Rabu, 11 Mei 2011

SKENARIO 1 CONJUNCTIVITIS

Haloooo memed-memed sekalian,sudah lama kita tidak berjumpa di anti-remed hehee...ujian kemaren berjalan dengan lancar kaan??semoga hasilyang kita dapat memuaskan aminnnn..Oke, di skenario pertama ini sih di buku modulnya gak ada cerita skenario nya,adanya Cuma learning objective yangharus kita capai.Tapi denger-denger sih skenarionya bakal soal konjungtivitis, emang uda bisa ditebak sih, soalnya di LO nya kan banyak tu yang disuruhbahas soal konjungtivitis. Sebelum kita mulai marikita mengetahui LO nya dulu
1.       Anatomi fisiologi mata
2.       Mekanisme, patofisiologi, dan patogenesis infeksi mata
3.       Faktor resiko penyakit mata merah
4.       Membedakan penyebab konjungtivitis karena virus, bakteri, jamur, dll
5.       Diagnosis klinis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan tambahan
6.       Penatalaksanaan konjungtivitis (drug of choice, rasionalisasi terapi)
7.       Epidemiologi dan pencegahan konjungtivitis
Yok mari yok kita bahas satu demi satu...
A.      Anatomi fisiologi mata


Anatomi mata itu dibagi menjadi 6 bagian anatomis: (1) adnexa, yang meliputi kelopak mata dan lacrimal apparatus; (2)segmen anterior, terdiri dari konjungtiva, kornea, dan ruang anterior; (3) iris dan lensa; (4) segmen posterior yang terdiri dari humor vitreous, retina, choroid, dan sklera; (5) otot extraocular; (6) Orbit.
Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan. Dari luar ke dalam, lapisan–lapisan tersebut adalah : (1) sklera/kornea, (2) koroid/badan siliaris/iris, dan (3) retina. Sebagian besar mata dilapisi oleh jaringan ikat yang protektif dan kuat di sebelah luar, sklera, yang membentuk bagian putih mata. Di anterior (ke arah depan), lapisan luar terdiri atas kornea transparan tempat lewatnya berkas–berkas cahaya ke interior mata. Lapisan tengah dibawah sklera adalah koroid yang sangat berpigmen dan mengandung pembuluh-pembuluh darah untuk memberi makan retina. Lapisan paling dalam dibawah koroid adalah retina, yang terdiri atas lapisan yang sangat berpigmen di sebelah luar dan sebuah lapisan syaraf di dalam. Retina mengandung sel batang dan sel kerucut, fotoreseptor yang mengubah energi cahaya menjadi impuls syaraf.
Struktur mata manusia berfungsi utama untuk memfokuskan cahaya ke retina. Semua komponen–komponen yang dilewati cahaya sebelum sampai ke retina mayoritas berwarna gelap untuk meminimalisir pembentukan bayangan gelap dari cahaya. Kornea dan lensa berguna untuk mengumpulkan cahaya yang akan difokuskan ke retina, cahaya ini akan menyebabkan perubahan kimiawi pada sel fotosensitif di retina. Hal ini akan merangsang impuls–impuls syaraf ini dan menjalarkannya ke otak.
eye
Cahaya masuk ke mata dari media ekstenal seperti, udara, air, melewati kornea dan masuk ke dalam aqueous humor. Refraksi cahaya kebanyakan terjadi di kornea dimana terdapat pembentukan bayangan yang tepat. Aqueous humor tersebut merupakan massa yang jernih yang menghubungkan kornea dengan lensa mata, membantu untuk mempertahankan bentuk konveks dari kornea (penting untuk konvergensi cahaya di lensa) dan menyediakan nutrisi untuk endothelium kornea. Iris yang berada antara lensa dan aqueous humor, merupakan cincin berwarna dari serabut otot. Cahaya pertama kali harus melewati pusat dari iris yaitu pupil. Ukuran pupil itu secara aktif dikendalikan oleh otot radial dan sirkular untuk mempertahankan level yang tetap secara relatif dari cahaya yang masuk ke mata. Terlalu banyaknya cahaya yang masuk dapat merusak retina. Namun bila terlalu sedikit dapat menyebabkan kesulitan dalam melihat. Lensa yang berada di belakang iris berbentuk lempeng konveks yang memfokuskan cahaya melewati humour kedua untuk menuju ke retina.
Untuk dapat melihat dengan jelas objek yang jauh, susunan otot siliare yang teratur secara sirkular akan akan mendorong lensa dan membuatnya lebih pipih. Tanpa otot tersebut, lensa akan tetap menjadi lebih tebal, dan berbentuk lebih konveks. Manusia secara perlahan akan kehilangan fleksibilitas karena usia, yang dapat mengakibatkan kesulitan untuk memfokuskan objek yang dekat yang disebut juga presbiopi. Ada beberapa gangguan refraksi lainnya yang mempengaruhi bantuk kornea dan lensa atau bola mata, yaitu miopi, hipermetropi dan astigmatisma.
Selain lensa, terdapat humor kedua yaitu vitreous humor yang semua bagiannya dikelilingi oleh lensa, badan siliar, ligamentum suspensorium dan retina. Dia membiarkan cahaya lewat tanpa refraksi dan membantu mempertahankan bentuk mata.
Bola mata terbenam dalam corpus adiposum orbitae, namun terpisah darinya oleh selubung fascia bola mata. Bola mata terdiri atas tiga lapisan dari luar ke dalam, yaitu :
1. Tunica Fibrosa
Tunica fibrosa terdiri atas bagian posterior yang opaque atau sklera dan bagian anterior yang transparan atau kornea. Sklera merupakan jaringan ikat padat fibrosa dan tampak putih. Daerah ini relatif lemah dan dapat menonjol ke dalam bola mata oleh perbesaran cavum subarachnoidea yang mengelilingi nervus opticus. Jika tekanan intraokular meningkat, lamina fibrosa akan menonjol ke luar yang menyebabkan discus menjadi cekung bila dilihat melalui oftalmoskop.
Sklera juga ditembus oleh n. ciliaris dan pembuluh balik yang terkait yaitu vv.vorticosae. Sklera langsung tersambung dengan kornea di depannya pada batas limbus. Kornea yang transparan, mempunyai fungsi utama merefraksikan cahaya yang masuk ke mata. Tersusun atas lapisan-lapisan berikut ini dari luar ke dalam sama dengan: (1) epitel kornea (epithelium anterius) yang bersambung dengan epitel konjungtiva. (2) substansia propria, terdiri atas jaringan ikat transparan. (3) lamina limitans posterior dan (4) endothel (epithelium posterius) yang berhubungan dengan aqueous humour.
2. Lamina vasculosa
Dari belakang ke depan disusun oleh sama dengan : (1) choroidea (terdiri atas lapis luar berpigmen dan lapis dalam yang sangat vaskular) (2) corpus ciliare (ke belakang bersambung dengan choroidea dan ke anterior terletak di belakang tepi perifer iris) terdiri atas corona ciliaris, procesus ciliaris dan musculus ciliaris (3) iris (adalah diafragma berpigmen yang tipis dan kontraktil dengan lubang di pusatnya yaitu pupil) iris membagi ruang diantara lensa dan kornea menjadi camera anterior dan posterior, serat-serat otot iris bersifat involunter dan terdiri atas serat-serat sirkuler dan radier.
3. Tunica sensoria (retina)
Retina terdiri atas pars pigmentosa luar dan pars nervosa di dalamnya. Permukaan luarnya melekat pada choroidea dan permukaan dalamnya berkontak dengan corpus vitreum. Tiga perempat posterior retina merupakan organ reseptornya. Ujung anterior membentuk cincin berombak, yaitu ora serrata, di tempat inilah jaringan syaraf berakhir. Bagian anterior retina bersifat non-reseptif dan hanya terdiri atas sel-sel pigmen dengan lapisan epitel silindris di bawahnya. Bagian anterior retina ini menutupi procesus ciliaris dan bagian belakang iris.
Di pusat bagian posterior retina terdapat daerah lonjong kekuningan, macula lutea, merupakan daerah retina untuk penglihatan paling jelas. Bagian tengahnya berlekuk disebut fovea sentralis.
Nervus opticus meninggalkan retina lebih kurang 3 mm medial dari macula lutea melalui discus nervus optici. Discus nervus optici agak berlekuk di pusatnya yaitu tempat dimana ditembus oleh a. centralis retinae. Pada discus ini sama sekali tidak ditemui coni dan bacili, sehingga tidak peka terhadap cahaya dan disebut sebagai bintik buta. Pada pengamatan dengan oftalmoskop, bintik buta ini tampak berwarna merah muda pucat, jauh lebih pucat dari retina di sekitarnya.

Anatomi dan Fisiologi Pada Mata
Secara garis besar anatomi mata dapat dikelompokkan menjadi empat bagian, dan untuk ringkasnya fisiologi mata akan diuraikan secara terpadu. Keempat kelompok ini terdiri dari :
1) Palpebra
Dari luar ke dalam terdiri dari : kulit, jaringan ikat lunak, jaringan otot, tarsus, vasia dan konjungtiva.
Fungsi dari palpebra adalah untuk melindungi bola mata, bekerja sebagai jendela memberi jalan masuknya sinar kedalam bola mata, juga membasahi dan melicinkan permukaan bola mata.
2) Rongga mata

Merupakan suatu rongga yang dibatasi oleh dinding dan berbentuk sebagai piramida kwadrilateral dengan puncaknya kearah foramen optikum. Sebagian besar dari rongga ini diisi oleh lemak, yang merupakan bantalan dari bola mata dan alat tubuh yang berada di dalamnya seperti: urat saraf, otot-otot penggerak bola mata, kelenjar air mata, pembuluh darah
3) Bola mata
Menurut fungsinya maka bagian-bagiannya dapat dikelompokkan menjadi:
o Otot-otot penggerak bola mata
o Dinding bola mata yang teriri dari : sklera dan kornea. Kornea kecuali sebagai dinding juga berfungsi sebagai jendela untuk jalannya sinar.
o Isi bola mata, yang terdiri atas macam-macam bagian dengan fungsinya masing-masing
4) Sistem kelenjar bola mata
Terbagi menjadi dua bagian:
o Kelenjar air mata yang fungsinya sebagai penghasil air mata
o Saluran air mata yang menyalurkan air mata dari fornik konjungtiva ke dalam
rongga hidung
KEBUTAAN
Cedera dan penyakit pada mata bisa mempengaruhi penglihatan.
Kejernihan penglihatan disebut ketajaman visuil, yang berkisar dari penglihatan penuh sampai ke tanpa penglihatan.
Jika ketajaman menurun, maka penglihatan menjadi kabur.

Ketajaman penglihatan biasanya diukur dengan skala yang membandingkan penglihatan seseorang pada jarak 20 kaki dengan seseorang yang memiliki ketajaman penuh.
Visuil 20/20 artinya seseorang melihat benda pada jarak 20 kaki dengan ketajaman penuh; sedangkan visuil 20/200 artinya seseorang melihat benda pada jarak 20 kaki, yang oleh orang dengan ketajaman penuh benda tersebut terlihat pada jarak 200 kaki.

Secara teoritis, kebutaan terjadi jika ketajaman penglihatan lebih buruk dari 20/200 meskipun telah dibantu dengan kaca mata maupun lensa kontak.

Penyebab kebutaan

Kebutaan bisa terjadi karena berbagai alasan:
- cahaya tidak dapat mencapai retina
- cahaya tidak terfokus sebagaimana mestinya pada retina
- retina tidak dapat merasakan cahaya secara normal
- kelainan penghantaran gelombang saraf dari retina ke otak
- otak tidak dapat menterjemahkan informasi yang dikirim oleh mata.

Beberapa penyakit yang bisa menyebabkan kebutaan:
# Katarak
# Kelainan refraksi
# Ablasio retina
# Retinitis pigmentosa
# Diabetes
# Degenerasi makuler
# Sklerosis multipel
# Tumor kelenjar hipofisa
# Glaukoma
# Kelainan pada daerah otak yang mengolah gelombang visuil akibat stroke, tumor atau penyakit lainnya.




B.      Mekanisme, patofisiologi, dan patogenesis infeksi mata
      Allergic conjunctivitis dikarenakan oleh respon immune tipe I kepada allergen. allergen berikatan dengan cell mast dan terjadi cross-linking dengan IgE, membuat degranulasi cell mast dan inisiasi cascade inflamasi. Ini membuat pelepasan histamine oleh cell mast, begitu juga mediator lain seperti tryptase, chymase, heparin, chondroitin sulphate, prostaglandins, thromboxane, and leukotrienes. Histamine dan bradykinin menstimulate nociceptors, membuat gatal, menaikan permiabilitas vascular, vasodilatasi, kemerahan, dan injeksi conjuctiva.

      Infective conjunctivitis terjadi sebagai hasil dari berkrangnya pertahanan dan kontaminasi dari luar. Infectious pathogen bisa menyerang dari darah atau kelenjar dan berkembang di conjunctival mucosal cells. Semua infeksi bacterial dan viral membuat leukocyte atau cascade inflamasi lymphe menarik sel darah putih dan merah ke  daerah infeksi. Sel darah putih ini mencapai permukaan conjuctiva dan berakumulasi disana bergerak melalui permiabilitas yang rendah dan dilatasi capiler.



C.      Faktor resiko penyakit mata merah
       biasanya pada anak anak, dan bisa sampe usia 25. sering terjadi pada orang orang yang berhubungan langsung dengan penderita atau orang orang yang bekerja pada lingkungan kering.

D.    
            Membedakan penyebab konjungtivitis karena virus, bakteri, jamur, dll
1.       Bacterial Conjunctivitis

Riwayat:
Konjungtivitis karena bakteri mempunyai beberapa varian berdasarkan dengan durasi nya. Ada yang hiperakut (12-24 jam), akut (kurang dari 4 minggu), kronis (lebih dari 4 minggu). Akut dan kronis biasanya terjadi unilateral atau hanya pada salah satu mata. Discharge yang keluar biasanya mulai dari bentuk mucoid yang ringan sampai moderat, atau mucopurulen. Gatal yang ringan biasa ditemui, jika gatal lebih dominan maka diduga alergi. Photophobia ringan. Pada sexual history pernah mengalami vaginitis, vicitis, atau urethritis yang mungkin ditemui pada kasus yang kronis.

Temuan Pemeriksaan:
-          Red injected eye
-          Purulen atau mucopurulen discharge
-          Pembengkakan kelopak mata
-          Chemosis: edema konjungtiva
-          Preaulicular lymphadenophaty: lebih biasa pada infeksi virus.
Treatment:
Hyperacute Conjunctivitis dan Gonococal Conjunctivitis
Jika ditemukan gram negatif diplococus pada pengecatan gram, dapat dirawat dengan ceftriaxone 1 g intra muscular
Acute Conjunctivitis
Jika tidak ada kontraindikasi bisa diberikan obat antibiotik spektrum luas. Contoh:Trimethoprim-polymixin QID, Ofloxacin QID, Ciprofloxacin QID, Bacitracin-erythromicin ointment QID
Chronic Conjunctivitis
Inklusi chlamidia konjungtivitis dirawat dengan
-          Oral antibiotik: doxycicline 100mg po BID; tetracicline 250-500 mg po QID; erythromicin 250-500 po BID atau clarythomicin 250-500 po BID
-          Salep topical: erythromicin, tetracicline, sulfacetamide 2-3 kali sehari selama 2-3 minggu.
2.       Viral Conjunctivitis
Riwayat:
Biasanya akut (kurangdari 4 minggu). Terjadi secara bilateral, tetapi diawali dengan infeksiunilateral dan setelah beberapa hari kemudian menjadi bilateral. Discharge biasanya berair dengan scant withish mucus. Gejala biasanya ada riwayat infeksi saluran pernafasan atas ataukontak dengan orang yang menderita mata merah. Gatal dan rasa panas serta photophobia ringan dapat dijumpai. Bisa ditemukan juga demam, biasanya dihubungkan dengan pharyngoconjunctival fever.

Temuan Pemeriksaan:
-          Kelopak yang merah dan membengkak
-          Preauricular limfonodi yang palpable
-          Folikel palpebra konjungtiva inferior
-          Discharge berair
DD: Corneal Ulcer, Anterior Chamber Cells, Hypopyon(pelapisan oleh sel darah putih pada ruang anterior)
Treatment:
-          Biasanyatreatmentsuportive karena self-limited
-          Air mata buatan tanpa pengawet 4-6 kali sehari
-          Jika gatal bisa diberikan naphazoline/pheniramine drop QID
-          Kompres dingin
-          Menasihati pasien bahwa penyakitnya sangat menular sehingga hindari menyentuh mata dan kurangi kontak dengan orang lain.
3.       Allergic Conjunctivitis
Riwayat:
Biasanya singkat dan pasien mempunyai riwayat alergi seperti alergi debu, serbuk sari, kotoran binatang, atau UV.
Gejala:
-          Gatal
-          Discharge berair
-          Mata merah
Temuan Pemeriksaan:
-          Mata merah
-          Stringy, discharge putih
-          Pembengkakan kelopak mata
-          Chemosis
-          Konjungtiva papilae
Treatment:
-          Hindari alergen
-          Kompres dingin
-          Air mata buatan tanpa pengawet 4-6 kali sehari dipadu dengan vasoconstrictor/antihistamine
-          Pertimbangkan antihistaminoral atau topical untuk kasus yang berat
4.       Subconjunctival Hemorrhage
Riwayat:
Trauma pada saat menggaruk mata, hipertensi, mempunyai riwayat kelainan pembekuan darah, pengobatan dengan aspirin, atau idiopatik.
Temuan Pemeriksaan:
-          Biasanya asimtomatik
-          Mata merah
-          Warna merah menyala dan gelap darah di bawah konjungtiva, biasanya sectoral
-          Jika ada perdarahan 3600 Subconjunctival hemorrhage maka harus mengeliminasi ruptur globe dulu.
Treatment:
-          Tidak ada treatmentyang dibutuhkan
-          Tetes mata buata
-          Obat antikoagulan dihentikan


E.       Diagnosis klinis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan tamban
hd   bacterial
       -historinya hyperacute (12-14jam), acute kurang dari 4 minggu, dan chronic lebih dari 4 minggu
       -akut dan kronik biasanya unilateral
       -biasanya ada discharge sebagai tanda mild sampai sedang
       -ada rasa gatal
       -chemosis
       -merah
       viral
       -inferior palpebral conjuctival follicles
       -biasanya acute
       -whitish mucose
       -preauiclar lymph node teraba
       -merah
       allergic
       -gatal
       -kelopak mata bengkaj
       -merah
       -preauriculer lymph tdk teraba
F.       Penatalaksanaan konjungtivitis (drug of choice, rasionalisasi terapi)
      
     Untuk viral: tetes mata acyclovoir atau trifluridine.
     Untuk allergic: tetes mata antihistamin seperti vasocon-A ata resep olopatadine ophthalmic dan anti hstamin oral bisa mengurangi gatalnya.
     Untuk bacterial: tetes mata sodium sulfacetamide atau azytromisin atau norfloxasin.
G.    
          Epidemiologi dan pencegahan konjungtivitis

Pencegahanya sebenarnya cukup simple, yaitu sering mencuci tanan dan jangan menggosok mata karena bisajadi tangan sedang kotor. Biasanya adenovirus yg juga bisa menyebabkan conjunctivitis kejadiianya tinggi pada musim panas, nah kebetulan kita sering bgt tuh musim panas, jadi hati” dengan debu kering yang berterbangan juga.

Penyebaran juga bisa melalui benda benda yang sering bersentuhan dengan mata kita, seperti bantal, tissue dan sapu tangan, jadi sebisa mungkin tidak saling meminjam dan menjaga kebersihanya.
Kalo memed mau lihat gambar-gambar mata sakit bisa dibuka di 


Sementara itu dulu ya....masih ada field yang masih kosong kandi learning objective, tapi insyaallah mimin Nata mau nambahin kok ntar. Indahny dunia jika kita berbagi..regards, Anti-Remed..

Kontributor:
GalihArya
JrNata


Referensi:
1.       Emergency Ophthalmology a Rapid Treatment Guide Kenneth C. Chern, MD
4.       http://i-comers.com/showthread.php?t=6926  
      http://bestpractice.bmj.com/ 
      http://www.umm.edu/altmed/articles/conjunctivitis-000040.htm
      

Jumat, 29 April 2011

URUTAN GARAP OSCE


Ini nih urutan garap laporan pas OSCE besok menurut mimin. Ni sih kemaren uda mimin tanyakan sama asdosnya, katanya sih diterima. Ni ni boleh disantap buat belajar OSCE.
1.      
Ciri-ciri preparat yang bagus
-          Punya kepala dan ekor
-          Tidak ada bintik lemak
-          Ekor tidak ada robekan
-          Tidak ada putus dan pecah
-          Berbentuk peluru
-          Merata
-          Preparat tidak kurang dari 1/3 kaca objek
2.       Semakin besar perbesaran nya maka condenser diputar supaya cahaya lebih terang
3.       Best area itu dmna eritrosit tidak bertumpuk (tidak selalu di area 5). Pake perbesaran 10x yaa..
4.       Pake perbesaran 40x. hitung estimasi jumlah leukosit. Normalnya 2-7/Lapang Pandang dengan melakukan 10 kali observasi dengan menggeser zig-zag 90o . hasil total dibagi 10 sejumlah dengn jumlah observasi.
5.       Pindah ke perbesaran 100x
6.       Sekarang setelah di perbesaran 100 urut kita lakukan observasi eritrosit, leukosit, dan trombositdi perbesaran 100 urut kita lakukan observasi eritrosit, leukosit, dan trombosit.
-          Eritrosit
Urut yang dilaporkan adalah ukuran, warna, dan bentuk.
a.       Ukuran
Terlihat makrositik, normositik, atau mikrositik
b.      Warna
Hipokromik ao normokromik
c.       Bentuk
Target cell, cigar, burr cell, dll

Penyebaran juga dilaporkan missal nya jika terjadi rouleaux.
Anisositosis: ukuran nya berbeda-beda
Poikilosistosis: bentuknya bermacam-macam
Anisopoikilositosis: bentuk dan ukuran bermacam-macam
-          Leukosit
Hitung jenis nya dilakukan pada perbesaran 100x dan dihitung sampai menemukan 100 sel. Setiap ketemu 10 pindah table yaa.
Pelaporan:
Eosinophil/basophil/neutrofil stab/neutrofil seg/lymph/monosit
1-4%          / 0-1%    /   2-5%            / 50-70%         / 20-40%/ 1-6%
Ditulis kesan normal, leukositosis, netrofilia dll
7.       Trus sekalian langsung dibedakan antara lymphoblast dan myeloblast jika diperlukan
-          Lymphoblast= sitoplasma tipis, kromatin lebih padat, biasanya inti nya terlihat bulat tidak ada lekukan yang hamper jadi segmen gitu.
-          Myeloblast= sitoplasma lebih besar dari lymphoblast, kromatin lebih tipis, kadang hampir bersegmen inti selnya.
-          Dilihat ada Limphosit Plasma Biru (ciri khas DHF) gak
-          Untuk membedakan antara lymphoblast dan myeloblast standarnya pake PAS atau SBB
8.       Langsung lanjut observasi trombosit pake perbesaran 100x
-          Estimasi jumlah
Jika ditemukan lebih dari 3/LP cukup dilakukan 10 kali aja, kalo kurang ya dilakukan 20 kali observasi.
Hasil total dibagi jumlah LP dikali 20.000, normalnya jumlah trombosit antara 150.000 – 400.000.
-          Ukuran
Makrotrombosit= seukuran dengan eritrosit
Giant trombosit= lebih besar dari eritrosit
-          Persebaran rata atau tidak,,kadang numpuk di ekor atau clumping
9.       Kesan
Yang ditulis pokoknya yang berhubungan dengan DD aja jangan semua.

Kesimpulan
Ditulis DD nya misalnya AML, ALL(biasanya pada anak2), CML, DHF, Thalasemia (sel target), anemia def besi(mikrositik hipokromik), infeksi virus (burr sel)

Saran
Infeksi virus= uji serologis
Anemia= TIBC dan Serum Fe
Thalasemia= Elektroforesis Hb F
Leukimia= Bone Marrow Puncture

Kalo menurut mimin sih laporannya urutannya cukup urut gitu aja. Kalo ada yang beda versinya boleh komen lho.

Lain-lain
Cara bedain leukemia akut atau kronis
Akut= Trombositopenia, sel blast lebih banyak
Kronik= trombosit normal atau trombositosis, banyak sel matur
Trias leukemia kronis:
1.       Anemia
2.       Trombositosis/normal
3.       Leukositosis
Trias leukemia akut
1.       Anemia
2.       Trombositopenia
3.       Leukositosis
 Untuk data-data lengkap bisa dilihat di fotokopian yang tadi dibagi-bagi. Indahnya berbagi bersama anti-remed. :D 

Kontributor : GalihArya

Rabu, 20 April 2011

SKENARIO 4: GOL. DARAH PART I


Selamat siang memed-memed sekalian, bertemu lagi dengan mimin disini, Oke mari kita bahas skenario ini ya med.
A.     SKENARIO
Profil
Laki-laki, 23 tahun, golongan darah A
Keluhan
Pasien datang ke UGD dengan kondisi fraktura femur.
Hasil Pemeriksaan Fisik
-          BP: 80/50                             HR: 120x/min
-          Terlihat pucat, agitasi (mudah marah), dan lemah
-          Hb: 9g/dl                              Hematocrit: 27%
Riwayat
-
Tindakan Dokter
Pemberian transfusi darah masih dipertimbangkan karena yang tersedia hanya golongan darah O. Dokter juga khawatir dengan akibat yang bisa terjadi karena transfusi.
B.      KEMUNGKINAN PERTANYAAN
1.       Apa yang terjadi pada pasien?
2.       Mengapa dokter khawatir jika harus melakukan transfusi darah pada kasus ini?
3.       Apakah memungkinkan pasien bergolongan darah A ditransfusi dengan golongan darah O?

C.      PEMBAHASAN
Menurut mimin sih skenario kali ini agak absurd. Masalahnya yang dibahas tu sangat-sangat dasar, yaitu golongan darah, transfusi darah, dan mungkin syok hipovolemia. Tapi yaudah deh, nih coba mimin kasih sedikit pencerahan.
Pasien ini kan femur nya fraktur luar, oleh karena itu bikin perdarahan hebat. Karena perdarahan yang banyak ini terjadilah syok hipovolemik. Tandanya syok tu tekanan darah turun, denyut nadi meningkat, agitasi, lemah, pucat, dll. Ini nih untuk penjelasan lebih lanjut mengenai syok hipovolemik.

SYOK
Syok adalah suatu sindrom klinis akibat kegagalan akut fungsi sirkulasi yang menyebabkan ketidakcukupan perfusi jaringan dan oksigenasi jaringan, dengan akibat gangguan mekanisme homeostasis. Berdasarkan penelitian Moyer dan Mc Clelland tentang fisiologi keadaan syok dan homeostasis, syok adalah keadaan tidak cukupnya pengiriman oksigen ke jaringan. Syok merupakan keadaan gawat yang membutuhkan terapi yang agresif dan pemantauan yang kontinyu atau terus-menerus di unit terapi intensif.
Syok secara klinis didiagnosa dengan adanya gejala-gejala seperti berikut:
1.      Hipotensi: tekanan sistole kurang dari 80 mmHg atau TAR (tekanan arterial rata-rata) kurang dari 60 mmHg, atau menurun 30% lebih.
2.      Oliguria: produksi urin kurang dari 20 ml/jam.
3.      Perfusi perifer yang buruk, misalnya kulit dingin dan berkerut serta pengisian kapiler yang jelek.
Syok dapat diklasifikasi sebagai syok hipovolemik, kardiogenik, dan syok anafilaksis. Di sini akan dibicarakan mengenai syok hipovolemik yang dapat disebabkan oleh hilangnya cairan intravaskuler, misalnya terjadi pada:
1.      Kehilangan darah atau syok hemoragik karena perdarahan yang mengalir keluar tubuh seperti hematotoraks, ruptura limpa, dan kehamilan ektopik terganggu.
2.      Trauma yang berakibat fraktur tulang besar, dapat menampung kehilangan darah yang besar. Misalnya, fraktur humerus menghasilkan 500-1000 ml perdarahan atau fraktur femur menampung 1000-1500 ml perdarahan.
3.      Kehilangan cairan intravaskuler lain yang dapat terjadi karena kehilangan protein plasma atau cairan ekstraseluler, misalnya pada:
1.      Gastrointestinal: peritonitis, pankreatitis, dan gastroenteritis.
2.      Renal: terapi diuretik, krisis penyakit Addison.
3.      Luka bakar (kombustio) dan anafilaksis.
Pada syok, konsumsi oksigen dalam jaringan menurun akibat berkurangnya aliran darah yang mengandung oksigen atau berkurangnya pelepasan oksigen ke dalam jaringan. Kekurangan oksigen di jaringan menyebabkan sel terpaksa melangsungkan metabolisme anaerob dan menghasilkan asam laktat. Keasaman jaringan bertambah dengan adanya asam laktat, asam piruvat, asam lemak, dan keton (Stene-Giesecke, 1991). Yang penting dalam klinik adalah pemahaman kita bahwa fokus perhatian syok hipovolemik yang disertai asidosis adalah saturasi oksigen yang perlu diperbaiki serta perfusi jaringan yang harus segera dipulihkan dengan penggantian cairan. Asidosis merupakan urusan selanjutnya, bukan prioritas utama.
Gejala dan Tanda Klinis
Gejala syok hipovolemik cukup bervariasi, tergantung pada usia, kondisi premorbid, besarnya volume cairan yang hilang, dan lamanya berlangsung. Kecepatan kehilangan cairan tubuh merupakan faktor kritis respons kompensasi. Pasien muda dapat dengan mudah mengkompensasi kehilangan cairan dengan jumlah sedang dengan vasokonstriksi dan takhikardia. Kehilangan volume yang cukp besar dalam waktu lambat, meskipun terjadi pada pasien usia lanjut, masih dapat ditolerir juga dibandingkan kehilangan dalam waktu yang cepat atau singkat.
Apabila syok telah terjadi, tanda-tandanya akan jelas. Pada keadaan hipovolemia, penurunan darah lebih dari 15 mmHg dan tidak segera kembali dalam beberapa menit. Adalah penting untuk mengenali tanda-tanda syok, yaitu:
1.      Kulit dingin, pucat, dan vena kulit kolaps akibat penurunan pengisian kapiler selalu berkaitan dengan berkurangnya perfusi jaringan.
2.      Takhikardia: peningkatan laju jantung dan kontraktilitas adalah respons homeostasis penting untuk hipovolemia. Peningkatan kecepatan aliran darah ke mikrosirkulasi berfungsi mengurangi asidosis jaringan.
3.      Hipotensi: karena tekanan darah adalah produk resistensi pembuluh darah sistemik dan curah jantung, vasokonstriksi perifer adalah faktor yang esensial dalam mempertahankan tekanan darah. Autoregulasi aliran darah otak dapat dipertahankan selama tekanan arteri turun tidak di bawah 70 mmHg.
4.      Oliguria: produksi urin umumnya akan berkurang pada syok hipovolemik. Oliguria pada orang dewasa terjadi jika jumlah urin kurang dari 30 ml/jam.
Pada penderita yang mengalami hipovolemia selama beberapa saat, dia akan menunjukkan adanya tanda-tanda dehidrasi seperti: (1) Turunnya turgor jaringan; (2) Mengentalnya sekresi oral dan trakhea, bibir dan lidah menjadi kering; serta (3) Bola mata cekung.
Akumulasi asam laktat pada penderita dengan tingkat cukup berat, disebabkan oleh metabolisme anaerob. Asidosis laktat tampak sebagai asidosis metabolik dengan celah ion yang tinggi. Selain berhubungan dengan syok, asidosis laktat juga berhubungan dengan kegagalan jantung (decompensatio cordis), hipoksia, hipotensi, uremia, ketoasidosis diabetika (hiperglikemi, asidosis metabolik, ketonuria), dan pada dehidrasi berat.
Tempat metabolisme laktat terutama adalah di hati dan sebagian di ginjal. Pada insufisiensi hepar, glukoneogenesis hepatik terhambat dan hepar gagal melakukan metabolisme laktat. Pemberian HCO3 (bikarbonat) pada asidosis ditangguhkan sebelum pH darah turun menjadi 7,2. Apabila pH 7,0-7,15 dapat digunakan 50 ml NaHCO3 8,4% selama satu jam. Sementara, untuk pH < 7,0 digunakan rumus 2/2 x berat badan x kelebihan basa.
Pemeriksaan Laboratorium – Hematologi
Pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat untuk menentukan kadar hemoglobin dan nilai hematokrit. Akan tetapi, resusitasi cairan tidak boleh ditunda menunggu hasil pemeriksaan. Hematokrit pasien dengan syok hipovolemik mungkin rendah, normal, atau tinggi, tergantung pada penyebab syok.
Jika pasien mengalami perdarahan lambat atau resusitasi cairan telah diberikan, nilai hematokrit akan rendah. Jika hipovolemia karena kehilangan volume cairan tubuh tanpa hilangnya sel darah merah seperti pada emesis, diare, luka bakar, fistula, hingga mengakibatkan cairan intravaskuler menjadi pekat (konsentarted) dan kental, maka pada keadaan ini nilai hematokrit menjadi tinggi.
Diagnosa Differensial
Syok hipovolemik menghasilkan mekanisme kompensasi yang terjadi pada hampir semua organ tubuh. Hipovolemia adalah penyebab utama syok pada trauma cedera. Syok hipovolemik perlu dibedakan dengan syok hipoglikemik karena penyuntikan insulin berlebihan. Hal ini tidak jarang terjadi pada pasien yang dirawat di Unit Gawat Darurat.
Akan terlihat gejala-gejala seperti kulit dingin, berkeriput, oliguri, dan takhikardia. Jika pada anamnesa dinyatakan pasien sebelumnya mendapat insulin, kecurigaan hipoglikemik sebaiknya dipertimbangkan. Untuk membuktikan hal ini, setelah darah diambil untuk pemeriksaan laboratorium (gula darah sewaktu), dicoba pemberian 50 ml glukosa 50% intravena atau 40 ml larutan dextrose 40% intravena.
Resusitasi Cairan
Manajemen cairan adalah penting dan kekeliruan manajemen dapat berakibat fatal. Untuk mempertahankan keseimbangan cairan maka input cairan harus sama untuk mengganti cairan yang hilang. Cairan itu termasuk air dan elektrolit. Tujuan terapi cairan bukan untuk kesempurnaan keseimbangan cairan, tetapi penyelamatan jiwa dengan menurunkan angka mortalitas.
Perdarahan yang banyak (syok hemoragik) akan menyebabkan gangguan pada fungsi kardiovaskuler. Syok hipovolemik karena perdarahan merupakan akibat lanjut. Pada keadaan demikian, memperbaiki keadaan umum dengan mengatasi syok yang terjadi dapat dilakukan dengan pemberian cairan elektrolit, plasma, atau darah.
Untuk perbaikan sirkulasi, langkah utamanya adalah mengupayakan aliran vena yang memadai. Mulailah dengan memberikan infus Saline atau Ringer Laktat isotonis. Sebelumnya, ambil darah ± 20 ml untuk pemeriksaan laboratorium rutin, golongan darah, dan bila perlu Cross test. Perdarahan berat adalah kasus gawat darurat yang membahayakan jiwa. Jika hemoglobin rendah maka cairan pengganti yang terbaik adalah tranfusi darah.
Resusitasi cairan yang cepat merupakan landasan untuk terapi syok hipovolemik. Sumber kehilangan darah atau cairan harus segera diketahui agar dapat segera dilakukan tindakan. Cairan infus harus diberikan dengan kecepatan yang cukup untuk segera mengatasi defisit atau kehilangan cairan akibat syok. Penyebab yang umum dari hipovolemia adalah perdarahan, kehilangan plasma atau cairan tubuh lainnya seperti luka bakar, peritonitis, gastroenteritis yang lama atau emesis, dan pankreatitis akuta.
Pemilihan Cairan Intravena
Pemilihan cairan sebaiknya didasarkan atas status hidrasi pasien, konsentrasi elektrolit, dan kelainan metabolik yang ada. Berbagai larutan parenteral telah dikembangkan menurut kebutuhan fisiologis berbagai kondisi medis. Terapi cairan intravena atau infus merupakan salah satu aspek terpenting yang menentukan dalam penanganan dan perawatan pasien.
Terapi awal pasien hipotensif adalah cairan resusitasi dengan memakai 2 liter larutan isotonis Ringer Laktat. Namun, Ringer Laktat tidak selalu merupakan cairan terbaik untuk resusitasi. Resusitasi cairan yang adekuat dapat menormalisasikan tekanan darah pada pasien kombustio 18-24 jam sesudah cedera luka bakar.
Larutan parenteral pada syok hipovolemik diklasifikasi berupa cairan kristaloid, koloid, dan darah. Cairan kristaloid cukup baik untuk terapi syok hipovolemik. Keuntungan cairan kristaloid antara lain mudah tersedia, murah, mudah dipakai, tidak menyebabkan reaksi alergi, dan sedikit efek samping. Kelebihan cairan kristaloid pada pemberian dapat berlanjut dengan edema seluruh tubuh sehingga pemakaian berlebih perlu dicegah.
Larutan NaCl isotonis dianjurkan untuk penanganan awal syok hipovolemik dengan hiponatremik, hipokhloremia atau alkalosis metabolik. Larutan RL adalah larutan isotonis yang paling mirip dengan cairan ekstraseluler. RL dapat diberikan dengan aman dalam jumlah besar kepada pasien dengan kondisi seperti hipovolemia dengan asidosis metabolik, kombustio, dan sindroma syok. NaCl 0,45% dalam larutan Dextrose 5% digunakan sebagai cairan sementara untuk mengganti kehilangan cairan insensibel.
Ringer asetat memiliki profil serupa dengan Ringer Laktat. Tempat metabolisme laktat terutama adalah hati dan sebagian kecil pada ginjal, sedangkan asetat dimetabolisme pada hampir seluruh jaringan tubuh dengan otot sebagai tempat terpenting. Penggunaan Ringer Asetat sebagai cairan resusitasi patut diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi hati berat seperti sirosis hati dan asidosis laktat. Adanya laktat dalam larutan Ringer Laktat membahayakan pasien sakit berat karena dikonversi dalam hati menjadi bikarbonat.
Secara sederhana, tujuan dari terapi cairan dibagi atas resusitasi untuk mengganti kehilangan cairan akut dan rumatan untuk mengganti kebutuhan harian

GOLONGAN DARAH
Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah ABO dan Rhesus (faktor Rh). Di dunia dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hany saja jarang dijumpai.
Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, sok dan kematian.

PENGGOLONGAN  ABO

Golongan Darah A
Memiliki sel darah merah dengan antigen A di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum darahnya.
Orang dengan golongan darah A-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif  atau O-negatif.

Golongan Darah B
Memiliki antigen B pada permukaan sel darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya. 
Orang dengan golongan darah B-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah B-negatif atau O-negatif

Golongan Dara AB
Memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antaigen A maupun B.
Orang dengan golongan darah AB-positif dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebutresipien universal. Namun orang dengan golongan darah AB-positif tidak dapat mendonorkan  darah kecuali pada sesama AB-positif.

Golongan Darah O
Memiliki sel darah tanpa antigen, tapi memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B.
Orang dengan golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan golongan darah ABO apapun dan sisebur donor universal. Namun orang dengan golongan darah O-negatif hanya dapat menerima darah dari sesama O-negatif.




Ilmuwan Austria, Karl Landsteiner, memperoleh penghargaan Nobel dalam bidang Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1930 untuk jasanya menemukan cara penggolongan darah ABO.

Pewarisan Golongan Darah 
1. Orang tua  O dan  O,  maka anak kemungkinan : O
2. Orang tua O dan  A, maka anak kemungkinan : O atau A
3. Orang tua O dan  B, maka anak kemungkinan : O atau B
4. Orang tua O dan  AB, maka anak kemungkinan : A atau B 
5. Orang tua A dan A, maka anak kemungkinan : O atau A
6. Orang tua A dan B, maka anak kemungkinan : O, A, B, atau AB
7. Orang tua A dan AB, maka anak kemungkinan : A, B atau AB
8. Orang tua B dan B, maka anak kemungkinan : O atau B
9. Orang tua B dan AB, maka anak kemungkinan : A, B atau AB
10. Orang tua AB dan AB, maka anak kemungkinan : A, B atau AB



PENGGOLONGAN RHESUS (FAKTOR Rh)
Jenis penggolongan darah lain yang cukup dikenal adalah dengan memanfaatkan faktor Rhesus atau faktor Rh. Nama ini diperoleh dari monyet jenis Rhesus yang diketahui memiliki faktor ini pada tahun 1940 oleh Karl Landsteiner. Seseorang yang tidak memiliki faktor Rh di permukaan sel darah meerahnya memilihi golongan darah Rh-. Mereka yang memiliki faktor Rh pada permukaan sel darah merahnya disebut memiliki golongan darah Rh+. Jenis penggolongan ini sering digabungkan dengan penggolongan ABO. Golongan darah O+ adalah yang paling umum dijumpai, meskipun pada daerah tertentu golongan A lebih dominan, dan ada pula beberapa daerah dengan 80% populasi dengan golongan darah B.
Kecocokan faktor Reshus sangat penting karena ketidakcocokan golongan (misal : donor dengan Rh+ sedangkan resipiennya Rh-) dapat menyebabkan produksi antibodi terhadap antigen Rd(D) yang mengakibatkan hemolisis. Hal ini terutama terjadi pada perempuan yang pada atau dibawah usia melahirkan karena faktor Rh dapat mempengaruhi janin pada saat kehamilan.

GOLONGAN DARAH LAINNYA
1. Diego positif yang ditemukan hanya pada orang Asia Selatan dan pribumi Amerika.
2. Dari sistem MNS didapat golongan darah M,N dan MN, Berguna untuk tes kesuburan
3. Duffy negatif yang ditemukan di populasi Afrika
4. Sistem Lutherans yang mendeskripsikan satu set 21 antigen
5. Sistem lainnya meliputi : Colton, Kell, Kidd,Lewis, Landsteiner-Wiener, P, Yt atau Cartwright, XG, Scianna, Dombrock, Chido/Rodgers, Kx, gerbich, Knops, Indian, Ok, Raph  dan JMH
Blood Group
Antigens
Antibodies
Can give blood to
Can receive blood from
AB Rh+
A, B and Rh
None
AB Rh+
AB Rh+
AB Rh - 
A Rh+
A Rh - 
B Rh+
B Rh - 
0 Rh+
0 Rh -
AB Rh -
A and B
None
(Can develop Rh antibodies)
AB Rh - 
AB Rh+
AB Rh - 
A Rh -
B Rh -
0 Rh -
A Rh+
A and Rh
B
A Rh+
AB Rh+
A Rh+
A Rh - 
0 Rh+
0 Rh -
A Rh -
A
B
(Can develop Rh antibodies)
A Rh - 
A Rh+
AB Rh - 
AB Rh+
A Rh - 
0 Rh -
B Rh+
B and Rh
A
B Rh+
AB Rh+
B Rh+
B Rh - 
0 Rh+
0 Rh-
B Rh -
B
A
(Can develop Rh antibodies)
B Rh-
B Rh+
AB Rh-
AB Rh+
B Rh - 
0 Rh -
0 Rh+
Rh
A and B
0 Rh+
A Rh+
B Rh+
AB Rh+





0 Rh+
0 Rh -
0 Rh -
None
A and B (Can develop Rh antibodies)
AB Rh+
AB Rh - 
A Rh+
A Rh - 
B Rh+
B Rh - 
0 Rh+
0 Rh -
0 Rh - 

Apasih yang terjadi kalo darah berkoagulasi? Yang paling bahaya tu kalo antigen antibodi nya cocok dan bertemu, akhirnya membuatjendalan darahdan akan menyumbat pembuluh darah. Penyumbatan akan menyebabkan peredaran darah berhenti dan kalo itu terjadi maka akan fatal akibatnya. Makanya transfusi darah tu ada indikasinya.

INDIKASI
Pasien tidak memerlukan transfuse darah kecuali HB kurang dari 8g/dl. Pengecualian dari kondisi ini adalah pasien dengan penyakit jantung atau geriatric. Pasien berikut tadi dapat diberikan transfuse darah apabila 9g/dl. Dan apabila psien sudah kekurangan oygen. Atau 1 atau 2 dari berikut:
1.       Estimasi atau antisipasi dari kehilangan darah >15% dari total volume darah (750ml pada pria 70kg)
2.       Diastolic blood pressure <60 mmhg
3.       Systolic blood pressure jatuh hingga >30mm Hg dari baseline
4.       Tachycardia (>100x/m)
5.       Oliguria/anuria
6.       Status mental berubah

COMPONENT DARAH YANG TERSEDIA

Sel darah merah
Packed RBC menyediakan pembawa oxygen dan menjaga distribusi oxygen yang cukup untuk volume intravascular dan fungsi jantung yang cukup. Penggunaanya juga tergantung pada kondisi yang membutuhkan.
Platelet
Transfuse platelet diindikasikan dengan perdarahan akibat dari thrombocytopenia atau disfungsi dari platelet. Pasien dewasa yang sedang operasi memerlukan 10 unit darah dan perdarahan microvascular juga memerlukan platelet agar hemostasis tetap terjaga.
Granulocyte plasma
Transfuse granulocyte plasma diberika pana gronulocytopenia (<500/mm) dengan adanya infeksi dan tidak merespon antibiotic. Transfuse biasanya dihentikan hingga infeksi dapat terkendali dan >1000/mm.
Plasma
Plasma digunakan untuk coagulopathy. Atau telah terjadinya disfungdi liver transfuse karena kurangnya factor darah, dan lain lain. 1 unit plasma mengandung hapir seua factor darah termasuk 400mg fibrinogen dan factor darah bias meningkat hingga 3%.
Cyroprecipitate
Ini digunakan untuk pasien dengan kekurangan factor, VWD, dan hypofibrinogenemia dan bias membantu perdarahan uremic. Setiap 5-15 ml unit mengandung lebih dari 80 unit factor F VIII dan 200mg fibrinogen.


Oke deh sekian dulu untuk pembahasan di part I. Semoga membantu, kalo pengen komen atau kritik saran boleh lho, tapi kayaknya sih sepi ni ya belakangan. gak apa apa tapi, mimin-mimin selalu setia menemani. Indahnya dunia jika kita berbagi. Indahnya dunia jika kita berbagi. Anti-Remed setia mendampingi. :D

REFERENSI
1.      Sabiston Textbook of Surgery 18th Edition
KONTRIBUTOR
1.      GalihArya
2.      JrNata