Senin, 22 September 2014

Skenario 2 Blok 13 (Part 2)


Author : Uray, Fida, Arnis, Nurlita

Trigger 2
Pasien diberikan diazepam tiap malam awalnya bisa tidur, namun sekarang sudah tidak bisa tidur lagi.

Learning Objectives

1.       Etiologi & Patofisiologi Insomnia?
2.       Kriteria Diagnostik Insomnia & Diagnosis Pasien?
3.       Bagaimanakah penatalaksanaan Insomnia yang baik?
4.       Kenapa Diazepam yang diberikan saat ini tidak dapat membantunya tidur lagi?

Answer
1.       Etiologi & Patofisiologi Insomnia?
ETIOLOGI
  • Etiologi terjadinya insomnia dapat dibagi menjadi tiga yaitu :
  •  Faktor  ekstrinsik  misalnya  cahaya,  kebisingan,  higiene,  suhu,  kelembaban  dan perubahan lingkungan sekitar.
  • Faktor instrinsik dibagi dalam penyebab organik misalnya gangguan atau penyakit organik  dan  psikologis  contohnya  depresi,  cemas  berkabung  serta  higiene tidur/aktivitas mental sebelum tidur.
  • Faktor  iatrogenik  misalnya  penggunaan  obat-obatan  maupun  makanan  tertentu
    (Hamdy, 1994; Carney et al., 2005; Amir, 2007). Contohnya : Kopi (Coffee)
  • Penyebab lain yang diperkirakan berhubungan dengan insomnia pada perempuan adalah  menopause.  Penelitian  di  Perancis  yang  melibatkan  1000  perempuan  setengah  baya menunjukkan  adanya  hubungan  antara  menopause  dengan  gangguan  tidur.  Hal  ini diperkirakan  sebagai  efek  dari  perubahan  endokrin.  Pada  perempuan  yang  mendapat terapi  estrogen  dilaporkan  mengalami  perbaikan  dalam  tidurnya  (Anonim,  2007;  Amir, 2007).
  •  Higiene  tidur  yang  buruk  pada  lansia  sering  merupakan  penyebab  insomnia  dan merupakan  faktor  yang  dapat  diatasi  oleh  lansia  itu  sendiri  di  rumah  (Bliwise,  2000; Carney et al., 2005; Amir, 2007).
  • Jadwal tidur yang kacau, perkiraan kebutuhan tidur yang berlebihan dapat menyebabkan tidur  siang  yang  terlalu  banyak  serta  terlalu  banyak  waktu  untuk  tidur.  (Carney,  2005; Amir, 2007).
  • Kebiasaan  makan  yang  buruk,  kurang  olah  raga,  penggunaan  kafein,  alkohol  dan obatobatan  lain  dapat  berpengaruh  terhadap  timbunya  insomnia  (Yates,  2005;  Feldman  & Abernathy, 2000; Amir, 2007).
Sumber : MISC 2010, Chapter 2 Hal 18, Sleeping Disorder (Insomnia), dr. Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.KJ
PATOFISIOLOGI
  • Adanya lesi maupun degenerasi thalamus akan menyebabkan insomnia (Yudofsky, 1997).
  • Teori lainnya menduga bahwa insomnia berkaitan erat dengan neuroendokrin, terutama  pengaruh  ACTH-kortisol,  hiperprolaktinemia,  dan  hormon  pertumbuhan  terhadap slowwave sleep (Carney et al., 2005).
  •   Melatonin,  hormon  dari  glandula  pineal  yang  disekresikan  terutama  pada  malam  hari (saat gelap), diperkirakan berperan dalam  proses tidur-bangun  (Czeisler & Khalsa, 2005; Haimov   et  al.,  1994).  Kadar  melatonin  tertinggi  dalam  darah  terjadi  pada  saat  tidur  di malam  hari  dan  kadar  terendah  adalah  pada  siang  hari  atau  saat  bangun.  Pemberian melatonin  dapat  menginduksi  tidur,  dapat  mempertahankan  tidur  atau  keduanya (Czeisler & Khalsa, 2005).
Sumber : MISC 2010, Chapter 2, Hal 18, Sleeping Disorder (Insomnia), dr. Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.KJ

2.       Kriteria Diagnostik Insomnia & Diagnosis Pasien?
Pedoman diagnostik insomnia non organik menurut PPDGJ -III

Ø  Hal tersebut dibawah ini diperlukan untuk membuat diagnosis pasti :
a.       Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur atau kualitas tidur yang buruk,
b.      Gangguan terjadi minimal 3 kali dalam seminggu selama minimal satu bulan,
c.       Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur (sleeplessness) dan peduli yang berlebihan terhadap akibatnya pada malam hari dan sepanjang siang hari,
d.      Ketidakpuasan terhadapkuantitas dan atau kualitas tidur menyebabkan penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan.
Ø  Adanya gejala gangguan jiwa lain seperti depresi, anxietas, atau obsesi tidak menyebabkan diagnosis insomnia diabaikan. Semua ko-morbiditas harus dicantumkan karena membutuhkan terapi tersendiri.
Ø  Kriteria "lama tidur" (kuantitas) tidak digunakan untuk menentukan adanya gangguan, oleh karena luasnya variasi individual . Lama gangguan yang tidak memenuhi kriteria di atas (seperti pada "transient insomnia") tidak didiagnosis disini, dapat dimasukkan dalam reaksi stres akut (F43.0) atau ganguan penyesuaian (F43.2)

Sumber : PPDGJ-III

Sedangkan kriteria diagnostik untuk insomnia primer menurut DSM-IV
·         Keluhan yang menonjol adalah kesulitan untuk memulai atau mempertahankan tidur, atau tidur yang tidak menyegarkan, selama sekurangnya satu bulan.
·         Gangguan tidur (atau kelelahan siang hari yang menyertai) menyebabkan penderitaan yang  bermakna  secara  kllinis  atau  gangguan  dalam  fungsi  sosial,  pekerjaan,  atau fungsi penting lain.
·         Gangguan  tidur  tidak  terjadi  semata-mata  selama  perjalanan  narkolepsi,  gangguan tidur berhubungan pernapasan, gangguan tidur irama sirkardian, atau parasomia.
·         Gangguan  tidak  terjadi  semata-mata  selama  perjalanan  gangguan  mental  lain (misalnya, gangguan depresif berat, gangguan kecemasan umum, delirium)
·         Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, medikasi) atau suatu kondisi medis umum.
Sumber : MISC 2010, Chapter 2 Hal 18

Pada tahun 1984,The International Institute of Health membuat suatu konsensus pengelompokan gangguan tidur berdasarkan lamanya gangguan yang terdiri dari:
  1. Transient yaitu jika gangguan tidurnya kurang dari 7 hari
  2. Short term yaitu jika gangguan tidurnya menetap lebih dari 7 hari dan kurang dari 3 minggu. Kedua gangguan tersebut biasanya berhubungan dengan stress yang akut seperti perubahan kehidupan sosial, peningkatan emosional, faktor lingkungan, faktor sistemik, kelainan gangguan kesehatan, desinkronisaso irama sirkadian
  3. Long term yaitu jika gangguan tidur menetap lebih dari 3 minggu. Biasanya berhubungan dengan gangguan tidur primer, gangguan psikiatri, gangguan kesehatan, gangguan psikologi.
Sumber : Repository USU (Judul : Gangguan Tidur oleh Dr ISKANDAR JAPARDI – Fakultas Kedokteran Bagian Bedah Universitas Sumatera Utara)

3.  Bagaimanakah penatalaksanaan Insomnia yang baik?
1. Pendekatan hubungan antara pasien dan dokter, tujuannya:
  • Untuk mencari penyebab dasarnya danpengobatan yang adekuat
  • Sangat efektif untuk pasien gangguan tidur kronik
  • Untuk mencegah komplikasi sekunder yang diakibatkan oleh penggunaan obat hipnotik,alkohol, gangguan mental
  • Untuk mengubah kebiasaan tidur yang jelek
2.  Konseling dan Psikotherapi
  • Psikotherapi sangat membantu pada pasien dengan gangguan psikiatri seperti (depressi, obsessi, kompulsi), gangguan tidur kronik. Dengan psikoterapi ini kita dapat membantu mengatasi masalah-masalah gangguan tidur yang dihadapi oleh penderita tanpa penggunaan obat hipnotik.
3.  Sleep hygiene terdiri dari:
  • Tidur dan bangunlah secara reguler/kebiasaan
  • Hindari tidur pada siang hari/sambilan
  • Jangan mengkonsumsi kafein pada malam hari
  • Jangan menggunakan obat-obat stimulan seperti decongestan
  •  Lakukan latihan/olahraga yang ringan sebelum tidur
  • Hindari makan pada saat mau tidur, tapi jangan tidur dengan perut kosong
  • Segera bangun dari tempat bila tidak dapat tidur (15-30 menit)
  • Hindari rasa cemas atau frustasi
  • Buat suasana ruang tidur yang sejuk, sepi, aman dan enak
4. Pendekatan farmakologi
Sumber : Repository USU (Judul : Gangguan Tidur oleh Dr ISKANDAR JAPARDI – Fakultas Kedokteran Bagian Bedah Universitas Sumatera Utara)

4.    Kenapa Diazepam yang diberikan saat ini tidak dapat membantunya tidur lagi? Coba dicari sendiri :p wehehehe, Semoga Bermanfaat & Semoga Sukses!.


Download dalam bentuk file PDF
afsadfsda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar