Senin, 26 November 2012

Skenario 1 Blok 9 Part 1


Skenario 1 Tutorial Blok 9 : antara Diare dan GERD
Author : Didit
Skenario besok dalam bentuk video (movie), kalau dilihat dari keterangan PJ Blok saat kuliah Introduction 9th Block hari sabtu kemaren, tutorial pertama yang seharusnya tentang dispepsia dijadikan sebagai skenario english, jadi skenario pertama kita kalau diperkirakan yaitu tentang D.I.A.R.E., dalam modul harusnya skenario 2 (lihat modul blok 9 hal. 9). Tapi, tahun lalu skenario 2 (movie) itu tentang GERD (Gastroesofageal Reflux Disease), cari amane wae bro ayo ngebahas diare dan GERD, tapi secara garis besare wae yo booos! Nek meh golet Dispepsia yo rapopo sih
DIARE
Definisi
Diare = buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk (atau setengah berbentuk) cair dengan kandungan air lebih dari 200ml/24 jam atau tinja sebanyak 200gr atau lebih/24 jam. Bisa juga dikatakan diare merupakan buang air besar encer lebih dari 3x/hari, buang air tersebut bisa disertai lendir atau bahkan darah (biasanya pada diare akut).

Klasifikasi
Diare dapat diklasifikasikan berdasarkan lama waktu diare (akut dan kronik), diare akut berlangsung kurang dari 15 hari, diare kronik lebih dari 15 hari., bisa juga diklasifikasikan dari mekanisme patologisnya (osmotik dan sekretorik), berat ringannya diare (diare kecil atau diare besar), penyebabnya ; diare karena infeksi atau non-infeksi, bisa juga karena penyebab organik atau fungsional (dari makanan atau dari kelainan sistem pencernaan).

Etiologi
Diare bisa disebabkan oleh banyak hal seperti infeksi (misal; bakteri [ex: e.coli, salmonella], virus [ex: rotavirus], parasit [protozoa]), kalau menurut WGO (World Gastroenterology Organisation) meliputi juga karena non-infeksi.

Faktor resiko
o   Orang yang bepergian (terutama ke daerah tropis), seperti kemah, melancong, orang yang sukarelawan ke tempat pengungsian (misal lho ini);
o   Makanan atau keadaan makanan yang tidak biasa ; misalnya makanan setengah matang, fast food, dst;
o   Pekerja seks, homoseksual (gay bowel syndrome), pengguna obat intravena, dst;
o   Orang yang baru saja menggunakan obat anti mikroba pada suatu institusi (rumah sakit misalnya).

Patomekanisme/Patofisiologi
Diare dapat disebabkan oleh satu atau banyak patofisiologi, misal karena osmolaritas intraluminal yang meninggi (diare osmotik), sekresi cairan dan elektrolit meninggi (diare sekretorik), inflamasi dinding usus (diare inflamatorik), infeksi dinding usus (diare infeksi), dst.
Diare osmosik disebabkan meningkatnya tekanan osmotik intralumen dari usus halus, biasanya disebabkan obat-obatan atau zat kimia yang hiperosmotik. Diare sekretorik disebabkan oleh meningkatnya sekresi air dan elektrolit dari usus tapi absorpsi menurun, gejala khasnya biasanya volume tinja banyak sekali (walaupun puasa makan dan minum tetap banyak tinjanya), penyebabnya karena efek enterotoksin pada infeksi e. Coli dan vibrio cholerae.
Diare air merupakan gejala tipikal dari organisme yang menginvasi epitel usus dengan inflamasi minimal, seperti virus enterik. Beberapa organisme seperti campylobacter menghasilkan enterotoksin dan menginvasi mukosa usus sehingga menyebabkan diare air diikuti diare berdarah dalam beberapa jam atau hari.
Dehidrasi dapat timbul jika diare berat dan asupan oral terbatas karena nausea dan muntah, terutama pada anak kecil dan lansia. Dehidrasi bermanifestasi sebagai rasa haus yang meningkat, berkurangnya buang air kecil dengan warna urin gelap, tidak mampu berkeringat dan perubahan ortostatik. Dalam keadaan berat dapat mengarah ke gagal ginjal akut dan perubahan status jiwa seperti kebingungan dan pusing kepala.

Pemeriksaan fisik
Kelainan-kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sangat berguna dalam menentukan beratnya diare daripada menentukan penyebabnya diare. Status volume dinilai dengan memperhatikan perubahan ortostatik pada tekanan darah dan nadi, temperatur tubuh dan tanda toksisitas. Pemeriksaan abdomen yang seksama merupakan hal yang penting. Adanya dan kualitas bunyi usus dan adanya atau tidak adanya distensi abdomen dan nyeri tekan merupakan ‘clue’ dari penentuan etiologi.

Pemeriksaan penunjang
Biasanya untuk diare yang mengalami dehidrasi atau toksisitas berat dan berlangsung beberapa hari.
Pemeriksaannya meliputi pemeriksaan darah tepi lengkap, pemeriksaan kadar elektrolit serum, ureum dan kreatinin, pemeriksaan tinja dan pemeriksaan ELISA, test serologic amebiasis dan foto x-ray abdomen, rektoskopi sigmoidoskopi dan pemeriksaan biopsi mukosa.

Penatalaksanaan
Rehidrasi; bila pasien dalam keadaan umum baik atau tidak dehidrasi, asupan air yang adekwat bisa dari minuman ringan, sari buah, sup dan keripik asin, bila pasien kekurangan banyak cairan atau dehidrasi, beri penatalaksanaan yang agresif seperti cairan intravena atau rehidrasi oral dengan cairan isotonik mengandung elektrolit dan gula. Cairan oral lebih murah daripada intravena, cairan oral meliputi oralit, dst, cairan intravena (infus) meliputi ringer laktat, dst. Cairan diberikan 50-200 ml/kgBB/24 jam tergantung kebutuhan dan status hidrasi.
Untuk memberikan rehidrasi pada pasien perlu dinilai dulu derajat dehidrasi. Dehidrasi terdiri dari ringan (kekurangan cairan 2-5% dari BB), sedang (kekurangan cairan 5-8% dari BB), berat (kekurangan cairan 8-10% dari BB). Cairan rehidrasi dapat diberikan melalui oral, enteral melalui selang nasogastrik atau intravena.
Diet; pasien diare tidak dianjurkan berpuasa (kecuali jika muntah hebat), pasien justru dianjurkan minum minuman sari buah, teh dan minuman tidak bergas lainnya, makan makanan yang mudah dicerna seperti pisang, nasi, sup dst. Susu sapi, minuman berkafein dan alkohol harus dihindari.
Obat anti-diare; mengurangi gejala, seperti derifat opioid (loperamide, dst), obat yang mengeraskan tinja, seperti atapulgite, dst, dan obat anti sekretorik seperti hidrasec, dst.
Obat antimikroba; misalnya kuinolon (misal siprofloksasin), alternatif lain seperti kotrimoksazol (misal trimetroprim).

GERD atau Gastroesofageal Reflux Disease
Definisi
Gastroesofageal Reflux Disease (GERD) merupakan suatu keadaan patologis sebagai akibat reflux (aliran balik) kandungan lambung ke esofagus, dengan berbagai gejala yang timbul akibat keterlibatan esofagus, faring, laring dan saluran nafas. Reflux kandungan lambung ke dalam esofagus ini dapat menimbulkan banyak gejala di esofagus maupun ekstra-esofagus seperti striktur, barrett’s esophagus maupun adenokarsinoma pada kardia dan esofagus.

Etiologi dan Patogenesis
GERD bersifat multifaktorial. Esofagitis dapat terjadi sebagai akibat dari reflux gastroesofageal apabila terjadi kontak dalam waktu yang cukup lama antara bahan refluksat dengan mukosa esofagus, serta terjadi penurunan resistensi jaringan mukosa esofagus, walaupun waktu kontak antara bahan refluksat dengan esofagus tidak cukup lama.
Esofagus  dan gaster dipisahkan oleh suatu zona tekanan tinggi yang dihasilkan oleh kontraksi lower esofageal sphincter (LES). Pada individual normal, pemisah ini akan dipertahankan kecuali pada saat terjadinya aliran antegrad yang terjadi pada saat menelan, atau aliran retrograd pada saat sendawa atau muntah. Aliran balik dari gaster ke esofagus melalui LES terjadi apabila tonus LES tidak ada atau sangat rendah (<3 mmHg).
Refluks gastroesofageal pada pasien GERD terjadi melalui 3 mekanisme :1. Refluks spontan pada saat relaksasi LES yang tidak adekwat, 2. Aliran retrograd yang mendahului kembalinya tonus LES setelah menelan, 3. Meningkatnya tekanan intra abdomen.
Dengan demikian dapat diterangkan bahwa patogenesis terjadinya GERD menyangkut keseimbangan antara faktor defensif dari esofagus dan faktor ofensif dari bahan refluksat. Yang termasuk faktor defensif esofagus meliputi : 1. Pemisah refluks (menurunkan tonus LES, penyebabnya bisa adanya hiatus hernia, panjang pendeknya LES, faktor obat-obatan, dan hormonal), 2. Bersihan asam dari lumen esofagus (faktornya gravitasi, peristaltik, eksresi air liur dan bikarbonat), 3. Ketahanan epitalia esofagus (mekanisme ketahanan epitelia esofagus terdiri dari membran sel, batas intraseluler, aliran darah esofagus , dan sel-sel esofagus).
Faktor ofensif dari bahan refluksat tergantung pada bahan yang dikandungnya. Derajat kerusakan mukosa esofagus makin meningkat pada PH <2, atau adanya pepsin atau garam empedu. Namun dari kesemuanya itu yang memiliki potensi daya rusak paling tinggi adalah asam.
Faktor-faktor lain yang turut berperan dalam timbulnya gejala GERD adalah kelainan di lambung yang meningkatkan terjadinya refluks fisiologis, seperti dilatasi lambung atau obstruksi gastric outlet dan delayed gastric emptying.

Manifestasi Klinik
Gejala klinik yang khas dari GERD adalah nyeri/rasa tidak enak di epigastrium atau retrosternal bagian bawah. Rasa nyeri biasanya dideskripsikan sebagai rasa terbakar (heart-burn), kadang bercampur dengan gejala disfagia (sulit menelan), mual atau regurgitasi dan rasa pahit dilidah. Walau demikian derajat berat ringannya keluhan heart-burn ternyata tidak berkorelasi dengan temuan endoskopik. Disfagia mungkin disebabkan striktur atau keganasan yang berkembang dari barrett’s esofagus.
Gejala GERD biasanya berjalan perlahan-lahan, sangat jarang terjadi episode akut atau keadaan yang bersifat mengancam nyawa. Oleh sebab itu, umumnya pasien dengan GERD memerlukan penatalaksanaan secara medik.

Diagnosis
Disamping anamnesis dan pemeriksaan fisik yang seksama, beberapa pemeriksaan penunjang juga harus dilakukan untuk menegakkan diagnosis, seperti pemeriksaan endoskopi saluran cerna bagian atas (termasuk pemeriksaan histopatologi), pemeriksaan esofagografi dengan barium, pemantauan pH 24 jam, Tes bernstein, manometri esofagus, sintigrafi gastroesofageal, dan PPI test.

Penatalaksanaan
Walaupun keadaan ini jarang sebagai penyebab kematian, mengingat kemungkinan timbulnya komplikasi jangka panjang berupa ulserasi, striktur esofagus ataupun esofagus barrett’s yang merupakan keadaan premalighna, maka seyogyanya penyakit ini mendapat penatalaksanaan yang adekwat.
Pada prinsipnya penatalaksanaan GERD terdiri dari modifikasi gaya hidup, terapi medikamentosa, tyerapi bedah serta akhir-akhir ini mulai dilakukan terapi endoskopik.
Target penataaksanaan GERD meliputi : 1. Menyembuhkan lesi esofagus, 2. Menghilangkan gejala/keluhan, 3. Mencegah kekambuhan, 4. Memperbaiki kualitas hidup, 5. Mencegah timbulnya komplikasi.
Author : Didit
Referensi : IPD edisi V

Tidak ada komentar:

Posting Komentar