Sabtu, 02 April 2011

TUTORIAL SKENARIO 1: ANEMIA PART II

SKENARIO 1: ANEMIA PART II

Selamat datang lagi memed-memed yang setia. Maaf ni mimin belum sempet ngedit yang catatan kuliah. Kayaknya mending prioritas sama yang tutorial dulu deh. Kemaren kan skenario nya sedikit berbeda ya. Ni triger nya..
- Profil pasien: Yeti, 25 tahun, wiraswasta.
- Keluhan masih sama kayak yang di buku
- Terlambat mens udah 2 minggu
- Makannya cuma dikit
- Nikah baru 6 bulan (gak penting ya?!hehe)
Hasil pemeriksaan:
Ni yang ditulis gak usah semua ya. Konjungtiva anemis, bibir pucat, kuku pucat. Hb nya Cuma 9,8 g/dL yang berarti turun. Tes PP nya positif yang berarti hamil. LED juga meningkat normalnya Cuma 0-15, tapi ini meningkat menjadi I=20 dan II=30.
Oke udah cukup dengan info nya. Kita mulai dengan anemia pada ibu hamil.
Sebenernya anemia pada ibu hamil itu bisa dibilang hal yang biasa. Emmm...bukan cuma karena intake besi yang kurang atau absorbsi besi yang terganggu, anemia juga terjadi karena volume plasma menjadi bertambah, apalagi setelah 28 minggu gestasi. Biasanya ini menyebabkan Hb, hematokrit, dan red blood cell menjadi turun. Tetapi ini tidak mempengaruhi MCV (mean corpusculum volume). Pada wanita hamil, dikatakan anemia jika kurang dari 10,5g/dL. Anemia pada ibu hamil bisa di rawat dengan 1 mg asam folat dan besi harian akan sangat membantu meredakan gejala.
Kenapa sih anemia biasanya terjadi pada ibu hamil??ni med jawabannya
Penyebab anemia khususnya dinegara berkembang ( Afrika Sub Sahara ) selama kehamilan seringkali dipercaya disebabkan dari kekuranggan nutrisi, terutama kekurangan zat besi, kekurangan folate, kekurangan – kekurangan vitamin lain yang juga dapat menyebabkan anemia. Di Indonesia menunjukkan bahwa kekurangan vitamin A dapat menyebabkan anemia dalam kehamilan. Penyebab lain anemia yang tersering dinegara berkembang adalah infeksi parasitik termasuk disentri amuba, malaria, cacing tambang, hemoglobinopati dan schistosomiasis. Faktor - faktor yang bertanggung jawab pada anemia sangat banyak dan kontribusi relatif mereka dapat diharapkan beragam pada berbagai area geografis dan berbagai musim. Pengetahuan penting tentang sebab – sebab yang berbeda seharusnya membentuk basis / dasar untuk strategi – strategi dalam memberikan intervensi untuk mengontrol anemia.
Nilai Hb yang tinggi ( > 130 g/L ) ternyata juga berhubungan dengan kenaikan resiko mortalitas. Hasil ini diperoleh melalui inklusi data dari Harrison dan Rossiter ( 1985 ), menunjukkan bahwa suatu peningkatan dalam resiko mortalitas pada para wanita dengan hematokrits > 0,45. Penjelasan ini belum diketahui dengan pasti namun dapat dikaitkan dengan bagian dari dehidrasi dan hemokonsentrasi dalam kegawatdaruratan.
ANEMIA FISIOLOGIS SELAMA KEHAMILAN
Volume plasma maternal meningkat secara bertahap sebanyak 50 %, atau sekitar 1200 ml pada saat cukup bulan. Peningkatan SDM total adalah sekitar 25 % atau kira – kira 300 ml. Hemodilusi relatif ini menyebabkan penurunan konsentrasi Hb yang mencapai titik terendah pada trimester kedua kehamilan dan meningkat kembali pada trimester ketiga. Perubahan ini bukanlah perubahan patologis tetapi merupakan perubahan fisiologis kehamilan yang diperlukan untuk perkembangan janin. Pada saat ibu dengan konsentrasi hemoglobinnya sangat rendah atau sangat tinggi akan meningkatkan insiden BBLR dan kelahiran prematur ( Rasmussen 2001 ). Karena kadar Hb yang rendah akan mempengaruhi kemampuan sistem maternal untuk memindahkan oksigen dan nutrisi yang cukup ke janin, sedangkan kadar Hb yang tinggi dianggap mencerminkan ekspansi volume plasma yang buruk seperti pada kondisi patologis, misalnya pre- eklamsia ( Yip 1996 ).
Tuh cocok dengan skenario kita. Jadi kemaren tutorial mimin dapet bocoran kalo di skenario ini tu pasien udah hamil selama 16 minggu atau uda masuk awal trimester ke 2. Ibu hamil membutuhkan asupan besi total sebanyak 1,5-3 mg/hari, wanita menstruasi = 1-2 mg/hari,wanita umur 12-15 tahun=1-2,5 mg/hari, pria dewasa 0,5-1mg/hari, anak=1mg/hari
Kalo ini ni klasifikasi anemia pada ibu hamil.
KLASIFIKASI ANEMIA DALAM KEHAMILAN.
Klasifikasi anemia dalam kehamilan menurut Mochtar (1998), adalah sebagai berikut:
1. Anemia Defisiensi Besi
Adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah. Pengobatannya yaitu, keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah pemberian tablet besi.
a. Terapi Oral adalah dengan memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero glukonat atau Na-fero bisirat. Pemberian preparat 60 mg/ hari dapat menaikan kadar Hb sebanyak 1 gr%/ bulan. Saat ini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 nanogram asam folat untuk profilaksis anemia (Saifuddin, 2002).
b. Terapi Parenteral baru diperlukan apabila penderita tidak tahan akan zat besi per oral, dan adanya gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan atau masa kehamilannya tua (Wiknjosastro, 2002). Pemberian preparat parenteral dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 mg) intravena atau 2 x 10 ml/ IM pada gluteus, dapat meningkatkan Hb lebih cepat yaitu 2 gr% (Manuaba, 2001).
Untuk menegakan diagnosa Anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan anamnesa. Hasil anamnesa didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang dan keluhan mual muntah pada hamil muda. Pada pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sachli, dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu trimester I dan III. Hasil pemeriksaan Hb dengan sachli dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Hb 11 gr% : Tidak anemia
2. Hb 9-10 gr% : Anemia ringan
3. Hb 7 – 8 gr%: Anemia sedang
4. Hb < 7 gr% : Anemia berat
Kebutuhan zat besi pada wanita hamil yaitu rata-rata mendekatai 800 mg. Kebutuhan ini terdiri dari, sekitar 300 mg diperlukan untuk janin dan plasenta serta 500 mg lagi digunakan untuk meningkatkan massa haemoglobin maternal. Kurang lebih 200 mg lebih akan dieksresikan lewat usus, urin dan kulit. Makanan ibu hamil setiap 100 kalori akan menghasilkan sekitar 8–10 mg zat besi. Perhitungan makan 3 kali dengan 2500 kalori akan menghasilkan sekitar 20–25 mg zat besi perhari. Selama kehamilan dengan perhitungan 288 hari, ibu hamil akan menghasilkan zat besi sebanyak 100 mg sehingga kebutuhan zat besi masih kekurangan untuk wanita hamil (Manuaba, 2001).
2. Anemia Megaloblastik
Adalah anemia yang disebabkan oleh karena kekurangan asam folik, jarang sekali karena kekurangan vitamin B12.
Pengobatannya:
a. Asam folik 15 – 30 mg per hari
b. Vitamin B12 3 X 1 tablet per hari
c. Sulfas ferosus 3 X 1 tablet per hari
d. Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan transfusi darah.
3. Anemia Hipoplastik
Adalah anemia yang disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel darah merah baru. Untuk diagnostik diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan diantaranya adalah darah tepi lengkap, pemeriksaan pungsi ekternal dan pemeriksaan retikulosi.
4. Anemia Hemolitik
Adalah anemia yang disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah, kelelahan, kelemahan, serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital.
Pengobatannya tergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya. Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah. Namun pada beberapa jenis obat-obatan, hal ini tidak memberi hasil. Sehingga transfusi darah berulang dapat membantu penderita ini.
EFEK ANEMIA PADA IBU HAMIL, BERSALIN DAN NIFAS
Anemia dapat terjadi pada setiap ibu hamil, karena itulah kejadian ini harus selalu diwaspadai. Anemia yang terjadi saat ibu hamil Trimester I akan dapat mengakibatkan: Abortus, Missed Abortus dan kelainan kongenital. Anemia pada kehamilan trimester II dapat menyebabkan: Persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia aintrauterin sampai kematian, BBLR, gestosis dan mudah terkena infeksi, IQ rendah dan bahkan bisa mengakibatkan kematian. Saat inpartu, anemia dapat menimbulkan gangguan his baik primer maupun sekunder, janin akan lahir dengan anemia, dan persalinan dengan tindakan yang disebabkan karena ibu cepat lelah. Saat post partum anemia dapat menyebabkan: tonia uteri, rtensio placenta, pelukaan sukar sembuh, mudah terjadi febris puerpuralis dan gangguan involusio uteri.
METABOLISME BESI DAN PEMBENTUKAN HEMOGLOBIN
Gangguan pemasukan besi kedalam sel akan menimbulkan sel yang berbentuk mikrositik dan kadar Hb yang rendah (hipokromik). Gangguan produksi globin ini akan berakibat selain memiliki morfologi khusus juga terbentuknya eritrosit yang dikenal sebagai target cells.
Pada perubahan morfologi sel yang terjadi selama proses doferensiasi pronormoblas sampai eritrosit matang dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok.
1. Ukuran sel semakin kecil akibat dari mengecilnya inti sel
2. Inti sel yang menjadi semakin padat dan akhirnya dikeluarkan pada tingkatan eritroblas asidofilik
3. Dalam sitoplasma dibentuk Hb yang diikuti dgn hilangnya RNA dri dalam sitoplasma sel.
Stadium retikulosit mempunyai ciri yang sangat kentara med. Di sitoplasmanya masih ada sisa2 RNA. Yang dpt diwarnai dgn warna supravital. Proses diferensiasi dri pronormoblas ke eritrosit membutuhkan waktu 72 jam. Sedangkan kalo dri retikulosit sampe eritrosit butuh 42 jam. Pada diferensiasi sekitar 10% sel yang tidak memenuhi persyaratan difagositosis oleh makrofag. Waktu hidup eritrosit sepanjang 100-120 hari. Setelah tua, sel akan dihancurkan oleh makrofag dalam sistem retikuloendotelial. Setiap hari 1% eritrosit diganti dgn eritrosit baru. Hb dibentuk dalam sitoplasma sel sampai dalam bentuk retikulosit. Hb terdiri dari 4 ikatan globin dan 4 ikatan hem yang masing2 memiliki satu atom Fe. Di dalam 1 mL packed red cell, terdapat lebih kurang 1 mg Fe. Pada keadaan tertentu tubuh tidak membentuk salah satu rantai globin (talasemia) atau globin dibentuk dengan abnormal (sickle cell). Disamping itu terdapat pula keadaan dimana ada defisiensi zat pembentuk Hb. Pada keadaan tersebut eritrost akan berumur lebih pendek.


Selama ini memed2 pasti sering denger tentag MCV, MCH, dan MCHC. Apaan sih itu??ini nih
• Ukuran rata-rata sel darah merah atau gampangnya volume sel darah merah (MCV)
• Kandungan Hb per sel darah merah (MCH)
• Banyaknya kandungan Hb relatif terhadap ukuran sel pada setiap sel darah merah (konsentrasi Hb)
Ini nih rumus ngitung nya
MCV= (Hematokrit x 10)/ hitung sel darah merah
MCH= ( Hemoglobin x 10) / jumlah eritrosit
MCHC= (Hb x 100)/hematokrit





Referensi:
http://rofiqahmad.wordpress.com/2008/01/24/anemia-pada-ibu-hamil/
http://www.scribd.com/doc/36289435/Mcv-Mch-Mchc-Arfi
http://ertianadwi.blogspot.com/
Hematologi Hoffbrand A.V
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III

Kontributor : GalihArya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar