SKENARIO 2 BLOK 12
DEFINISI
Kata katarak berasal dari bahasa Latin, cataracta, atau dalam bahasa Yunani, kataraktes, yang artinya terjun seperti air. Kata ini ditafsirkan dari buku-buku Arab “Nuzul EL Ma” yang berarti air terjun. Istilah ini dipakai oleh orang Arab sebab orang-orang dengan kelainan ini mempunyai penglihatan yang seolah-olah terhalang oleh air terjun. Oleh Constantin Africanus seorang biarawan Chartago (tahun 1018 – 1085) yang mengajar di Sarlemo. Sampai saat ini kata katarak digunakan dan berarti sesuatu kekeruhan yang terjadi pada lensa mata
ANATOMI
Lensa kristalin adalah struktur transparan, bikonveks yang berfungsi untuk :
Mengatur kejernihannya sendiri
Merefraksikan cahaya
Untuk akomodasi
Lensa tidak mempunyai suplai darah atau inervasi setelahperkembangan
fetal, dan ini semua tergantung sepenuhnya pada humor akuos untuk fungsi metabolisme dan pembuangan. Lensa terletak dibelakang iris dan dianterior dari korpus vitreous. Lensa ditopang oleh zonula Zinii, yang terdiri atas serabut-serabut kuat yang melekat ke korpus siliaris. Bagian lensa terdiri atas kapsul, epithelium lensa, korteks dan nukleus.
Enam puluh lima persen lensa terdiri dari air, sekitar 35% protein (kandungan protein tertinggi diantara jaringan-jaringan tubuh), dan sedikit sekali mineral yang biasa ada di jaringan tubuh lainnya. Kandungan kalium lebih tinggi di lensa daripada di kebanyakan jaringan lain. Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun tereduksi.
Secara fisiologik lensa mempunyai sifat tertentu yaitu :
Kenyal atau atau lentur karena memegang peranan penting dalam akomodasi untuk menjadi cembung
Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan
Terletak ditempatnya
Keadaan patologik lensa adalah :
Tidak kenyal pada orang dewasa yang akan mengakibatkan presbiopia
Keruh atau apa yang disebut katarak
Tidak berada pada tempatnya atau apa yang disebut subluksasi dan dislokasi.
C.FAKTOR RESIKO
Katarak umumnya terjadi karena faktor usia, meskipun etiopatogenesis
belum jelas, namun beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya katarak senilis adalah : 1.Herediter.
Cukup berperan dalam indsidensi, onset dan kematangan katarak senilis pada keluarga yang berbeda.
2.Sinar ultraviolet.
Bila lebih banyak terekspos dengan sinar ultraviolet dari matahari maka akan berpengaruh pada onset dan kematangan katarak.
3.Nutrisi.
Defisiensi nutrisi seperti protein, asam amino, vitamin (riboflavin, vitamin E, vitamin C) dan elemen penting lainnya mengakibatkan katarak senilis lebih cepat timbul dan lebih cepat matur.
4.Dehidrasi.
Terjadinya malnutrisi, dehidrasi dan perubahan ion tubuh juga akan mempengaruhi katarak.
5.Perokok
Merokok menyebabkan akumulasi molekul pigmen – 3 hydroxykynurinine dan kromofor, yang menyebabkan warna kekuningan pada lensa. Cyanates pada rokok menyebabkan denaturasi protein.
Faktor yang dapat menyebabkan terjadinya katarak presenile atau katarak yang timbul sebelum usia 50 tahun adalah :
1.Herediter.
Seperti yang telah disebutkan diatas, keturunan dapat mempengaruhi perubahan kataraktous yang terjadi pada usia muda.
2.Diabetes mellitus.
Katarak terkait usia dapat terjadi lebih cepat pada penderita diabetes.
Katarak nuklear lebih sering dan cenderung progresif.
3.Miotonik distrofi.
Berhubungan dengan tipe subkapsular posterior dari katarak presenilis.
4.Dermatitis atopic.
Terjadi katarak presenilis pada 10% kasus. 14
Duke Elder mencoba membuat ikhtisar dari penyebab-penyebab yang dapat menimbulkan katarak sebagai berikut:9
1.Sebab-sebab biologik :
a.Karena usia.
Seperti juga pada seluruh makhluk hidup maka lensa pun mangalami proses tua dimana dalam keadaan ini ia menjadi katarak.
b.Pengaruh genetik.
Pengaruh genetik dikatakan berhubungan dengan proses degenerasi yang timbul pada lensa.
2.Sebab-sebab imunologik:
Badan manusia mempunyai kemampuan membentuk antibody spesifik terhadap salah satu dari protein-protein lensa. Oleh sebab-sebab tertentu dapat terjadi sensitisasi secara tidak disengaja oleh protein lensa yang menyebabkan terbentuknya antibody tersebut. Bila hal ini terjadi maka dapat menimbulkan katarak.
3.Sebab-sebab fungsional:
Akomodasi yang sangat kuat mempunyai efek yang buruk terhadap serabut-serabut lensa dan cenderung memudahkan terjadinya kekeruhan pada lensa. Ini dapat terlihat pada keadaan seperti intoksikasi ergot, keadaan tetani dan apathyroidisme.
4.Gangguan bersifat lokal terhadap lensa:
Dapat berupa:
a.gangguan nutrisi pada lensa
b.gangguan permeabilitas kapsul lensa
c.efek radiasi dari cahaya matahari
5.Gangguan metabolisme umum:
Defisiensi vitamin dan gangguan endokrin dapat menyebabkan katarak misalnya pada penyakit diabetes mellitus atau hyperparathiroidisme.
D.GEJALA KLINIS
- Penurunan tajam penglihatan
Umumnya pasien katarak menceritakan riwayat klinisnya lansung pada keluhan aktivitasnya yang terganggu. Dalam keadaan lain, pasien hanya menyadari adanya gangguan penglihatan setelah dilakukan pemeriksaan.
Setiap jenis katarak biasanya mempunyai gejala gangguan penglihatan yang
berbeda, tergantung pada cahaya, ukuram pupil dan derajat myopia. Setelah diketahui riwayat penyakit, pasien dilakukan pemeriksaan mata lengkap, dimulai dengan kelainan refraksi..
- Silau.
Pasien katarak sering mengeluh sialu, keparahannya bervariasi mulai dari penurunan sensitivitas kontras dalam tempat yang terang hinggan silau pada saat siang hari atau sewaktu melihat lampu mobil atau keadaan serupa pada malam hari. Peningkatan sensitivitas terutama timbul pada katarak posterior subkapsular. Pemerikasaan silau (test glare) dilakukan untuk mengetahui tingkat gangguan penglihatan yang disebabkan oleh submber cahaya yang diletakkan di dalam lapang pandangan pasien.
- Perubahan sensitivity kontras.
Sensitivitas kontras dilakukan untuk mengetahui kemampuan pasien mendeteksi berbagai bentuk gambar dalam kontras yang bervariasi, luminansi, dan frekwensi spasial. Sensitivitas kontras dapat menunjukkan penurunan fungsi penglihatan yang tidak terdeteksi dengan Snellen. Namun, hal tersebut bukanlah indikator spesifik hilangnya tajam penglihatan oleh karena katarak.
- Myopic shift Universitas Sumatera Utara
Perkembangan katarak dapat meningkatkan dioptri kekuatan lensa, yang menyebabkan myopia ringan atau sedang.
- Diplopia monocular atau poliopia
Kadang-kadang, perubahan nuklear terletak pada lapisan bagian dalam nukleus lensa menimbulkan daerah pembiasan multiple pada bagian tengah lensa. Daerah ini tampak irreguler pada red reflek dengan retinoskopi atau ophthalmoskop indirek. Tipe katarak ini akan menimbulkan diplopia monokular atau poliopia.
E.MORFOLOGI DAN KLASIFIKASI KATARAK
1Katarak subkapsular
a.Katarak subkapsular anterior terletak dibawah kapsul lensa dan berhubungan dengan metaplasia fibrous dari epitel lensa.
b.Katarak subkapsular posterior terletak didepan kapsul posterior, karena lokasinya pada nodal point mata, opasitas subkapsular posterior lebih mempengaruhi penglihatan dibandingkan katarak kortikal atau nuklear. Penglihatan dekat lebih jelek daripada penglihatan jauh.
2.Katarak nuklear
Katarak nuklear cenderung berkembang lambat. Meskipun biasanya bilateral, namun mereka asimetris. Umumnya lebih berpengaruh pada penglihatan jauh daripada penglihatan dekat. Pada tahap awal, pengerasan progresif dari nuckleus lensa sering menyebabkan peningkatan indeks refraktif lensa dan kemudian terjadi myopic shift refraksi.10
3.Katarak kortikal
Melibatkan korteks anterior, posterior atau equatorial. Gejala katarak kortikal yang paling sering adalah silau, dapat dijumpai monocular diplopia. Tanda awal katarak ini adalah dengan pemeriksaan slitlamp tampak sebagai vakuola dan celah air pada korteks anterior atau posterior.10
Klasifikasi berdasarkan kematangan katarak :
1.Katarak imatur, dimana tampak hanya sebagian lensa yang mengalami kekeruhan
2.Katarak matur, tampak lensa mengalami kekeruhan seutuhnya
3.Katarak hipermatur, disini katarak mengalami penciutan dan penyusutan kapsul anterior yang menyebabkan kebocoran air dari lensa.
4.Katarak morgagnian, katarak hipermatur dengan pencairan korteks setelah nukleus terbenam ke inferior
Jenis- jenis katarak menurut Vaughan, Dale (2000) terbagi atas :
1. Katarak terkait usia (katarak senilis)
Katarak senilis adalah jenis katarak yang paling sering dijumpai. Satusatunya
gejala adalah distorsi penglihatan dan penglihatan yang semakin
kabur.
2. Katarak anak- anak
Katarak anak- anak dibagi menjadi dua kelompok, yaitu :
a. Katarak kongenital, yang terdapat sejak lahir atau segera sesudahnya.
Banyak katarak kongenital yang tidak diketahui penyebabnya
walaupun mungkin terdapat faktor genetik, yang lain disebabkan oleh
penyakit infeksi atau metabolik, atau beerkaitan dengan berbagai
sindrom.
b. Katarak didapat, yang timbul belakangan dan biasanya terkait dengan
sebab-sebab spesifik. Katarak didapat terutama disebabkan oleh
trauma, baik tumpul maupun tembus. Penyyebab lain adalah uveitis,
infeksi mata didapat, diabetes dan obat.
3. Katarak traumatik
Katarak traumatik paling sering disebabkan oleh cedera benda asing di
lensa atau trauma tumpul terhadap bola mata. Lensa menjadi putih segera
setelah masuknya benda asing karena lubang pada kapsul lensa
menyebabkan humor aqueus dan kadang- kadang korpus vitreum masuk
kedalam struktur lensa.
4. Katarak komplikata
Katarak komplikata adalah katarak sekunder akibat penyakit intraokular
pada fisiologi lensa. Katarak biasanya berawal didaerah sub kapsul
posterior dan akhirnya mengenai seluruh struktur lensa. Penyakit- penyakit
intraokular yang sering berkaitan dengan pembentukan katarak adalah
uveitis kronik atau rekuren, glaukoma, retinitis pigmentosa dan pelepasan
retina.
5. Katarak akibat penyakit sistemik
Katarak bilateral dapat terjadi karena gangguan- gangguan sistemik
berikut: diabetes mellitus, hipoparatiroidisme, distrofi miotonik, dermatitis
atropik, galaktosemia, dan syndrome Lowe, Werner atau Down.
6. Katarak toksik
Katarak toksik jarang terjadi. Banyak kasus pada tahun 1930-an sebagai
akibat penelanan dinitrofenol (suatu obat yang digunakan untuk menekan
nafsu makan). Kortokosteroid yang diberikan dalam waktu lama, baik
secara sistemik maupun dalam bentuk tetes yang dapat menyebabkan
kekeruhan lensa.
7. Katarak ikutan
Katarak ikutan menunjukkan kekeruhan kapsul posterior akibat katarak
traumatik yang terserap sebagian atau setelah terjadinya ekstraksi katarak
ekstrakapsular.
Etiologi
Menurut Mansjoer (2000), penyebab terjadinya katarak bermacammacam.
Umumnya adalah usia lanjut (katarak senil), tetapi dapat terjadi
secara kongenital akibat infeksi virus di masa pertumbuhan janin, genetik, dan
gangguan perkembangan. Dapat juga terjadi karena traumatik, terapi
kortikosteroid metabolik, dan kelainan sistemik atau metabolik, seperti
diabetes mellitus, galaktosemia, dan distrofi miotonik. Rokok dan konsumsi
alkohol meningkatkan resiko katarak.
Patofisiologi
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih,
transparan, berbentuk seperti kancing baju dan mempunyai kekuatan refraksi
yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral
terdapat nukleus, di perifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya
adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nukleus
mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Disekitar opasitas
terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nukleus. Opasitas pada
kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna, nampak
seperti kristal salju pada jendela.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya
transparansi. Perubahan pada serabut halus multipel (zunula) yang memanjang
dari badan silier ke sekitar daerah diluar lensa, misalnya dapat menyebabkan
penglihatan mengalamui distorsi. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat
menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan
menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan
terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks air ke dalam lensa.
Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi
sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam
melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan
bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita
katarak.
Katarak biasanya terjadi bilateral, namun memiliki kecepatan yang
berbeda. Dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistemik, seperti
diabetes. Namun kebanyakan merupakan konsekuensi dari proses penuaan
yang normal. Kebanyakan katarak berkembang secara kronik ketika seseorang
memasuki dekade ketujuh. Katarak dapat bersifat kongenital dan harus
diidentifikasi awal, karena bila tidak terdiagnosa dapat menyebabkan
ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen. Faktor yang paling sering
berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar ultraviolet B, obatobatan,
alkohol, merokok, diabetes, dan asupan vitamin antioksidan yang
kurang dalam jangka waktu lama (Smeltzer, 2002).
Manifestasi Klinik
Katarak didiagnosis terutama dengan gejala subjektif. Biasanya,
pasien melaporkan penurunan ketajaman fungsi penglihatan, silau, dan
gangguan fungsional sampai derajat tertentu yang diakibatkan karena
kehilangan penglihatan tadi, temuan objektif biasanya meliputi pengembunan
seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan
oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan dipendarkan dan
bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan terfokus pada
retina. Hasilnya adalah pandangan kabur atau redup, menyilaukan yang
menjengkelkan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari.
Pupil yang normalnya hitam, akan tampak kekuningan, abu-abu atau putih.
Katarak biasanya terjadi bertahap selama bertahun-tahun , dan ketika katarak
sudah sangat memburuk, lensa koreksi yang lebih kuat pun tak akan mampu
memperbaiki penglihatan.
Orang dengan katarak secara khas selalu mengembangkan strategi
untuk menghindari silau yang menjengkel yang disebabkan oleh cahaya yang
salah arah. Misalnya, ada yang mengatur ulang perabotan rumahnya sehingga
sinar tidak akan langsung menyinari mata mereka. Ada yang mengenakan topi
berkelepak lebar atau kaca mata hitam dan menurunkan pelindung cahaya saat
mengendarai mobil pada siang hari (Smeltzer, 2002).
Penatalaksanaan
Pembedahan dilakukan bila tajam penglihatan sudah menurun
sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari atau bila telah
menimbulkan penyulit seperti glaukoma dan uveitis (Mansjoer, 2000). Dalam
bedah katarak, lensa diangkat dari mata (ekstraksi lensa) dengan prosedur
intrakapsular atau ekstrakapsular. Ekstraksi intrakapsular yang jarang lagi
dilakukan saat ini adalah mengangkat lensa in toto, yakni didalam kapsulnya
melaui insisi limbus superior 140-1600. pada ekstraksi ekstrakapsular juga
dilakukan insisi limbus superior, bagian anterior kapsul dipotong dan
diangkat, nukleus diekstraksi dan korteks lensa dibuang dari mata dengan
irigasi dan aspirasi atau tanpa aspirasi sehingga menyisakan kapsul posterior.
Fakofragmentasi dan fakoemulsifikasi dengan irigasi atau aspirasi (atau
keduanya) adalah teknik ekstrakapsular yang menggunakan getaran- getaran
ultrasonik untuk mengangkat nukleus dan korteks melalui insisi lumbus yang
kecil (2-5 mm), sehingga mempermudah penyembuhan luka pasca operasi.
Teknik ini kurang bermanfaat pada katarak senilis yang padat dan keuntungan
insisi lumbus yang kecil agak berkurang jika dimasukkan lensa intraokuler.
Pada beberapa tahun silam, operasi katarak ekstrakapsular telah menggantikan
prosedur intrakapsular sebagai jenis bedah katarak yang paling sering. Alasan
utamanya adalah bahwa apabila kapsul posterior utuh, ahli bedah dapat
memasukkan lensa intra okuler ke dalam kamera posterior. Insiden komplikasi
pasca operasi seperti abasio retina dan edema makula lebih kecil bila kapsul
posteriornya utuh.
Jika digunakan teknik insisi kecil, masa penyembuhan pasca operasi
biasanya lebih pendek. Pasien dapat bebas rawat jalan pada hari operasi itu
juga, tetapi dianjurkan untuk bergerak dengan hati- hati dan menghindari
peregangan atau mengangkat benda berat selama sekitar satu bulan. Matanya
dapat dibalut selama beberapa hari, tetapi kalau matanya terasa nyaman,
balutan dapat dibuang pada hari pertama pasca operasi dan matanya
dilindungi dengan kacamata. Perlindungan pada malam hari dengan pelindung
logam diperlukan selama beberapa minggu. Kacamata sementara dapat
digunakan beberapa hari setelah operasi, tetapi biasanya pasien melihat
dengan cukup baik melalui lensa intraokuler sambil menantikan kacamata
permanen.(Vaughan, 2000)
Komplikasi
Bila katarak dibiarkan maka akan terjadi komplikasi berupa glaukoma
dan uveitis. Glaukoma adalah peningkatan abnormal tekanan intraokuler yang
menyebabkan atrofi saraf optik dan kebutaan bila tidak teratasi (Doenges,
2000). Uveitis adalah inflamasi salah satu struktur traktus uvea (Smeltzer,
2002).
Kamis, 15 Mei 2014
Selasa, 13 Mei 2014
Skenario 2
Part 1 Block 6
Author : Cindra P
Kasus 2
Seorang
anak perempuan berusia 5 tahun dibawa oleh orang tuanya ke dokter keluarga
karena demam dan ada benjolan pada paha yang terjadi sejak 3 hari yang lalu.
Benjolan tersebut terasa nyeri . pada pemeriksaan paha kanan terdapat nodul
eritem dengan diameter 5cm, nyeri tekan, dengan punctum/ pustulasi dibagian
tengahnya. Limfonodi inguinalis teraba membesar dan multiple.
Definisi
-
Nodul eritem :
Eritema nodosum adalah suatu
peradangan yang menyebabkan terbentuknya benjolan merahyang lunak(nodul)
Dibawah kulit,paling sering ditemukan diatas tulang kering, tetapi
kadangmenyerang lengan dan bagian tubuh lainnya
-
Punctum/pustulasi : terbentuknya pus/nanah
tubuh
manusia mempunyai berbagai cara untuk melakukan proteksi. Pertahanan pertama
adalah barier mekanik, seperti kulit yang menutupi permukaan tubuh.1 Kulit termasuk
lapisan epidermis, stratum korneum, keratinosit dan lapisan basal bersifat
sebagai barier yang penting, mencegah mikroorganisme dan agen perusak potensial
lain masuk ke dalam jaringan yang lebih dalam.1,2 Misalnya asam laktat dan
substansi lain dalam keringat mengatur pH permukaan epidermis dalamsuasana asam
yang membantu mencegah kolonisasi oleh bakteri dan organisme lain. Terdapat
berbagai infeksi pada anak disertai dengan kelainan (tanda) pada kulit. Pada
beberapa kasus kelainan kulit dapat merupakan tanda penting
penyebab infeksi yang merupakan
indikator bermakna adanya infeksi yang mendasarinya. Walaupun kebanyakan penyakit
eksantema pada anak bersifat ringan, diagnosis banding penting sekali oleh
karena beberapa infeksi pada anak yang fatal sering mempunyai kelainan (tanda)
pada kulit sebagai manifestasi
awal. Dermis dengan kolagen dan
elastin memberikan dukungan dan pencegahan banyak elemen seperti saraf,
pembuluh darah, dan lain-lain sedangkan subkutis merupakan insolator panas dan
persediaan kalori.
Kekurangan kolagen akan
memudahkan terjadinya edema, terutama pada bayi prematur.
Biologi Kulit
Kulit terdiri dari tiga lapisan
utama
Epidermis
Lapisan epidermis tebalnya
relatif, bervariasi dari 75- 150m, kecuali pada telapak tangan
dan kaki lebih tebal; terdiri dari stratum korneum dan lapisan Malpighi,
terdapat desmosom, melanosit dan lain-lain.
Dermis
Ketebalan dermis bervariasi di berbagai
tempat tubuh, biasanya 1-4mm. Dermis merupakan jaringan metabolic aktif,
mengandung kolagen, elastin, sel saraf, pembuluh darah dan jaringan limfatik.
Juga terdapat kelenjar ekrin, apokrin, sebaseus di samping folikel rambut.
Subkutis
Terletak di bawah dermis, terdiri dari jaringan ikat dan lemak.
Patogenesis Kelainan Kulit karena Infeksi
Patogenesis kelainan kulit yang
ditimbulkan infeksi dapat dibagi dalam 3 kategori:
1. Mikroorganisme patogen dari
aliran darah menyebabkan infeksi sekunder pada kulit.
Kelainan
kulit pada keadaan ini dapat langsung akibat mikroorganisme patogen itu pada
epidermis, dermis, atau endotel kapiler dermis, atau dapat disebabkan respons
imun antara organisme dan antibodi atau faktor selular pada kulit.
Sel yang berperan dalam SALT
- Keratinosit : Sekresi sitokin
Sekresi
IL-1 dan melepaskannya ke daerah yang mengalami kerusakan
Melepaskan mediator
Memproses antigen dan mempresentasikan
- Sel Langerhans : Memproses antigen
Mempresentasikan
antigen ke sel T helper
Melepaskan mediator
- Dendrosit kulit : Memproses dan mempresentasikan antigen
- Makrofag kulit : Memproses dan mempresentasikan antigen
Fagositosis
Melepaskan mediator
- Sel vailed : Transport
antigen ke kelenjar limfe
- Sel T gamma/delta : Memulai respons imun non-spesifik
Mempresentasikan antigen ke sel T supresor (?)
- Limfosit : Respons imun selular
Mengontrol dan mengatur respons imun dan inflamasi
Sekresi
limfokin
Bersifat sitotoksik
- Leukosit PMN : Fagositosis
Melepaskan mediator
- Sel mast : Aktivitas anafilaksis
Melepaskan mediator
- Cairan jaringan :
Penghantar antibodi
Sel
endotel Permeabilitas pembuluh darah
Entrapment
limfosit
Tahap
pertama pertahanan adalah mekanisme antibakteri yang tidak tergantung dari
pengenalan antigen. Kulit dan permukaan epitel mempunyai system non-spesifik
atau innate
protective system yang
membatasi masuknya organisme invasif. Asam lemak yang dihasilkan kulit juga
bersifat toksik terhadap banyak organisme. Kulit merupakan barier fisik yang
dapat mempertahankan tubuh dari agen patogen. Apabila terdapat kerusakan kulit,
maka kulit akan mempertahankan tubuh dengan proses imunologik yang cepat
terhadap agen patogen tersebut dan mengeluarkan microorganism tersebut dari
epidermis dan dermis. Sistem imun berkembang dengan fungsi yang khusus dan
bekerja pada kulit. Sel Langerhans, dendrosit kulit, sel endotel, keratinosit
dan sel lainnya semuanya ikut berpartisipasi dalam skin associated lymphoid tissue (SALT) yang mempunyai sistem
imun pada kulit. Ketika mikroorganisme menembus barrier kulit akan merangsang
respons imun. Kulit seperti halnya organ lain akan merusak mikroorganisme
tersebut dan mengeliminasi antigen. Varisela, infeksi enterovirus dan meningococcemia merupakan contoh mikroorganisme
sampai ke kulit melalui aliran darah dan menyebabkan kelainan pada kulit tanpa
kontribusi faktor imun pejamu. Pada penyakit seperti morbili, rubela dan gonococcemia sukarnya mikroorganisme
ditemukan pada kultur menandakan kemungkinan efek langsung
atau peranan respons
imun (immune-mediated response).
Sitokin
yang Dihasilkan Keratinosit
·
Interleukin : IL-1
IL-3
IL-6
IL-7
IL-8
IL-10
IL-12
·
Colony-stimulating
factor : GM CSF
G-CSF
M-CSF
·
Lain-lain :
Asetilkolin
TGFa
TGFb
TNFa
IP-10, dll
2. Penyebaran toksin spesifik yang
berasal dari mikroorganisme patogen menyebabkan kelainan pada kulit.
Infeksi
mikroorganisme pada daerah lokal, namun toksin yang dibebaskan mencapai kulit
melalui aliran darah. Seperti diketahui bakteri mempunyai banyak antigen
permukaan yang berbeda dan mengeluarkan bermacam-macam faktor virulen (misalnya
toksin) yang dapat merangsang respons imun.
3. Penyakit sistemik menimbulkan
kelainan kulit karena proses imunologik.
Umumnya
tidak dapat diidentifikasi baik lokasi antigen ataupun toksin yang dibebaskan.
Kelainan kulit yang terpenting pada kategori ini adalah eritema nodosum dan
eritema multiforme.
Proses terjadinya respons
imun
Antigen
terikat pada sel yang dapat mempresentasikan antigen seperti sel Langerhans,
makrofag dan dendrosit dermis. Sel tersebut akan memproses antigen dan
mempresentasikan fragmen antigen kepada limfosit spesifik.6 Dalam keadaan
normal sejumlah kecil limfosit akan melalui dermis di luar pembuluh darah.
Limfosit kemudian akan membentuk sel inflamasi perivaskular. Banyak ahli
imunologis berpendapat bahwa populasi limfosit di kulit dilengkapi oleh suatu
program untuk beraksi dengan antigen yang sebelumnya telah pernah kontak dengan
kulit. Sirkulasi limfosit dari kulit ke kelenjar limfe kembali ke kulit disebut
homing. Limfosit homing masuk ke dalam kulit yang tidak
mengalami inflamasi untuk mencari adanya antigen. Bila ada antigen, limfosit
akan mengaktivasi sel endotel gepeng untuk mengumpulkan limfosit lain sebagai
bagian dari reaksi inflamasi yang ditimbulkannya. Bila limfosit spesifik yang
telah tersentisisasi bereaksi dengan antigen, respons imun dapat timbul.
Kurang
lebih 5% dari limfosit di dermis pada reaksi imun yang diperantarai oleh sel
adalah limfosit yangsecara spesifik bereaksi terhadap antigen. Limfosit
tambahan dapat dikumpulkan ke area tersebut oleh limfokin yang dikeluarkan oleh
limfosit spesifik sebagai respons terhadap adanya antigen. Respons imun dapat
pula ditimbulkan di epidermis. Sel T masuk ke dalam epidermis dari dermis. Agar
hal ini dapat terjadi sel T harus melewati daerah membran basalis dan menembus
keratinosit. Substansi mediator seperti IL-8 dianggap berperan terhadap
penarikan limfosit ke dalam epidermis. Keratinosit memproduksi IL-8 terutama
bila dirangsang oleh gamma-interferon. Bila telah terdapat dalam epidermis,
limfosit dapat diaktivasi oleh sel Langerhans. Keadaan ini dapat memperkuat
respons imun dan membantu eliminasi antigen atau menghancurkan sel yang
terinfeksi. Sejumlah sel helper dan sel supresor pada infiltrat akan mengatur
proses inflamasi yang terjadi.
Nodul Eritema
Eritema
nodosum adalah klinikopatologi yang paling sering terjadi dari varian
panniculitis. Gangguan ini biasanya menunjukkan onset akut dan secara klinis
ditandai dengan tiba-tiba adanya nodul eritematosa lembut dan plak yang
terletak terutama di atas aspek ekstensor yang lebih rendah ekstremitas. Lesi
menunjukkan regresi spontan, tanpa ulserasi, jaringan parut, atau atrofi.
Eritema nodosum adalah proses reaktif kulit yang mungkin dipicu oleh berbagai
rangsangan, karena infeksi, sarkoidosis, rematologi penyakit, penyakit radang
usus, obat-obatan, autoinmune gangguan, kehamilan, dan keganasan yang paling
umum kondisi terkait.
Etiologi
Eritema
nodosum dapat berhubungan dengan berbagai macam
proses penyakit, dan observasi yang harus selalu diikuti dengan mencari
etiologi yang mendasari. Sebuah tinjauan dari literatur menunjukkan bahwa
faktor etiologi yang dapat menyebabkan eritema nodosum bervariasi, seperti
infeksi, obat-obatan, penyakit ganas, dan berbagai kelompok lain-lain. Meskipun
ada cukup variasi geografis yang terkait dengan infeksi endemik, infeksi
streptokokus adalah yang paling sering.
Hubungan
antara Infeksi saluran pernapasan oleh kelompok A streptokokus beta hemolitik
dan eritema nodosum sering terjadi terutama di anak-anak dan dewasa muda .
Biasanya , lesi kulit muncul 2 atau 3 minggu setelah infeksi tenggorokan , dan
disertai dengan elevasi antistreptolysin O ( ASO )titer . Sebuah tes positif
terhadap antigen streptokokus intradermal yang sering ditemukan pada pasien
dengan eritema nodosum sekunder infeksi streptokokus , meskipun ketika nodul
kulit berkembang , namun tidak dapat mendeteksi microorganisms pada cairan
tenggorokan.
Tuberkulosis
sekarang menjadi faktor etiologi bagi eritema nodosum di eropa selatan.
Kasus-kasus ini terlihat terutama pada anak-anak dan lesi kulit biasanya
menunjukkan infeksi paru primer, yang bersamaan dengan konversi test.
Tuberculin
merupakan obat yang sering sebagai penyebab eritema nodosum . Sulfonamid ,
bromida , dan kontrasepsi oral pil telah lama dikenal sebagai obat yang paling
umum menyebabkan eritema nodosum akut.
Dalam beberapa tahun ini , jumlah hormon dalam pil kontrasepsi memiliki telah
diturunkan dan eritema nodosum sekunder terhadap obat menjadi jarang terjadi .
Dalam kasus-kasus di mana pasien menderita eritema nodosum kadang menggunakan
antibiotik untuk penyakit menular sehingga sulit untuk membedakan apakah reaksi
kulit adalah karena antiobiotic atau agen infeksi .
Sarkoidosis
merupakan salah satu etiologi yang paling umum terjadi pada pasien dewasa
dengan nodosum eritema sekunder. Di beberapa negara , khususnya di bagian utara
Eropa , eritema nodosum dan adenopati hilus bilateral sering dipandang sebagai
manifestasi awal sarkoidosis ( Lofgren sindrom ). Namun , eritema nodosum dan hilus bilateral
adenopati tidak eksklusif sarkoidosis , dan telah dikaitkan dengan limfoma ,
tuberkulosis , infeksi streptokokus , coccidioidomycosis , histoplasmosis , dan
infeksi akut oleh Chlamydia pneumoniae .
Patogenesis
Eritema
nodosum dianggap hipersensitivitas respon terhadap berbagai faktor .
variabilitas kemungkinan rangsangan antigenik yang dapat menyebabkan eritema
nodosum menunjukkan bahwa gangguan ini merupakan proses reaktif kulit dan bahwa
kulit memiliki respon terbatas terhadap infeksi agen yang berbeda . Eritema
nodosum mungkin hasil dari pembentukan kompleks imun dan deposisi di sekitar
venula dari septa jaringan ikat subkutan yang mengandung lemak . telah tercatat
bahwa pada pasien dengan eritema nodosum terdapat immunocomplexes dan complex activation.
Lesi awal
eritema nodosum adalah histopatologi yang ditandai dengan infiltrat inflamasi
neutrofil melibatkan septa dari jaringan subkutan . Penelitian terbaru telah
menunjukkan bahwa pasien yang menderita eritema nodosum memiliki persentase
lebih tinggi empat kali lipat dari reaktif intermediet oksigen ( ROI ) yang
diproduksi oleh neutrofil aktif dalam darah perifer dibandingkan orang yang
sehat . Selain itu , persentase sel yang memproduksi ROI pasien dengan eritema
nodosum berkorelasi dengan tingkat keparahan . Data ini mendukung fakta bahwa
ROI mungkin memainkan peran dalam patogenesis eritema nodosum . ROI
berkuatan menyebabkan kerusakan jaringan
oksidatif dan memnyebabkan inflamasi.
Eritema
nodosum dalam hubungan dengan sarkoidosis mungkin pathogenesis terkait dengan
mengubah produksi TNF - alpha karena genetic polymorphism. Selain itu pola sitokin proinflamasi menunjukkan
peningkatan interleukin - 6 konsentrasi serum dan penyakit non infeksi yang berhubungan
dengan eritema nodosum.
Gambaran Klinis
Eritema
nodosum dapat terjadi pada semua usia , tetapi kebanyakan kasusmuncul antara
dekade kedua dan keempat kehidupan , dengan puncak kejadian pada usia 20 dan 30
tahu , mungkin disebabkan tingginya insiden sarkoidosis di usia itu. Beberapa
studi telah menunjukkan bahwa eritema nodosum terjadi 3 sampai 6 kali lebih
sering pada wanita dibandingkan pada pria. Benjolan khas yang tiba-tiba,
simetris , lembut , eritematosa , nodul hangat dan plak yang biasanya terletak
di tulang kering , pergelangan kaki dan lutut . diameter nodul , yang berkisar
dari 1 sampai 5 cm atau lebih, biasanya distribusi bilateral. Nodul dapat
menjadi konfluen mengakibatkan plak eritematosa. Dalam kasus yang jarang
terjadi , lesi lebih luas mungkin muncul , di paha , aspek ekstensor sampai
lengan, leher , dan bahkan wajah . Pada awalnya , nodul menunjukkan warna merah
terang dan diangkat sedikit di atas kulit . Dalam beberapa hari berubah menjadi
datar , dengan warna merah atau keunguan marah . kemudian berubah lagi menjadi
kuning atau kehijauan sering terlihat memar dalam ( " eritema
contusiformis " ) . contusiform ini evolusi warna menjadi karakteristik
eritema nodosum dan memungkinkan diagnosis spesifik pada lesi stadium akhir.
Ulserasi tidak pernah terlihat di eritema nodosum dan nodul sembuh tanpa atrofi
atau jaringan parut . Biasanya serangan akut eritema nodosum berhubungan dengan
demam 38-39 ° C , kelelahan , malaise , artralgia , sakit kepala , sakit perut
, muntah , batuk , atau diare . Episclera lesi dan phlyctenular konjungtivitis
juga dapat menyertai lesi kulit.
Manifestasi
klinis yang sering dikaitkan dengan eritema nodosum adalah limfadenopati ,
hepatomegali , splenomegali dan pleuritis. Benjolan umumnya berlangsung dari 3
sampai 6 minggu. Eritema nodosum pada
anak-anak memiliki durasi lebih pendek daripada pada orang dewasa . Arthralgia
terlihat pada sebagian kecil pasien. Beberapa varian klinis eritema nodosum
telah dijelaskan dengan nama yang berbeda, termasuk eritema migrans nodosum ,
subakut migrasi nodular panniculitis dari Vilanova dan Pinol dan eritema kronis
nodosum.
Anomali
laboratorium
Karena
kemungkinan faktor etiologi dalam eritema nodosum adalah , rasional ,
pendekatan diagnostic yang efektif pada pasien sangat diperlukan.
Anamnesis
lengkap harus ditegakkan pada semua pasien
dengan mengacu pada riwayat penyakit , obat-obatan , asing perjalanan ,
hewan peliharaan dan hobi , serta kasus-kasus familial . Evaluasi awal harus
mencakup hitung darah lengkap , penentuan laju sedimentasi , ASO titer ,
urinalisis , uji cairan tenggorokan, uji tuberkulin intradermal dan dada
roentgenogram . Jumlah darah putih normal atau hanya sedikit meningkat , tetapi
tingkat sedimentasi eritrosit adalah sering sangat tinggi , kembali ke normal
ketika benjolan memudar .
Etiologi
streptokokus yaitu sampel darah harus diselidiki secara serologis dari orang-
bakteri , virologi , jamur atau protozooal.
Dalam kasus-kasus yang dicurigai TB yang intradermal uji tuberkulin
harus dilakukan. Sebuah rontgen dada
harus dilakukan pada semua pasien dengan eritema nodosum untuk menyingkirkan
dugaan penyakit paru seperti penyebab dari proses reaktif kulit .
Histopatologi
Histopatologi
, eritema nodosum adalah stereotip contoh panniculitis sebagian besar septum
tanpa vaskulitis . Septa lemak subkutan selalu menebal dan menyusup oleh sel
inflamasi yang meluas ke periseptal di daerah lobulus lemak . Biasanya, dangkal
dan dalam perivaskular infiltrat inflammatory terutama terdiri limfosit juga
terlihat di dermis atasnya . Komposisi infiltrat inflamasi pada septa
bervariasi dengan usia lesi . Pada lesi awal , edema , perdarahan , dan
neutrofil bertanggung jawab untuk septal
menebalan , sedangkan fibrosis , periseptal jaringan granulasi , limfosit ,
histiosit dan sel raksasa berinti adalah ditemuan dalam lesi tahap akhir dari
eritema nodosum . Kadang-kadang , dalam lesi awal , inflamasi infiltrasi sel
mungkin lebih jelas dalam lobulus lemak daripada di septa , karena sel-sel
inflamasi meluas ke pinggiran lobulus lemak antara sel-sel lemak individu dalam
renda - seperti mode, dan proses muncul dominan panniculitis lobular . Namun,
berbeda dengan lobular otentik panniculitis , nekrosis adiposit di pusat
lobulus lemak tidak terlihat .
Sebuah tanda histopatologis eritema
nodosum adalah adanya granuloma radial Miescher . Pada lesi awal , granuloma
radial Miescher yang muncul tersebar dalam septa dan dikelilingi oleh
neutrophil. Lebih tua eritema nodosum , histiosit bergabung membentuk sel
raksasa berinti , banyak yang masih tetap. Kadang-kadang granuloma radial
Miescher mencolok dalam septa.
Karakteristik
histopatologi lain dari eritema nodosum adalah tidak adanya vaskulitis meskipun
, dalam kasus jarang, necrotizing kapal kecil vaskulitis dengan nekrosis
fibrinoid dari dinding pembuluh telah dijelaskan dalam septa. Sanchez Yus et al
, dalam sebuah studi histopatologi dari serangkaian 79 kasus eritema nodosum ,
157 menunjukkan bahwa leukocytoclastic otentik vaskulitis biasanya tidak ada ,
dan hanya 18 dari 79 spesimen diungkapkan perubahan nonspesifik sedikit di
beberapa terisolasi vena dan venula , sedangkan banyak yang lain yang utuh
dalam tengah nodul inflamasi . Dalam histopatologi baru-baru ini studi empat
kasus eritema nodosum yang penulis menggambarkan temuan yang tidak biasa yang
terdiri dari lobular panniculitis dengan infiltrasi neutrophilic dan vaskulitis
media ukuran arteri . Menurut pendapat kami , namun, fitur ini tidak dapat
diartikan sebagai temuan histopatologi eritema nodosum dan pembuluh meradang
bahwa mereka ditafsirkan sebagai arties menengah dalam media pendapat kami vena
ukuran dan gambaran histopatologis ilustrasi menunjukkan temuan tromboflebitis
superfisial.
Pada lesi
tahap akhir dari eritema nodosum , inflamasi menyusup dalam septa yang jarang,
dansecara nyata melebar ke septa dengan jaringan granulasi antara septa
jaringan ikat dan lobulus lemak . sebagai eritema nodosum berevolusi , septa
yang menjadi fibrosis dan diganti oleh granuloma , dan lobulus lemak menjadi
semakin diganti dan dihapuskan oleh pelebaran septa , yang bahkan bisa
benar-benar melenyapkan lobulus . Dalam lesi akhir mungkin sulit untuk
menentukan apakah lesi adalah sebagian besar septum atau kebanyakan lobular
panniculitis , karena seluruh subkutan jaringan yang dihapuskan oleh proses
fibrosis dan granulomatosa . Fibrosis yang mencolok , lesi tanpa atrofi atau
parut yang terlihat di septa . Lipomembranous atau panniculitis membranocystic.
Pola histopatologi yang telah dijelaskan pada lesi residual dari berbagai jenis
panniculitis ,juga terlihat pada lesi tahap akhir dari eritema nodosum.
Prognosis
Kebanyakan
kasus eritema nodosum regresi spontan dalam 3 sampai 4 minggu. Kasus yang lebih
berat membutuhkan sekitar 6 minggu . Lebih umum pada pasien dengan idiopathic
eritema nodosum dan eritema nodosum terkait dengan nonstreptococcal atau
streptokokus pernapasan atas Infeksi saluran . Komplikasi jarang terjadi .
Pengobatan
Pengobatan
eritema nodosum harus diarahkan ke kondisi dasar yang berhubungan , jika
diidentifikasi . Biasanya , nodul eritema spontan dalam beberapa minggu , dan
istirahat seringkali menjadi perawatan yang telah mencukupi . aspirin dan obat
antiinflamasi nonsteroid seperti oxyphenbutazone , dengan dosis 400 mg per hari
, indometasin dengan dosis 100 sampai 150 mg per hari ,naproxen dengan dosis 500 mg per hari ,mungkin bermanfaat
untuk meningkatkan analgesia. Jika lesi bertahan lebih lama , kalium iodida
dalam dosis 400-900 mg sehari atau larutan kalium iodida jenuh, 2 sampai 10
tetes dalam air atau jus oranye tiga kali per hari , telah dilaporkan berguna .
Mekanisme
kerja kalium iodida dalam eritema nodosum tidak diketahui , tetapi tampaknya
hal itu menyebabkan heparin rilis dari sel mast dan tindakan heparin untuk
menekan tertundanya reaksi hipersensitivitas . Kalium iodida juga menghambat
neutrofil chemotaxis. Kalium iodida merupakan kontraindikasi selama kehamilan ,
karena dapat menghasilkan gondok pada janin . Hipotiroidisme parah sekunder
asupan eksogen iodida juga telah dijelaskan pada pasien dengan eritema nodosum
diobati dengan kalium iodida kortikosteroid sistemik jarang ditunjukkan dalam
eritema nodosum dan sebelum obat ini diberikan suatu mendasari infeksi harus
disingkirkan
Sistem Imun dan Respon Imun
Sistem pertahanan tubuh yang pertama dilakukan
oleh jaringan epitel yang menutupi permukaan tubuh atau meliputi organ. Sistem
imun merupakan pertahan lini kedua atau ketiga.
Pertahanan
lapis pertama:
a. Kulit dan membran
mukosa yang utuh
b. Kelenjar keringat,
sebum, dan air mata mensekresi zat kimia bersifat bakterisida
c. Mukus, silia, tight
junction, desmosom, sel keratin, dan lisozim di
lapisan epitel
d. Rambut pada lubang
hidung
e. Flora normal
Unsur-unsur
yang berperan dalam reaksi imunologik:
1.
Unsur selular: berasal dari sel induk pluripoten yang berdiferensiasi melalui 2
jalur, yaitu: a) jalur limfoid untuk pembentukan limfosit dan subsetnya, b)
jalur mieloid yang membentuk selsel fagosit dan sel lainnya.
2.
Organ limfoid: nodus limfatikus, nodulus limfatikus, limpa, timus, dan tonsilla.
Umumnya terdiri dari jaringan ikat yang mengandung sel limfosit, makrofag, sel
plasma, sel retikuloendotel, dan serabut-serabut retikuler.
3.
Substansi-substansi: imunoglobulin, komplemen, dan sitokin/interleukin. Respon
imun yang dibentuk dapat dibagi menjadi 2 respon imun spesifik/adaptif dan
tidak spesifik/innate.
Respon imun tidak spesifik sudah dimiliki secara adaptif sejak awal. Respon
imun spesifik melibatkan respon imun seluler dan humoral. Contoh respon imun
seluler: kulit, makrofag, sel polimorfonuklear, sel NK, dan sel T sitotoksik.
Sel langsung membunuh antigen tanpa harus diaktivasi terlebih dahulu. Respon
imun humoral diatur oleh sel limfosit B dan mengaktifkan antibodi.
Sistem
Kekebalan Non Spesifik
Dapat
mendeteksi adanya benda asing, dan melindungi tubuh dari kerusakan yang diakibatkannya.
Namun, tidak dapat mengenali benda asing yang masuk ke dalam tubuh.
Yang termasuk dalam
sistem ini:
1.
Reaksi inflamasi/peradangan
2.
Protein antivirus (interferon)
3.
Sel natural killer (NK cells)
4.
Sistem komplemen
Sistem
Kekebalan Spesifik
Unsur seluler:
1.
Sel limfosit: terdiri dari limfosit B dan limfosit T. Semua limfosit dibentuk
di sumsum tulang. Limfosit B kemudian akan mengalami pematangan di sumsum
tulang belakang. Limfosit T akan mengalami pematangan di timus. Sumsum tulang
belakang dan timus disebut organ limfoid sentral. Nodus limfatikus, nodulus
limfatikus, limpa, dan tonsil adalah organ limfoid sekunder.
Limfosit B: diaktivasi jika kontak dengan
antigen. Selanjutnya berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang
menghasilkan antibodi.
Limfosit T:
T killer
cells: langsung menghancurkan antigen
melalui pembentukan perforin.
T helper
cells: membantu aktivasi sel B.
T memory cells:
di nodus limfatikus dan bersirkulasi; menjadi T killer cells bila diaktivasi.
T regulator: mengatur imunitas seluler
dan humoral dan menghambat kerja T helper dan
T killer.
T amplifier cells: di
timus dan limpa; memelihara populasi sel limfosit T.
2.
Sel plasma.
3.
Sel NK: limfosit yang tidak mempunyai molekul penanda; reseptor untuk komplemen
dan Fc reseptor; terutama untuk membunuh sel yang terinfeksi virus dan
pertahanan imunologik terhadap sel kanker.
4.
Sel fagosit mononuklear/APC: menghancurkan antigen dalam fagolisosom.
5.
Sel polimorfonuklear: neutrofil, eosinofil, dan basofil.
Mekanisme respon imun seluler:
1.
Degradasi antigen asing (terutama pada
infeksi virus) di dalam sel inang.
2.
Antigen yang terlah diproses kemudian
diikatkan pada MHC di retikulum endoplasma.
3.
Kompleks antigen-MHC dibawa ke
permukaan sel dengan menembus membran sitoplasma dan
kemudian
dikenali oleh TCR pada permukaan sel Tc (CD8).
4.
Sel Tc memproduksi protein sitotoksik
perforin dan akan membunuh sel yang terinfeksi virus.
Mekanisme respon imun humoral:
1. Antigen masuk ke dalam tubuh.
2. APC menangkap dan memproses antigen
dengan fagolisosom vakuola.
3. Antigen dipotong-potong menjadi
epitop dan ditangkap MHC II.
4. Makrofag akan
berjalan ke nodus-nodus, masuk melalui pembuluh limfatik afferen, mencari limfosit
yang sesuai.
5. Sinyal inti
makrofag mengakibatkan pengeluaran IL-1 yang akan diberikan pada T helper
yang
sedang menempel (limfosit masih naif).
6. T helper menghasilkan IL-2 untuk
diri sendiri (agar menjadi sel efektor), sel T sitotoksik yang
memiliki TCR sesuai, dan limfosit B.
IL-2 akan mengkode proliferasi dan diferensiasi.
7. Sel B berubah menjadi sel plasma
(melepaskan protein permukaan IgM, memproduksi IgG)
untuk menangkap
antigen. Sel T sitotoksik akan berikatan dengan makrofag dan melisiskannya. Sel
efektor hanya berusia 100 hari. Sel memori akan dibentuk.
Toleransi
Imun
Toleransi imun merupakan sistem imun
yang tidak atau kurang dapat mengekspresikan imunitas
humoral
atau seluler terhadap satu atau lebih antigen spesifik. Beberapa faktor eksogen
dapat merusak
toleransi.
Akibatnya dapat berbahaya; bergantung pada derajat kerusakan toleransi.
Penyakit autoimun
adalah
akibat hilangnya self tolerance.
Toleransi
Imun Timus Secara Sentral terhadap Antigen dalam Tubuh
Limfosit berkembang dari prekursor di
sumsum tulang. Sel-sel limfoid akan berdiferensiasi
menjadi
limfosit B, limfosit T, dan sel NK. Di kelenjar timus, limfosit T tidak
mengekspresikan
molekul
koreseptor baik CD4 maupun CD8 (double
negative). Sel-sel limfosit T kemudian berubah
menjadi
double positive (ada CD4 dan CD8).
Tahap
selanjutnya adalah seleksi positif:
a.
Yang terpapar MHC I: CD8.
b.
Yang terpapar MHC II: CD4.
c.
Yang tidak terpapar MHC akan apoptosis.
d.
Yang bereaksi dengan self antigen akan mengalami kematian sel
Source :
Senin, 12 Mei 2014
Skenario 1
Part 2 BLOK 6
Author : Anita R
1.
Dosis, Jumlah
dan Waktu Pemberian Serta Efek Samping Imunisasi
Efek samping pada umumnya adalah kejadian
ikutan pasca imunisasi
· Reaksi
lokal kemerahan, nyeri, bengkak, demam ringan 2 hari
·
Reaksi sistemik : mual muntah, nyeri
kepala, nyeri otot, nyeri sendi
A.
BCG
Umur : 0 – 11 bln
Dosis : 0,05 cc
Cara : Intrakutan, lengan kanan
Jumlah suntikan : Satu kali
Efek samping :
Umur : 0 – 11 bln
Dosis : 0,05 cc
Cara : Intrakutan, lengan kanan
Jumlah suntikan : Satu kali
Efek samping :
Reaksi normal
Bakteri BCG ditubuh bekerja dengan sangat lambat. Setelah 2 minggu akan
terjadi pembengkakan kecil merah di tempat penyuntikan dengan garis tengah 10
mm. Setelah 2 – 3 minggu kemudian, pembengkakan menjadi abses kecil yang
kemudian menjadi luka dengan garis tengah 10 mm, jangan berikan obat apapun pada
luka dan biarkan terbuka atau bila akan ditutup gunakan kasa kering. Luka
tersebut akan sembuh dan meninggalkan jaringan parut tengah 3-7 mm.
Reaksi berat
Kadang terjadi peradangan setempat yang agak berat atau abses yang lebih
dalam, kadang juga terjadi pembengkakan di kelenjar limfe pada leher / ketiak,
hal ini disebabkan kesalahan penyuntikan yang terlalu dalam dan dosis yang
terlalu tinggi.
Reaksi yang lebih cepat
Reaksi yang lebih cepat
Jika anak sudah mempunyai kekebalan terhadap TBC, proses pembengkakan
mungkin terjadi lebih cepat dari 2 minggu, ini berarti anak tersebut sudah
mendapat imunisasi BCG atau kemungkinan anak tersebut telah terinfeksi BCG.
B.
DPT
Umur : 2 – 11 bln
Dosis : 0,05 cc
Cara : IM / SC, jumlah suntikan : 3 x
Selang pemberian : Minimal 4 minggu
Efek samping :
Umur : 2 – 11 bln
Dosis : 0,05 cc
Cara : IM / SC, jumlah suntikan : 3 x
Selang pemberian : Minimal 4 minggu
Efek samping :
Panas
Kebanyakan anak akan menderita panas pada sore hari
setelah mendapat imunisasi DPT, tapi panas ini akan sembuh 1 – 2 hari. Anjurkan
agar jangan dibungkus dengan baju tebal dan dimandikan dengan cara melap dengan
air yang dicelupkan ke air hangat.
Rasa sakit di daerah suntikan
Rasa sakit di daerah suntikan
Sebagian anak merasa nyeri, sakit, kemerahan, bengkak.
Peradangan
Peradangan
Bila pembengkakan terjadi seminggu atau lebih, maka hal ini mungkin
disebabkan peradangan, mungkin disebabkan oleh jarum suntik yang tidak steril
karena :
Tersentuh
Sebelum dipakai menyuntik jarum diletakkan diatas tempat
yang tidak steril
Sterilisasi kurang lama
Pencemaran oleh kuman.
Kejang-kejang
Kejang-kejang
Reaksi yang jarang terjadi sebaliknya diketahui petugas
reaksi disebabkan oleh komponen dari vaksin DPT.
C.
Polio
Umur : 0 – 11 bln
Dosis : 2 tetes
Cara : Meneteskan ke dalam mulut
Selang waktu : Berikan 4 x dengan jarak minimal 4 minggu.
Efek samping :
Umur : 0 – 11 bln
Dosis : 2 tetes
Cara : Meneteskan ke dalam mulut
Selang waktu : Berikan 4 x dengan jarak minimal 4 minggu.
Efek samping :
Bila anak sedang diare ada kemungkinan vaksin tidak bekerja dengan baik
karena ada gangguan penyerapan vaksin oleh usus akibat diare berat.
D.
Hepatitis B
Umur : Mulai umur 0 bulan
Dosis : 0, 5 cc / pemberian
Cara : Suntikan IM pada bagian luar
Jumlah suntikan : 3 x
Selang pemberian : 3 dosis dengan jarak suntikan 1 bulan dan 5 bulan.
Efek samping : tidak ada
Umur : Mulai umur 0 bulan
Dosis : 0, 5 cc / pemberian
Cara : Suntikan IM pada bagian luar
Jumlah suntikan : 3 x
Selang pemberian : 3 dosis dengan jarak suntikan 1 bulan dan 5 bulan.
Efek samping : tidak ada
E.
Campak
Umur : 9 bln.
Dosis : 0, 5 cc
Cara : Suntikan secara IM di lengan kiri atas
Jumlah suntikan : 1 x dapat diberikan bersamaan dengan pemberian vaksin lain tapi tidak dicampur dalam 1 semprit.
Efek samping :
Umur : 9 bln.
Dosis : 0, 5 cc
Cara : Suntikan secara IM di lengan kiri atas
Jumlah suntikan : 1 x dapat diberikan bersamaan dengan pemberian vaksin lain tapi tidak dicampur dalam 1 semprit.
Efek samping :
panas dan kemerahan.
Anak-anak mungkin panas selama 1 – 3 hari setelah 1 minggu penyuntikan,
kadang disertai kemerahan seperti penderita campak ringan.
2.
Edukasi
kepada Orang Tua setelah efek samping vaksin
Menurut IDAI
Surat Persetujuan (informed consent)
Di dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) no. 585
tahun 1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik dinyatakan bahwa informed
consent adalah perse-tujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya
atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukan terhadap
pasien tersebut (pasal 1 ayat a).
· Informasi
harus diberikan kepada pasien baik diminta ataupun tidak diminta (pasal 4 ayat
1)
·
Semua tindakan medik yang akan dilakukan
terhadap pasien harus mendapat persetujuan (pasal 2 ayat 2)
·
Apabila tindakan medik dilakukan tanpa adanya
persetujuan dari pasien atau keluarganya, maka dokter dapat dikenakan sanksi
administratif berupa pencabutan izin prakteknya (pasal 13)
Di dalam Permenkes tersebut yang
dimaksud dengan tindakan medik adalah tindakan diagnostik atau terapeutik
(pasal 1, ayat b), sehingga ada yang berpendapat bahwa imunisasi tidak perlu
persetujuan tindakan medis. Namun, di Amerika dan Australia persetujuan
tindakan medik sebelum imunisasi dianggap perlu, walaupun tidak harus tertulis.
The American Academy of Pediatrics (AAP) menganjurkan pemberian (berupa
brosur) yang disusun dan disediakan oleh pemerintah bekerjasama dengan AAP dan
produsen vaksin. Selain itu AAP menganjurkan agar setiap kali pemberian
imunisasi orangtua menandatangani persetujuan tertulis, atau dicatat dalam
catatan medik bahwa penjelasan telah dilakukan dan difahami oleh orangtua.
The Australian National Health and
Medical Research Council (NHMRC) juga menganjurkan agar setiap kali sebelum
imunisasi diberikan penjelasan tertulis di samping penjelasan lisan. Pada
imunisasi perorangan orangtua diberi daftar isian (kuesioner) dan keterangan
tertulis tentang perbandingan risiko imunisasi dan bahaya penyakit yang dapat
dicegah dengan vaksin tersebut untuk dibaca dan didiskusikan dengan dokter.
Tidak ada keharusan untuk mendapatkan persetujuan tertulis dari orangtua, cukup
dicatat di dalam catatan medik bahwa orangtua telah diberikan penjelasan. Namun
beberapa klinik meminta persetujuan tertulis. Imunisasi masal (di
sekolah) dilakukan setelah ada persetujuan tertulis dari orangtua. Namun jika
orangtua hadir dibutuhkan persetujuan lisan dari orangtua. Namun jika orangtua
hadir dibutuhkan persetujuan lisan dari orangtua walaupun telah ada persetujuan
tertulis pada imunisasi sebelumnya.
Sejalan dengan peningkatan pendidikan dan pengetahuan masyarakat
serta kesadaran konsumen tentang hak-haknya, dihimbau kepada anggota IDAI
sebelum melakukan imunisasi sebaiknya memberikan penjelasan bahwa imunisasi
berguna untuk melindungi anak terhadap bahaya penyakit mempunyai manfaat
lebih besar dibandingkan dengan risiko kejadian ikutan yang dapat
ditimbulkannya (sesuai maksud pasal 2 ayat 3 Permenkes 585/1989). Cara
penyampaian dan isi informasi disesuaikan dengan tingkat pendidikan serta
kondisi dan situasi pasien (Permenkes 585/1989, pasal 2 ayat 4). Imunisasi yang
dilaksanakan sesuai dengan program pemerintah untuk kepentingan masyarakat
banyak (di Posyandu, Puskesmas) tidak diperlukan persetujuan tindakan medik
(sesuai Permenkes 585/1989 pasal 14).
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan pada Bayi/ Anak Sebelum Imunisasi
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan pada Bayi/ Anak Sebelum Imunisasi
Orangtua atau pengantar bayi / anak dianjurkan dan
memberitahukan hal-hal tersebut di bawah ini secara lisan tentang hal-hal yang
berkaitan dengan indikasi kontra atau risiko kejadian ikutan pasca imunisasi
tersebut di bawah ini,
- pernah
mengalami kejadian ikutan pasca imunisasi yang berat pada imunisasi
sebelumnya,
- alergi
terhadap bahan yang juga terdapat di dalam vaksin,
- sedang
mendapat pengobatan steroid, radioterapi atau kemoterapi,
- menderita
sakit yang menurunkan imunitas (leukimia, kanker, HIV/AIDS),
- tinggal
serumah dengan orang lain yang imunitasnya menurun (leukimia, kanker, HIV
/ AIDS),
- tinggal
serumah dengan oang lain dalam pengobatan yang menurunkan imunitas
(radioterapi, kemoterapi, atau terapi steroid)
- pada
bulan lalu mendapat imunisasi yang berisi vaksin virus hidup (vaksin
campak, poliomielitis, rubela)
- pada 3
bulan yang lalu mendapat imunoglobulin atau transfusi darah
Pemberian Parasetamol Sesudah Imunisasi
Untuk mengurangi ketidaknyamanan pasca vaksinasi,
dipertimbangkan untuk pemberian parasetamol 15 mg/kgbb kepada bayi/anak setelah
imunisasi, terutama pasca vaksinasi DPT. Kemudian dilanjutkan setiap 3-4 jam
sesuai kebutuhan, maksimal 4 kali dalam 24 jam. Jika keluhan masih berlanjut,
diminta segera kembali kepada dokter.
Reaksi KIPI
Orangtua atau pengantar perlu diberitahu bahwa setelah
imunisasi dapat timbul reaksi lokal di tempat penyuntikan atau reaksi
umum berupa keluhan dan gejala tertentu, tergantung pada jenis vaksinnya.
Reaksi tersebut umumnya ringan, mudah diatasi oleh orangtua atau pengasuh , dan
akan hilang dalam 1 – 2 hari. Di tempat suntikan kadang-kadang timbul
kemerahan, pembekakan, gatal, nyeri selama 1 sampai 2 hari. Kompres hangat
dapat mengurangi keadaan tersebut. Kadang-kadang teraba benjolan kecil yang
agak keras selama beberapa minggu atau lebih, tetapi umunya tidak perlu
dilakukan tindakan apapun.
BCG
Orangtua atau pengantar perlu diberitahu bahwa 2-6 minggu setelah
imunisasi BCG dapat timbul bisul kecil (papula) yang semakin membesar
dan dapat terjadi ulserasi selama 2-4 bulan, kemudian menyembuh perlahan dengan
menimbulkan jaringan parut. Bila ulkus mengeluarkan cairan orangtua dapat
mengkompres dengan cairan antiseptik. Bila cairan bertambah banyak, koreng
semakin membesar atau timbul pembesaran kelenjar regional (aksila), orangtua
harus membawanya ke dokter.
Hepatitis B
Kejadian ikutan pasca imunisasi pada hepatitis B jarang terjadi,
segera setelah imunisasi dapat timbul demam yang tidak tinggi, pada tempat
penyuntikan timbul kemerahan, pembengkakan, nyeri, rasa mual dan nyeri sendi.
Orangtua / pengasuh dianjurkan untuk memberikan minum lebih banyak (ASI atau
air buah), jika demam pakailah pakaian yang tipis, bekas suntikan yang nyeri
dapat dikompres air dingin, jika demam berikan parasetamol 15 mg/kgbb setiap 3
– 4 jam bila diperlukan, maksimal 6 kali dalam 24 jam bila diperlukan, maksimal
6 kali dalam 24 jam, boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat.
Jika reaksi tersebut menjdai berat dan menetap, atau jika orangtua merasa
khawatir, bawalah bayi / anak ke dokter.
DPT
Reaksi yang dapat terjadi segera setelah vaksinasi DPT
antara lain demam tinggi, rewel, di tempat suntikan timbul kemerahan,
nyeri dan pembengkakan, yang akan hilang dalam 2 hari. Orangtua / pengaruh
dianjurkan untuk memberikan minum lebih banyak (ASI atau air buah), jika demam
pakailah pakaian yang tipis, bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres air
dingin, jika demam berikan parasetamol 15 kg/kgbb setiap 3 – 4 jam bila
diperlukan, maksimal 6 kali dalam 24 jam, boleh mandi atau cukup diseka dengan
air hangat. Jika reaksi-reaksi tersebut berat dan menetap, atau jika
orangtua merasa khawatir, bawalah bayi / anak ke dokter.
DT
Reaksi yang dapat terjadi pasca vaksinasi DT antara lain
kemerahan, pembengkakan dan nyeri pada bekas suntikan. Bekas suntikan yang
nyeri dapat dikompres dengan air dingin . Biasanya tidak perlu tindakan khusus.
Polio Oral
Sangat jarang terjadi reaksi sesudah imunisasi polio, oleh karena
itu orangtua / pengasuh tidak perlu melakukan tindakan apapun.
Campak dan MMR
Reaksi yang dapat terjadi pasca vaksinasi campak dan MMR berupa
rasa tidak nyaman di bekas penyuntikan vaksin. Selain itu dapat terjadi
gejala-gejala lain yang timbul 5 12 hari setelah penyuntikan, yaitu demam tidak
tinggi atau erupsi kulit halus/tipis yang berlangsung kurang dari 48 jam.
Pembengkakan kelenjar getah bening di belakang telinga dapat terjadi sekitar 3
minggu pasca imunisasi MMR. Orangtua / pengasuh dianjurkan untuk memberikan
minum lebih banyak (ASI atau air buah), jika demam pakailah pakaian yang tipis,
bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres air dingin, jika demam diberikan
parasetamol 15 mg/kgbb setiap 3 – 4 jam bila diperlukan, maksimal 6 kali dalam
24 jam, boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat. Jika reaksi-reaksi
tersebut berat dan menetap, atau jika orangtua merasa khawatir, bawalah bayi /
anak ke dokter
Source : http://dinkes.slemankab.go.id/wp-content/uploads/2013/07/hal-9-10-menolak-imunisasi.pdf
3.
4.
Konsep dan
interaksi antigen antibody
Antigen adalah bahan yang dapat merangsang
respon imun dan dapat bereaksi dengan antibodi. Macam-macam antigen antara lain
imunogen adalah bahan yang dapat merangsang respon imun dan hapten adalah
bahan yang dapat bereaksi dengan antibodi. Antigen tersusun atas epitop dan
paratop. Epitop atau Determinan adalah bagian dari antigen yang dapat mengenal/
menginduksi pembenntukan antibodi, sedangkan paratop adalah bagian dari
antibodi yang dapat mengikat epitop.
1.
Jenis antigen berdasarkan
determinannya:
a.
Unideterminan, univalen, merupakan
jenis epitop satu dan jumlahnya satu
b.
Unideterminan, multivalen, merupakan
jenis epitop satu, jumlah lebih dari satu
c.
Multideterminan, univalen, merupakan
jenis epitop lebih dari satu dan jumlahnya satu
d.
Multideterminan, multivalen, merupakan
jenis epitop lebih dari satu, jumlah lebih darisatu
2.
Jeni antigen berdasarkan spesifiktasnya
a.
Heteroantigen → dimiliki banyak spesies
b.
Xenoantigen → dimiliki spesies tertentu
c.
Alloantigen → dimiliki satu spesies
d.
Antigen organ spesifik → dimiliki organ
tertentu
e.
Autoantigen → berasal dari tubuhnya
sendiri
3.
Jenis antigen berdasarkan
ketergantungan pada sel T:
a.
T dependen adalah tentang antigen
yang perlu pengenalan thd sel T dan sel B untuk merangsang antibodi
b.
T Independen adalah tentang antigen yang
dapat merangsang sel B tanpa mengenal sel T dahulu
4.
Jenis antigen berdasarkan kandungan
bahan kimianya:
a.
Karbohidrat merupakan imunogenik
b.
Lipid: tidak imunogenik merupakan
hapten
c.
Asam nukleat merupakan antigen yang
tidak imunogenik
d.
Protein merupakan imunogenik
Antibodi
Antibodi adalah
protein serum yang mempunyai respon imun (kekebalan) pada tubuh yang mengandung
Imunoglobulin (Ig). Ig dibentuk oleh sel plasma (proliferasi sel B) akibat
kontak/dirangsang oleh antigen. Macam Imunoglobulin: Ig G, Ig A, Ig M, Ig E dan
Ig D.
a. Imunoglobulin
G
Terbanyak
dalam serum (75%). Dapat menembus plasenta membentuk imunitas bayi sampai
berumur 6 sampai dengan 9 bulan. Mempunyai sifat opsonin berhubungan erat
dengan fagosit, monosit dan makrofag. Berperan pada imunitas seluler yang dapat
merusak antigen seluler berinteraksi dengan komplemen, sel K, eosinofil
dan neutrofil.
b. Imunoglobulin
A
Sedikit
dalam serum. Banyak terdapat dalam saluran nafas, cerna, kemih, air
mata, keringat, ludah dan air susu. Fungsinya menetralkan toksin dan virus,
mencegah kontak antara toksin/ virus dng sel sasaran dan mengumpalkan/
mengganggu gerak kuman yang memudahkan fagositosis.
c. Imunoglobulin
M
Tidak
dapat menembus plasenta, dibentuk pertama kali oleh tubuh akibat
rangsangan antigen sifilis, rubela, toksoplasmosis. Fungsinya mencegah
gerakan mikroorganisme antigen memudahkan fagositosis dan Aglutinosis
kuat terhadap antigen.
d. Imunoglobulin
E
Jumlah
paling sedikit dalam serum. Mudah diikat oleh sel mastosit, basofil dan
eosinofil. Kadar tinggi pada kasus: alergi, infeksi cacing, skistosomiasis,
trikinosis. Proteksi terhadap invasi parasit seperti cacing.
e. Imunoglobulin
D
Sedikit
ditemukan dalam sirkulasi. Tidak dapat mengikat komplemen. Mempunyai aktifitas
antibodi terhadap makanan dan autoantigen.
CARA KERJA ANTIBODI
Antibodi merupakan senjata yang
tersusun dari protein dan dibentuk untuk melawan sel-sel asing yang masuk ke
tubuh manusia. Senjata ini diproduksi oleh sel-sel B, sekelompok prajurit pejuang
dalam sistem kekebalan. Antibodi akan
menghancurkan bakteri atau virus tertentu yang menyerang sistem pertahanan
tubuh manusia. Antibodi mempunyai dua fungsi, pertama untuk mengikatkan diri
kepada sel-sel musuh, yaitu antigen. Fungsi kedua adalah membusukkan struktur
biologi antigen tersebut lalu menghancurkannya.Berada dalam aliran darah dan
cairan non-seluler, antibodi mengikatkan diri kepada bakteri dan virus penyebab
penyakit. Mereka menandai molekul-molekul asing tempat mereka mengikatkan diri.
Dengan demikian sel prajurit tubuh dapat membedakan sekaligus melumpuhkannya.
Antibodi bersesuaian dengan antigen
secara sempurna, seperti anak kunci dengan lubangnya yang dipasang dalam
struktur tiga dimensi.Tubuh manusia mampu memproduksi masing-masing antibodi
yang cocok untuk hampir setiap musuh yang dihadapinya. Antibodi bukan berjenis
tunggal. Sesuai dengan struktur setiap musuh, maka tubuh menciptakan antibodi
khusus yang cukup kuat untuk menghadapi musuh. Hal ini karena antibodi yang
dihasilkan untuk suatu penyakit belum tentu berhasil bagi penyakit lainnya.
Membuat antibodi spesifik untuk
masing-masing musuh merupakan proses yang luar biasa dan proses ini dapat
terwujud hanya jika sel-sel B mengenal struktur musuhnya dengan baik. Dan, di
alam ini terdapat jutaan musuh (antigen).Satu sel B yang sedemikian kecil,
menyimpan jutaan bit informasi dalam memorinya, dan dengan sadar menggunakannya
dalam kombinasi yang tepat.
Tersimpannya jutaan formula dalam suatu
sel yang sangat kecil merupakan keajaiban yang diberikan kepada manusia. Yang
tak kurang menakjubkan adalah bahwa kenyataannya sel-sel menggunakan informasi
ini untuk melindungi kesehatan manusia.Satu sel B menggandakan antibodi
spesifiknya dan mencantolkannya ke permukaan luar membran selnya. Antibodi
memanjang keluar seperti jarum, aerial yang sudah menyesuaikan diri menunggu
berkontak dengan sekeping protein tertentu yang bisa mereka kenali. Antibodi
tersebut terdiri dari dua rantai ringan dan dua rantai berat asam amino yang
bersambungan dalam bentuk Y. Setelah digandakan sampai jutaan, sebagian besar
sel B berhenti membelah dan menjadi sel plasma, jenis sel yang bagian dalamnya
berisi alat untuk membuat satu produk antibodi. Sebagian sel B lain membelah
terus tak berhingga, dan menjadi sel memori. Antibodi bebas yang dibuat oleh
sel plasma berkeliling di darah dan cairan limpa. Ketika antibodi mengikatkan
diri pada antigen sasarannya, bentuknya berubah. Perubahan bentuk inilah yang
membuat antibodi "menempel" di bagian luar makrofag.
5.
Jadwal
Imunisasi
Cukup jelas di gambar
6.
Penyakit
infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi
Menurut laporan CDC yang dikutip oleh Hadinegoro (2007),
beberapa penyakit infeksi seperti pneumokokus, campak, rotavirus, Haemophillus
influenzae tipe B (Hib), pertusis, tetanus, dan lainnya; berturut-turut
dilaporkan dapat dicegah/ dihindari melalui upaya imunisasi 26%, 21%, 16%, 15%,
11%, 8%, dan 3%.
1.
POLIO
Gejala
yang umum terjadi akibat serangan virus polio adalah anak mendadak lumpuh pada
salah satu anggota geraknya setelah demam selama 2-5 hari. Terdapat 2 jenis
vaksin yang beredar, dan di Indonesia yang umum diberikan adalah vaksin Sabin
(kuman yang dilemahkan). Cara pemberiannya melalui mulut. Di beberapa negara
dikenal pula Tetravaccine, yaitu kombinasi DPT dan polio. Imunisasi dasar
diberikan sejak anak baru lahir atau berumur beberapa hari dan selanjutnya
diberikan setiap 4-6 minggu. Pemberian vaksin polio dapat dilakukan bersamaan
dengan BCG, vaksin hepatitis B, dan DPT. Imunisasi ulangan diberikan bersamaan
dengan imunisasi ulang DPT Pemberian imunisasi polio akan menimbulkan kekebalan
aktif terhadap penyakit Poliomielitis. Imunisasi polio diberikan sebanyak empat
kali dengan selang waktu tidak kurang dari satu bulan
imunisasi ulangan dapat diberikan sebelum anak masuk sekolah (5 – 6 tahun) dan saat meninggalkan sekolah dasar (12 tahun).Cara memberikan imunisasi polio adalah dengan meneteskan vaksin polio sebanyak dua tetes langsung kedalam mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang dicampur dengan gula manis. Imunisasi ini jangan diberikan pada anak yang lagi diare berat. Efek samping yang mungkin terjadi sangat minimal dapat berupa kejang-kejang
imunisasi ulangan dapat diberikan sebelum anak masuk sekolah (5 – 6 tahun) dan saat meninggalkan sekolah dasar (12 tahun).Cara memberikan imunisasi polio adalah dengan meneteskan vaksin polio sebanyak dua tetes langsung kedalam mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang dicampur dengan gula manis. Imunisasi ini jangan diberikan pada anak yang lagi diare berat. Efek samping yang mungkin terjadi sangat minimal dapat berupa kejang-kejang
2.
HEPATITIS B
Penyakit
hepatitis disebabkan oleh virus hepatitis tipe B yang menyerang kelompok resiko
secara vertikal yaitu bayi dan ibu pengidap, sedangkan secara horizontal tenaga
medis dan para medis, pecandu narkoba, pasien yang menjalani hemodialisa, petugas
laboratorium, pemakai jasa atau petugas akupunktur.
3.
TBC (TUBERCULOSIS)
Penularan
penyakit TBC terhadap seorang anak dapat terjadi karena terhirupnya percikan
udara yang mengandung kuman TBC. Kuman inii dapat menyerang berbagai organ
tubuh, seperti paru-paru (paling sering terjadi), kelenjar getah bening,
tulang, sendi, ginjal, hati, atau selaput otak (yang terberat). Pemberian
imunisasi BCG sebaiknya dilakukan pada bayi yang baru lahir sampai usia 12
bulan, tetapi imunisasi ini sebaiknya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan.
Imunisasi ini cukup diberikan satu kali saja. Bila pemberian imunisasi ini
“berhasil,” maka setelah beberapa minggu di tempat suntikan akan timbul
benjolan kecil. Karena luka suntikan meninggalkan bekas, maka pada bayi perempuan,
suntikan sebaiknya dilakukan di paha kanan atas. Biasanya setelah suntikan BCG
diberikan, bayi tidak menderita demam.
DIFTERI
Penyakit Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphteriae. Mudah menular dan menyerang terutama saluran napas bagian atas dengan gejala Demam tinggi, pembengkakan pada amandel (tonsil ) dan terlihat selaput puith kotor yang makin lama makin membesar dan dapat menutup jalan napas. Racun difteri dapat merusak otot jantung yang dapat berakibat gagal jantung. Penularan umumnya melalui udara (betuk/bersin) selain itu dapat melalui benda atau makanan yang terkontamiasi.
Pencegahan paling efektif adalah dengan imunisasi bersamaan dengan tetanus dan pertusis sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan dengan selang penyuntikan satu–dua bulan. Pemberian imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus dalam waktu bersamaan. Efek samping yang mungkin akan timbul adalah demam, nyeri dan bengkak pada permukaan kulit, cara mengatasinya cukup diberikan obat penurun panas
Penyakit Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphteriae. Mudah menular dan menyerang terutama saluran napas bagian atas dengan gejala Demam tinggi, pembengkakan pada amandel (tonsil ) dan terlihat selaput puith kotor yang makin lama makin membesar dan dapat menutup jalan napas. Racun difteri dapat merusak otot jantung yang dapat berakibat gagal jantung. Penularan umumnya melalui udara (betuk/bersin) selain itu dapat melalui benda atau makanan yang terkontamiasi.
Pencegahan paling efektif adalah dengan imunisasi bersamaan dengan tetanus dan pertusis sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan dengan selang penyuntikan satu–dua bulan. Pemberian imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus dalam waktu bersamaan. Efek samping yang mungkin akan timbul adalah demam, nyeri dan bengkak pada permukaan kulit, cara mengatasinya cukup diberikan obat penurun panas
- PERTUSIS
Penyakit
Pertusis atau batuk rejan atau dikenal dengan “ Batuk Seratus Hari “ adalah
penyakit infeksi saluran yang disebabkan oleh bakteri Bordetella Pertusis.
Gejalanya khas yaitu batuk yang terus menerus sukar berhenti, muka menjadi
merah atau kebiruan dan muntah kadang-kadang bercampur darah. Batuk diakhiri
dengan tarikan napas panjang dan dalam berbunyi melengking.Penularan umumnya
terjadi melalui udara (batuk/bersin). Pencegahan paling efektif adalah dengan
melakukan imunisasi bersamaan dengan Tetanus dan Difteri sebanyak tiga kali
sejak bayi berumur dua bulan dengan selang pentuntikan.
5.
TETANUS
Penyakit
tetanus merupakan salah satu infeksi yan berbahaya karena mempengaruhi sistim
urat syaraf dan otot. Gejala tetanus umumnya diawali dengan kejang otot rahang
(dikenal juga dengan trismus atau kejang mulut) bersamaan dengan timbulnya
pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, bahu atau punggung.
Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha.
Neonatal tetanus umumnya terjadi pada bayi yang baru lahir. Neonatal tetanus
menyerang bayi yang baru lahir karena dilahirkan di tempat yang tidak bersih
dan steril, terutama jika tali pusar terinfeksi. Neonatal tetanus dapat
menyebabkan kematian pada bayi dan banyak terjadi di negara berkembang.
Sedangkan di negara-negara maju, dimana kebersihan dan teknik melahirkan yang
sudah maju tingkat kematian akibat infeksi tetanus dapat ditekan. Selain itu
antibodi dari ibu kepada jabang bayinya yang berada di dalam kandungan juga dapat
mencegah infeksi tersebut.
Infeksi
tetanus disebabkan oleh bakteri yang disebut dengan Clostridium tetani yang
memproduksi toksin yang disebut dengan tetanospasmin. Tetanospasmin menempel
pada urat syaraf di sekitar area luka dan dibawa ke sistem syaraf otak serta
saraf tulang belakang, sehingga terjadi gangguan pada aktivitas normal urat
syaraf. Terutama pada syaraf yang mengirim pesan ke otot. Infeksi tetanus
terjadi karena luka. Baik karena terpotong, terbakar, aborsi , narkoba
(misalnya memakai silet untuk memasukkan obat ke dalam kulit) maupun frosbite.
Walaupun luka kecil bukan berarti bakteri tetanus tidak dapat hidup di sana.
Sering kali orang lalai, padahal luka sekecil apapun dapat menjadi tempat
berkembang biaknya bakteria tetanus. Periode inkubasi tetanus terjadi dalam
waktu 3-14 hari dengan gejala yang mulai timbul di hari ketujuh. Dalam neonatal
tetanus gejala mulai pada dua minggu pertama kehidupan seorang bayi. Walaupun
tetanus merupakan penyakit berbahaya, jika cepat didiagnosa dan mendapat
perawatan yang benar maka penderita dapat disembuhkan. Penyembuhan umumnya
terjadi selama 4-6 minggu. Tetanus dapat dicegah dengan pemberian imunisasi
sebagai bagian dari imunisasi DPT. Setelah lewat masa kanak-kanak imunisasi
dapat terus dilanjutkan walaupun telah dewasa. Dianjurkan setiap interval 5
tahun : 25, 30, 35 dst. Untuk wanita hamil sebaiknya diimunisasi juga dan
melahirkan di tempat yang terjaga kebersihannya
- CAMPAK
Campak
adalah penyakit yang sangat menular yang dapat disebabkan oleh sebuah virus
yang bernama Virus Campak. Penularan melalui udara ataupun kontak langsung
dengan penderita.Gejala-gejalanya adalah : Demam, batuk, pilek dan
bercak-bercak merah pada permukaan kulit 3 – 5 hari setelah anak menderita
demam. Bercak mula-mula timbul dipipi bawah telinga yang kemudian menjalar ke
muka, tubuh dan anggota tubuh lainnya. Komplikasi dari penyakit Campak ini
adalah radang Paru-paru, infeksi pada telinga, radang pada saraf, radang pada sendi
dan radang pada otak yang dapat menyebabkan kerusakan otak yang permanen (
menetap ). Pencegahan adalah dengan cara menjaga kesehatan kita dengan makanan
yang sehat, berolah raga yang teratur dan istirahat yang cukup, dan paling
efektif cara pencegahannya adalah dengan melakukan imunisasi. Pemberian
Imunisasi akan menimbulkan kekebalan aktif dan bertujuan untuk melindungi
terhadap penyakit campak hanya dengan sekali suntikan, dan diberikan pada usia
anak sembilan bulan atau lebih
- INFLUENZA
Influenza
adalah penyakit infeksi yang mudah menular dan disebabkan oleh virus influenza,
yang menyerang saluran pernapasan. Penularan virus terjadi melalui udara pada
saat berbicara, batuk dan bersin, Influenza sangat menular selama 1 – 2 hari
sebelum gejalanya muncul, itulah sebabnya penyebaran virus ini sulit
dihentikan.Berlawanan dengan pendapat umum, influenza bukan batuk – pilek biasa
yang tidak berbahaya. Gejala Utama infleunza adalah: Demam, sakit kepala, sakit
otot diseluruh badan, pilek, sakit tenggorok, batuk dan badan lemah. Pada
Umumnya penderita infleunza tidak dapat bekerja/bersekolah selama beberapa
hari.Dinegara-negara tropis seperti Indonesia, influenza terjadi sepanjang
tahun. Setiap tahun influenza menyebabkan ribuan orang meninggal diseluruh
dunia. Biaya pengobatan, biaya penanganan komplikasi, dan kerugian akibat
hilangnya hari kerja (absen dari sekolah dan tempat kerja) sangat
tinggi.Berbeda dengan batuk pilek biasa influenza dapat mengakibatkan
komplikasi yang berat. Virus influenza menyebabkan kerusakan sel-sel selaput
lendir saluran pernapasan sehingga penderita sangat mudah terserang kuman lain,
seperti pneumokokus, yang menyebabkan radang paru (Pneumonia) yang berbahaya.
Selain itu, apabila penderita sudah mempunyai penyakit kronis lain sebelumnya
(Penyakit Jantung, Paru-paru, ginjal, diabetes dll), penyakit-penyakit itu
dapat menjadi lebih berat akibat influenza.
- DEMAM TIFOID
Penyakit
Demam Tifoid adalah infeksi akut yang disebabkan oleh Salmonella Typhi yang
masuk melalui saluran pencernaan dan menyebar keseluruh tubuh (sistemik),
Bakteri ini akan berkembang biak di kelenjar getah bening usus dan kemudian
masuk kedalam darah sehingga meyebabkan penyebaran kuman dalam darah dan
selanjutnya terjadilah peyebaran kuman kedalam limpa, kantung empedu, hati,
paru-paru, selaput otak dan sebagainya. Gejala-gejalanya adalah: Demam, dapat
berlangsung terus menerus. Minggu Pertama, suhu tubuh berangsur-angsur meningat
setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore/malam
hari. Minggu Kedua, Penderita terus dalam keadaan demam. Minggu ketiga, suhu
tubuh berangsung-angsur turun dan normal kembali diakhir minggu. gangguan pada
saluran pencernaan, nafas tak sedap, bibir kering dan pecah-pecah, lidah
ditutupi selaput lendir kotor, ujung dan tepinya kemerahan. Bisa juga perut
kembung, hati dan limpa membesar serta timbul rasa nyeri bila diraba. Biasanya
sulit buang air besar, tetapi mungkin pula normal dan bahkan dapat terjadi
diare. gangguan kesadaran, Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak
seberapa dalam, yaitu menjadi apatis sampai somnolen. Bakteri ini disebarkan
melalui tinja. Muntahan, dan urin orang yang terinfeksi demam tofoid, yang
kemudian secara pasif terbawa oleh lalat melalui perantara kaki-kakinya dari
kakus kedapur, dan mengkontaminasi makanan dan minuman, sayuran ataupun
buah-buahan segar. Mengkonsumsi makanan / minuman yang tercemar demikian dapat
menyebabkan manusia terkena infeksi demam tifoid. Salah satu cara pencegahannya
adalah dengan memberikan vaksinasi yang dapat melindungi seseorang selama 3
tahun dari penyakit Demam Tifoid yang disebabkan oleh Salmonella Typhi.
Pemberian vaksinasi ini hampir tidak menimbulkan efek samping dan kadang-kadang
mengakibatkan sedikit rasa sakit pada bekas suntikan yang akan segera hilang
kemudian
9.
Meningococcal
Neisseria meningitidis adalah bakteri yang
menyebabkan meningitis (infeksi otak), sepsis (infeksi darah), dan
infeksi-infeksi lain. Ia adalah infeksi yang sangat berbahaya dan dapat
menyebabkan seizures dan kematian. Seringkali
perjangkitan-perjangkitan terjadi pada wabah-wabah (epidemi-epidemi).
10.
Rotavirus
Rotavirus adalah virus yang menyebabkan diare yang
parah pada bayi-bayi yang sangat muda. Ia menyebabkan lebih dari 55,000 rawat
inap di rumah sakit setiap tahun di Amerika dan lebih dari 600,000
kematian-kematian diseluruh dunia. Anak-anak dengan virus ini mengembangkan
muntah dan diare yang berair, yang menyebabkan mereka menjadi terdehidrasi.
11.
Human papillomavirus
Human papillomaviruses menyebabkan kutil-kutil
genital dan kanker cervix (kanker yang didiagnosa
dengan pengujian Pap yang teratur). Setiap tahun, lebih dari 10,000
wanita-wanita mengembangkan kanker cervix yang invasif, dan hampir 4,000
meninggal dari penyakit ini.
12.
Pneumococcal
Streptococcus pneumoniae adalah bakteri yang
menyebabkan pneumonia (infeksi paru), sepsis
(infeksi darah), dan infeksi-infeksi lain. Ia sangat berbahaya pada orang-orang
yang sangat muda dan sangat tua.
13.
Hepatitis A
Hepatitis A adalah virus serupa pada hepatitis B.
Penularan terjadi dengan berkontak dengan makanan atau minuman yang
terkontaminasi. Gejala-gejala awal dari penyakit adalah nonspesifik dan mungkin
termasuk demam, diare, dan nyeri perut. Ia menyebabkan
penyakit hati akut. Ia dapat mempengaruhi siapa saja pada umur berapa saja, dan
di Amerika, ia dapat terjadi sebagai kasus-kasus terisolasi atau bahkan pada
epidemi-epidemi (wabah-wabah).
14.
Varicella
Varicella adalah virus yang menyebabkan chickenpox
(cacar air). Ia menyabakan ruam yang gatal dan demam. Anda dapat memperolehnya
dari seseorang yang telah memperolehnya jika anda menyentuh melepuhan (blister)
yang terbuka pada kulit orang itu atau jika orang itu bersin atau batuk sekitar
anda. Infeksi varicella, meskipun biasanya dipercayai adalah ringan, juga
menyebabkan pneumonia (infeksi-infeksi paru) dan encephalitis (infeksi-infeksi
otak).
15.
MMR
M pertama pada MMR berdiri untuk Measles. Measles
adalah virus yang sangat menular (mudah didapat) yang menyebabkan demam yang
tinggi, batuk, dan ruam kulit yang bernoda diseluruh tubuh. Ia mungkin juga
menyebabkan infeksi-infeksi telinga dan pneumonia.
M kedua pada MMR berdiri untuk Mumps
Mumps adalah virus yang menyebabkan
kelenjar-kelenjar air liur yang menyakitkan dan membengkak, yang ada dibawah
rahang, serta demam dan sakit kepala. Mumps juga mungkin menyebabkan
persoalan-persoalan yang serius termasuk meningitis atau kehilangan
pendengaran. Ia dapat menyebabkan peradangan dari testicles (orchitis) pada
laki-laki.
R pada MMR berdiri untuk Rubella
Rubella, juga dikenal sebagai German measles,
disebabkan oleh virus. Ia paling berbahaya untuk wanita-wanita yang hamil.
Rubella dapat menyebabkan ibu mempunyai keguguran atau melahirkan bayi dengan
penyakit jantung, kebutaan, kehilanga pendengaran, atau persoalan-persoalan
belajar. Rubella adalah penyakit yang cukup ringan pada anak-anak.
7.
Konsep dasar
imunologi
B. KONSEP DASAR IMUNOLOGI
1. Sistem Imunitas Tubuh
Yang dimaksudkan
dengan ” sistem imun ialah semua mekanisme yang digunakan tubuh untuk
mempertahankan keutuhan tubuh sebagai perlindungan terhadap bahaya yang dapat
ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup”. Berbagai bahan organik
dan anorganik, baik yang hidup maupun yang mati asal hewan, tumbuhan, jamur,
bakteri, virus, parasit, berbagai debu dalam polusi, uap, asap dan lain-lain
iritan, ditemukan dalam lingkungan hidup sehingga setiap saat bahan-bahan
tersebut dapat masuk ke dalam tubuh dan menimbulkan berbagai penyakit bahkan
kerusakan jaringan. Selain itu, sel tubuh yang menjadi tua dan sel yang
bermutasi menjadi ganas, merupakan bahan yang tidak diingini dan perlu
disingkirkan.
Kemampuan tubuh untuk menyingkirkan bahan asing yang masuk ke dalam tubuh
tergantung dari kemampuan sistem imun untuk mengenal molekul-molekul asing atau
antigen yang terdapat pada permukaan bahan asing tersebut dan kemampuan untuk
melakukan reaksi yang tepat untuk menyingkirkan antigen. Kemampuan ini dimiliki
oleh komponen-komponen sistem imun yang terdapat dalam jaringan limforetikuler
yang letaknya tersebar di seluruh tubuh, misalnya di dalam sumsum tulang,
kelenjar limfe, limpa, timus, sistem saluran nafas, saluran cerna dan
organ-organ lain. Sel-sel yang terdapat dalam jaringan ini berasal dari sel
induk dalam sumsum tulang yang berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel,
kemudian beredar dalam tubuh melalui darah, sistem limfatik, serta organ
limfoid yang terdiri dari timus dan sumsum tulang (organ limfoid primer ), dan
limpa, kelenjar limfe dan mukosa ( organ limfoid sekunder ), dan dapat
menunjukkan respons terhadap suatu rangsangan sesuai dengan sifat dan fungsi
masing-masing.
2.
Pembagian
Sistem Imun
Terdapat 2 sistem imun yaitu sistem
imun nonspesifik dan spesifik yang mempunyai kerja sama yang erat dan yang satu
tidak dapat dipisahkan dari yang lain, sistem imun ini semuanya terdiri
dari bermacam-macam sel leukosit ( sel darah putih ).
a.
Sistem imun nonspesifik, disebut demikian karena telah ada dan berfungsi sejak lahir dan merupakan
pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi serangan berbagai mikroorganisme,
serta dapat memberikan respon langsung terhadap antigen. Sel-selnya terdiri
dari sel makrofag, sel NK ( Natural Killer ) dan sel mediator.
b.
Sistem imun spesifik, membutuhkan waktu untuk mengenal
antigen terlebih dahulu sebelum dapat memberikan responnya atau dengan
kata lain sistem ini dapat menghancurkan benda asing yang berbahaya bagi tubuh
yang sudah dikenal sebelumnya ( spesifik ). Sel-selnya terdiri dari sel-sel
limfosit T dan B.
Sistem imun spesifik terdiri dari
sel limfosit , merupakan kunci pengontrol sistem imun. Sebetulnya sistem ini
dapat bekerja sendiri tanpa bantuan sistem imun nonspesifik. Terdapat 2 macam
yaitu: sistem imun spesifik humoral ( sel B ), menghasilkan antibodi
yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap infeksi ekstraseluler virus dan
bakteri, sedangkan sistem imun spesifik seluler ( sel T ) untuk
pertahanan terhadap bakteri yang hidup intraseluler, virus, jamur, parasit dan
keganasan.
Source
: http://ners.unair.ac.id/materikuliah/DASAR%20IMUNOLOGI.pdf
Langganan:
Postingan (Atom)

