Kamis, 19 Maret 2015

SKENARIO 1 PART 2 BLOK 11


Skenario 1 Part 2 Blok 11
Author : Faiz

Anemia Defisiensi Besi pada Ibu Hamil

Anemia adalah kehamilan dengan kondisi ibu dengan kadar hemoglobin dibawah 11% pada trimester 1 dan 3 atau kadar <10,5% pada trimester 2. Nilai batas tersebut perbedaannyadengan kondisi wanita tidak hamil terjadi karena hemodilusi, terutama pada trimester ke 2. Anemia defisiensi besi merupakan tahap defisiensi besi yang paling parah, yang ditandai oleh penurnan cadangan besi, konsentrasi besi serum, dan saturasi transferin yang rendah, dan konsentrasi hemoglobin atau nilai hematokrit yang menurun. Pada kehamilan anemia kekurangan besi akan timbul jika keperluan besi (kira-kira 1000mg pada kehamilan tunggal) tidak dapat dipenuhi dari cadangan besi dan dari besi yang dapat diabsorpsi dari traktus gastrointestinal. Volume darah bertambah cepat pada kehamilan trimester 2 sehingga kekurangan besi sering kali terlihat pada turunnya kadar hemoglobin. Meskipun bertambahnya volume darah tidak  begitu banyak pada trimester 3, tetapi keperluan akan besi tetap banyak karena penambahan HB ibu terus berlangsung dan lebih banyak besi yang diangkut melalui plasenta ke neonatus. Pada kehamilan, kehilangan zat besi akibat pengalihan besi maternal ke janin untuk eritropoeisis, kehilangan zat darah saat persalinan, dan laktasi yang jumlah keseluruhannya mencapai 900mg atau setara 2 liter darah. Oleh karena sebagian besar perempuan mengawali kehamilan dengan cadangan besi yang rendah, maka kebutuhan tambahan ini berakibat pada anemia defisiensi besi.

Epidemiologi
1.       Frekuensi ibu hamil dengan anemia cukup tinggi di Indonesia yaitu 63,5%,sedangkan di amerika hanya 6%. Kekurangan gizi dan perhatian yang kurang terhadap ibu hamil merupakan predisposisi anemia defesiensi pada ibu hamil diIndonesia.
2.       Menurut WHO, 40% kematian ibu di Negara berkembang berkaitan dengan anemia dalam kehamilan.
3.       Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh anemia defesiensi besi dan perdarahan akut bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi.
4.       Defeisiensi besi merupakan defisiensi nutrisi yang paling sering ditemukan baik di negara maju maupun negara berkembang.

Gejala

Gejala umum yang terjadi pada anemia ini tidak berbeda jauh dengan anemia pada umunya seperti lemah, letih, lesu, pucat, serta cepat lelah.
Zat besi (Fe) diperlukan untuk pembuatan hemoglobin (Hb). Kekurangan Fe mengakibatkan kekurangan Hb. Walaupun pembuatan eritrosit juga menurun, tiap eritrosit mengandung Hb lebih sedikit dari pada biasa sehingga timbul anemia hipokromik mikrositik. Tubuh mendaur ulang zat besi, yaitu ketika sel darah merah mati, zat besi di dalamnya dikembalikan ke sumsum tulang untuk digunakan kembali oleh sel darah merah yang baru.
                Tubuh kehilangan sejumlah zat besi hanya ketika sel darah merah hilang karena perdarahan dan menyebabkan kekurangan zat besi.Kekurangan zat besi merupakan sala satu penyebab terbanyak dari anemia dan satu-satunya penyebab kekurangan zat besi pada orang dewasa adalah perdarahan. Makanan yang mengandung sedikit zat besi bisa menyebabkan kekurangan zat besi pada masa bayi dan anak kecil, yang memerlukan lebih banyak zat besi untuk pertumbuhannya. Pada pria dan wanita pasca menopaus, kekurangan zat besi biasanya menunjukkan adanya perdarahan pada saluran pencernaan. Pada wanita pre-menopaus, kekurangan zat besi bisa disebabkan oleh perdarahan menstruasi bulanan.
                Perdarahan menahun menyebabkan kehilangan zat besi sehingga cadangan zat besi makin menurun. Jika cadangan kosong maka keadaan ini disebut iron depleted state. Apabila kekurangan zat besi berlanjut terus  maka penyediaan zat besi untuk  eritropoesis  berkurang sehingga menimbulkan gangguan pada  bentuk eritrosit, tetapi anemia secara klinis belum terjadi, keadaan ini disebut iron deficient erythropoesis. Selanjutnya timbul anemia hipokromik mikrositer sehingga disebut iron deficiencyanemia.
Etiologi
Anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh rendahnya masukan besi, gangguan absorpsi, serta kehilangan besi akibat perdarahan menahun.
  1. Kehilangan besi sebagai akibat perdarahan menahun, yang dapat berasal dari:
a.       Saluran cerna : akibat dari tukak peptik, kanker lambung, kanker kolon, divertikulosis, hemoroid, dan infeksi cacing tambang.
b.      Saluran genitalia wanita : menorhagia, atau metrorhagia.
c.       Saluran kemih : hematuria
d.      Saluran nafas : hemoptoe
2.       Faktor nutrisi : akibat kurangnya jumlah besi total dalam makanan, atau kualitas besi (biovaibilitas) besi yang tidak baik (makanan banyak serat, rendah vitamin C, dan rendah daging).
  1. Kebutuhan besi meningkat : seperti pada prematuritas, anak dalam masa pertumbuhan dan kehamilan.
  2. Gangguan absorpsi besi : gastrektomi, tropical sprue atau kolitis kronik. Pada orang dewasa, anemia defisiensi besi yang dijumpai di klinik hampir identik dengan perdarahan menahun. Faktor nutrisi atau peningkatan kebutuhan besi jarang sebagai penyebab utama. Penyebab perdarahan paling sering pada laki-laki ialah perdarahan gastrointestinal, di negara tropik paling sering karena infeksi cacing tambang. Sementara itu, pada wanita paling sering karena menormetrorhagia.
Faktor Resiko
Ada beberapa faktor yang memperbesar kemungkinan terjadinya anemia pada wanita hamil antara lain :
·         Jarak waktu antara dua kehamilan yang berdekatan 
·         Kehamilan multigravida (lebih dari satu anak) 
·         Sering muntah pada awal kehamilan
·         morning sickness
·         Tidak mengkonsumsi zat besi dalam jumlah yang cukup  
·         Memiliki riwayat perdarahan haid yang banyak  

Akibat dari anemia dalam kehamilan
 Anemia dalam kehamilan dapat berakibat fatal bagi ibu dan calon bayi / bayinya. Akibat
 akibat yang dapat ditimbulkan antara lain : 
1.       Dapat terjadi keguguran 
2.       Dapat terjadi kecacatan pada bayi 
3.       Dapat terjadi kelahiran prematur  
4.       Dapat terjadi kelahirandengan BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) dan kondisi bayi yang lemah 
5.       Dapat terjadi kematian ibu dan bayi pada saat melahirkan

Patofisiologi
Riwayat alamiah penyakit merupakan gambaran tentang perjalanan perkembangan penyakit pada individu dimulai sejak terjadinya paparan dengan agen penyebab sampai terjadinya kesembuhan atau kematian tanpa terinterupsi oleh suatu intervensi preventif maupun terapeutik (CDC, 2010 dikutip Murti, 2010). Hal ini diawali dengan terjadinya interaksi antara host, agent, dan lingkungan. Perjalanan penyakit dimulai dengan terpaparnya host yang rentan (fase suseptibel) oleh agen penyebab. Sumber penyakit (agens) pada anemia ibu hamil diantaranya dapat berupa unsur gizi dan faktor fisiologis.Pada saat hamil, ibu sebagai penjamu (host).
Dari faktor faal atau fisiologis, kehamilan menyebabkan terjadinya peningkatan volume plasma sekitar 30%, eritrosit meningkat sebesar 18% dan hemoglobin bertambah 19%. Peningkatan tersebut terjadi mulai minggu ke-10 kehamilan.Berdasarkan hal tersebut dapat dilihat bahwa bertambahnya volume plasma lebih besar daripada sel darah (hipervolemia) sehingga terjadi pengenceran darah.Hemoglobin menurun pada pertengahan kehamilan dan meningkat kembali pada akhir kehamilan.
Namun, pada trimester 3 zat besi dibutuhkan janin untuk pertumbuhan dan perkembangan janin serta persediaan setelah lahir.Hal inilah yang menyebabkan ibu hamil lebih mudah terpapar oleh agen sehingga berisiko terjadinya anemia. Sedangkan, dari unsur gizi ibu hamil dihubungkan dengan kebutuhan akan zat besi (Fe), asam folat, dan vitamin B12. Keluhan mual muntah pada ibu hamil trimester 1 dapat mengurangi ketersediaan zat besi pada tubuh ibu hamil.Dan kebutuhan zat besi pada ibu hamil trimester 3 untuk pertumbuhan dan perkembangan janin juga membuat kebutuhan zat besi pada ibu hamil semakin besar.Padahal, zat besi dibutuhkan untuk meningkatkan sintesis hemoglobin.
Jika fase suseptibel di atas tidak tertangani, maka akan terjadi proses induksi menuju fase subklinis (masa laten) dan kemudian fase klinis dimana mulai muncul tanda dan gejala anemia seperti cepat lelah, sering pusing, malaise, anoreksia, nausea dan vomiting yang lebih hebat, kelemahan, palpitasi, pucat pada kulit dan mukosa, takikardi dan bahkan hipotensi. Selama tahap klinis, manifestasi klinis akan menjadi hasil akhir apakah mengalami kesembuhan, kecacatan, atau kematian (Rohtman, 2002 dalam Murti,2010). Misalnya jika terjadi pada trimester I akan mengakibatkan abortus dan kelainan kongenital, pada trimester II dapat mengakibatkan persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin, asfiksia, BBLR, mudah terkena infeksi dan bahkan kematian. Sedangkan pada trimester III akan menimbulkan gangguan his, janin lahir dengan anemia, persalinan tidak spontan .

Periode Prepathogenesis dan Pathogenesis
Tahap prepathogenesis adalah tahap sebelum terjadinya penyakit.Sehingga, tahap ini terdiri dari fase suseptibel dan subklinis (asimtomatis).Pada tahap ini, secara patofisiologis anemia terjadi pada kehamilan karena terjadi perubahan hematologi atau sirkulasi yang meningkat terhadap plasenta.Hal ini berhubungan dengan meningkatnya volume plasma tetapi tidak sebanding dengan penambahan sel darah dan hemoglobin.Selain itu, dapat disebabkan kebutuhan zat besi yang meningkat serta kurangnya cadangan zat besi dan intake zat besi dalam makanan.Zat besi diperlukan untuk eritropoesis (Atmarita, 2004 dalam Amiruddin et al, 2007).
Jika total zat besi dalam tubuh menurun akibat cadangan dan intake zat besi yang menurun, maka akan terjadi penurunan zat besi pada hepatosit dan makrofag hati, limpa dan sumsum tulang belakang. Setelah cadangan habis, akan terjadi penurunan kadar Fe dalam plasma padahal suplai Fe pada sumsum tulang untuk pembentukan hemoglobin menurun. Hal ini mengakibatkan terjadinya peningkatan eritrosit tetapi mikrositik sehingga terjadi penurunan kadar hemoglobin (Choudry et al, 2002 dalam Yilmaz et al, 2007). Anemia pada kehamilan tersebut dinamakan anemia defisiensi besi.

Preventif
Pencegahan anemia pada ibu hamil dapat dilakukan antara lain dengan cara: meningkatkan konsumsi zat besi dari makanan, mengkonsumsi pangan hewani dalam jumlah cukup, namun karena harganya cukup tinggi sehingga masyarakat sulit menjangkaunya. Untuk itu diperlukan alternatif yang lain untuk mencegah anemia gizi besi, memakan beraneka ragam makanan yang memiliki zat gizi saling melengkapi termasuk vitamin yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi, seperti vitamin C. Peningkatan konsumsi vitamin C sebanyak 25, 50, 100 dan 250 mg dapat meningkatkan penyerapan zat besi sebesar 2, 3, 4 dan 5 kali. Buah-buahan segar dan sayuran sumber vitamin C, namun dalam proses pemasakan 50-80% vitamin C akan rusak. Mengurangi konsumsi makanan yang bisa menghambat penyerapan zat besi seperti : fitat, fosfat, tannin. ( Wiknjosastro, 2005 ; Masrizal, 2007)
Penanganan anemia defisiensi besi adalah dengan preparat besi yang diminum (oral) atau dapat secara suntikan (parenteral). Terapi oral adalah dengan pemberian preparat besi : fero sulfat, fero gluconat, atau Na-fero bisitrat. Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikkan kadar Hb sebanyak 1 gr% per bulan.
Sedangkan pemberian preparat parenteral adalah dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena atau 2×10 ml secara intramuskulus, dapat meningkatkan hemoglobin relatif cepat yaitu 2gr%. Pemberian secara parenteral ini hanya berdasarkan indikasi, di mana terdapat intoleransi besi pada traktus gastrointestinal, anemia yang berat, dan kepatuhan pasien yang buruk. Pada daerah-daerah dengan frekuensi kehamilan yang tinggi dan dengan tingkat pemenuhan nutrisi yang minim, seperti di Indonesia, setiap wanita hamil haruslah diberikan sulfas ferosus atau glukonas ferosus sebanyak satu tablet sehari selama masa kehamilannya.
Selain itu perlu juga dinasehatkan untuk makan lebih banyak protein dan sayur-sayuran yang mengandung banyak mineral serta vitamin (Sasparyana, 2010 ; Wiknjosastro 2005). Kenaikan volume darah selama kehamilan akan meningkatkan kebutuhan Fe atau Zat Besi. Jumlah Fe pada bayi baru lahir kira-kira 300 mg dan jumlah yang diperlukan ibu untuk mencegah anemia akibat meningkatnya volume darah adalah 500 mg. Selama kehamilan seorang ibu hamil menyimpan zat besi kurang lebih 1.000 mg termasuk untuk keperluan janin, plasenta dan hemoglobin ibu sendiri. Kebijakan nasional yang diterapkan di seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat adalah pemberian satu tablet besi sehari sesegera mungkin setelah rasa mual hilang pada awal kehamilan. Tiap tablet mengandung FeSO4 320 mg (zat besi 60 mg) dan asam folat 500 μg, minimal masing-masing 90 tablet. Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama teh atau kopi, karena akan mengganggu penyerapannya ( Depkes RI, 2009). Menurut Shafa (2010) kebutuhan Fe selama ibu hamil dapat diperhitungkan untuk peningkatan jumlah darah ibu 500 mgr, pembentukan plasenta 300 mgr, pertumbuhan darah janin 100 mgr.

           Pemeriksaan dapat diketahui dari pemeriksaan laboratorium :
  1. Kadar hemoglobin dan indeks eritrosit : didapatkan anemia hipokrom mikrositer dengan penurunan kadar hemoglobin mulai dari ringan sampai berat. MCV, MCHC, dan MCH menurun. MCH <> red cell distributionwidth meningkat yang menandakan adanya anisositosis. Indeks eritrosit sudah dapat mengalami perubahan sebelum kadar hemoglobin menurun. Kadar hemoglobin sering turun sangat rendah, tanpa menimbulkan gejala anemia yang mencolok karena anemia timbul perlahan-perlahan.  Adapun darah menunjukkan anemia hipokromik mikrositer, anisositosis, poikilositosis, anulosit, sel pensil, kadang-kadang  sel  target. Derajat hipokromia dan mikrositosis berbanding lurus dengan derajat anemia, berbeda dengan thalassemia. Leukosit dan trombosit normal. Reukosit rendah dibandingkan derajat anemia. Pada kasus ankilostomiasis sering dijumpai eosinofilia.
  2. Apus sumsum tulang : Hiperplasia eritropoesis, dengan kelompok-kelompok normo-blast basofil. Bentuk pronormoblast kecil-kecil, sideroblast.
  3. Kadar besi serum menurun <50>350 mg/dl, dan saturasi transferin
  4. Feritin serum.  Sebagian kecil feritin tubuh bersikulasi dalam serum, konsentrasinya sebanding dengan cadangan besi jaringan, khususnya retikuleodotel. Pada anemia defisiensi besi, kadar feritin serum sangat rendah, sedangkan feritin serum yang meningkat menunjukkan adanya kelebihan besi atau pelepasan feritin berlebihan dari jaringan yang rusak atau suatu respons fase akut, misalnya pada inflamasi. Kadar serum normal atau menigkat pada anemia penyakit kronik.
  5. TIBC (Total Iron Banding Capacity) meningkat
  6. Fase : Telur cacing Ankilostoma duodenale / Necator americanus.
  7. Pemeriksaan lain : endoskopi, kolonoskopi, gastroduodenografi, colon in loop, pemeriksaan genikologi.

Penatalakasanaan
Setelah diagnosis ditegakkan maka dibuat rencana pemberian terapi, terapi terhadap anemia difesiensi besi dapat berupa :
1.       Terapi kausal : tergantung penyebabnya, misalnya : pengobatan cacing tambang. Pengobatan hemoroid, pengobatan menoragia. Terapi kausal harus dilakukan, kalau tidak maka anemia akan kambuh kembali .
2.       Pemberian preparat besi untuk mengganti kekuranagan besi dalam tubuh
a.       Besi per oral : merupakan obat pilihan pertama karena efektif,  murah, dan aman. Preparat yang tersedia, yaitu :
·         Ferrous sulphat (sulfas ferrous) : preparat pilihan pertama ( murah dan efektif ). Dosis : 3x 200 mg.
·         Ferrous gluconate, ferrous fumarat, ferrous lactate, dan ferrous succinate, harga lebih mahal, tetapi efektivitas dan efek samping hampir sama.
b.      Besi parenteral : efek samping lebih berbahaya, serta harganya lebih   mahal. Indikasi, yaitu :
·         Intolerasi oral berat
·         Kepatuhan berobat kurang
·         Kolitis ulserativa
·         Perlu peningkatan Hb secara cepat (misal preoperasi, hamil trimester akhir )
3.       Mengatasi penyebab perdarahan kronik, misalnya pada ankilostomiasis diberikan antelmintik yang sesuai.
4.       Pemberian preparat Fe : pemberian preparat besi (ferosulfat/ ferofumarat/ferolukonat) dosis 4-6 mg besi elemental/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis, diberikan diantara waktu makan. Preparat besi ini diberikan sampai 2-3 bulan setelah kadar hemoglobin normal.
5.       Bedah: untuk penyebab yang memerlukan intervensi bedah seperti perdarahan karena diverticulum meckel.
6.       Suportif: makanan gizi seimbang terutama yang mengadung kadar besi tinggi yang bersumber dari hewani (limfa, hati, daging) dan nabati (bayam kacang-kacangan).

MINIKUIS SKENARIO 1 BLOK 11


LATIHAN SOAL MINIKUIS SKENARIO 1 BLOK 11
Author : Aprilliana Risma

1. Jenis anemia pada ibu hamil yang sering terjadi adalah anemia …………..
a. Defisiensi besi
b. Megaloblastik
c. Hipoplastik
d. Hemolitik
e. Sideroblastik

2. Suplemen per hari untuk mencegah anemia yang terbaik adalah ……………
a. Asam folat saja
b. Asam folat + Fe + Zn 30 ug
c. Asam folat + Fe + Zn + 4 mikronutrien
d. 60 mg Fe + 400 ug asam folat
e. Sulfas ferros + putih telur

3. Hasil Pemeriksaan didapatkan MCV meningkat, bersama-sama dengan RDW tinggi, didapatkan pada …………
a. Defisiensi Fe
b. Defisiensi vit B12 / asam folat
c. Sickle cell anemia
d. Anemia aplastik
e. Thalassemia

4. Menunjukkan adanya aktivitas eritropoesis yang meningkat ……………
a. M : E ratio meningkat 10 : 1
b. Hiperseluler
c. Retikulositosis
d. Pada penyakit MDS
e. Perdarahan kronis

5. Gejala klinis anemia defisiensi besi adalah …………….
a. PICA
b. Ikterus
c. Demam
d. Epitaksis
e. Splenomegali

6. Simpanan utama besi dalam tubuh adalah dalam bentuk …………….
a. Hemosiderin
b. Ferritin
c. Transferin
d. Hb
e. Haptoglobin

7. Hasil pemeriksaan laboratorium untuk anemia defisiensi besi adalah …………….
a. Ferritin serum rendah, SI rendah, dan saturasi transferin meningkat
b. Ferritin serum rendah, RBC makrositosis, dan saturasi transferin meningkat
c. Ferritin serum rendah, RBC mikrositosis, dan TIBC rendah
d. Ferritin serum rendah, RBC mikrositosis, dan saturasi transferin rendah
e. Ferritin serum rendah, SI rendah dan TIBC rendah

8. Pemberian obat berupa tablet berisi zat besi (Fe) kepada semua penderita anemia tida krasional, sebab ……………..
a. Tidak semua pasien tahan / toleran terhadap zat besi (Fe).
b. Zat besi (Fe) dapat menimbulkan nyeri perut.
c. Tidak semua anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi
d. Absorbsi zat besi (Fe) tidak tergantung pada defeknya dalam darah
e. Tidak k semua pasien anemia mengabsorbsi zat besi dengan baik

9. Obat yang berisi zat-zat berikut, diberikan dalam rangka terapi anemia mikrositik hipokromik pada penderita dengan malnutrisi adalah ……………
a. Antasida, zat besi (Fe), dan suplemen asam amino, misalnya lisin
b. Zat besi (Fe), lisin, dan vitamin
c. Vitamin, edatarmil dan zat besi (Fe)
d. Diuretika, zat besi (Fe) dan asam folat.
e. Asam folat, sianokobalamin dan asam amino esensial.

10. Wanita 45th BB turun, darah menetes (+), hasil Px anemia mikrositik dengan SI turun, IBC naik maka ……………
a. Anemia sideroblastik
b. Thalassemia
c. Anemia defisiensi besi
d. Anemia karena penyakit ginjal
e. Anemia karena penyakit kronis

11. Anemia oleh karena kehamilan ……………..
a. Volume eritrosit meningkat 20%, volume plasma meningkat 30%
b. Wanita normal anemia berkurang mulai kehamilan 18 minggu
c. Oleh karena defisiensi asam folat atau B12
d. Hamil trimester III, kadar Hb kira-kira 12g/dl
e. Anemia stabil umur 36 minggu sampai lahir

12. Pendekatan laboratorik awal untuk diagnosis anemia ……………..
a. Hb, hmt, hitung eritrosit
b. Indeks eritrosit
c. Retikulosit
d. Gambaran sediaan apus darah tepi
e. Semua di atas untuk uji saring, untuk menentukan test selanjutnya

13. Thalassemia disebabkan oleh …………..
a. Hb abnormal
b. Gangguan sintesa / kelainan rantai polypeptide
c. Malabsorbsi besi
                d. Sintesa phorphirin abnormal
e. Eritropoesis tidak baik

14. Eritrosit anemia aplastik ……………..
a. Normositik, normokromik
b. Makrositik, hipokromik
c. Makrositik, normokromik
d. Mikrositik, hipokromik
e. Mikrositik, normokromik

15. Untuk depo dalam tubuh, pemberian Fe pada anemia defisiensi besi setelah kadar Hb normal, diteruskan sampai …………….
a. 2 hari
b. 2 minggu
c. 2 bulan
d. 2 tahun
e. Selamanya

Senin, 16 Maret 2015

SKENARIO 1 PART 1 BLOK 11


Skenario 1 Part 1 Blok 11
Author : Fauzan Kurniawan

ANEMIA PADA IBU HAMIL

1.       PENGERTIAN
Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12 gr% (Wiknjosastro, 2002). Sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II (Saifuddin, 2002).
Anemia adalah kondisi dimana sel darah merah menurun atau menurunnya hemoglobin, sehingga kapasitas daya angkut oksigen untuk kebutuhan organ-organ vital pada ibu
dan janin menjadi berkurang. Selama kehamilan, indikasi anemia adalah jika konsentrasi hemoglobin kurang dari 10,50 sampai dengan 11,00 gr/dl (Varney H, 2006).
Anemia pada wanita hamil jika kadar hemoglobin atau darah merahnya kurang dari 10,00 gr%. Penyakit ini disebut anemia berat. Jika hemoglobin < 6,00 gr% disebut
anemia gravis. Jumlah hemoglobin wanita hamil adalah 12,00-15,00 gr% dan hematokrit adalah 35,00-45,00% (Mellyna, 2005).
Anemia dalam kandungan ialah kondisi ibu dengan kadar Hb < 11,00 gr%. Pada trimester I dan III atau kadar Hb < 10,50 gr% pada trimester II. Karena ada perbedaan dengan kondisi wanita tidak hamil karena hemodilusi terutama terjadi pada trimester II (Sarwono P, 2002).

2.       ETIOLOGI
Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan tidak jarang keduannya saling berinteraksi (Safuddin, 2002). Menurut Mochtar (1998) penyebab anemia pada umumnya adalah sebagai berikut:
1. Kurang gizi (malnutrisi)
2. Kurang zat besi dalam diit
3. Malabsorpsi
4. Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain
5. Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria dan lain-lain

3.       PATOFISIOLOGI
Darah bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut hidremia atau hipervolemia, akan tetapi bertambahnya sel-sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma, sehingga pengenceran darah. Pertambahan tersebut berbanding plasma 30,00%, sel darah merah 18,00% dan Hemoglobin 19,00%. Tetapi pembentukan sel darah merah yang terlalu lambat sehingga menyebabkan kekurangan sel darah merah atau anemia.
Pengenceran darah dianggap penyesuaian diri secara fisiologi dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita, pertama pengenceran dapat meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa kehamilan, karena sebagai akibat hidremia cardiac output untuk meningkatkan kerja jantung lebih ringan apabila viskositas rendah. Resistensi perifer berkurang, sehingga tekanan darah tidak naik, kedua perdarahan waktu persalinan, banyaknya unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah ibu tetap kental. Tetapi pengenceran darah yang tidak diikuti pembentukan sel darah merah yang seimbang dapat menyebabkan anemia.
Bertambahnya volume darah dalam kehamilan dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan 32 dan 36 minggu (Setiawan Y, 2006).

4.       TANDA DAN GEJALA
Gejala anemia pada kehamilan yaitu ibu mengeluh cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi hilang, nafas pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda.

5.       KLASIFIKASI
Klasifikasi anemia dalam kehamilan menurut Mochtar (1998), adalah sebagai berikut:

a. Anemia Defisiensi Besi
Adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah. Pengobatannya yaitu, keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah pemberian tablet besi. Pengobatannya adalah : Terapi Oral adalah dengan memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero glukonat atau Na-fero bisirat. Pemberian preparat 60 mg/ hari dapat menaikan kadar Hb sebanyak 1 gr%/ bulan. Saat ini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 nanogram asam folat untuk profilaksis anemia (Saifuddin, 2002).
Terapi Parenteral baru diperlukan apabila penderita tidak tahan akan zat besi per oral, dan adanya gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan atau masa kehamilannya tua (Wiknjosastro, 2002). Pemberian preparat parenteral dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 mg) intravena atau 2 x 10 ml/ IM pada gluteus, dapat meningkatkan Hb lebih cepat yaitu 2 gr% (Manuaba, 2001).
Untuk menegakan diagnosa Anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan anamnesa. Hasil anamnesa didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang dan keluhan mual muntah pada hamil muda. Pada pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sachli, dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu trimester I dan III. Hasil pemeriksaan Hb dengan sachli dapat digolongkan sebagai berikut:
1) Hb 11 gr% : Tidak anemia
2) Hb 9-10 gr% : Anemia ringan
3) Hb 7 – 8 gr%: Anemia sedang
4) Hb < 7 gr% : Anemia berat
Kebutuhan zat besi pada wanita hamil yaitu rata-rata mendekatai 800 mg. Kebutuhan ini terdiri dari, sekitar 300 mg diperlukan untuk janin dan plasenta serta 500 mg lagi digunakan untuk meningkatkan massa haemoglobin maternal. Kurang lebih 200 mg lebih akan dieksresikan lewat usus, urin dan kulit. Makanan ibu hamil setiap 100 kalori akan menghasilkan sekitar 8–10 mg zat besi. Perhitungan makan 3 kali dengan 2500 kalori akan menghasilkan sekitar 20–25 mg zat besi perhari. Selama kehamilan dengan perhitungan 288 hari, ibu hamil akan menghasilkan zat besi sebanyak 100 mg sehingga kebutuhan zat besi masih kekurangan untuk wanita hamil (Manuaba, 2001).

b. Anemia Megaloblastik
Adalah anemia yang disebabkan oleh karena kekurangan asam folik, jarang sekali karena kekurangan vitamin B12.
Pengobatannya:
1) Asam folik 15 – 30 mg per hari
2) Vitamin B12 3 X 1 tablet per hari
3) Sulfas ferosus 3 X 1 tablet per hari
4) Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan transfusi darah.

c. Anemia Hipoplastik
Adalah anemia yang disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel darah merah baru. Untuk diagnostik diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan diantaranya adalah darah tepi lengkap, pemeriksaan pungsi ekternal dan pemeriksaan retikulosi.

d. Anemia Hemolitik
Adalah anemia yang disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah, kelelahan, kelemahan, serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital. Pengobatannya tergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya. Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah. Namun pada beberapa jenis obat-obatan, hal ini tidak memberi hasil. Sehingga transfusi darah berulang dapat membantu penderita ini.

6.       EFEK ANEMIA PADA IBU HAMIL
a.       Bahaya Pada Trimester I
Pada trimester I, anemia dapat menyebabkan terjadinya missed abortion, kelainan congenital, abortus / keguguran.

b.      Bahaya Pada Trimester II
Pada trimester II, anemia dapat menyebabkan terjadinya partus premature, perdarahan ante partum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia intrapartum sampai kematian, gestosis dan mudah terkena infeksi, dan dekompensasi kordis hingga kematian ibu.

c.       Bahaya Saat Persalinan
Pada saat persalinan anemia dapat menyebabkan gangguan his primer, sekunder, janin lahir dengan anemia, persalinan dengan tindakan-tindakan tinggi karena ibu cepat lelah dan gangguan perjalanan persalinan perlu tindakan operatif (Mansjoer dkk, 2008).

Kamis, 12 Maret 2015

BLOK 6 SKENARIO 2 PART 2

Skenario :

Seorang perempuan ibu rumah tangga usia 36 tahun datang ke praktek dokter karena ingin berkonsultasi untuk mengatasi masalah kegemukannya. Ibu tersebut suka banyak makan nasi dengan sedikit sayur. Ibu tersebut suka mengkonsumsi makanan yang berlemak dan makanan manis. Setiap harinya, dia jarang olahraga. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan : BB 76 kg, TB 156 cm

Ini beberapa materi untuk mini quiz. Semoga Bermanfaat.
1. Metabolisme Karbohidrat
https://www.dropbox.com/s/5vpwkg0z0pz2xn9/METABOLISME%20KARBOHIDRAT.doc?dl=0

2. Metabolisme Lipid
https://www.dropbox.com/s/05adzezdzvlgfzm/METABOLISME%20LEMAK.doc?dl=0

3. Metabolisme Protein
https://www.dropbox.com/s/0avc0lnbxy88fk7/METABOLISME%20PROTEIN.doc?dl=0