Senin, 02 Desember 2013

Skenario 2 - Part 1 - Blok 9


Author : Yoga...
Assalamualaikum Wr. Wb.! :D
DIAREEEE....yok mulai..
Identifikasi Masalah

1.       Apa yang dimaksud dengan diare?

-          Diarrhea berasal dari bahasa Yunani (id)/Greek(en), Dia berarti melalui dan rhien berarti mengalir. (USU)

-          Diare didefinisikan sebagai pengeluaran tinja yang cair dengan frekuensi ≥3x/hari disertai perubahan konsistensi tinja (lembek atau cair) dengan atau tanpa darah/lendir dalam tinja, disertai atau tanpa muntah. (USU)

-          Kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya, lebih dari 200 gram atau 200ml/24 jam. (IPD ed.V, p548)

 

2.       Istilah-istilah dalam diare yang penting!

a.       Diare Persisten

Merupakan istilah yang dipakai di luar negeri yang menyatakan diare yang berlangsung 15-30 hari yang merupakan kelanjutan dari diare akut (peralihan antara diare akut dan kronik, dimana lama diare kronik yang dianut yaitu berlangsung lebih dari 30 hari). (IPD ed.V, p548)

b.      Disentri

§  Diare yang disertai darah dalam feses,

(Buku : Asuhan Keperawatan Anak – Gangguan gastrointestinal dan hepatobilier)

 

Disentri itu biasanya karena shigella, penyebab lain campylobacter jejuni, e.coli enteroinvasife, amoeba, salmonella, entamoeba hystolytica juga (Buku : Asuhan Keperawatan Anak – Gangguan gastrointestinal dan hepatobilier)

 

3.       Klasifikasi Diare

a.       Berdasarkan Lama Waktu Diare

                                                   i.      Diare Akut (diare yang berlangsung kurang dari 15 hari)

                                                 ii.      Diare Kronik (diare yang berlangsung lebih dari 15 hari)

Sebenarnya para pakar didunia telah mengajukan beberapa kriteria mengenai batasan kronik pada kasus diare tersebut, ada yang 15 hari, 3 minggu, 1 bulan dan 3 bulan, tetapi di indonesia dipilih waktu lebih dari 15 hari agar dokter tidak lengah, dapat lebih cepat menginvestigasi penyebab diare dengan lebih tepat.

b.      Mekanisme patofisiologis : osmotik atau sekretorik dll

c.       Berat ringan diare : kecil atau besar

d.      Penyabab infeksi atau tidak : infektif atau non-infektif

e.      Penyebab organik atau tidak : organik atau fungsional

(IPD ed.V, p548)

                *Versi lain:

                Diare akut (<2 minggu), diare kronik (Lebih atau sama dengan 2 minggu) (Widoyono, 2008) (UPNJ)

4.       Kenapa pada orang dengan diare, frekuensi defekasi dan konsistensi tinjanya berubah?

a.       Etiologi

b.      Patofisiologi

Etiologi



(USU)

b. Patofisiologi 
Semua segmen dari usus halus mulai dari duodenum sampai bagian distal usus besar mempunyai mekanisme untuk absorbsi air dan elektrolit.

Menurut patofisiologi diare secara garis besar dibagi menjadi :

1.       diare osmotik (absorptive)

2.       diare sekretorik

Sebenarnya pembagian ini tidak begitu tegas karena sering mikroorganisme yang menyebabkan diare osmotik/absorptive, juga dapat menyebabkan diare sekretorik sehingga terjadi diare campuran/kombinasi antara osmotik/absorptive dengan sekretorik.

Diare osmotik terjadi jika makanan sulit atau tidak dapat diabsorpsi di usus maka akan terjadi osmotik di usus menjadi meningkat sehingga air akan ditarik ke dalam usus yang mengakibatkan terjadinya kelebihan cairan dalam usus sehingga dikeluarkan dari usus dalam bentuk cair.

Contoh  klasik  diare  osmotik adalah intoleransi laktosa yang disebabkan kekurangan enzim laktase, dimana laktosa tidak dapat diabsorbsi oleh usus halus dan mencapai usus besar dalam bentuk utuh. Bakteri dalam usus besar akan memfermentasi laktosa yang tidak diabsorbsi tersebut menjadi asam organik berantai pendek, yang menghasilkan beban osmotik yang menyebabkan air disekresi ke dalam lumen usus.

Selain itu Diare osmotik terjadi karena: (Unimus)

a)      Pasien memakan substansi non absorbsi antara lain laksan magnesium sulfat atau antasida mengandung magnesium.

b)      Pasien mengalami malabsorbsi generalisata sehingga cairan tinggi konsentrasi seperti glukosa tetap berada di lumen usus.

c)       Pasien dengan defek absorbtif, misalnya defisiensi disakaride atau malasorbsi glukosa-galaktosa.

Pada diare sekretorik, terjadipeningkatan sekresi klorida secara aktif dari sel kripta akibat mediator intraseluler seperti cAMP,cGMP, dan Ca2+.Mediator tersebut juga mencegah terjadinya perangkaian antara Na+ dan Cl pada sel vili usus. Hal ini berakibat cairan tidak dapat terserap dan terjadi pengeluaran cairan secara masif ke lumen usus.

Diare sekretorik murni ditandai dengan :

a)      Jumlah cairan kotoran banyak ( dapat melebihi 1 liter per-jam pada orang dewasa yang hidrasi baik)

b)      Tidak dijumpai sel darah merah dan sel darah putih dalam tinja

c)       Tidak dijumpai adanya demam atau gejala sistemik lain (kecuali akibat dehidrasi)

d)      Diare terus berlanjut walaupun dipuasakan (akan tetapivolume mungkin berkurang)

e)      Kekurangan kelebihan osmotik gap dalam elektrolit tinja.

Contoh klasik diare sekretorik yaitu yang diinduksi oleh enterotoksin kolera dan eschericha coli

(USU)

5.       Apa saja komplikasi dari diare?

Diare dapat menyebabkan : (BKGAI, 2007)

1.       Dehidrasi, akibat kehilangan air (output) lebih banyak dibanding masukan air (input).

2.       Gangguan keseimbangan asam-basa (metabolik asidosis) karena :

a.       Kehilangan Na-bikarbonat bersama tinja

b.      Ketosis kelaparan

c.       Penimbunan asam laktat karena anoksia jaringan

d.      Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria / anuria)

e.      Pemindahan  ion  Na  dari  cairan  ekstraselular  ke  dalam  cairan intraselular

3.       Hipoglikemia,  terjadi  pada  2-3  %  anak  yang  menderita  diare.  Gejala hipoglikemia  akan  muncul  jika  kadar  glukosa  darah  menurun  sampai 40mg%  yang  berupa  lemah,  apatis,  peka  rangsang,  tremor,  berkeringat, pucat, syok, kejang sampai koma.

4.       Gangguan nutrisi akibat penurunan berat badan dalam waktu singkat. Hal ini dapat disebabkan oleh :

a.       Makanan  sering  dihentikan  orangtua  karena  takut  diare/muntah  akan bertambah hebat.

b.      Susu diberikan dengan pengenceran dan dalam waktu yang lama.

c.       Makanan  yang  diberikan  sering  tidak  dicerna  dan  diabsorpsi  dengan baik, karena adanya hiperperistaltik.

5.        Gangguan sirkulasi berupa renjatan (syok hipovolemik).

(UPNVJ)

6.       Bagaimana penatalaksanaan pasien dengan diare?

a.       Kuratif

                                                               i.      Anak     

1.       Buku Saku Lintas Diare, Depkes 2011 (softfile pdf online)

2.       WHO – dalam bahasa indonesia :

a.       Diare Akut dengan dehidrasi ringan, sedang atau berat

b.      Diare Persisten

c.       Disentri


                                                             ii.      Dewasa                à dapat menggunakan algoritma untuk evaluasi pasien dengan diare akut (IPD ed.5, Hal 553) atau Algoritma untuk pasien dengan diare kronik. (IPD ed.5, hal 546)

World Health Organization(WHO) dalam revisi ke-4 tahun 2005  mengenai tatalaksana diare akut pada anak menyebutkan tujuan pengobatan diare akut pada anak adalah:

1.       Pencegahan dehidrasi: bila tidak dijumpai tanda-tanda dehidrasi.

2.       Pengobatan dehidrasi : bila dijumpaitanda-tanda dehidrasi (Tabel 2.1).

3.       Mencegah timbulnya kurang kalori protein:dengan  cara  memberikan makanan selama diare berlangsung dan setelah diare berhenti.

4.       Mengurangi lama dan beratnya diare dan mengurangi kekambuhan diare pada hari-hari mendatang: dengan memberikan zink dengan dosis 10 sampai 20 mg selama 10 sampai 14 hari.



WHO menganjurkan pemberian oralit untuk mengganti cairan yang hilang melalui diare, pemberian oralit berguna untuk mencegah terjadinya dehidrasi dan mengobati dehidrasi (treatment) pada diare akut. Bila pemberian oralit gagal dilakukan pemberian cairan secara intravena dan penderita harus dirawat di rumah sakit.

 

Pemberian cairan dilakukan berdasarkan derajat dehidrasi yang terjadi. Pada penderita diare dehidrasi ringan-sedang diberikan cairan rehidrasi 75 cc/Kg berat badan selama 4 jam, sedangkan pada dehidrasi berat diberikan 100 cc/Kg berat badan dalam waktu 3 sampai 6 jam.

 

Antibiotik diberikan hanya pada kolera, disentri basiler, amubiasis dan giardiasis atau adanya penyakit penyerta(sepsis, pneumonia, dan lain-lain). Pemberian antidiare dan antimuntah tidakdianjurkan karena tidak terbukti menguntungkan bahkan dapat menyebabkan kelumpuhan usus atau membuat bayi tertidur lama bahkan menimbulkan kematian pada bayi.

 

Setelah rehidrasi selesai, makanan segera diberikan walaupun diare masih terus berlangsung, pemberian makanan bertujuan untuk mencegah terjadinya kurang kalori protein karena anak yang menderita diare akan kehilangan berat badan sebanyak 1%  setiap harinya, mempercepat rehabilitasi mukosa usus yang rusak dan mengurangi pemecahan lemak dan protein tubuh sehingga mengurangi pembentukan asam-asam organik dan mencegah terjadinya asidosis metabolik.

 

Selain itu, ASI (Air Susu Ibu) pada anak yang menderita diare harus tetap diberikan.

 

Keberadaan oralit sebagai terapi pencegahan dehidrasi telah menurunkan angka kematian yang disebabkan diare akut, dari 5 juta anak / tahun menjadi 3,2 juta anak / tahun, akan tetapi oralit tidak dapat mengurangi keparahan diare (konsistensi tinja, frekuensi dan lamanya diare).

(USU)

                                Kebutuhan Oralit Per Kelompok Umur (Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga, p473)

                                Umur
Jumlah Oralit yang diberikan tiap buang air besar
Jumlah oralit yang disediakan di rumah
<12 bulan
50-100 ml
400 ml/hari (2 bungkus)
1-4 tahun
100-200 ml
600-800 ml/hari (3-4 bungkus)
>5 tahun
200-300 ml
800-1000ml/hari (4-5 bungkus)
Dewasa
300-400 ml
1200-2800 ml/hari

                             

   


 


b.      Preventif

                                                               i.      Pemberian hanya ASI saja pada bayi sampai usia 4 bulan (pada Balita).

                                                             ii.      Mencuci  tangan  dengan  sabun  setelah  buang  air  besar  atau  sebelum memberi makan anak. Menurut penelitian, umumnya anak yang berusia 5 tahun  pernah  terinfeksi  oleh  rotavirus  walaupun  tidak  semuanya mengalami  diare.  Biasanya  anak-anak  ini  tertular  karena  kurangnya kebiasaan hidup sehat seperti kurang atau tidak mencuci tangan.

                                                            iii.      Menggunakan  jamban  dan  menjaga  kebersihannya,   kamar  mandi  atau jamban yang bersih juga dapat membantu mencegah penyebaran kuman.

                                                           iv.      Menggunakan  air  matang  untuk  makanan  minuman.  Kuman  penyebab diare umumnya spesifik pada suatu daerah tertentu, yang bergantung pada tingkat  kebersihan  lingkungan  dan  kebiasaan  kesehatan  warganya.  Di daerah  dimana  tingkat  kebersihan  lingkungannya  buruk  dan  warganya tidak  memiliki   kebiasaan  hidup  sehat  sering  ditemui  kejadian  diare terutama karena adanya kontaminasi air atau makanan oleh kuman.

                                                             v.      Menjaga kebersihan lingkungan sekitar. 

(UPNVJ)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar