Rabu, 29 Oktober 2014

SKENARIO 3 PART 1


by : Ve

Skenario :
Bayi berusia 9 bulan dirujuk karena belum dapat duduk sendiri, anak baru bisa berguling dari posisi tengkurap ke terlentang. Anak ini kadang menggumam tetapi belum dapat mengeluarkan suara konsonan. Anak ini tampak tidak berorientasi pada wajah orang yang dikenalnya walaupun dia tersenyum spontan. Anak ini belum dapat meraih mainannya sendiri. Orang tuanya juga melaporkan bahwa anak ini makan dengan sangat lambat, membutuhkan waktu hamper satu jam untuk menghabiskan sebotol susu dan sering tersedak selama minum, anak ini lahir dirumah ditolong bidan, lahir pervaginam dengan usia kehamilan 9 bulan, berat lahir 2100 gram, lingkar kepala dan panjang badan tidak diukur. Pada pemeriksaan fisik, anak ini kurus dengan mikrosefali sebelumnya. Berat saat ini 6,3 kg, panjang badan 65cm, rasio panjang badan dengan berat badan pada persentil 10. Lingkar kepala saat ini 39 cm, jauh di bawah persentil 3 menurut usia (pada persentil 50 untuk usia bayi 3 bulan ). Pada posisi terlentang anak berbaring dengan posisi pinggul abduksi, kadang menendang dengan kedua kakinya, posisi lengan terkulai di samping badan, tetapi tangan kanannya menggenggam jari pemeriksa ketika dilakukan tes palmar. Jika posisi badan diangkat, dia meluruskan kakiknya untuk menunjuk ibu jari kakinya. Anak tersebut menunjukkan tonik reflek yang kuat dan asimetrik. Pemeriksaan fisik selanjutnya tepi bawah hati melebar 2 cm. 
Refleks palmar/grasping
 
 

Bayi baru lahir menggenggam/merenggut jari ibu jika ibu menyentuh telapak tangannya. Genggaman tangan ini sangat kuat hingga ia bisa menopang seluruh berat badan jika ibu mengangkatnya dengan satu jari tergenggam dalam setiap tangannya. Gerakan refleks ini juga terdapat ditelapak kaki yang melengkung saat di sentuh. Gerakan refleks ini hilang setelah beberapa bulan. Ia harus belajar menggenggam dengan sengaja. Menurun setelah 10 hari dan biasanya menghilang setelah 1 bulan. Untuk gerakan kaki berlanjut hingga 8 bulan.
Reflek genggam menghilang pada bayi umur 6-8 bulan, bahkan pada bayi kurang bulan genggaman tersebut juga sudah cukup kuat.

Reflek leher asimetrik tonik


 

                        Refleks ini memang agak sulit terlihat. Meski begitu, bisa Anda amati. Catatan: Refleks ini paling jelas terlihat saat si kecil berusia 2 bulan, namun akan menghilang saat usianya 5 bulan.
Caranya :  baringkan sekecil , lalu miringkan kekiri misalnya .
Reaksi : tangan kiri bayi akan merentang lurus keluar dan tangan kanannya akan menekuk kearah kepala atau muka. lengan dan kakinya akan berekstensi pada sisi tersebut dan lengan yang berlawanan dan kaki fleksi,harus hilang pada usia 3-4 bulan, untuk digantikan dengan posisi simetris dari kedua sisi tubuh.

Usia kehamilan cukup bulan dan Kecil masa Kehamilan / BBLR karena dibawah 2500 gram.
-       Bayi perempuan
PB / U normal 70 cm
BB / U normal 8,25 kg
BB menurut PB normal 7 kg
LK normal 44 cm
-       Bayi Laki-Laki
PB / U normal 72 cm
BB/ U normal 8,9 kg
BB menurut PB normal 7,2 kg
LK normal 45 cm

Berdasarkan DENVER II
Personal social bayi umur 9 bulan normal :
-       Dah dah dengan tangan
-       Menyatakan keinginan
-       Tepuk tangan
-       Makan sendiri
-       Berusaha mencapai mainan (di scenario tidak bisa)
-       Tersenyum spontan (di scenario bisa)
-       Membalas senyum pemeriksa
-       Menatap muka
-       Mengamati tangannya

Motorik halus bayi umur 9 bulan normal :
-       Membenturkan dua kubus
-       Memegang dengan ibu jari dan jari (di scenario menggengam jari pemeriksa)
-       Harus bisa mengambil 2 kubus
-       Memindahkan kubus

Bahasa dan bicara bayi umur 9 bulan normal :
-       Mengucapkan papa/mama spesifik
-       Bisa mengoceh (di scenario hanya vocal ooo/aah)
-       Kombinasi silabel

Motorik kasar bayi umur 9 bulan normal :
-       Bisa bangkit terus duduk
-       Bisa bangkit untuk berpegangan
-       Membalik (di scenario dari posisi tengkurap lalu terlentang)
-       Menumpu beban pada kaki (di scenario meluruskan kakinya ketika posisi badan hendak diangkat)

Diagnosis Banding terhadap kasus di scenario

-       Autisme
Pengertian autism :
Gangguan perkembangan saraf yang kompleks dan ditandai dengan kesulitan dalam interaksi social, komunikasi dan perilaku terbatas, berulang-ulang dan karakter stereotip. Gejala autis muncul sebelum 3 tahun kelahiran anak.

Ciri-ciri autis pada bayi :
Tidak responsive terhadap orang lain, gangguan ketrampilan verbal dan non verbal, serta aktifitas dan minat sangat terbatas. Namun anak autis tidak pernah mengembangkan konsep kerja pikirannya sendiri atau orang lain. Cenderung menganggap orang lain sebagai mahluk asing yang tidak bisa dipahami. Adanya gangguan keterlambatan psikis maupun fisik. Dalam perkembangan seorang anak dapat mengalami Pervasive Developmental Disorder (PDD) atau gangguan perkembangan di tiga aspek yaitu komunikasi, interaksi social dan perilaku.

Terapi autis :
1.       Terapi akupuntur : metode tusuk jarum untuk menstimulasi system pada otak hingga dapat bekerja kembali
2.       Terapi balur : terapi detoksifikasi gas merkuri dengan menggunakan cuka aren campur bawang yang dilulurkan ke kulit.
3.       Terapi anggota keluarga : untuk lebih memperhatikan si anak agar terjalin ikatan emosional yang kuat.
4.       Terapi music : diharapkan getaran gelombang pada music berpengaruh terhadap permukaan membrane otak, dan fungsi indra pendengaran menjadi normal sekaligus merangsang kemampuan bicara.
5.       Terapi autis dengan lumba-lumba : di tubuh lumba-lumba adapotensi yang bisa menyelaraskan saraf motoric dan sensorik penderita autis. Sebab lumba-lumba mempunyai gelombang sonar yang dapat merangsang otak manusia untuk memproduksi energy sehingga dapat membentuk keseimbangan otak kanan dan kiri juga meningkatkan neurotransmitter.

-       ADHD
Pengertian ADHD
ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktifitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktifitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. Hal ini ditandai dengan berbagai keluhan perasaan gelisah, tidak bisa diam, tidak bisa duduk dengan tenang, dan selalu meninggalkan keadaan yang tetap seperti sedang duduk, atau sedang berdiri. Beberapa kriteria yang lain sering digunakan adalah suka meletup-letup, aktifitas berlebihan, dan suka membuat keributan.

KLASIFIKASI
-       Pada kriteria DSM-IV terdapat
9 gejala untuk gangguan pemusatan perhatian
6 gejala untuk hiperaktivitas
3 gejala untuk impulsif.
-       Menurut DSM-IV ada 3 subtipe GPPH, yaitu tipe predominan in-atensi, tipe predominan hiperaktif impulsif dan tipe kombinasi.

EPIDEMIOLOGI
Di Amerika Serikat sedikitnya 4% remaja mengalami GPPH dan hal tersebut berhubungan dengan tingginya tingkat morbiditas psikiatri dan kerusakan fungsional. Oleh karena saat ini relatif baru kemunculan dari diagnosis GPPH pada remaja mengakibatkan masih terjadi Underdiagnosed dan Undertreated. Panduan diagnosis GPPH dari American Academy of Pediatrics hanya melingkupi anak yang berusia 6 sampai 12 tahun.
-       Beberapa studi prevalensi GPPH pada anak sekitar 6%-9% telah diketahui bahwa 40% - 70% dari anak  tersebut akan menunjukkan gejala berkelanjutan sampai dengan dewasa. Beberapa studi pada dewasa dengan perilaku penyalahgunaan zat menunjukkan bahwa 15% sampai dengan 25% diantaranya mempunyai ciri GPPH. Pada follow up jangka panjang beberapa studi menunjukkan bahwa anak yang telah didiagnosis GPPH akan memiliki risiko gangguan kepribadian antisosial, penyalahgunaan obat dan depresi yang ditemukan pada fase remaja akhir atau awal masa dewasa.

ETIOLOGI
Etiologi ADHD belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli berpendapat faktor lingkungan dan genetik merupakan penyebab terjadinya ADHD.
Faktor Lingkungan
-       Faktor psikososial yang berpengaruh adalah konflik keluarga, sosial ekonomi keluarga tidak memadai, jumlah keluarga terlalu besar, orang tua kriminal, orang tua dengan gangguan jiwa (psikopat) dan anak yang diasuh pada tempat penitipan anak.
-       Sedangkan riwayat kehamilan yang berpengaruh adalah kehamilan dengan eklamsia, perdarahan antepartum, fetal distress, bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, ibu merokok dan pecandu alkohol sewaktu hamil. Trauma lahir atau hipoksi dapat berdampak injury pada otak lobus frontalis dan menjadi penyebab ADHD. Diduga ADHD ada hubungannya dengan mengkonsumsi gula secara berlebihan dan diet pengurangan gula dapat mengurangi gejala ADHD 5%, sebaliknya mengkonsumsi gula secara berlebihan dapat meningkatkan hiperaktif, tetapi hal ini tidak signifikan.

Faktor Genetik
-       Mutasi gen pengkode neurotransmiter dan reseptor Dopamin (D2 dan D4) padakromosom 11p memegang peranan terjadinya ADHD.Terdapat lima reseptor Dopamin yaitu D1, D2, D3, D4 dan D5, sedangkan yang berperan terhadap ADHD adalah reseptor D2 dan D4.
Neurotransmiter dan reseptor Dopamin pada korteks lobus frontalis dan subkorteks (ganglia basalis) berperan terhadap sistem inhibisi dan memori, sehingga apabila ada gangguan akan terjadi gangguan inhibisi dan memori.
-       Di samping Dopamin, gen pengkode sistem noradrenergik dan serotoninergik terkait dengan patofisiologi terjadinya ADHD. Dua Gen reseptor dopamin dan gen DAT telah diidentifikasi kemungkinan berperan dalam GPPH. Faktor neurologi terlihat berperan dalam onset GPPH.

Belum diketahui dan banyak kontradiksi :
**Faktor Genetik :
Orang tua dengan ADHD Ã  resiko anak ADHD 57% ↑ risiko pada anak kembar dan ↑ gejala ADHD pada saudara kandung. Kelainan gen (“repeater geneDRD4 (+) pada ADHD.
**Teori yang paling kuat :
Ketidakseimbangan / disfungsi NT katekolamin
Uptake dopamine & / atau norepinefrin kurang
Respons positif terhadap obat stimulan mendukung teori ini.

Gangguan Otak dan Metabolism

a.       Trauma lahir atau hipoksia (Hipoksia yaitu kondisi simtoma kekurangan oksigen pada jaringan tubuh yang terjadi akibat pengaruh perbedaan ketinggian. Pada kasus yang fatal dapat berakibat koma, bahkan sampai dengan kematian. Namun, bila sudah beberapa waktu, tubuh akan segera dan berangsur-angsur kondisi tubuh normal kembali.) yang berdampak injury pada lobus frontalis di otak.
b.      Pengurangan volume serebrum.
c.       Gangguan fungsi astrosit dalam pembentukan dan penyediaan laktat serta gangguan fungsi oligodendrosit.
-       Beberapa teori yang sering dikemukakan adalah hubungan antara neurotransmiter dopamin dan epinefrina. Teori faktor genetik, beberapa penelitian dilakukan bahwa pada keluarga penderita, selalu disertai dengan penyakit yang sama setidaknya satu orang dalam keluarga dekat. Orang tua dan saudara penderita ADHD memiliki resiko hingga 2- 8 x terdapat gangguan ADHD.
-       Teori lain menyebutkan adanya gangguan disfungsi sirkuit neuron di otak yang dipengaruhi oleh berbagai gangguan neurotransmiter sebagai pengatur gerakan dan control aktifitas diri.
-        
Gejala utama ADHD
1.       Inatensi
2.       Hiperaktif
3.       Impulsive

-       Cerebral Palsy

Cerebral palsy adalah suatu gangguan atau kelainan yang terjadi pada suatu kurun waktu dalam perkembangan anak, di dalam susunan saraf pusat, bersifat kronik dan tidak progresif akibat kelainan atau cacat pada jaringan otak yang belum selesai pertumbuhannya.Walaupun lesi serebral bersifat statis dan tidak progresif, tetapi perkembangan tanda-tanda neuron perifer akan berubah akibat maturasi serebral.
Sekitar 30-50% pasien dengan cerebral palsy memiliki keterbelakangan mental,tergantung pada jenisnya. Namun, Karena kesulitan oromotor, motorik halus, danmotorik kasar, komunikasi pada pasien ini mungkin terganggu dan kapasitas ekspresi intelektual terbatas. Namun, jika cerebral palsy didekati secara multi disiplin, denganterapi fisik, pekerjaan, dan gizi untuk memaksimalkan upaya rehabilitatif, pasiendapat lebih terintegrasi secara akademis dan sosial. Sekitar 15-60% anak dengan cerebral palsy memiliki epilepsi, dan epilepsi lebih sering pada pasien dengan quadriplegia spastik atau retardasi mental.

Jenis-jenis khas dari cerebral palsy adalah sebagai berikut:
a.       Spastic hemiplegia (20-30%) - Cerebral palsy terutama mempengaruhi 1 sisi tubuh, termasuk lengan dan kaki, dengan keterlibatan kelenturan ekstremitas atas lebih dari kelenturan ekstremitas bawah. Jika kedua lengan lebih terlibat daripada kaki, kondisi tersebut dapat diklasifikasikan sebagai hemiplegia ganda.
b.      Spastic diplegia (30-40%) - Cerebral palsy mempengaruhi ekstremitas bawah bilateral lebih dari ekstremitas atas, dalam beberapa kasus, ekstremitas bawah yang hanya terlibat.
c.       Spastic quadriplegia (10-15%) - Cerebral palsy mempengaruhi semua 4 ekstremitas dan tubuh penuh.
d.      cerebral palsy dyskinetic (athetoid, choreoathetoid, dan dystonic) - Cerebralpalsy dengan tanda-tanda ekstra piramidal ditandai dengan gerakan abnormal, hipertonisitas sering terkait.
e.      cerebral palsy Campuran - Cerebral palsy tanpa didominasi kualitas tunggal tonus tertentu, biasanya ditandai dengan campuran komponen kejang.
f.        cerebral palsy hipotonik - Cerebral palsy dengan hipotonia trunkal dan ekstremitas dengan hyper reflexia dan refleks primitif persisten.
g.       monoplegia – Langka, keterlibatan dicatat dalam 1 anggota tubuh, baik lengan atau kaki. Jika pasien memiliki monoplegia, upaya harus dilakukan untuk menyingkirkan penyebab lain dari cerebral palsy.

ETIOLOGI CEREBRAL PALSY
Cerebral palsy dapat terjadi akibat kelainan struktural yang mendasari otak pada awal kehamilan, cedera perinatal, atau setelah melahirkan karena insufisiensi vaskuler, toxin atau infeksi, atau risiko prematuritas. Ini mungkin termasuk kelahiran prematur, kehamilan ganda, pembatasan pertumbuhan intrauterin, jenis kelamin laki-laki, skor Apgar rendah, infeksi intrauterin, kelainan tiroid ibu, stroke prenatal,asfiksia lahir, paparan metil merkuri ibu, dan defisiensi yodium ibu.
Bukti menunjukkan bahwa faktor prenatal mempengaruhi 70-80% kasus cerebral palsy. Dalam kebanyakan kasus, penyebab pastinya tidak diketahui tetapi kemungkinan besar multifaktorial.

Sumber :
Cirianakautis.com
Jevuska.com/artikel kedokteran
Books.google.co.id/pediatric
Terapiautis.com
hippocampus 2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar