Kamis, 30 Mei 2013

Skenario 4 Blok 12 Part 2

ETIOLOGI INFEKSI KULIT
Penyakit kulit adalah penyakit infeksi yang paling umum, terjadi pada orang-orang dari segala usia. Sebagian besar pengobatan infeksi kulit membutuhkan waktu lama untuk menunjukkan efek. Masalahnya menjadi lebih mencemaskan jika penyakit tidak merespon terhadap pengobatan. Tidak banyak statistik yang membuktikan bahwa frekuensi yang tepat dari penyakit kulit, namun kesan umum sekitar 10-20 persen pasien mencari nasehat medis jika menderita penyakit pada kulit. Matahari adalah salah satu sumber yang paling menonjol dari kanker kulit dan trauma terkait.
Penyakit kulit untuk sebagian orang terutama wanita akan menghasilkan kesengsaraan, penderitaan, ketidakmampuan sampai kerugian ekonomi. Selain itu, mereka menganggap cacat besar dalam masyarakat. Namun akibat kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu kedokteran bekas luka kulit dapat berhasil dilepas dengan perencanaan plastik, terapi laser, pencangkokan kulit dan lain sebagainya.
Beberapa Penyebab Penyakit Kulit:
1. Kebersihan diri yang buruk
2. Virus
3. Bakteri
4. Reaksi Alergi
5. Daya tahan tubuh rendah

ANTIVIRUS
Virus adalah jasad biologis, bukan hewan, bukan tanaman, tanpa struktur sel dan tidak berdaya untuk hidup dan memperbanyak diri secara mandiri. Mikroorganisme harus menggunakan system enzim dari sel tuan rumah untuk sintesis asam nukleat,protein-proteinnya, dan perkembangbiakannya. Selanjutnya virus adalah mikroorganisme hidup yang terkecil (besarnya 20-300 mikron) kecuali prion yaitu penyebab penyakit sapi gila BSE dan P.
Infeksi virus
Penularan virus dimulai dengan pelekatan virus pada dinding sel, yang dihidrolisa oleh enzim-enzim.  Lalu DNA atau RNA memasuki sel, sedangakan salut proteinnya ditinggalkan diluar. Didalam sel virus bertindak sebagai parasit dan menggunakan proses-proses asimilasi sel yang bersangkutan untuk membentuk vrion-vrion baru. Dengan demikian perbanyakan (replikasi) tidak berlangsung melalui pembelahan vrion induk seperti bakteri. Pada proses ini sel-sel yang dimasukinya dirusak tetapi gejala-gejala penyakit baru mulai tampak bila perbanyakan vrion sudah mencapai puncaknya.
Penggolongan Virus
Virus yang paling sering mengakibatkan penyakit pada manusia dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yakni virus DNA dan virus RNA, dengan masing-masing DNA dan RNA di dalam intinya.
a.      Virus DNA meliputi antara lain kelompok herpes : herpes simplex (penyebab antara lain penyakit kelamin), herpes zoster (penyebab sinannaga, “shingles”). Dan varicella zoster (cacar air). Juga virus Epstein-Barr (demam kelenjar/”kissing disease”/ mono –nucleuosis infectiosa), parvovirus,adenovirus (gastroenteritis), variiola ( cacar, “sinallpox”), dan cytomegalovirus= CMV (pada pasien AIDS) termasuk kelompok virus ini juga. Human papillomavirus (HPV), yang menjadi penyebab kutil genital dan kanker cervix, menurut perkiraan ditularkan secara seksual.

b.      Virus RNA terpenting adalah HIV (penyebab AIDS), virus-virus hepatitis (penyakit kuning), rhinovirus ( salesma) dan polio virus ( penyebab lumpuh pada anak-anak polio myelitis). Begitu pula virus influenza (flu), rotavirus (diare), virus rubella (rode hond), bermacam-macam paramyxovirus : virus rubeola= morbili (campak=”measles”) dan virus beguk (“mumps”) serta berbagai flavivirus (yellow fever= demam kuning, dengue = demam berdarah).


Pengobatan infeksi virus
1.    Saluran pernapasan
A.    Amantadin dan rimantadin.
Khasiatnya beberapa obat antivirus berguna sebagai obat profillaktik misalnya amantadin dan derivatnya rimantadin menunjukan sama efektivnya dalam mencegah infeksi influenza A. (Amantadin juga efektif untuk pengobatan beberapa kasus penyakit Parkinson, diketahui bahwa antivirus amantadin yang digunakan dalam pengobatan influenza berpengaruh pula sebagai antiparkinson dimana fungsinya meningkatkan sintesis, pengeluaran atau ambilan dopamine dari neuron yang sehat.

Mekanisme kerjanya, mekanisme antivirus yang tepat untuk amantadin dan rimantadin belum diketahui pasti. Bukti-bukti terakhir menunjukan penghambatan terhadap protein membrane matrik dari virus, M2 yang berfungsi sebagai saluran ion. Saluran ini diperlukan untuk fusi beberapa membrane virus dengan membrane sel yang kemudian membentuk endosom. ( terbentuk bila virus masuk sel dengan cara endositosis).

Efek samping amantadin sebagian besar berhubungan dengan SSP. Gejala neurologi ringan termasuk imsonia, pusing dan ataxia. Efek yang lebih berat pernah dilaporkan ( Misalnya halusinasi, kejang). Obat harus diberikan hati-hati pada pasien dengan masalah psikaterik, aterosklerosis otak, gangguan ginjal atau epilepsy. Rimantadin menyebabkan reaksi SSP lebih sedikit karena tidak banyak melintasi sawar otak darah. Amantadin dan rimantadin harus digunakan hati-hati pada wanita hamil dan menyusui,  karena terbukti bersifat embriotoksik dan teratogenik pada tikus.

B.    Ribavirin
Khasiatnya digunakan untuk mengobati bayi dan anak-anak dengan infeksi RSV yang berat. Rerspon yang baik dari hepatitis A akut dan influenza A dan influenza B. ribavirin dapat menurunkan mortalitas dan viremia demam lassa.
Cara kerja obat ini dipelajari hanya untuk influenza. Ribavirin pertama diubah menjadi derivate prima-phosfat, hasil pertama berupa senyawa ribavirin triphosfat (RTP), yang  di phostulasikan bersifat antivirus dengan menghambat sintesis MRNA virus.
Efek samping : efek samping dilaporkan pada penggunaaan oral atau suntiakn ribavirin termasuk anemia tergantung dosis pada penderita demam lassa. Peningkatan bili rubin juga telah dilaporkan. Aerosol dapat lebih aman meskipun fungsi pernapasan pada bayi dapat memburuk  cepat setelah permulaan pengobatan aerosol dan karena itu monitoring sangat perlu. Karena terdapat efek teratogenik pada hewan percobaan, ribavirin dikontara indikasikan pada kehamilan.

2.    Pengobatan infeksi virus Herpes
A.    Asiklovir
Merupakan obat antivirus yang paling banyak digunakan karena efektif terhadap virus herpes.
Cara kerja : suatu analog guanosin yang tidak memilki gugus glukosa, menggalami monofosforilasi dalam sel oleh enzim yang dikode herves virus, timidin kinase. Karena itu, sel-sel yang di infeksi virus sangat rentan. Analog mono fosfat diubah ke bentuk di-dan trifosfat oleh sel penjamu. Trifosfat asiklovir berpacu denga deoksiguanosintrifosfat ( dGTP) sebagai suatu substrat untuk DNA polymerase dan masuk kedalam DNA virus yang menyebabkan terminasi rantai DNA yang premature. Ikatan yang ireversibel dari tempelate primer yang mengandung asiklovir ke DNA polymerase melumpuhkan enzim. Zat ini kurang efektif terhadap enzim penjamu.

3.    Pengobatan penyakit defisiansi imun didapat (aids)
A.    Zidovudin
Salah satu oabat yang paling efektif dan terakhir disetujui untuk pengobatan infeksi HIV dan AIDS adalah anolog pirimidin, tiga-azido-tiga-deokcitimidin ( AZT).
Cara kerja : AZt harus diubah menjadi nukleosid trifosfat yang sesuai dengan timidin kinase penjamu utnuk mendapatkan aktifitas antivirusnya. AZT-trifosfat kemudian dimasukkan ke dalam rantai DNA virus yang bertumbuh ( tetapi bukan iti prenjamu) oleh cadangan transcriptase. Karena AZT tidak memiliki hidroksil pada posisi 3’, kaitan 5’ sampai 3’ fosfodiester lain tidak terbentuk. Akibatnya sintesis rantai DNA terhenti dan reflikasi virus tidak terjadi.kekurangan relative transcriptase reverse virus ini disebabkan karena masuknya AZT keadalam proses yang dikatalisasi virus ; DNA-polimerase selular lebih efektif. Selain itu fosforilase asanm deoksitimidilat ( dTMP) menjadi difosfat ( dTDP) dihambat oleh azido-timidin-monofosfat ( AZT-MP).
Efek samping : meskipun kelihatannya bersifat spesifik AZT toksik terhadap sumsum tulang. Misalnay anemi dan ,leucopenia berat dapat terjadi pada pasien yang mendapat dosis tinggi. Sakit kepala juga dapat sering terjadi. Kejang telah dilaporkan pada pasien AIDS lanjut. Toksisistas AZT diperkuat jika glukuronidasi berkurang karena pemberian obat-obat seperti probenesid, asetaminophen, klorazepam, indometasin dan cimitidin.

4.    Iterveron
Iterveron merupakan glikoprotein yang terjadi alamiah jika ada perangsangan dan mengganggu kemampuan virus menginfeksi sel. Meskipun Interveron menghambat pertumbuhan bergbagai virus invitro, aktifitas invivo pada virus mengecewakan. Pada waktu ini iterveron disintesis dengan teknologi DNA rekombinan. Ada tiga jenis interferon yaitu alfa, beta dan gamma salah asatu dari 15 jenis alfa interveron, alfa 2 B telah disetujui untuk pengobatn hepatitis B dan C, dan terhadap kanker seperti leukemia sel berambut dan sarcoma Kaposi. Mekanisme kerjanya menyangkut induksi enzim sel penjamu ( misalnya: suatu protein kinase, 2’, 5’- oligoadenilat sintase dan fosfodiesterase) yang menghambat translasi RNA virus dan akhirnya menyebabkan degradasi mRNA dan tRNA iterveron diberikan secraa intravena dan masuk ke cairan sumsum tulang. Efek samping termasuk demam, letragi, depresi sumsum tulang, fgangguan kardiovaskular seperti gagal jantung kongestiv dan reaksi hipersensitif akut. Gagal hati dan infiltrasi paru jarang.

Obat Anti Inflamasi
Obat anti inflamasi dibagi menjadi dua, yaitu Steroid dan AINS.
Obat anti inflamasi (anti radang) non steroid, atau yang lebih dikenal dengan sebutan NSAID (Non Steroidal Anti-inflammatory Drugs)/AINS adalah suatu golongan obat yang memiliki khasiat analgesik (pereda nyeri), anti piretik (penurun panas), dan anti inflamasi (anti radang). Istilah "non steroid" digunakan untuk membedakan jenis obat-obatan ini dengan steroid, yang juga memiliki khasiat serupa. AINS bukan tergolong obat-obatan jenis narkotika. Inflamasi adalah salah satu respon utama dari system kekebalan tubuh terhadap infeksi atauiritasi. Adapun tanda – tanda inflamasi adalah :
1. tumor atau membengkak
2. calor atau menghangat
3. dolor atau nyeri
4. rubor atau memerah
5. functio laesa atau daya pergerakan menurun dan kemungkinan disfungsi organ atau jaringan

Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja anti-inflamsi non steroid (AINS) berhubungan dengan sistem biosintesis prostaglandin yaitu dengan menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam arakhidonat menjadi PGG2 menjadi terganggu. Enzim siklooksigenase terdapat dalam 2 isoform yang disebut COX-1 dan COX-2. Kedua isoform tersebut dikode oleh gen yang berbeda. Secara garis besar KOKS-1 esensial dalam pemelihraan berbagai fungsi dalam keadaan normal di berbagai jaringan khususnya ginjal, saluran cerna, dan trombosit. Di mukosa lambung aktivitas COX-1 menghasilakan prostasiklin yang bersifat protektif. Siklooksigenase 2 diinduksi berbagi stimulus inflamatoar, termasuk sitokin, endotoksindan growth factors. Teromboksan A2 yang di sintesis trombosit oleh COX-1 menyebabkan agregasi trombosit vasokontriksi dan proliferasi otot polos. Sebaliknya prostasiklin PGL2 yang disintesis oleh COX-2 di endotel malro vasikuler melawan efek tersebut dan menyebabkan penghambatan agregasi trombosit.
Contoh Obat-Obat Analgetik Anti Inflamasi Non Steroid (AINS)
Di bawah ini adalah obat-obat yang tergolong AINS, yaitu :

1.      Asam mefenamat dan Meklofenamat
Asam mefenamat digunakan sebagai analgetika dan anti-inflamasi, asam mefenamat kurang efektif dibandingkan dengan aspirin. Meklofenamat digunakan sebagai obat anti-inflamasi pada reumatoid dan osteoartritis. Asam mefenamat dan meklofenamat merupakan golongan antranilat. Asam mefenamat terikat kuat pada pada protein plasma. Dengan demikian interaksi dengan oabt antikoagulan harus diperhatikan.
 Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dispepsia, diare sampai diare berdarah dan gejala iritasi terhadap mukosa lambung. Dosis asam mefenamat adalah 2-3 kali 250-500 mg sehari. Sedangakan dosis meklofenamat untuk terapi penyakit sendi adalah 240-400 mg sehari. Karena efek toksisnya di Amerika Serikat obat ini tidak dianjurkan kepada anak dibawah 14 tahun dan ibu hamil dan pemberian tidak melebihi 7 hari.

2.      Diklofenak
Diklofenak merupakan derivat asam fenilasetat.  Absorpsi obat ini melalui saluran cerna berlangsung lengkap dan cepat. Obat ini terikat pada protein plasma 99% dan mengalami efek metabolisma lintas pertama (first-pass) sebesar 40-50%. Walaupun waktu paruh singkat 1-3 jam, dilklofenakl diakumulasi di cairan sinoval yang menjelaskan efek terapi di sendi jauh lebih panjang dari waktu paruh obat tersebut.
Efek samping yang lazim ialah mual, gastritis, eritema kulit dan sakit kepala sama seperti semua AINS, pemakaian obat ini harus berhati-hati pada pasien tukak lambung. Pemakaian selama kehamilan tidak dianjurkan. Dosis orang dewasa 100-150 mg sehari terbagi dua atau tiga dosis.

3.      Ibuprofen
Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang diperkenalkan pertama kali dibanyak negara. Obat ini bersifat analgesik dengan daya efek anti-inflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama seperti aspirin, sedangkan efek anti-inflamasinya terlihat pada dosis 1200-2400 mg sehari. Absorpsi ibuprofen cepat melalui lambung dan kadar maksimum dalam plasma dicapai dicapai setelah 1-2 jam. 90% ibuprofen terikat dalam protein plasma, ekskresinya berlangsung cepat dan lengkap.
Pemberian bersama warfarin harus waspada dan pada obat anti hipertensi karena dapat mengurangi efek antihipertensi, efek ini mungkin akibat hambatan biosintesis prostaglandin ginjal. Efek samping terhadap saluran cerna lebih ringan dibandingkan dengan aspirin. Ibuprofen tidak dianjurkan diminum wanita hamil dan menyusui. Ibuprofen dijual sebagai obat generik bebas dibeberapa negara yaitu inggris dan amerika karena tidak menimbulkan efek samping serius pada dosis analgesik dan relatif lama dikenal.

4.      Fenbufen
Berbeda dengan AINS lainnya, fenbufen merupakan suatu pro-drug. Jadi fenbufen bersifat inaktif dan metabolit aktifnya adalah asam 4-bifenil-asetat. Zat ini memiliki waktu paruh 10 jam sehingga cukup diberikan 1-2 kali sehari. Absorpsi obat melalui lambung dan kadar puncak metabolit aktif dicapai dalam 7.5 jam. Efek samping obat ini sama seperti AINS lainnya, pemakaian pada pasien tukak lambung harus berhati-hati. Pada gangguan ginjal dosis harus dikurangi. Dosis untuk reumatik sendi adalah 2 kali 300 mg sehari dan dosis pemeliharaan 1 kali 600 mg sebelum tidur.

5.      Indometasin
Merupakan derivat indol-asam asetat. Obat ini sudah dikenal sejak 1963 untuk pengobatan artritis reumatoid dan sejenisnya. Walaupun obat ini efektif tetapi karena toksik maka penggunaan obat ini dibatasi. Indometasin memiliki efek anti-inflamasi sebanding dengan aspirin, serta memiliki efek analgesik perifer maupun sentral. In vitro indometasin menghambat enzim siklooksigenase, seperti kolkisin.
Absorpsi pada pemberian oral cukup baik 92-99%. Indometasin terikat pada protein plasma dan metabolisme terjadi di hati. Di ekskresi melalui urin dan empedu, waktu paruh 2- 4 jam. Efek samping pada dosis terapi yaitu pada saluran cerna berupa nyeri abdomen, diare, perdarahan lambung dan pankreatis. Sakit kepala hebat dialami oleh kira-kira 20-25% pasien dan disertai pusing. Hiperkalemia dapat terjadi akibat penghambatan yang kuat terhadap biosintesis prostaglandin di ginjal.
Karena toksisitasnya tidak dianjurka pada anak, wanita hamil, gangguan psikiatrik dan pada gangguan lambung. Penggunaanya hanya bila AINS lain kurang berhasil. Dosis lazim indometasin yaitu 2-4 kali 25 mg sehari, untuk mengurangi reumatik di malam hari 50-100 mg sebelum tidur.

6.      Piroksikam dan Meloksikam
Piroksikam merupakan salah satu AINS dengan struktur baru yaitu oksikam, derivat asam enolat. Waktu paruh dalam plasma 45 jam sehingga diberikan sekali sehari. Absorpsi berlangsung cepat di lambung, terikat 99% pada protein plasma. Frekuensi kejadian efek samping dengan piroksikam mencapai 11-46% dan 4-12%. Efek samping adalah gangguan saluran cerna, dan efek lainnya adalah pusing, tinitus, nyeri kepala dan eritema kulit. Piroksikam tidak dianjurkan pada wanita hamil, pasien tukak lambung dan yang sedang minum antikoagulan. Dosis 10-20 mg sehari.
Meloksikam cenderung menghambat KOKS-2 dari pada KOKS-1. Efek samping meloksikam terhadap saluran cerna kurang dari piroksikam.

7.      Salisilat
Asam asetil salisilat yang lebih dikenal dengan asetosal atau aspirin adalah analgesik antipiretik dan anti inflamasi yang sangat luas digunakan. Asam salisilat sangat iritatif, sehingga hanya digunakan sebagai obat luar. Derivatnya yang dapat dipakai secara sistemik adalah ester salisilat dengan substitusi pada gugus hidroksil, misalnya asetosal. Untuk memperoleh efek anti-inflamasi yang baik dalam kadar plasma perlu dipertahankan antara 250-300 mg/ml. Pada pemberian oral sebagian salisilat diabsorpsi dengan cepat dalam bentuk utuh di lambung. Kadar tertinggi dicapai kira-kira 2 jam setelah pemberian. Setelah diabsorpsi salisilat segera menyebar ke jaringan tubuh dan cairan transeluler sehingga ditemukan dalam cairan sinoval. Efek samping yang paling sering terjadi adalah induksi tukak lambung atau tukak peptik, efek samping lain adalah gangguan fungsi trombosit akibat penghambatan biosintesa tromboksan.

8.      Diflunsial
Obat ini merupakan derivat difluorofenil dari asam salisilat, bersifat analgetik dan anti inflamasi tetapi hampir tidak bersifat antipiretik. Kadar puncak yang dicapai 2-3 jam. 99% diflunsial terikat albumin plasma dan waktu paruh berkisar 8-12 jam. Indikasi untuk nyeri sedang sampai ringan dengan dosis awal 250-500 mg  tipa 8-12 jam. Untuk osteoartritis dosis awal 2 kali 250-500 mg  sehari. Efek samping lebih ringan dari asetosal.

9.      Fenilbutazon dan Oksifenbutazon
Fenilbitazon dan oksifenbutazon merupakan derivat pirazolon. Dengan adanya AINS yang lebih aman, fenilbutazon dan oksifenbutazon tidak lagi dianjurkan digunakan sebagai anti-inflamasi kecuali obat lain tidak efektif.
Derivat pirazolon ini memiliki khasiat antiflogistik yang lebih kuat dari pada kerja analgetiknya jadi golongan ini hanya digunakan sebagai obat rematik. Fenilbutazon dimasukan secara diam-diam dengan maksud untuk mengobati keadaan lesu dan letih, otot-otot lemah dan nyeri.  Efek samping derivat pirazolon dapat menyebabkan agranulositosis, anemia aplastik, dan trombositopenia.


Author : Velly

Tidak ada komentar:

Posting Komentar