Senin, 20 Oktober 2014

Scenario 1 part 2


Author : Faiz

1.    Perkembangan bayi 9 bulan
Bayi 9 bulan seharusnya sudah bisa apa ya? Cek perkembangannya yuk!
Bayi mulai belajar berdiri dari posisi duduk dengan berpegangan sofa selama 30-60 detik. Setelah itu, secara perlahan ia melangkahkan kaki ke depan dengan sebelah tangan yang berpegangan pada sofa di sampingnya. Sesekali ia terhuyung  dan jatuh tapi kembali berdiri dan berjalan sambil berpegangan.
Mengambil  dan memegang mainan dengan kedua tangannya. Ia membolak-balikkan mainan dalam genggamannya lalu mengamatinya dengan serius. Kemudian, kedua mainan itu diambil kembali, masing-masing digenggam di kedua tangannya. Bayi mulai menepukkan kedua mainan tersebut hingga berbunyi dan  dia tersenyum senang.
Sangat senang diajak bermain cilukba. Begitu bersemangatnya, bayi ikut memegangi tangan Bunda saat melakukan gerakan menutup dan membuka wajah.
Menolak disuapi dan  ingin memegang sendiri dengan cara menjumput biskuitnya. Setelah berhasil menjumput menggunakan tangan kanan, kemudian biskuit dipindahkan ke tangan kiri untuk digenggam.  Lalu tangan kanannya kembali menjumput biskuit dan menyuapnya ke dalam mulut.
Selesai makan, bayi minum menggunakan cangkir  plastik yang memiliki dua pegangan dengan penampang yang luas. Meski sudah dapat memegang cangkir dengan baik, namun dia belum dapat mengontrol tangan dan mulutnya dengan sempurna sehingga  sebagian air tumpah.
Apa yang dilakukan oleh bayi. Di usia ini, kemampuan motorik halus bayi terus meningkat, ditandai dengan kemampuannya menggenggam benda menggunakan kedua tangannya.  Rasa ingin tahu dan logika berpikirnya mulai berkembang, salah satunya dengan membolak-balikkan benda yang dipegangnya. Ia ingin tahu apa yang terjadi jika benda itu menghadap arah yang berbeda. Kemampuan lain adalah menepuk dua benda hingga berbunyi, namun tak semua bayi dapat melakukannya.
Perbanyak kesempatan bayi duduk sendiri, mengambil dan memasukkan makanan ke mulutnya. Rangsangan ini selain memperkuat otot punggung dan bahunya, juga melatih keterampilan menjumput dan menggenggam. Sediakan makanan seukuran genggaman bayi, misalnya wortel rebus atau biskuit  khusus untuk masa tumbuh gigi (teething).
Perkenalkan bayi dengan cangkir plastik  yang memiliki dua pegangan, biarkan dia menggenggam dan belajar minum sendiri. Jangan tinggalkan bayi sendirian untuk menghindari bayi tersedak dan bantu dia apabila dia menjatuhkan cangkir minumnya. Baca buku berwarna bersamanya dan biarkan dia mencoba membuka halamannya atau latihan bertepuk tangan. Rangsangan ini akan menguatkan otot lengan dan jari-jarinya.

Untuk menguatkan  otot kaki yang berkaitan dengan kemampuan berjalan, lakukan ini:
Pegang kedua pinggang bayi dan gerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri untuk melatihnya berdiri. Bayi akan bersemangat dan menjejakkan kakinya ke paha Anda atau berusaha melangkahkan kakinya untuk berjalan di dada Anda.
Buat permainan, seperti meminta bayi berjalan ke pelukan Anda untuk mendapatkan pelukan atau mainannya. Beri pujian bila bayi mau berjalan beberapa langkah. Bila bayi belum siap berjalan, tunggu beberapa hari dan coba lagi.
Bayi mulai meniru apa yang didengarnya dan  mengoceh dengan mengulang 2 hingga 3 suku kata tanpa arti. Stimulasi kemampuan bicara dan bahasa bayi  dengan cara:
Menirukan kata-kata. Sebutkan kata-kata  seperti;  susu, mandi, tidur, kue, makan, kucing. Ajak bayi menyebutkan kata-kata itu bersama-sama dengan Anda. Bila bayi berhasil menirukan, beri pujian dan pelukan, kemudian sebutkan kata itu lagi dan buat agar ia mau mengulanginya.
Berbicara dengan boneka. Mainkan boneka atau  boneka tangan yang menyerupai bentuk wajah. Berpura-puralah bahwa boneka itu yang berbicara kepada bayi dan buat agar bayi mau berbicara kembali dengan boneka itu.
Bersenandung dan bernyanyi. Nyanyikan lagu dan bacakan buku cerita anak kepada bayi sesering mungkin


2.    Penatalaksanaan
Di usia 9 bulan, Anda bisa mulai meningkatkan stimulasi, dengan cara melatih tangan anak bersalaman, duduk dan berdiri sambil berpegangan. Penting juga bagi Anda untuk mulai membiasakan diri membacakan dongeng untuk si kecil sebelum tidur.  Gunakan kalimat panjang yang menjelaskan berbagai benda yang Anda tunjuk. Kendati bayi belum paham apa yang dijelaskan orang dewasa, mereka akan mengingat apa yang tertangkap pendengarannya. Ini akan membuatnya lebih cepat bicara. Pada bayi berusia 9 bulan, mereka mulai memahami ketika Anda menunjuk ini dan itu sembari berbicara.


3.    DDST
DDST adalah Denver Development Screening Test, yaitu salah satu metode screening yang digunakan untuk menilai perkembangan anak dan ditujukan untuk anak usia 1 bulan sampai 6 tahun.
Test ini dilakukan oleh:
-          Tenaga profesional (dokter, bidan, perawat, psikolog)
-          Kader
-          Orang tua terlatih
Tujuan DDST
Tujuan dari penilaian perkembangan anak (DDST) adalah agar para tenaga kesehatan :
-          Mengetahui kelainan perkembangan anak dan hal hal lain yang merupakan resiko terjadinya kelainan perkembangan tersebut.
-          Mengetahui berbagai masalah perkembangan yang memerlukan pengobatan konseling genetik.
-          Mengetahui kapan anak perlu dirujuk ke senter yang lebih tinggi.

Aspek Perkembangan yang Dinilai pada DDST
Aspek Perkembangan yang dinilai
Terdiri dari 125 tugas perkembangan.
Tugas yang diperiksa setiap kali skrining hanya berkisar 25-30 tugas

Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai:
1)      Personal Social (perilaku sosial)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
2)      Fine Motor Adaptive (gerakan motorik halus)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat.
3)      Language (bahasa)
Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan
4)      Gross motor (gerakan motorik kasar)

Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.
Alat yang digunakan
-          Alat peraga: benang wol merah, kismis/ manik-manik, Peralatan makan, peralatan gosok gigi, kartu/ permainan ular tangga, pakaian, buku gambar/ kertas, pensil, kubus warna merah-kuning-hijau-biru, kertas warna (tergantung usia kronologis anak saat diperiksa).
-          Lembar formulir DDST II
Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara penilaiannya.
Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap, yaitu:
1)      Tahap pertama: secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia:
3-6 bulan
9-12 bulan
18-24 bulan
3 tahun
4 tahun
5 tahun
2)      Tahap kedua: dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada tahap pertama. Kemudian dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap.
Penilaian
Jika Lulus (Passed = P), gagal (Fail = F), ataukah anak tidak mendapat kesempatan melakukan tugas (No Opportunity = NO).

CARA PEMERIKSAAN DDST:
§ Tetapkan umur kronologis anak, tanyakan tanggal lahir anak yang akan diperiksa. Gunakan patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk satu tahun.
§ Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah, jika sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas.
Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas perkembangan pada formulir DDST.
Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor, berapa yang P dan berapa yang F.
Berdasarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan dalam: Normal, Abnormal, Meragukan dan tidak dapat dites.
1) Abnormal
a) Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau lebih
b) Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan Plus 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia .
2) Meragukan
a) Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih
b) Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia.
3) Tidak dapat dites
Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan.
4)   Normal
Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas.
Pada anak-anak yang lahir prematur, usia disesuaikan hanya sampai anak usia 2 tahun:
Contoh perhitungan anak dengan prematur:
An. Lula lahir prematur pada kehamilan 32 minggu, lahir pada tanggal 5 Agustus 2006. Diperiksa perkembangannya dengan DDST II pada tanggal 1 April 2008. Hitung usia kronologis An. Lula!
Diketahui:
Tanggal lahir An. Lula             : 5-8-2006
Tanggal periksa          : 1-4-2008
Prematur         : 32 minggu
Ditanyakan:
Berapa usia kronologis An. Lula?
Jawab:
2008 – 4 – 1    An. Lula prematur 32 minggu
2006 – 8 – 5    Aterm = 37 minggu
___________ – Maka 37 – 32 = 5 minggu
1 – 7 -26
      Jadi usia An. Lula jika aterm (tidak prematur) adalah 1 tahun 7 bulan 26 hari atau 1 tahun 8 bulan atau 20 bulan
Usia tersebut dikurangi usia keprematurannya yaitu 5 minggu X 7 hari = 35 hari, sehingga usia kronologis An. Lula untuk pemeriksaan DDST II adalah:
      1 tahun 7 bulan 26 hari – 35 hari = 1 tahun 6 bulan 21 hari Atau 1 tahun 7 bulan atau 19 bulan

Interpretasi dari nilai DDST
      Advanced
Melewati pokok secara lengkap ke kanan dari garis usia kronologis (dilewati pada kurang dari 25% anak pada usia lebih besar dari anak tersebut)
OK
Melewati, gagal, atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia antara persentil ke-25 dan ke-75
      Caution
Gagal atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia kronologis di atas atau diantara persentil ke-75 dan ke-90
      Delay
Gagal pada suatu pokok secara menyeluruh ke arah kiri garis usia kronologis; penolakan ke kiri garis usia juga dapat dianggap sebagai kelambatan, karena alasan untuk menolak mungkin adalah ketidakmampuan untuk melakukan tugas tertentu

Interpretasi tes
      Normal
Tidak ada kelambatan dan maksimum dari satu kewaspadaan
      Suspect
Satu atau lebih kelambatan dan/ atau dua atau lebih banyak kewaspadaan
      Untestable
Penolakan pada satu atau lebih pokok dengan lengkap ke kiri garis usia atau pada lebih dari satu pokok titik potong berdasarkan garis usia pada area 75% sampai 90%


4.    Tes selain DDST dan KPSP
Tes Daya Dengar
Cara melakukan Tes Daya Dengar
  1.  Tentukan usia anak ( tanggal, bulan & tahun lahir )
  2. Pilih daftar pertanyaan TDD yang sesuai dengan umur anak
  3. Siapkan alat seperti piring pelastik, sendok, peluit atau apapun yang bisa mengeluarkan suara


Anak umur < 24 bulan yang belum sekolah tes bisa dilakukan oleh Orang Tua atau Pengasuh Anak. Semua pertanyaan di jawab oleh orang tua atau  pengasuh anak Bacakan pertanyaan secara berurutan dengan suara yang jelas dan nyaring.
  • Jawaban YA jika menurut orang tua / pengasuh anak , dapat melakukannya dalam 1 bulan terakhir
  • Jawaban TIDAK jika menurut orang tua / pengasuh anak ,anak tidak pernah,tidak tahu atau tidak pernah melakukannya dalam 1 bulan terakhir
Sedang untuk anak yang sudah masuk sekolah dalam hal ini PAUD tes ini dilakukan oleh guru. Pertanyaan berupa perintah melalui guru untuk dikerjakan anak. Amati kemampuan anak dalam melakukan perintah
  • Jawaban YA jika anak dapat melakukan perintah
  • Jawaban TIDAK jika anak tidak bisa atau tidak mau melakukan perintah
5.    Konseling tumbuh kembang anak
Dalam bimbingan terdapat tiga pendekatan perkembangan (Ihsan, 2003 : 27 - 28). Pertama, pendekatan krisis. Atau pendekatan kuratif, yaitu suatu pendekatan bimbingan yang diarahkan pada individu yang mengalai krisis atau masalah. Pendekatan ini cenderung pasif, karena anaklah yang menuju si pembimbing. Kedua, pendekatan remedial. Pendekatan ini merupakan yang diarahkan kepada individu yang mengalami kelemahan atau halangan. Tujuan pendekatan ini adalah membantu memperbaiki kelemahan yang dialami individu. Dalam pendekatan ini, pembimbing memfokuskan tujuannya pada kelemahan-kelemahan individu selanjutnya berupaya memperbaiki. Ketiga, pendekatan preventif. Pendekatan yang diarahkan kepada antisipasi masalah-masalah umum individu dan mencegah jangan sampai masalah tersebut terjadi. Pembimbing memberikan beberapa upaya berupa informasi dan keterampilan untuk mencegah munculnya masalah. Pendekatan ini banyak menggunakan teknik dan sedikit konsep.
Pendekatan yang lebih mutakhir dan lebih proaktif dibandingkan dengan ketiga pendekatan sebelumnya adalah pendekatan perkembangan. Guru / pendamping yang menggunakan pendekatan ini dimulai dari pemahaman dari keterampilan dan pengalaman khusus yang dibutuhkan anak untuk mencapai keberhasilan di tempat belajar dan dalam kehidupan. Pendekatan perkembangan ini dinilai tepat digunakan edalam tatanan pendidikan formal nonformal karena pendekatan ini memberikan perhatian terhadap perkembangan anak, kebutuhan dan minat serta membantu anak mempelajari keterampilan hidup (Kartadinata, 1998).
Banyak teknik yang digunakan dalam pendekatan ini seperti  mengajar, bertukar informasi, berdiskusi, bermain peran, melatih, tutorial dan konseling. Dilihat dari sisi orientasi, pedekatan perkembangan menekankan pada pengembangan potensi dan kekuatan yang ada pada individu secara optimal. Dalam pendekatan ini, layanan bimbingan diberikan kepada semua individu, bukan hanya pada individu yang mengalami masalah. Bimbingan  dilaksanakan secara individual, kelompok, bahkan klasikal melalui pemberian informasi, diskusi, proses kelompok, penyaluran bakat dan minat.
Menurut Myrik (Murro & Kottman, 1995) pendekatan perkembangan didasari oleh pemahaman tentang keterampilan, kebutuhan dan pengalaman khusus yang dibutuhkan anak untuk mencapai keberhasilan dalam kegiatan pendidikan dan dalam kehidupan.
Kartadinata, dkk. (1998) menjelaskan bahwa pendekatan perkembangan bertolak dari pemikiran bahwa perkembangan yang sehat akan berlangsung dalam interaksi yang sehat antara anak dengan lingkungannya. Pemikiran ini memiliki dua implikasi pokok dalam bimbingan di sekolah, yaitu (1) perkembangan adalah tujuan bimbingan, ini berarti bahwa guru / pendamping perlu memiliki kerangka berpikir dan keterampilan yang memadai untuk memahami perkembangan anak didik sebagai dasar rumusan tujuan dan isi bimbingan; dan (2) interaksi yang sehat dalam lingkungan merupakan  perkembangan yang harus dikembangkan oleh guru. Ini berarti bahwa guru perlu menguasai pengetahuan dan keterampilan khusus untuk mengembangkan lingkungan perkembangan sebagai pendukung sistem pelaksanaan bimbingan.
Dalam pendekatan perkembangan perolehan perilaku diharapkan membentuk pada anak didik perlu dirumuskan secara komprehensif karena akan menjadi dasar pengembangan program bimbingan.

Prinsip-prinsip pendekatan perkembangan
Murro dan Kottman (1995) memaparkan tentang prinsip-prinsip dalam pendekatan bimbingan  perkembangan untuk anak usia dini sebagai berikut.
1.    Bimbingan dan Konseling Dibutuhkan oleh Semua Anak
Prinsip ini menekankan tentang pentingnya pelayanan bimbingan bagi semua anak. Anak-anak perlu mengembangkan pemahaman diri yang baik dan utuh, mereka juga perlu memiliki tanggung jawab dalam mengendalikan diri, memiliki kematangan dalam memahami lingkungan di sekitarnya dan yang lebih penting adalah membantu mereka tepat dalam membuat keputusan dan mengatasi permasalahan.
Dalam prinsip ini guru / pendamping harus memfasilitasi anak dalam mengembangkan potensi, minat dan bakat serta membantu mengatasi masalah yang dihadapi anak.
2.    Bimbingan dan Konseling Perkembangan Berfokus dalam Mengembangkan Kegiatan Belajar Anak
Proses bimbingan tidak terlepas dari proses pembelajaran secara keseluruhan, dengan kata lain bimbingan dan pembelajaran merupakan suatu proses belajar efektif bagi anak.
Kegiatan pengembangan bimbingan anak usia dini dapat menggunakan media untuk menciptakan  suasana kegiatan belajar yang kondusif dan menyenangkan bagi perkembangan dan pertumbuhan anak usia dini.
3.    Guru / Pendamping merupakan Fungsionaris Bersama dalam Program Bimbingan Perkembangan
Guru memiliki peran strategis dalam membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi anak dan menciptakan iklim yang sehat dalam menunjang proses belajar dan pekembangan yang terjadi.
Kurikulum yang Terencana dan Teroganisir merupakan Komponen Penting dalam Bimbingan Perkembangan
Dalam pengembangan program bimbingan harus direncanakan dengan baik dan terorganisasi. Kurikulum yang dikembangkan mencakup seluruh aspek perkembangan anak dengan tujuan membantu anak dalam mengembangkan kemampuan untuk menghargai diri, motif berprestasi, membuat keputusan yang tepat, merencanakan dan mencapai tujuan keterampilan memecahkan masalah, menjalin hubungan interpersonal, keterampilan berkomunikasi dan mengembangkan perilaku tanggungjawab, khususnya pada diri sendiri.
4.    Bimbingan Perkembangan Memperhatikan Aspek Perkembangan Penerimaan Diri, Pemahaman Diri, dan Pengayaan Diri Anak
Bimbingan perkembangan turut membantu anak dalam memahami diri anak secara utuh dan menerima kelemahan dan kelebihan diri. Kegiatan pengembangan upaya ini dapat dilakukan dengan cara memberikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan ide, gagasan dan pendapatnya dengan cara alami dan tanpa tekanan. Kebiasaan guru / pendamping mendominasi kegiatan atau sikap otoriter orang tua di rumah dapat menyebabkan anak tampak kaku, kurang percaya diri, tidak mampu mengembangkan kemampuan kreativitasnya. Sosialisasi dapat dilakukan dengan cara mengobrol dengan suasana yang santai dan rileks.
5.    Bimbingan dan Konseling Perkembangan Membantu Mendorong Proses Tumbuh Kembang Anak
Tujuan kegiatan ini adalah (a) mampu menempatkan nilai pada diri anak sebagaimana dirinya sendiri; (b) percaya pada dirinya sendiri; (c) percaya akan kemampuan dirinya sendiri dan membangun penghargaan pada dirinya; (d) mampu bekerja dan berusaha dengan sungguh-sungguh; (e) mampu memanfaatkan kelompok untuk mempermudah dan meningkatkan perkembangan anak; (f) memadukan kelompok sehingga anak merasa memiliki dalam kelompok; (g) membantu mengembangkan keterampilan secara berurutan dan secara psikologis yang memungkinkan anak untuk sukses; (h) mengakui dan memfokuskan pada kekuatan dan aset yang dimiliki anak; (i) memanfaatkan minat anak sebagai energi dalam pengajaran.
6.    Bimbingan Perkembangan Mengakui Perkembangan yang Terarah daripada Akhir Perkembangan yang Definitif
Kekeliruan yang dialami guru adalah menyampaikan materi cenderung mengikuti pola-pola (a) menyampaikan materi pembelajaran yang masih kaku dari tema-tema yang ditawarkan oleh kurikulum sehingga tampak tanpa pengembangan kreativitas guru; (b) banyak materi yang disampaikan terlalu abstrak, misalnya pada saat menjelaskan angka hanya simbol saja tanpa dibarengi contoh konkret.
7.    Bimbingan Perkembangan sebagai Kegiatan yang Berorientasi pada Tim, Seyogianya Dilaksanakann oleh Tenaga Ahli (Konselor) yang Profesional
Kesuksesan kegiatan bimbingan dan konseling sangat didukung oleh seluruh komponen lembaga. Oleh karena itu, kerjasama dan dukungan berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk menyesuaikan kegiatan dan pengembangan program bimbingan.
8.    Bimbingan Perkembangan Peduli dengan Identifikasi Awal akan Kebutuhan-kebutuhan Khusus Anak
Dalam pendekatan ini konselor dengan guru bekerja sama untuk melakukan asesmen terhadap kebutuhan anak. Bimbingan yan dilaksanakan perlu dirancang utnuk memenuhi berbagai kebutuhan yan dimiliki dan diharapkan anak. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan menggunakan cara misalnya dengan menggunakan teknik observasi atau catatan anekdot.
9.    Bimbingan Perkembangan Peduli dengan Penerapan Aspek-aspek Psikologi
Pendekatan ini menekankan tentang upaya pentingnya guru dalam memperhatikan aspek-aspek psikologis anak, seperti kemampuan intelektual, sikap, minat dan kepribadian. Dalam hal ini, bimbingan perkembangan tidak hanya memperhatikan bagaimana anak belajar, tetapi juga turut mengarahkan pada upaya membantu anak menggunakan berbagai kemampuan yang mereka miliki.
Lwin seorang pakar asal Singapura menegaskan bahwa guru / pendamping mengajarkan kepada anak untuk benar-benar memperhatikan apa yang dia lihat di sekitarnya dan untuk menciptakan secara konstruktif gambaran dalam pikirannya menggunakan imajinasinya maka guru / pendamping pada akhirnya akan menemukan bahwa anak akan semakin kreatif. Hal ini karena  visualisasi kreatif dan imajinasi merupakan dua aspek utama pemikiran kreatif.
10.     Bimbingan Perkembangan Memiliki Kerangka Dasar yang Berlandaskan pada Kajian tentang Psikologi Perkembangan dan Teori Belajar
Bimbingan perkembangan memiliki akar psikologis dan teoritis yang jelas dan kokoh  sehingga dapat dipergunakan dalam membantu mengembangkan potensi anak secara utuh dan menyeluruh. Selain itu, prinsip ini turut memperjelas bahwa anak adalah individu yang akan selalu belajar. Di sini guru / pendamping harus lebih kreatif dan inovatif. Jangan biasakan menakuti anak dengan nilai buruk yang akan dicapai ataupun dalam bentuk anacaman lain yang tidak jelas maksud dan tujuannnya.
11.     Bimbingan Perkembangan Mempunyai Sifat Berurutan dan Fleksibel
Prinsip ini menegaskan bahwa bimbingan perkembangan sangat cocok diterapkan dalam membantu memfasilitasi perbedaan dan keragaman yang dimiliki anak. Dalam hal ini, guru / pendamping diharapkan lebih proaktif dalam membantu mengembangkan potensi dan memfasilitasi kebutuhan anak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar