurunkan IB. Sehingga si anak mempunyai golongan darah dengan genotipe IB IB (IB yang separo dari Ibu yang separo lagi dari ayah). Sehingga anak dari pasangan golongan darah homo ini semua bergolongan darah B homozigot. Tidak ada yang bergolongan darah lain. Semua anak (100 % ) akan bergolongan darah B homozigot.
Sedangkan pada heterozigot, yang diwariskan bisa IB atau yang IO Misal apabila ayah bergolongan darah B homozigot sedangkan Ibu golongan darah B heterozigot (atau sebaliknya), maka hasilnya: bila IB ayah bertemu IB ibu menghasilkan IBIB (atau BB) hasilnya golongan darah B homozigot.  bBila IB ayah bertemu dengan IO Ibu akan menjadi IBIO (BO . BO =OB) , hasilnya golongan darah B heterozigot.
Setiap anak yang lahir, kemungkinan untuk mendapatkan golongan darah B homozigot 50 % dan golongan darah B heterozigot 50 %. Semua anak bergolongan darah B, hanya dia membawa homozigot atau heterozigot. Jadi nanti anaknya setiap lahir anaknya, kalau tidak bergolongan darah B ya bergolongan darah O. Kemungkinan untuk mendapatkan golongan darah ini sama besar 50 %, 50 %.

Source : http://dr-suparyanto.blogspot.com
 
ELS :
TIU:
Mahasiswa dapat menjelaskan pemanfaatan iptek genetika dan biologi molekuler dalam proses
identifikasi
TIK:
Mahasiswa dapat menjelaskan pemanfaatan iptek genetika dan biologi molekuler dalam proses
identifikasi
1.      Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian bahwa genetika dan biologi molecular dapat
digunakan untuk memecahkan masalah perselisihan kebapakan.
2.      Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian bahwa pendekatan molecular dapat
membantu identifikasi pasca kematian meskipun bahan untuk identifikasi sangat minim.
3.      Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian bahwa diagnosis suatu penyakit dapat
dilakukan dengan pendekatan molecular.
4.      Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian bahwa pencegahan penyakit yang selama ini
dilakukan dengan imunisasi atau vaksinasi dapat dilakukan dengan vaksin rekayasa
genetika.
5.      Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian bahwa pendekatan molecular dapat
diterapkan dalam terapi dan pengembangan obat.
Author : Fino