Senin, 03 Maret 2014

skenario 3 blok 4 2013/2014

SKENARIO 3 nyeri visceral
author : ve, cindra 



2. Organ-organ sumbernyeri viscera
4. perbedaannyeri somatic dengannyeri viscera
6. Karakteristiknyerialih
8. Jenis-jenisobatpenghilang rasa nyeri viscera
2.
Nyeri karena perangsangan organ viseral atau membran yang menutupinya (pleura parietalis, perikardium, peritoneum). Nyeri tipe ini dibagi lagi menjadi nyeri viseral terlokalisasi,  nyeri parietal terlokalisasi, nyeri alih viseral dan nyeri alih parietal
4.
Perbedaan yang terjadi dari bagaimana stimuli diproses melalui tipe jaringan menyebabkan timbulnya perbedaan karakteristik. Sebagai contoh nyeri somatik superfisial digambarkan sebagai sensasi tajam dengan lokasi yang jelas, atau rasa terbakar. Nyeri somatik dalam digambarkan sebagai sensasi tumpul yang difus. Sedang nyeri viseral digambarkan sebagai sensasi cramping dalam yang sering disertai nyeri alih (nyerinya pada daerah lain).
Perbedaannyeri somatic dan visceral
Karakteristik
Nyerisomatik
Nyeriviseral
superfisial
dalam
Kualitas



Menjalar

Stimulasi



Reaksiautonom

Reflekskontraksiotot
Tajam, menusuk, membakar


Tidak

Torehan, abrasi, terlalupanasdandingin


Tidak


Tidak
Tajam, tumpul, nyeriterus


Torehan

Panas, iskemiapergeserantempat


Ya


Ya
Tajam, tumpul, nyeriterusdankejang

Ya

Distensi, iskemia, spasmus, iritasikimiawi

Ya


Ya


Nyerimenjalaradalahnyeri yang terasapadabagiantubuh yang lain, umumnyaterjadiakibatkerusakanpadacedera organ visceral

6.  
 Pengertian Nyeri Alih
Nyeri Alih terjadi ketika serabut saraf dari daerahinput sensoris tinggi (seperti kulit) dan serabut saraf dari daerah-daerahsensorik biasanya rendah input (seperti organ-organ internal) terjadi untuk bertemu padatingkat yangsama dari sumsum tulang belakang.
Nyeri alih terjadi jika suatu segmen persarafan melayani lebih dari satudaerah. Danotak lebih merespon daerah input sensoris tinggi dibandingdengan daerah asal nyeri. Misalnya, pada kolesistitis akut, nyeri dirasakandi daerah ujung belikat. Pada abses di bawah diafragma atau rangsangankarena radang atau trauma pada permukaan atas limpa atau hati juga dapatmengakibatkan nyeri di bahu.Sifatnya cenderung lebih ringan daripada nyeri somatik. Contoh: nyeri kolik pada ureter, saluran pengubung ginjal dengan kandung kemih, dapat dirasakan di daerah selangkangan.

Mekanisme nyeri alih

Penjelasanmengenainyerialihinitidakdiketahui. Meskipun mekanisme fisiologis dari nyeri alih masih tak jelas, bobot bukti menyatakan bahwa hal tersebut merupakan fenomena yang dimediasi melalui medula spinalis. Terdapat tiga teori utama nyeri alih:
(1)   konvergensi akson (atau refleks akson)
Neuron-neuron sensorik primer memiliki akson-akson yang bercabang yang menginervasi target-target somatik dan viseral. SSP tidak mampu untuk membedakan antara input semacam itu dengan input nosiseptif viseral yang disalah artikan sebagai berasal dari somatik. Sementara terdapat beberapa bukti eksperimental untuk mendukung hipotrsis ini, hal tersebut tidak secara umum diterima sebagai penjelasan nyeri alih. 
(2)   teori proyeksi
Neuron-neuron sensorik primer memiliki akson-akson yang bercabang yang menginervasi target-target somatik dan viseral. SSP tidak mampu untuk membedakan antara input semacam itu dengan input nosiseptif viseral yang disalah artikan sebagai berasal dari somatik. Sementara terdapat beberapa bukti eksperimental untuk mendukung hipotrsis ini, hal tersebut tidak secara umum diterima sebagai penjelasan nyeri alih. 

(3)   teori konvergensi-fasilitasi. Aktifitas yang terjaga pada serabut-serabut aferen viseral merubah keadaan eksitabilitas dari neuron-neuron kornu dorsalis dengan input aferen viseral dan somatik yang konvergen. Hal ini menciptakan sebuah ‘‘irritable focus’’ yang memfasilitasi proses kedepan dari lalu lintas subliminal yang berasal dari somatik secara normal, sehingga input somatik secara segmental lainya yang tepat sekarang dapat menghasilkan sensasi nyeri alih yang abnormal tentu saja

(4)   dan teori talamik.
Interaksi pada tingkat supraspinal (talamus) membawa kepada fenomena nyeri alih. Meskipun teori talamik diangap tidak mungkin, adanya jalur asending spinal yang berbeda untuk nosiseptor viseral memberi dukungan untuk hipotesis ini. Bagaimanapun, referred hiperalgesia dan sifat alami nyeri alih sulit untuk diperhitungkan dengan teori talamik semata.
Tak satupun dari ini semua yang terpisah satu sama lain.
Beberapateori yang menjelaskanmengenaimekanismenyerialihyang lain:
1.      Serabutsaraf yang berasaldari visceral dandermatomnaikdalamsusunansarafpusatsepanjangjaras yang umumdigunakanbersamadan cortex cerebritidakmampumembedakanlokasiasalserabuttersebut.
2.      Viscera tidakdapatmenimbulkan stimulus nyeri, sedangkandaerahkulitsecaraberulangmenerima stimulus nyerikeadaan normal. Olehkarenakeduanserabut afferent masukke medulla spinalismelaluisegmen yang sama, otakmengintepretasikaninformasitersebutsebagai stimulus yang datangdarikulitdibandingkandengandariviskus.

Nyeri alih dari visera sebagian akibat sensitisasi sentral neuron-neuron konvergen viserosomatik (dipicu oleh serangan viseral aferen), namun juga kemungkinan hasil dari aktivasi lengkung refleks (input viseral memicu kontraksi otot refleks yang sebagai gantinya bertanggung jawab untuk sensitisasi nosiseptor-nosiseptor otot), bagaimanapun, nyeri alih dari struktur somatik yang lebih dalam tidak dijelaskan oleh mekanisme sensitisasi sentral neuron-neuron konvergen dalam bentuk aslinya, karena terdapat sedikit konvergensi dari jaringan yang dalam pada neuron-neuron kornu dorsalis. Telah diajukan bahwa koneksi ini, tidak muncul dari permulaan, dibuka oleh input nosiseptif dari otot skelet, dan peralihan ke miotom (sekelompok otot yang dipersarafi oleh segmen spinalis tunggal) diluar dari lesi hasil dari penyebaran sensitisasi sentral pada segmen spinal tambahan.

8.
Tujuan Penatalaksanaan Nyeri
·                     Mengurangi intensitas dan durasi keluhan nyeri
·                     Menurunkan kemungkinan berubahnya nyeri akut menjadi gejala nyeri kronis yang persisten
·                     Mengurangi penderitaan dan ketidakmampuan akibat nyeri
·                     Meminimalkan reaksi tak diinginkan atau intoleransi terhadap terapi nyeri
·                     Meningkatkan kualitas hidup pasien dan mengoptimalkan kemampuan pasien untuk menjalankan aktivitas sehari-hari
Strategi terapi
1.                  Terapi non-farmakologi
·                     Intervensi psikologis: Relaksasi, hipnosis, dll.
·                     Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) utk nyeri bedah, traumatik, danoral-facial
1.                  Terapi farmakologi
·                     Analgesik : non-opiat dan opiat
Prinsip penatalaksanaan nyeri
Pengobatan nyeri harus dimulai dengan analgesik yang paling ringan sampai ke yang paling kuat
Tahapannya:
1.                  Tahap I     analgesik non-opiat : AINS
2.                  Tahap II     analgesik AINS + ajuvan (antidepresan)
3.                  Tahap III     analgesik opiat lemah + AINS + ajuvan
4.                  Tahap IV     analgesik opiat kuat + AINS + ajuvan

Praktik dalam tatalaksana nyeri, secara garis besar stategi farmakologi mengikuti ”WHO Three Step Analgesic Ladder” yaitu :1
1.      Tahap pertama dengan menggunakan abat analgetik nonopiat seperti NSAID atau COX2 spesific inhibitors.
2.      Tahap kedua, dilakukan jika pasien masih mengeluh nyeri. Maka diberikan obat-obat seperti pada tahap 1 ditambah opiat secara intermiten.

3.      Tahap ketiga, dengan memberikan obat pada tahap 2 ditambah opiat yang lebih kuat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar