Rabu, 18 Mei 2011

SKENARIO 2: KATARAK

Selamat malam memed. Ketemu lagi bersama mimin disini. Skenario kali ini masi mengenai mata kok, tapi kayaknya sih bahasan nya beda. Kalo kemaren ngomongin konjunctivitis dkk, kalo sekarang sih dilihat sekilas ya soal penglihatan berkurang gitu.. yasudah deh langsung saja dibahas..
SKENARIO
Profile                   : laki-laki tua
Keluhan               : penglihatan kabur sejak 1 tahun yang lalu tanpa ada rasa sakit dan merah pada mata
Pasien masih bisa melihat cahaya dan membedakan warna. Dokter merujuk pasien ke spesialis mata untuk dioperasi
KEMUNGKINAN PERTANYAAN
1.      1. Apa yang membuat penglihatan pasien kabur?
2.       2.Adakah hubungan usia dengan keluhan pasien diatas?
3.       3.Apa diagnosis banding pada pasien diatas?
4.      4.Operasi apa yang mungkin dilakukan pada pasien tersebut?
PEMBAHASAN
Oke dehh..di skenario ini yang harus kita soroti adalah keluhan mengenai penglihatan yang kabur. Kalo dikaitkan dengan usia sih mungkin katarak, atau mungkin juga presbiopi kalo udah tua tu, atau hipermetropi. Kemungkinan lain ya mungkin perdarahan dalam yang darahnya masuk ke bagian refraksi pada mata. Tapi kan kalo udah hubungannya sama trauma berarti ada riwayat trauma sebelumnya. Kalo di skenario ini kan yang disoroti tu tua, penglihatan kabur, mulai dari satu tahun yang lalu, jadi mari kita bahas katarak..hehehe

KATARAK
Katarak adalah setiap kekeruhan pada lensa. Jadi jangan membatasi pemahaman memed kalo katarak itu cuma daging tumbuh di lensa. Hehe.faktor dominan yang menyebabkan katarak adalah penuaan, tetapi ada aktor-faktor lain yang dapat menimbulkan katarak, bisa karena trauma, toksin, penyakit sistemik(mis:diabetes), merokok dan herediter. 50 persen katarak pada usia 65-74 tahun dan prevelensi ini meningkat menjadi 70 persen jika diatas 75 tahun. Sebenernya sih patogenesis katarak belum sepenuhnya dimengerti tetapi ada agregat-agregat protein pada lensa yang menghamburkan cahaya sehingga lensa menjadi keruh. Perubahan protein lainnya juga mengakibatkan lensa menjadi kekuningan atau kecoklatan. Mungkin katarak juga terjadi karena adanya vesikel diantara serat-serat lensa atau migrasi epitel dan pembesaran epitel yang menyimpang. Faktor resiko pada katarak antara lain radikal bebas (kerusakan oksidatif), sinar ultraviolet, dan malnutrisi. Kita kan pernah denger ya med kalo katarak yang dapat dioperasi tu kalo udah matur. Sebenarnya apa sih yang disebut katarak matur? Katarak matur adalah bentuk katarak yang seluruh proteinnya telah mengalami kekeruhan; katarak imatur memiliki sebagian protein yang masih transparan. Jika mengambil air, lensa akan menjadi intumesen. Pada katarak hipermatur, protein-protein di bagian lensa telah mencair. Cairan keluar dan mengakibatkan lensa menjadi mengkerut. Katarak hipermatur yang nukleus lensa nya mengambang pada kantung kapsulnya disebut katarak morgagni.
KATARAK TERKAIT-USIA
Proses kondensasi normal dalam nukleus lensa menyebabkan terjadinya sklerosis nuklear. Biasanya terjadi perbaikan penglihatan, misal ni med, yang tadinya presbiopi jadi malah normal. Ini bisa terjadi karena meningkatnya kekuatan fokus lensa bagian sentral. Gejala lain dapat berupa diskriminasi warna yang buruk atau diplopia monokular (bayangan benda jadi dua di salah satu mata). Sebagian besar katarak nuklear adalah bilateral, tetapi bisa asimetrik.
Katarak Kortikal adalah kekeruhan pada korteks lensa. Perubahan hidrasi mengakibatkan terbentuknya celah dgn pola radial disekeliling daerah ekuator. Katarak cenderung bilateral tetapi sering asimetrik.
Katarak Subscapular Posterior terdapat pada korteks didekat kapsul posterior bagian sentral. Katarak ini cenderung mengakibatkan gangguan penglihatan karena adanya keterlibatan sumbu penglihatan. Gejala-gejala yang umum, antara lain “glare” dan penurunan penglihatan pada kondisi pencahayaan yang terang. Kekeruhan lensa disini dapat timbul karena trauma, penggunaan kortikosteroid (topikal atau sistemik), peradangan, atau pajanan terhadap radiasi pengion. Katarak terkait usia biasanya berjalanan lambat selama bertahun-tahun, dan biasanya pasien sudah meninggal sebelum dibutuhkan tindakan operatif. Operasi akan mengembalikan 90 persen visus, sisanya mungkin telah disertai dengan kerusakan retina. Komplikasi pasca bedah misalnya glaukoma, ablatio retinae, perdarahan intraokular, atau infeksi.
KATARAK ANAK-ANAK
Dibagi menjadi katarak kongenital (infantilis) dan katarak didapat. Sepertiga kasus katarak bersifat herediter, sepertiga lainnya sekunder terhadap penyakit metabolik atau infeksiatau berkaitan dengan berbagai macam sindrom. Sepertiga terakhir karena sebab yang belum bisa ditentukan.
TEMUA KLINIS
a.       Katarak Kongenital
Kekeruhan lensa konginetal sering terjadi dan berpengaruh sekali. Kekeruhan ini ada yang parsial dimana tidak terlalu mengganggu penglihatan, tidak memerlukan terapi selin observasi untuk menilai progresnya. Dan katarak ssentral adalah katarak yang padat dan memerlukan tindakan bedah. Katarak yang perlu di diperhatikan karena sangat bermakana harus dideteksi secara dini. Katarak infantilis unilateral padat letaknya di tengah dan diameternya lebih dari 2mm akan menimbulakan ambliopia deprivasi permanen apabila dalam 2 bulan tidak dilakukan tidakan bedah. Dan setelah dilakukan pembedahan perlu perhatian khusus agar ambliopia akibat anisometri pascaoperasi tdk terjadi. Katarak bilateral simetrik mungkin tidak perlu di bedah dengan segera tapi juga tidak boleh ditunda erlalu lama tanpa sebab. Dan pembedahan juga jaraknya harus sangat singkat antara kanan dan kiri.
b.      Katarak Didapat
Katarak yang didapat tidak perlu tindak lanjut secara segera karena system penglihatan sudah lebih matang. Penilaian bedahnya didasarkan pada lokasi, ukuran, dan kepadatan katarak, tetapi hasil suatu periode pengamatan dan uji ketajaman penglihtan subjektif dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan. Katarak unilateral biasanya asimtomatik jadi perlu screening yang tepat.
TERAPI
                Untuk katarak infantilis dan kanak kanak adalah menggunakan insisi limbus kecil dengan alat irigaiaspirasi mekanis.  kapsul posterior dan korpus vitreus anterior dengan suction-cutting instrument dengan demikian tidak diperlukan operasi sekunde dan memungkinkar koreksi optic.

PROGNOSIS
                Prognosisnya tidak sebaik pada katarak terkait usia karena amblopia dan terkadang terdapat pada anomaly N.Opticus atau retina sehngga membatasi pencapaian penglihatan. Prognosis prbaikan ketajaman akan buruk pada kngenital unilateral dan paling baik adalah congenital bilateral incomplete yang progresifnya lambat.

KATARAK TRAUMATIK
                Katarak ini disebabkan paling sering karena benda asing pada lensa atau trauma tumpul pada bola mata dan yang lebih sering adalah karena kontusio, pajanan panas (glassblower’s cataract) dan radiasi pengion.
                Lensa menjadi putih karena masuknya benda asing melubangi kapsl lensa, sehinga humor aqueus dan kadang vitreus masuk kedalam lensa. Seperti pecahan baja yang terpukul membuat fragment baja masuk ke mata dengan kecepatan tinggi dan membuat lubang.

KATARAK SEKUNDER AKIBAT PENYAKIT INTRAOKULER
                Katarak dapet terjadikarena efek dari penyakit intraokuler secara langsung. Misalnya uveitis recurrent yang parah atau kronik, glaucoma, retinitis pigmentosa, dan ablation retinae. Katarak ini berawal pada subkapsular posterior dan menganai seluruh lensa. Katarak ini biasanya terjadi secara unilateral.

KATARAK AKIBAT PENYAKIT SISTEMIK
                Katarak bilateral ini bisa terjadi akibat diabetes mellitus, hipokalsemia, distrofi miotonik, dermatitis atopic, galaktosemia, Lowe’s, Werner’s, serta Down Syndrome.

KATARAK AKIBAT TERINDUKSI OLEH OBAT
                Kortikosteroid yang diberikan dalam jangka panjang secara sistemis atau tetes mata dapat menyebabkan kekeruhan lensa. Obat yang diduga dapat menyebabkan lkatarak adalah phenotiazin, amiodarone, dan obat tetes miotik kuat seperti phospoline iodide.

yang dibawah ini dari sumber berbeda lagi..cekidot yaa
KATARAK
Riwayat
jadi med, biasanya pasien mempunyai keluhan, keluhan sebagai berikut. berkurangnya ketajaman penglihatan, penglihatan kabur, silau atau “starburst” di sekitar cahaya, kesulitan untuk melihat pada pencahayaan yang kurang atau kegelapan. Pasien kadang bisa juga mempunya gangguan metabolik semacam diabetes mellitus atau Wilson's disease. Kenapa kok bisa wilson's disease?soalnya wilson's disease tu abnormatilas metabolik menumpuknya tembaga di jaringan. Sedangakn kelebihan tembaga bisa mengakibatkan katarak. Bisa juga pasien mempunyai riwayat mengkonsumsi phenothiazine atau kortikosteroid, atau mungkin juga terkena penutupan sudut glaucoma akut.
Temuan
akan ditemukan diskolorisasi lensa menjadi kuning coklat (nuclear sclerosis). Ini nih yang agak mimin bingung, focal lenticular opacities can be opaque wedges (cortical wedges), opasitas bentuk Y, atau focal spots. Opasifikasi komplit dan pemutihan katarak (katarak matur)
Pemeriksaan Okuler
Periksa penglihatan dengan sumber yang membuat silau jika diindikasikan. Cek pupilnya, katarak biasanya tidak menimbulkan defek aferen pupil. Pupil terdilatasi. Pemeriksaan slit lamp. Jika tidak terlihat fundusnya, temukan B-scan ultrasound untuk memeriksa segmen posterior. B-scan ultrasound tuh alat ultrasound yang mengeluarkan suara frekuensi tinggi untuk menyajikan cross-sectional pandangan dua dimensi dari jaringan mata yang tidak dapat dilihat dengan cara lain. Kalo pasien diabetes B-scan juga dilakukan untuk memeriksa pelepasan kornea. Atau jika terjadi vitreous hemorrhage dokter tidak akan bisa memeriksa retina secara langsung, jadi dokter harus memakai B-scan untuk mendeteksi abnormalitas.
Perawatan
Dirujuk ke spesialis mata untuk dievaluasi dan kemungkinan operasi katarak.

Penyebab umum katarak
tipe
penyebab
Polar
Congenital
Cortical spokes
penuaan
Nuclear sclerosis
penuaan
Posterior subscapular
Penggunaan steroid, pembedahan intraocular sebelumnya, inflamasi ocular
Snowflake and focal opacities
Diabetes, TIO tinggi dan glaucoma
Focal opacities
Trauma
Katarak putih matur
Trauma, penuaan
Deposit capsular
Obat(phenothiazine, atau sejenisnya), naiknya serum iron atau level tembaga

 ini nih sumber lagii....

Katarak Kongenital

Disisio Lentis
tindakan bedah pada disisio lentis adalah dengan menusuk atau merobek kapsul anterior lensa dengan harapan badan lensa yang cair keluar. Bahan lensa yang keluar akan mengalir bersama cairan mata(aquous humor) atau difagositosis oleh makrofag. Setelah terjadi absorbsi sempurna, maka mata menjadi afakia atau tidak mempunyai lensa lagi.
1.    Ekstraksi Linear
Ekstraksi Linear dibuat insisi pada kornea dan dilakukan robekan pada kapsul anterior lensa. Dimasukkan sendok Daviel kedalam bilik mata atau lensa kemudian lensa dibersihkan dari bahan lensa yang berada didalam kapsul. Pada saat sekarang untuk mengeluarkan badan lensa dapat dilakukan dengan aspirasi. selanjutnya luka kornea dapat dijahit kemnali. Bila ada bahan lensa yang masih tertinggal diharapkan seperti pada disisio lentis yaitu sisa lensa ini akan keluar bersama cairan mata dan difagsitosis.

Penanganan :
Katarak kongenital harus dilakukan operasi/bedah.

Pencegahan :
Pada katarak kongenital total makula ini tidak boleh mendapat rangsangan. Makula ini tidak akan berkembang sempurna hingga walaupun dilakukan ekstraksi katarak maka visus biasanya tidak akan mencapai 5/5. Hal ini disebut ambliopia sensoris (amblyopia ex anopsia). Katarak kongenital dapat menimbulkan komplikasi lain berupa nistagmus dan strabismus. Serta pada bedah disisio lentis ini harus menghindari terjadinya uveitis atau glaukoma sekunder. Bila bahan lensa tidak diabsobsi sempurna maka akan terbentuk katarak sekunder. pada menghindari terjadinya uveitis, glaukoma dan katarak sekunder.

Pengobatan :
Katarak Kongenital dapat diobati dengan cara melakukan operasi/bedah. Operasi katarak kongenital dilakukan bila reflek fundus tidak tampak. Biasanya bila katarak bersifat total, operasi dapat dilakukan pada usia 2 bulan atau lebih atau bila telah dapat dilakukan pembiusan.
Tindakan Operasi katarak kongenital yaitu : Disisio atau ekstraksi linear dan ektraksi dengan fakoemulsifikasi.
Pda umumnya tindakan bedah / operasi dilakukan dengan disisio lentis atau ekstraksi linear. Tndakan bedah ini biasa dilakukan pada usia 2 bulan untuk mencegah ambliopia eksanopsia. Pasca bedah pasien memerlukan koreksi untuk kelainan refraksi matanya yang telah menjadi afakia.
Keterangan :
Katarak kongenitalis adalah katarak yang ditemukan pada bayi ketika lahir (atau beberapa saat kemudian). Katarak kongenitalis bisa merupakan penyakit keturunan (diwariskan secara autosomal dominan) atau bisa disebabkan oleh: – Infeksi kongenital, seperti campak Jerman – Berhubungan dengan penyakit metabolik, seperti galaktosemia. Faktor resiko terjadinya katarak kongenitalis adalah: – penyakit metabolik yang diturunkan – riwayat katarak dalam keluarga – infeksi virus pada ibu ketika bayi masih dalam kandungan. Katarak Kongenital adalah katarak yang telah timbul sejak lahir. Katarak Kongenital dianggap sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang menderita penyakit misalnya diabetes melitus. Kekeruhan pada katarak kongenital dijumpai dalam berbagai bentuk dan gambaran morfologik. Congenital, merupakan katarak yang terjadi sejak bayi lahir dan berkembang pada tahun pertama dalam hidupnya. Jenis katarak ini sangat jarang terjadi.

Katarak Traumatik

1.    Cetakan pupil pada lensa akibat trauma tumpul yang berbentuk vossious ring yaitu lingkaran yang terbentuk oleh granula coklat kemerah-merahan dari pigmen iris dengan garis tengah kurang lebih 1 mm. Secara normal ia menjadi padat sesudah trauma. Cincin vossious cenderung untuk menghilang sedkit demi sedikit. Kekeruhan kapsul yang kecil-kecil dan tersebar dapat ditemui sesudah menghilangnya pigmen.
2.    Katarak berbentuk roset; bentuk ini dapat terjadi segera sesudah trauma tetapi dapat juga beberapa minggu sesudahnya. Trauma tumpul Mengakibatkan perubahan susunan serat-serat lensa dan susunan sisten suture (tempat pertemuan serat lensa) sehingga terjadi bentuk roset. Bentuk ini dapat sementara dan dapat juga menetap.
3.    Katarak traumata desiminata subepitel (ditemukan oleh Vogt) berbentuk kekeruhan yang bercak-bercak dan terletak dibawah lapisan epitel lensa bagian depan. Kadang-kadang kekeruhan ini bersifat permanen dan tidak progresif.
4.    Katarak Zonular dan lamelar, bentuk ini sering ditemukan pada orang muda yang sesudah trauma. Penyebabnya karena adanya perubahan per meabilitas kapsul lensa yang mengakibatkan degenerasi lapisan kortek supersial. Trauma tumpul akibat tinju atau bola dapat menyebabkan robekan kapsul, walaupun tampa trauma tembus mata. Bahan-bahan lensa dapat keluar melalui robekan kapsul ini dan bila diabsorbsi maka mata akan menjadi afakia.
Katarak akibat trauma tembus dapat dalam bentuk :
Laserisasi yaitu robekan pada kapsul lensa. Bila kapsul robek dan isi lensa bercampur dengan cairan aqueous dapat timbul katarak total.

1.    Katarak Sekunder

1.   Gejala Subyektif :Katarak sekunder dapat menyebabkan kemunduran tajam penglihatan.
2.   Gejala Obyektif : Tampak sebagai suatu masa tebal yang dapat terdiri atas kapsul anterior, kapsula posterior, masa lensa, cincin soemmering dan elschnig pearl. Cincin soemmering terjadi akibat kapsul anterior yang pecah dan beretraksi kearah pinggir dan melekat pada kapsula posterior meninggalkan daerah yang jernih ditengah, membentuk gambaran cincin. Pada pinggir cincin ini tertimbun serabut lensa dan epitel yang berproliferasi. Elschnig pearl adalah epitel subkapsuler yang berproliferasi dan membesar sehingga tampak sebagai busa sabun. Elschnig pearl ini mungkin akan menghilangkan dalam beberapa tahun oleh karena pecah dindingnya.
3.   Afakia adalah setiap keadaan dimana bahan lensa telah dikeluarkan maka akan ditemukan gejala mata yang tidak mempunyai lensa lagi atau afakia, seperti Iris tremulan atau iris bergoyang, Bilik mata dalam, Hipermetropia tinggi dan biasanya sampai +10,00 sampai dengan +12,00 Dioptri., Untuk membaca dekat diperlukan tambahan lensa +3,00 Dioptri.
4.   Lensa Intra Okuler adalah pada saat bedah katarak dilakukan penanaman lensa intraokular untuk afakia yang terjadi. Koreksi untuk mata afakia dapat memberikan beberapa keuntungan dan kerugian.
5.   Retinopati adalah suatu kelainan pada retina yang bukan merupakan peradangan. Retinopati dapat disebabkan diabetes melitus, hipertensi dan leukemia, arteriosklerosis dan proses degenerasi lainnya.

Penanganan : Katarak Sekunder ini harus dilakukan operasi/bedah.

Pencegahan : Menghindari trauma pada lensa mata yang dapat memecahkan lensa dan harus berhati-hati dalam beraktifitas (menjaga mata tetap baik).

Pengobatan : Katarak Sekunder ini dilakukan operasi/bedah dengan cara irigasi, disisio, kapsulotomi atau whole membrane extraction. Pada pembadahan katarak sekunder terjadi akakibat sisa disisio lentis, ekstraksi linear dan ekstraksi kapsuler. Pada katarak sekunder yang menghambat masuknya sinar masuk kedalam bola mata atau mengakibatkan turunnya tajam penglihatan maka dilakukan disisio lentis sekunder atau kapsulotomi padakatarak sekunder tesebut.
Keterangan : Katarak Sekunder adalah istilah untuk semua bahan seperti kapsul lensa, sel epitel, serabut lensa, elemen fibrin sesudah suatu peradangan dan hasil degenerasi atau degenerasi lensa yang tertinggal sesudah suatu operasi katarak ekstra kapsuler atau sesudah suatu trauma yang memecah lensa. Katarak yang disebabkan oleh konsumsi obat seperti prednisone dan kortikosteroid, serta penderita diabetes. Katarak diderita 10 kali lebih umum oleh penderita diabetes daripada oleh populasi secara umum.
Gambaran Klinik :
Pada pembedahan katarak sekunder ini harus hati-hati apabil tidak ingin terjadi beberapa kesalahan berupa :

1.    Katarak Senil

1.   Uji Anel Positif, dimana tidak terjadi obstruksi fungsi ekskresi saluran lakrimal sehingga tidak ada dakriosistitis.
2.   Tidak ada infeksi diesekitar mata seperti keraitis, konjungtivitis, blefaritis, hordeolum dan kalazion
3.   Tekanan bola mata normal dan tidak ada glaukoma
4.   Tekanan darah sistolik 160 mmHg dan diastolik 100mmHg.
5.   Gula darah telah terkontrol.
6.   Tidak batuk terutama pada saat pembedahan.
7.   Dibuat flep konjungtiva dari jam 9-3 melalui jam 12.
8.   Dilakukan pungsi bilik mata depan dengan pisau.
9.   Luka kornea diperlebar seluas 160 derajat.
10. Dibuat indektomi untuk mencagah glaukoma blokade pupil pasca bedah.
11. Dibuat jahitan korneosklera
12. Lensa dikeluarkan dengan krio.
13. Jahitan kornea dieratkan dan ditambah.
14. Flep konjungtiva dijahit
15. Kapsul lensa pecah sehingga lensa tidak dapat dikeluarkan bersama-sama kapsulnya. Pada keadaan ini terjadi ekstraksi lensa ekstrakapsular tanpa rencana karena kapsul posterior akan tertingal.
16. Prolaps badan kaca pada saat lensa dikeluarkan.
17. Teknik yang masih baik untuk mengeluarkan lensa keruh yang mengganggu penglihatan.
18. Teknik dengan ongkos rendah.
19. Flep konjungtiva antara dasar dengan fornik pada limbus dibuat dari jam 10 sampai jam 2.
20. Dibuat pungsi bilik mata depan.
21. Melalui pungsi ini dimasukkan jarum untuk kapsulotomi anterior.
22. Dibuat luka kornea dari jam 10-2.
23. Nukleus lensa dikeluarkan.
24. Sisa korteks lensa dilakukan irigasi sehingga tinggal kapsul poserior saja.
25. Luka kornea dijahit.
26. Flep konjungtiva dijahit.
1.    Proses pada nukleus Oleh karena serabut-serabut lensa yang terbentuk lebih dahulu selalu terdorong kearah tengah maka serabut-serabut lensa bagian tengah akan menjadi lebih padat(nulkeus), mengalami dehidrasi, penimbunan ion calcium(Ca)dan sklerosis. Pada nuleus ini kemudian terjadi penimbunan pigmen. Pada keadaan ini lensa kurang hipermetrop.
2.    Proses pada korteks Timbul celah-celah diantara serabut lensa, yang berisi air dan penimbunan ion Ca sehingga lensa menjdi lebih tebal, lebih cembung dan membengkak menjadi lebih miop.
3.    Katarak Insipien adalah katarak berupa bercak-bercak seperti baji dengan dasar di perifer dan daerah jernih diantaranya. Kekeruhan biasanya terletak di korteks anterior atau posterior. Kekeruhan ini mula-mulanya tampak bila pupil dilebarkan sedangkan pada stadium lanjut puncak baji dapat tampak pada pupil normal. Kekeruhan ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa.
4.    Katarak Imatur adalah kekeruhan yang belum mengenai seluruh lapisan lensa, sehingga masih ditemukan bagian-bagian yang jernih. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi korteks hingga lensa akan mencembung dan daya biasnya akan bertambah, yang memberikan miopisasi. Pencembungan lensa ini akan menyebabkan bilik depan mata akan menjadi lebih dangkal dan dapat memberikan penyulit glaukoma. Hal ini disebut katarak intumesen.
5.    Katarak Imatur adalah kekeruhan yang telah mengenai seluruh masa lensa. Kekeruhan ini biasanya terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh.
6.    Katarak Hipermatur adalah katarak yang terjadi akibatkorteks yang mencair sehingga masa lensa ini dapat keluar melalui kapsul. Akibat pencairan korteks ini maka nukleus “tenggelam” kearah bawah (jam 6)(katarak morgagni). Lensa akan mengeriput. Akibat masa lensa yang keluar kedalam bilik mata depan maka dapat timbul penyulit berupa uveitis fakotoksik atau galukoma fakolitik.
Penyulit yang timbul adalah terdapat korteks lensa yang akan membuat katarak sekunder. Setelah itu harus melakukan tindakan Fakoemulsifikasi yaitu tindakan untuk mencegah astigmat pada bedah EKIK, maka luka dapat diperkecil dengan tindakan bedah fakoemulsifikasi. Pada tindakan fakoe ini lensa yang katarak di fragmentasi dan diaspirasi.
Keterangan :
Katarak Senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia diatas 50 tahun. Katarak Senil juga katarak yang berkaitan dengan usia, merupakan jenis katarak yang paling umum. Berdasarkan lokasinya, terdapat 3 jenis katarak ini, yakni nuclear sclerosis, cortical, dan posterior subcapsular. Nuclear sclerosis merupakan perubahan lensa secara perlahan sehingga menjadi keras dan berwarna kekuningan. Pandangan jauh lebih dipengaruhi daripada pandangan dekat (pandangan baca), bahkan pandangan baca dapat menjadi lebih baik. Penderita juga mengalami kesulitan membedakan warna, terutama warna biru. Katarak jenis cortical terjadi bila serat-serat lensa menjadi keruh, dapat menyebabkan silau terutama bila menyetir pada malam hari. Posterior subcapsular merupakan terjadinya kekeruhan di sisi belakang lensa. Katarak ini menyebabkan silau, pandangan kabur pada kondisi cahaya terang, serta pandangan baca menurun. Penyebabnya sampai sekarang tidak deketahui secara pasti. Namun katarak senil ini terjadi karena :

Berdasarkan kekeruhan pada lensa maka katarak senil dibedakan atas :

Penanganan : Katarak Senil penanganannya harus dilakukan pembedahan atau operasi. Dan sebelumnya pasien dengan katarak yang akan dibedah dilakukan sebagai berikut :

Pencegahan : Tidak batuk terutama pada saat pembedahan/operasi.
Pengobatan : Katarak Senil pengobatannya dengan cara pembedahan/operasi dan tidak ada satupun obat yang dapat diberikan. Pembedahan ini dilakukan apabila tajam penglihatan sudah menurun sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari atau bila katarak ini meenimbulkan penyulit seperti galukoma. Tindakan bedah ini dilakukan bila telah ada indikasi bedah pada katarak senil, seperti katarak telah mengganggu pekerjaan sehari-hari walapun katarak belum matur, katarak matur, karena apabila telah menjadi hipermatur akan menimbulkan penyulit katarak hipermatur (uveitis atau glaukoma) dan katarak telah telah menimbulkkan penyulit seperti katarak intumesen yang menimbulkkan glaukoma. Terdapat dua pembedahan dalam katarak senil yaitu Dalam bentuk ekstraksi lensa intrakapsular dan ekstraksi lensa ekstrakapsular.
Ekstraksi Lensa Intrakapsular merupakan tindakan bedah yang umum dilakukan pada katarak senil. Lensa dikeluarkan bersama-sama dengan kapsul lensanya dengan memutus zonula zinn yang telah pula mengalami degenerasi.
Pada ekstraksi Lensa Intrakuapsuler dilakukan tindakan degan urutan sebagai berikut :
Penyulit pada saat pembedahan yang terjadi adalah : Bedah Ekstraksi lensa intrakapsular (EKIK) masih dikenal pada negara berekonomi rendah karena :Ekstraksi Lensa Ekstrakapsular, Pada ekstraksi lensa ekstrakapsular dilakukan tindakan sebagai berikut :

Penanganan : Pada Katarak Traumatik harus dilakukan operasi/bedah.

Pencegahan : Pada penderita katarak trauma ini harus hati-hati dalam bekerja atau menjalankan aktivitas dan menghindari perdarahan pada lensa, ablasi retina, uveitis atau salah letak lensa.

Pengobatan : Pada katarak trauma juga dilakukan operasi dan apabila tidak terdapat penyulit maka dapat ditunggu sampai mata menjadi tenang karena akibat pengaruh trauma tersebut. Jka terjadi pecahnya kapsul mengakibatkan gejala radang berat maka dilakukan aspirasi secepatnya agar keadaan uveitis tidak menimbulkan penyulit yang lebih berat. Dan bila terjadi seperti glaukoma, uveitis dan lain sebagainya maka segera dilakukan ekstraksi lensa. Penyulit uveitis dan glaukoma sering dijumpai pada orang usia tua. Pada beberapa pasien dapat berbentuk cincin soemmering pada pupil sehingga dapat mengurangi tajam pemglihatan. Keadaan ini dapat disertai perdarahan, ablasi retina, uveitis atau salah letak lensa.
Keterangan : Katarak Traumatik adalah katarak yang terjadi akibat trauma pada lensa mata. Katarak traumatik disebabkan oleh kecelakaan pada lensa mata. Trauma dapat berupa trauma tumpul atau trauma tajam.
Refference:
Emergency Ophthalmology a Rapid Treatment Guide Kenneth C. Chern, MD
General Ophthamology, Vaughan & Asbury


Kontributor:
-          GalihArya
-          JrNata

Minggu, 15 Mei 2011

Latihan Soal


1.    Memedd,,nih mimin ada latihan soal..jangan terlalu percaya sama jawabannya yaa.. didiskusiin aja kalo perlu..hehehee...

Lapisan kornea berikut yang bersambung dengan konjunctiva bulbi adalah:
a.       Epitel anterior
b.      Lamina limitan anterior
c.       Stroma
d.      Lamina limitan posterior
e.      Mesotel camera oculi anterior
2.       Discharge yang jernih pada konjunctivitis adalah
a.       Discharge nanah
b.      Discharge membranous
c.       Discharge serous
d.      Discharge katarrh (mukopurulen)
e.      Discharge darah
3.       Pasien dengan keluhan mata merah dengan gambaran plasido terputus dan pada penetesan larutan fluresin nampak positif, maka kemungkinan pasien radang itu ada di:
a.       Konjunctiva
b.      Sklera
c.       Kornea
d.      Uvea
e.      Semua salah
4.       Jika peradangan pada psien no.3 diatas ada pada uvea maka:
a.       Akan ditemukan sekret mukopurulen
b.      Akan ditemukan presipitat di kornea
c.       Akan ditemukan flare (+) di bilik mata depan
d.      Akan ditemukan penurunan penglihatan
e.      Bukan semua diatas
5.       Jika peradangan pada psien no.3 diatas ada pada konjunctiva maka:
a.       Akan ditemukan dilatasi pupil
b.      Akan ditemukan infiltrat di kornea
c.       Akan ditemukan flare (+) di bilik mata depan
d.      Terjadi peningkatan tekanan intra okuli
e.      Tidak ditemukan penurunan penglihatan
6.       Pasien dengan keluhan mata gatal dan lengket pada pagi hari, tidak merah, yang dikeluhkan terutama sejak musim dingin. Dokter memberikan obat tetes mata dan berpesan supaya tidak menghentikan pengobatan setelah keluhan hilang, kemungkinan penyakit adalah:
a.       Kojunctivitis trakhom
b.      Keratitis filamentosa
c.       Uveitis
d.      Konjunctivitis alergi
e.      Iritis akut
7.       Obat tetes yang diberikan pada kasus no.6 adalah dari jenis:
a.       Antibiotika
b.      Steroid
c.       Vasokonstriktor
d.      Antihistamin
e.      Vasodilator
8.       Yang merupakan media refrakta organ penglihatan adalah:
a.       Konjunctiva
b.      Sclera
c.       Corpus vitrei
d.      Retina
e.      Iris
9.       Otot-otot penggerak bola mata yang diinervasi oleh N.VI adalah:
a.       M. Rectus superior
b.      M. Rectus inferior
c.       M. Rectus lateralis
d.      M. Rectus medialis
e.      M. Obliqus inferior
10.   Seorang dewasa memeriksakan matanya yang merah, dengan badan demam dan serak. Matanya yang meradang terdapat selaput keputihan yang mudah berdarah. Untuk menegakkan diagnosis, perlu pemeriksaan tambahan:
a.       Pemeriksaan fundus
b.      Pemeriksaan tenggorok
c.       Pemeriksaan telinga
d.      Pemeriksaan gigi
e.      Pemeriksaan tonometri

Rabu, 11 Mei 2011

SKENARIO 1 CONJUNCTIVITIS

Haloooo memed-memed sekalian,sudah lama kita tidak berjumpa di anti-remed hehee...ujian kemaren berjalan dengan lancar kaan??semoga hasilyang kita dapat memuaskan aminnnn..Oke, di skenario pertama ini sih di buku modulnya gak ada cerita skenario nya,adanya Cuma learning objective yangharus kita capai.Tapi denger-denger sih skenarionya bakal soal konjungtivitis, emang uda bisa ditebak sih, soalnya di LO nya kan banyak tu yang disuruhbahas soal konjungtivitis. Sebelum kita mulai marikita mengetahui LO nya dulu
1.       Anatomi fisiologi mata
2.       Mekanisme, patofisiologi, dan patogenesis infeksi mata
3.       Faktor resiko penyakit mata merah
4.       Membedakan penyebab konjungtivitis karena virus, bakteri, jamur, dll
5.       Diagnosis klinis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan tambahan
6.       Penatalaksanaan konjungtivitis (drug of choice, rasionalisasi terapi)
7.       Epidemiologi dan pencegahan konjungtivitis
Yok mari yok kita bahas satu demi satu...
A.      Anatomi fisiologi mata


Anatomi mata itu dibagi menjadi 6 bagian anatomis: (1) adnexa, yang meliputi kelopak mata dan lacrimal apparatus; (2)segmen anterior, terdiri dari konjungtiva, kornea, dan ruang anterior; (3) iris dan lensa; (4) segmen posterior yang terdiri dari humor vitreous, retina, choroid, dan sklera; (5) otot extraocular; (6) Orbit.
Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan. Dari luar ke dalam, lapisan–lapisan tersebut adalah : (1) sklera/kornea, (2) koroid/badan siliaris/iris, dan (3) retina. Sebagian besar mata dilapisi oleh jaringan ikat yang protektif dan kuat di sebelah luar, sklera, yang membentuk bagian putih mata. Di anterior (ke arah depan), lapisan luar terdiri atas kornea transparan tempat lewatnya berkas–berkas cahaya ke interior mata. Lapisan tengah dibawah sklera adalah koroid yang sangat berpigmen dan mengandung pembuluh-pembuluh darah untuk memberi makan retina. Lapisan paling dalam dibawah koroid adalah retina, yang terdiri atas lapisan yang sangat berpigmen di sebelah luar dan sebuah lapisan syaraf di dalam. Retina mengandung sel batang dan sel kerucut, fotoreseptor yang mengubah energi cahaya menjadi impuls syaraf.
Struktur mata manusia berfungsi utama untuk memfokuskan cahaya ke retina. Semua komponen–komponen yang dilewati cahaya sebelum sampai ke retina mayoritas berwarna gelap untuk meminimalisir pembentukan bayangan gelap dari cahaya. Kornea dan lensa berguna untuk mengumpulkan cahaya yang akan difokuskan ke retina, cahaya ini akan menyebabkan perubahan kimiawi pada sel fotosensitif di retina. Hal ini akan merangsang impuls–impuls syaraf ini dan menjalarkannya ke otak.
eye
Cahaya masuk ke mata dari media ekstenal seperti, udara, air, melewati kornea dan masuk ke dalam aqueous humor. Refraksi cahaya kebanyakan terjadi di kornea dimana terdapat pembentukan bayangan yang tepat. Aqueous humor tersebut merupakan massa yang jernih yang menghubungkan kornea dengan lensa mata, membantu untuk mempertahankan bentuk konveks dari kornea (penting untuk konvergensi cahaya di lensa) dan menyediakan nutrisi untuk endothelium kornea. Iris yang berada antara lensa dan aqueous humor, merupakan cincin berwarna dari serabut otot. Cahaya pertama kali harus melewati pusat dari iris yaitu pupil. Ukuran pupil itu secara aktif dikendalikan oleh otot radial dan sirkular untuk mempertahankan level yang tetap secara relatif dari cahaya yang masuk ke mata. Terlalu banyaknya cahaya yang masuk dapat merusak retina. Namun bila terlalu sedikit dapat menyebabkan kesulitan dalam melihat. Lensa yang berada di belakang iris berbentuk lempeng konveks yang memfokuskan cahaya melewati humour kedua untuk menuju ke retina.
Untuk dapat melihat dengan jelas objek yang jauh, susunan otot siliare yang teratur secara sirkular akan akan mendorong lensa dan membuatnya lebih pipih. Tanpa otot tersebut, lensa akan tetap menjadi lebih tebal, dan berbentuk lebih konveks. Manusia secara perlahan akan kehilangan fleksibilitas karena usia, yang dapat mengakibatkan kesulitan untuk memfokuskan objek yang dekat yang disebut juga presbiopi. Ada beberapa gangguan refraksi lainnya yang mempengaruhi bantuk kornea dan lensa atau bola mata, yaitu miopi, hipermetropi dan astigmatisma.
Selain lensa, terdapat humor kedua yaitu vitreous humor yang semua bagiannya dikelilingi oleh lensa, badan siliar, ligamentum suspensorium dan retina. Dia membiarkan cahaya lewat tanpa refraksi dan membantu mempertahankan bentuk mata.
Bola mata terbenam dalam corpus adiposum orbitae, namun terpisah darinya oleh selubung fascia bola mata. Bola mata terdiri atas tiga lapisan dari luar ke dalam, yaitu :
1. Tunica Fibrosa
Tunica fibrosa terdiri atas bagian posterior yang opaque atau sklera dan bagian anterior yang transparan atau kornea. Sklera merupakan jaringan ikat padat fibrosa dan tampak putih. Daerah ini relatif lemah dan dapat menonjol ke dalam bola mata oleh perbesaran cavum subarachnoidea yang mengelilingi nervus opticus. Jika tekanan intraokular meningkat, lamina fibrosa akan menonjol ke luar yang menyebabkan discus menjadi cekung bila dilihat melalui oftalmoskop.
Sklera juga ditembus oleh n. ciliaris dan pembuluh balik yang terkait yaitu vv.vorticosae. Sklera langsung tersambung dengan kornea di depannya pada batas limbus. Kornea yang transparan, mempunyai fungsi utama merefraksikan cahaya yang masuk ke mata. Tersusun atas lapisan-lapisan berikut ini dari luar ke dalam sama dengan: (1) epitel kornea (epithelium anterius) yang bersambung dengan epitel konjungtiva. (2) substansia propria, terdiri atas jaringan ikat transparan. (3) lamina limitans posterior dan (4) endothel (epithelium posterius) yang berhubungan dengan aqueous humour.
2. Lamina vasculosa
Dari belakang ke depan disusun oleh sama dengan : (1) choroidea (terdiri atas lapis luar berpigmen dan lapis dalam yang sangat vaskular) (2) corpus ciliare (ke belakang bersambung dengan choroidea dan ke anterior terletak di belakang tepi perifer iris) terdiri atas corona ciliaris, procesus ciliaris dan musculus ciliaris (3) iris (adalah diafragma berpigmen yang tipis dan kontraktil dengan lubang di pusatnya yaitu pupil) iris membagi ruang diantara lensa dan kornea menjadi camera anterior dan posterior, serat-serat otot iris bersifat involunter dan terdiri atas serat-serat sirkuler dan radier.
3. Tunica sensoria (retina)
Retina terdiri atas pars pigmentosa luar dan pars nervosa di dalamnya. Permukaan luarnya melekat pada choroidea dan permukaan dalamnya berkontak dengan corpus vitreum. Tiga perempat posterior retina merupakan organ reseptornya. Ujung anterior membentuk cincin berombak, yaitu ora serrata, di tempat inilah jaringan syaraf berakhir. Bagian anterior retina bersifat non-reseptif dan hanya terdiri atas sel-sel pigmen dengan lapisan epitel silindris di bawahnya. Bagian anterior retina ini menutupi procesus ciliaris dan bagian belakang iris.
Di pusat bagian posterior retina terdapat daerah lonjong kekuningan, macula lutea, merupakan daerah retina untuk penglihatan paling jelas. Bagian tengahnya berlekuk disebut fovea sentralis.
Nervus opticus meninggalkan retina lebih kurang 3 mm medial dari macula lutea melalui discus nervus optici. Discus nervus optici agak berlekuk di pusatnya yaitu tempat dimana ditembus oleh a. centralis retinae. Pada discus ini sama sekali tidak ditemui coni dan bacili, sehingga tidak peka terhadap cahaya dan disebut sebagai bintik buta. Pada pengamatan dengan oftalmoskop, bintik buta ini tampak berwarna merah muda pucat, jauh lebih pucat dari retina di sekitarnya.

Anatomi dan Fisiologi Pada Mata
Secara garis besar anatomi mata dapat dikelompokkan menjadi empat bagian, dan untuk ringkasnya fisiologi mata akan diuraikan secara terpadu. Keempat kelompok ini terdiri dari :
1) Palpebra
Dari luar ke dalam terdiri dari : kulit, jaringan ikat lunak, jaringan otot, tarsus, vasia dan konjungtiva.
Fungsi dari palpebra adalah untuk melindungi bola mata, bekerja sebagai jendela memberi jalan masuknya sinar kedalam bola mata, juga membasahi dan melicinkan permukaan bola mata.
2) Rongga mata

Merupakan suatu rongga yang dibatasi oleh dinding dan berbentuk sebagai piramida kwadrilateral dengan puncaknya kearah foramen optikum. Sebagian besar dari rongga ini diisi oleh lemak, yang merupakan bantalan dari bola mata dan alat tubuh yang berada di dalamnya seperti: urat saraf, otot-otot penggerak bola mata, kelenjar air mata, pembuluh darah
3) Bola mata
Menurut fungsinya maka bagian-bagiannya dapat dikelompokkan menjadi:
o Otot-otot penggerak bola mata
o Dinding bola mata yang teriri dari : sklera dan kornea. Kornea kecuali sebagai dinding juga berfungsi sebagai jendela untuk jalannya sinar.
o Isi bola mata, yang terdiri atas macam-macam bagian dengan fungsinya masing-masing
4) Sistem kelenjar bola mata
Terbagi menjadi dua bagian:
o Kelenjar air mata yang fungsinya sebagai penghasil air mata
o Saluran air mata yang menyalurkan air mata dari fornik konjungtiva ke dalam
rongga hidung
KEBUTAAN
Cedera dan penyakit pada mata bisa mempengaruhi penglihatan.
Kejernihan penglihatan disebut ketajaman visuil, yang berkisar dari penglihatan penuh sampai ke tanpa penglihatan.
Jika ketajaman menurun, maka penglihatan menjadi kabur.

Ketajaman penglihatan biasanya diukur dengan skala yang membandingkan penglihatan seseorang pada jarak 20 kaki dengan seseorang yang memiliki ketajaman penuh.
Visuil 20/20 artinya seseorang melihat benda pada jarak 20 kaki dengan ketajaman penuh; sedangkan visuil 20/200 artinya seseorang melihat benda pada jarak 20 kaki, yang oleh orang dengan ketajaman penuh benda tersebut terlihat pada jarak 200 kaki.

Secara teoritis, kebutaan terjadi jika ketajaman penglihatan lebih buruk dari 20/200 meskipun telah dibantu dengan kaca mata maupun lensa kontak.

Penyebab kebutaan

Kebutaan bisa terjadi karena berbagai alasan:
- cahaya tidak dapat mencapai retina
- cahaya tidak terfokus sebagaimana mestinya pada retina
- retina tidak dapat merasakan cahaya secara normal
- kelainan penghantaran gelombang saraf dari retina ke otak
- otak tidak dapat menterjemahkan informasi yang dikirim oleh mata.

Beberapa penyakit yang bisa menyebabkan kebutaan:
# Katarak
# Kelainan refraksi
# Ablasio retina
# Retinitis pigmentosa
# Diabetes
# Degenerasi makuler
# Sklerosis multipel
# Tumor kelenjar hipofisa
# Glaukoma
# Kelainan pada daerah otak yang mengolah gelombang visuil akibat stroke, tumor atau penyakit lainnya.




B.      Mekanisme, patofisiologi, dan patogenesis infeksi mata
      Allergic conjunctivitis dikarenakan oleh respon immune tipe I kepada allergen. allergen berikatan dengan cell mast dan terjadi cross-linking dengan IgE, membuat degranulasi cell mast dan inisiasi cascade inflamasi. Ini membuat pelepasan histamine oleh cell mast, begitu juga mediator lain seperti tryptase, chymase, heparin, chondroitin sulphate, prostaglandins, thromboxane, and leukotrienes. Histamine dan bradykinin menstimulate nociceptors, membuat gatal, menaikan permiabilitas vascular, vasodilatasi, kemerahan, dan injeksi conjuctiva.

      Infective conjunctivitis terjadi sebagai hasil dari berkrangnya pertahanan dan kontaminasi dari luar. Infectious pathogen bisa menyerang dari darah atau kelenjar dan berkembang di conjunctival mucosal cells. Semua infeksi bacterial dan viral membuat leukocyte atau cascade inflamasi lymphe menarik sel darah putih dan merah ke  daerah infeksi. Sel darah putih ini mencapai permukaan conjuctiva dan berakumulasi disana bergerak melalui permiabilitas yang rendah dan dilatasi capiler.



C.      Faktor resiko penyakit mata merah
       biasanya pada anak anak, dan bisa sampe usia 25. sering terjadi pada orang orang yang berhubungan langsung dengan penderita atau orang orang yang bekerja pada lingkungan kering.

D.    
            Membedakan penyebab konjungtivitis karena virus, bakteri, jamur, dll
1.       Bacterial Conjunctivitis

Riwayat:
Konjungtivitis karena bakteri mempunyai beberapa varian berdasarkan dengan durasi nya. Ada yang hiperakut (12-24 jam), akut (kurang dari 4 minggu), kronis (lebih dari 4 minggu). Akut dan kronis biasanya terjadi unilateral atau hanya pada salah satu mata. Discharge yang keluar biasanya mulai dari bentuk mucoid yang ringan sampai moderat, atau mucopurulen. Gatal yang ringan biasa ditemui, jika gatal lebih dominan maka diduga alergi. Photophobia ringan. Pada sexual history pernah mengalami vaginitis, vicitis, atau urethritis yang mungkin ditemui pada kasus yang kronis.

Temuan Pemeriksaan:
-          Red injected eye
-          Purulen atau mucopurulen discharge
-          Pembengkakan kelopak mata
-          Chemosis: edema konjungtiva
-          Preaulicular lymphadenophaty: lebih biasa pada infeksi virus.
Treatment:
Hyperacute Conjunctivitis dan Gonococal Conjunctivitis
Jika ditemukan gram negatif diplococus pada pengecatan gram, dapat dirawat dengan ceftriaxone 1 g intra muscular
Acute Conjunctivitis
Jika tidak ada kontraindikasi bisa diberikan obat antibiotik spektrum luas. Contoh:Trimethoprim-polymixin QID, Ofloxacin QID, Ciprofloxacin QID, Bacitracin-erythromicin ointment QID
Chronic Conjunctivitis
Inklusi chlamidia konjungtivitis dirawat dengan
-          Oral antibiotik: doxycicline 100mg po BID; tetracicline 250-500 mg po QID; erythromicin 250-500 po BID atau clarythomicin 250-500 po BID
-          Salep topical: erythromicin, tetracicline, sulfacetamide 2-3 kali sehari selama 2-3 minggu.
2.       Viral Conjunctivitis
Riwayat:
Biasanya akut (kurangdari 4 minggu). Terjadi secara bilateral, tetapi diawali dengan infeksiunilateral dan setelah beberapa hari kemudian menjadi bilateral. Discharge biasanya berair dengan scant withish mucus. Gejala biasanya ada riwayat infeksi saluran pernafasan atas ataukontak dengan orang yang menderita mata merah. Gatal dan rasa panas serta photophobia ringan dapat dijumpai. Bisa ditemukan juga demam, biasanya dihubungkan dengan pharyngoconjunctival fever.

Temuan Pemeriksaan:
-          Kelopak yang merah dan membengkak
-          Preauricular limfonodi yang palpable
-          Folikel palpebra konjungtiva inferior
-          Discharge berair
DD: Corneal Ulcer, Anterior Chamber Cells, Hypopyon(pelapisan oleh sel darah putih pada ruang anterior)
Treatment:
-          Biasanyatreatmentsuportive karena self-limited
-          Air mata buatan tanpa pengawet 4-6 kali sehari
-          Jika gatal bisa diberikan naphazoline/pheniramine drop QID
-          Kompres dingin
-          Menasihati pasien bahwa penyakitnya sangat menular sehingga hindari menyentuh mata dan kurangi kontak dengan orang lain.
3.       Allergic Conjunctivitis
Riwayat:
Biasanya singkat dan pasien mempunyai riwayat alergi seperti alergi debu, serbuk sari, kotoran binatang, atau UV.
Gejala:
-          Gatal
-          Discharge berair
-          Mata merah
Temuan Pemeriksaan:
-          Mata merah
-          Stringy, discharge putih
-          Pembengkakan kelopak mata
-          Chemosis
-          Konjungtiva papilae
Treatment:
-          Hindari alergen
-          Kompres dingin
-          Air mata buatan tanpa pengawet 4-6 kali sehari dipadu dengan vasoconstrictor/antihistamine
-          Pertimbangkan antihistaminoral atau topical untuk kasus yang berat
4.       Subconjunctival Hemorrhage
Riwayat:
Trauma pada saat menggaruk mata, hipertensi, mempunyai riwayat kelainan pembekuan darah, pengobatan dengan aspirin, atau idiopatik.
Temuan Pemeriksaan:
-          Biasanya asimtomatik
-          Mata merah
-          Warna merah menyala dan gelap darah di bawah konjungtiva, biasanya sectoral
-          Jika ada perdarahan 3600 Subconjunctival hemorrhage maka harus mengeliminasi ruptur globe dulu.
Treatment:
-          Tidak ada treatmentyang dibutuhkan
-          Tetes mata buata
-          Obat antikoagulan dihentikan


E.       Diagnosis klinis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan tamban
hd   bacterial
       -historinya hyperacute (12-14jam), acute kurang dari 4 minggu, dan chronic lebih dari 4 minggu
       -akut dan kronik biasanya unilateral
       -biasanya ada discharge sebagai tanda mild sampai sedang
       -ada rasa gatal
       -chemosis
       -merah
       viral
       -inferior palpebral conjuctival follicles
       -biasanya acute
       -whitish mucose
       -preauiclar lymph node teraba
       -merah
       allergic
       -gatal
       -kelopak mata bengkaj
       -merah
       -preauriculer lymph tdk teraba
F.       Penatalaksanaan konjungtivitis (drug of choice, rasionalisasi terapi)
      
     Untuk viral: tetes mata acyclovoir atau trifluridine.
     Untuk allergic: tetes mata antihistamin seperti vasocon-A ata resep olopatadine ophthalmic dan anti hstamin oral bisa mengurangi gatalnya.
     Untuk bacterial: tetes mata sodium sulfacetamide atau azytromisin atau norfloxasin.
G.    
          Epidemiologi dan pencegahan konjungtivitis

Pencegahanya sebenarnya cukup simple, yaitu sering mencuci tanan dan jangan menggosok mata karena bisajadi tangan sedang kotor. Biasanya adenovirus yg juga bisa menyebabkan conjunctivitis kejadiianya tinggi pada musim panas, nah kebetulan kita sering bgt tuh musim panas, jadi hati” dengan debu kering yang berterbangan juga.

Penyebaran juga bisa melalui benda benda yang sering bersentuhan dengan mata kita, seperti bantal, tissue dan sapu tangan, jadi sebisa mungkin tidak saling meminjam dan menjaga kebersihanya.
Kalo memed mau lihat gambar-gambar mata sakit bisa dibuka di 


Sementara itu dulu ya....masih ada field yang masih kosong kandi learning objective, tapi insyaallah mimin Nata mau nambahin kok ntar. Indahny dunia jika kita berbagi..regards, Anti-Remed..

Kontributor:
GalihArya
JrNata


Referensi:
1.       Emergency Ophthalmology a Rapid Treatment Guide Kenneth C. Chern, MD
4.       http://i-comers.com/showthread.php?t=6926  
      http://bestpractice.bmj.com/ 
      http://www.umm.edu/altmed/articles/conjunctivitis-000040.htm