Senin, 06 Februari 2012

Tutorial blok 16 skenario 1

A 5 YO boy, cough, cold, sore throat, and have fever since 3 days ago. He does not experience vomit, diarrhea, and skin redness.

  1. Differential diagnose

Infeksi saluran nafas atas

Infeksi ini mengenai rongga hidung, faring, dan laring. Infeksi ini mencangkup common cold, farigitis (sore throat), laryngitis dan influenza tanpa komplikasi. Sebagian besar disebabkan karena virus walaupun bakteri juga kadang terlibat(sekunder). Akibat infeksi ini makan terjadi respon immune aktif makan aka nada pembengkakn dan edema. Reaksi peradangan menyebabkan peningkatan pembentukan mucus makan akan terjadi pilek, hidung tersumbat, dan sputum berlebih. Nyeri kepala, demam ringan dn malase juga timbul akibat respon peradangan.

Terdapat banyak proteksi untuk menginfeksi saluran nafas. Reflex batuk gunanya untuk mengeluarkan benda asing dan mikro organism, dan membuang mucus yabg tertimbun. Terdapat lapisan mukosiliaris yang terdiri dari sel sel dan berlokasi dari brongkus ke atas yang menghasilkan mucus dan sel sel silia yang melapisi si penghasil mucus itu. Silia bergerak secara ritmis untuk mendorong mucus dan organism yang terperangkap di mucus itu ke nasopharing tenpat mucus itu di keluarkan sebagai sputum meds, nah keluarnya ya melalui hidung atau di telan. Proses ini disebut escalator mukosiliaris.

Definisi batuk :

  • inspirasi singkat
  • glottis akan menutup dengan cepat (peningkatan intratoraks)
  • ekspirasi yg kuat
  • glotis terbuka
  • udara dari saluran bawah akan terdorong ke atas
  • terjadi bersaman dg pembukan glotis dan nasofaring tertutup oleh palatum mole

Mekanisme batuk :

Ada 3 fase, INSPIRASI, KOMPRESI, EKSPIRASI

  1. Fase inspirasi
    Pada fase ini terjadi beberapa kontraksi. Pertama kontraksi diafragma (pada tahap kontraksi ini diameter vertikal rongga toraks membesar). Dilanjutkan dengan kontraksi m. Interkostalis dan serratus posterior yg membuat kosta terangkat dan diameter ronga thoraks membesar. Dan terjadi pula kontraksi m. Scaleni, sternokleudomastoideus, romboid, serratus anticus, trapezius dan pectoralis (pokonya otot2 yg membantu pernafasan)
  2. Fase kompresi
    Glotis tertutup yg fungsinya meningkatkan tekanan.
    Diafragma relaksasi (terangkat)
    Kontraksi otot melawan glotis yg tertutup
  3. Fase ekspirasi
    kontraksi otot2 ekspirasi dan otot2 abdomen untuk membuka glotis
    kombinasi perbedan tekanan yg besar antara saluran pernafasan dan atmosfer plus penyempitan trakhea
    Aliran udara melalui trakhea dengan kecepatn tinggi untuk mengeluarkan mukus dan benda asing

Adenoids and tonsils memiliki sel imun yang berespon pada pathogens. Humoral immunity (immunoglobulin A) dan imunitas selular beraksi untuk mengurangi infeksi pada seluruh saluran nafas. Sell sell ini mengajak sang macrophages, monocytes, neutrophils, dan eosinophils berkoordinasi untuk mengusir si penyerang saluran meds. Nah agen inflamasi cytokines memediasi imun system untuk merespon pathogen. Flora normal nasopharing, termasuk berbagai species seperti staphylococcal dan streptococcal , membantu bertahan terhadap pathogen.

Table. Symptoms of Allergies, URIs, and Influenza

Symptom

Allergy

URI

Influenza

Itchy, watery eyes

common

rare; conjunctivitis may occur with adenovirus

soreness behind eyes, sometimes conjunctivitis

Nasal discharge

common

common

common

Nasal congestion

common

common

sometimes

Sneezing

very common

very common

sometimes

Sore throat

sometimes (postnasal drip)

very common

sometimes

Cough

sometimes

common, mild to moderate, hacking cough

common, dry cough, can be severe

Headache

uncommon

rare

Common

Fever

Never

rare in adults, possible in children

very common, 100-102°F or higher (in young children), lasting 3-4 days; may have chills

Malaise

sometimes

sometimes

very common

Fatigue, weakness

sometimes

sometimes

very common, can last for weeks, extreme exhaustion early in course

Myalgias

Never

slight

very common, often severe

Duration

Weeks

3-14 days

7 days, followed by additional days of cough and fatigue


 

Bacterial pharyngitis

History taking untuk membedakan viral atau bactery jarang di sarankan. Jika gejala sampa lebih dari 10 hari, atau secara progressive menjadi parah pada 5-7 hari pertama maka ini cenderung ke bacterial. Fever increases the suspicion for infection with group A streptococci, as does the absence of cough, rhinorrhea, and conjunctivitis, because these are common in viral syndromes. Other factors include occurrence from November through May and a patient age of 5-15 years.

  • Pharyngeal symptoms: sore throat, odynophagia, atau dysphagia itu umumnya ada. Jika uvula atau posterior pharynx itu terinflamasimaka ada sensasi kurang nyaman saat menelan. Sumbatan hidung bikin nafasnya lewat mulut, dan mulutnya jd kering, apalagi pas bangun meds. infeksi Group A streptococcal SERING bikin sore throat mendadak atau akut.
  • sekresi: kental dan kuning, tapi tidak bisa membedakan mana infeksi virus atau mana yang bacteri.
  • Cough/batuk: ini karena ke ikut sertaan laring atau sindrom saluran nafas atas berhubungan dengan post nasal drip
  • Nafastak sedap: dapat terjadi karena flora normal yang ikut dalam proses inflamasi.
  • Headache/sakit kepala: umum dengan adanya infeksi group A streptococci dan mycoplasma.
  • Fatigue/ malaise: ini terdapat pada infeksi saluran nafas mana aja. Tapi kalo malase kebangetan itu krn influenza.
  • Fever: temperatures bisa sampe 38.9°C (102°F) pada bayi dan anak.
  • Rash: dapat terjadi dengan infeksi group A streptococcal, umumnya pada anak kurang dari 18 tahun.
  • Sakit perut: gejala ini dapat terjadi pada infeksi streptococcal atau dengan influenza dan penyakit krn virus.

Meds, ini belom kelar. Kalo mau nambah2 juga gpp. Nanti insya allah masih diupdate J

Tutorial Blok 4 Sk.1 Demam (Hipertermia)

Skenario 1 Tutorial Blok 4
Tentang Demam
Author : Didit dan Velly
Seorang peziarah (haji) laki-laki berumur 68 tahun mengikuti thawaf ditengah hari. Saat diputaran ke enam dari ritual, dia merasa gelisah dan kemudian terjatuh (pingsan). Teman-temannya menolongnya dan langsung membawanya ke tepi. Ketika tubuhnya disentuh, rasanya panas. Petugas haji menyadarkannya dengan cara memercikkan air zam-zam. (Author : Didit dan Velly) Sebelum thawaf dia hanya meminum sedikit air karena ia merasa takut ingin kencing ketika thawaf.

        I.            Clarifying Unfamiliar Terms :
v  Hajj/Haji : suatu ritual yang dilakukan oleh umat muslim (islam) diseluruh dunia dengan berkumpul di baitullah pada sekitar bulan syawal.
v  Thawaf : suatu ritual dalam ibadah haji umat islam dengan cara memutari ka’bah sebanyak 7kali dengan tujuan member salam kepada kiblatullah.
v  Terjatuh (pingsan)/fall : suatu kondisi kehilangan kesadaran yang mendadak, dan biasanya sementara, yang disebabkan oleh kurangnya aliran darah dan oksigen ke otak.
v  Terasa panas/hot : kalau dalam proses inflamasi dikenal dengan istilah kalor (panas), tapi karena suhu panas disini bukan akibat dari inflamasi berarti yang dimaksud panas disini ialah meningkatnya suhu tubuh lebih dari suhu normal, mungkin karena pengaruh lingkungan atau bahkan mungkin ada factor internal.
v  Air zam-zam : air yang diperoleh dari sumur zam-zam yang menurut kepercayaan umat islam memiliki berbagai macam khasiat.

      II.            Problem Definition :
1.      Mengapa peziarah (haji) tersebut merasa gelisah dan kemudian pingsan?
2.      Mengapa tubuh peziarah (haji) tersebut terasa panas?
3.      Apa tujuan petugas haji memercikkan air zam-zam ke laki-laki tersebut?
4.      Apakah lingkungan mempengaruhi si laki-laki tersebut hingga pingsan?
5.      Jelaskan mekanisme tentang demam!
6.      Jelaskan mekanisme tentang dehidrasi!
7.      Faktor-faktor penyebab dehidrasi!
8.      Faktor-faktor penyebab demam!
9.      Pengertian hipertermia dan hubungannya dengan demam!
10.  Hubungan dehidrasi dengan demam!
11.  Apa hubungannya sedikit minum dengan pingsan!

    III.            Intermezzo
1)      Pengertian dan mekanisme demam!
Demam atau dalam bahasa medis disebut dengan febris merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan suhu tubuh, dimana suhu tersebut melebihi dari suhu tubuh normal. Suhu normal tubuh manusia berkisar antara 36.5-37.2 ˚C. Suhu subnormal yaitu <36.5 ˚C, Hipotermia merupakan suhu <35 ˚C. Demam terjadi jika suhu >37.2 ˚C. Hiperpireksia merupakan suhu ≥41.2 ˚C.
Terdapat perbedaan pengukuran suhu di oral, aksila, dan rectal sekitar 0.5 ˚C; suhu rectal > suhu oral > suhu aksila.
Bila diukur pada rektal >38°C (100,4°F), diukur pada oral >37,8°C, dan bila diukur melalui aksila >37,2°C (99°F). (Schmitt, 1984). Sedangkan menurut NAPN (National Association of Pediatrics Nurse) disebut demam bila bayi berumur kurang dari 3 bulan suhu rektal melebihi 38° C. Pada anak umur lebih dari 3 bulan suhu aksila dan oral lebih dari 38,3° C. (Author : Didit dan Velly)
Demam mengacu pada peningkatan suhu tubuh yang berhubungan langsung dengan tingkat sitokin pirogen yang diproduksi untuk mengatasi berbagai rangsang, misalnya terhadap toksin bakteri, peradangan, dan ransangan pirogenik lain. Bila produksi sitokin pirogen secara sistemik masih dalam batas yang dapat ditoleransi maka efeknya akan menguntungkan tubuh  secara keseluruhan, tetapi bila telah melampaui batas kritis tertentu maka sitokin ini membahayakan tubuh.  Batas kritis sitokin pirogen sistemik tersebut sejauh ini belum diketahui. (Sherwood, 2001).
2)      Mekanisme Demam
Suhu tubuh kita diatur oleh sebuah “mesin khusus” pengatur suhu yang terletak di otak tepatnya di bagian hipotalamus tepatnya dibagian pre optik anterior (pre = sebelum, anterior= depan) Hipotalamus sendiri merupakan bagian dari deinsephalon yang merupakan bagian dari otak depan kita (prosencephalon).
Hipotalamus dapat dikatakan sebagai mesin pengatur suhu (termostat tubuh) karena disana terdapat reseptor (penangkap, perantara) yang sangat peka terhadap suhu yang lebih dikenal dengan nama termoreseptor (termo = suhu). Dengan adanya termorespetor ini, suhu tubuh dapat senatiasa berada dalam batas normal yakni sesuai dengan suhu inti tubuh. Suhu inti tubuh merupakan pencerminan dari kandungan panas yang ada di dalam tubuh kita. Kandungan panas didapatkan dari pemasukan panas yang berasal dari proses metabolisme makanan yang masuk ke dalam tubuh. Pada umumnya suhu inti berada dalam batas 36,5-37,5°C.
Dalam berbagai aktivitas sehari-hari, tubuh kita juga akan mengelurakan panas misalnya saat berolahraga. Bilamana terjadi pengeluraan panas yang lebih besar dibandingkan dengan pemasukannya, atau sebaliknya maka termostat tubuh itu akan segera bekerja guna menyeimbangkan suhu tubuh inti. (Author : Didit dan Velly)
Bila pemasukan panas lebih besar daripada pengeluarannya, maka termostat ini akan memerintahkan tubuh kita untuk melepaskan panas tubuh yang berlebih ke lingkungan luar tubuh salah satunya dengan mekanisme berkeringat.
Dan bila pengeluaran panas melebihi pemasukan panas, maka termostat ini akan berusaha menyeimbakan suhu tersebut dengan cara memerintahkan otot-otot rangka kita untuk berkontraksi(bergerak) guna menghasilkan panas tubuh. Kontraksi otot-otok rangka ini merupakan mekanisme dari menggigil.
Contohnya, seperti saat kita berada di lingkungan pegunungan yang hawanya dingin, tanpa kita sadari tangan dan kaki kita bergemetar (menggigil). Hal ini dimaksudkan agar tubuh kita tetap hangat. Karena dengan menggigil itulah, tubuh kita akan memproduksi panas.
Hal diatas tersebut merupakan proses fisiologis (keadaan normal) yang terjadi dalam tubuh kita manakala tubuh kita mengalamiperubahan suhu.
Lain halnya bila tubuh mengalami proses patologis (sakit). Proses perubahan suhu yang terjadi saat tubuh dalam keadaan sakit lebih dikarenakan oleh “zat toksis (racun)” yang masuk kedalam tubuh.
Umumnya, keadaan sakit terjadi karena adanya proses peradangan (inflamasi) di dalam tubuh. Proses peradangan itu sendiri sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan dasar tubuh terhadap adanya serangan yang mengancam keadaan fisiologis tubuh.
Proses peradangan diawali dengan masuknya “racun” kedalam tubuh kita. Contoh “racun”yang paling mudah adalah mikroorganisme penyebab sakit.
Mikroorganisme (MO) yang masuk ke dalam tubuh umumnya memiliki suatu zat toksin/racun tertentu yang dikenal sebagai pirogen eksogen. Dengan masuknya MO tersebut, tubuh akan berusaha melawan dan mencegahnya yakni dengan memerintahkan “tentara pertahanan tubuh” antara lain berupa leukosit, makrofag, dan limfosit untuk memakannya (fagositosit). (Author : Didit dan Velly)
Dengan adanya proses fagositosit ini, tentara-tentara tubuh itu akan mengelurkan “senjata” berupa zat kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen (khususnya interleukin 1/ IL-1) yang berfungsi sebagai anti infeksi. Pirogen endogen yang keluar, selanjutnya akan merangsang sel-sel endotel hipotalamus (sel penyusun hipotalamus) untuk mengeluarkan suatu substansi yakni asam arakhidonat. Asam arakhidonat bisa keluar dengan adanya bantuan enzim fosfolipase A2.
Proses selanjutnya adalah, asam arakhidonat yang dikeluarkan oleh hipotalamus akan pemacu pengeluaran prostaglandin (PGE2). Pengeluaran prostaglandin pun berkat bantuan dan campur tangan dari enzim siklooksigenase (COX). Pengeluaran prostaglandin ternyata akan mempengaruhi kerja dari termostat hipotalamus.
Sebagai kompensasinya, hipotalamus selanjutnya akan meningkatkan titik patokan suhu tubuh (di atas suhu normal). Adanya peningkatan titik patakan ini dikarenakan mesin tersebut merasa bahwa suhu tubuh sekarang dibawah batas normal. Akibatnya terjadilah respon dingin/ menggigil. Adanya proses mengigil ini ditujukan utuk menghasilkan panas tubuh yang lebih banyak. Adanya perubahan suhu tubuh di atas normal karena memang “setting” hipotalamus yang mengalami gangguan oleh mekanisme di atas inilah yang disebut dengan demam atau febris. Demam yang tinggi pada nantinya akan menimbulkan manifestasi klinik (akibat) berupa kejang (umumnya dialami oleh bayi atau anak-anak yang disebut dengan kejang demam)
Dengan memahami mekanisme sederhana dari proses terjadinya demam diatas, maka salah satu tindakan pengobatan yang sering kita lakukan adalah mengompres kepala dan meminum obat penurun panas misal yang sangat familiar adalah parasetamol. (Author : Didit dan Velly)
3)      Pengertian dan mekanisme dehidrasi
Dehidrasi adalah berkurangnya cairan tubuh total, terdiri dari :
a)      Dehidrasi hipertonik yaitu : hilangnya air lebih banyak dari natrium.Dehidrasi hipertonik ditandai dengan tingginya kadar natrium serum (lebih dari 145 mmol/liter)dan peningkatan osmolalitas efektif serum (lebih dari 285 mosmol/liter).
b)      Dehidrasi isotonik yaitu : hilangnya air dan natrium dalam jumlah yang sama.Dehidrasi isotonik ditandai dengan normalnya kadar natrium serum (135-145 mmol/liter) danosmolalitas efektif serum (270-285 mosmol/liter).
c)      Dehidrasi hipotonik yaitu : hilangnya natrium yang lebih banyak dari pada air. Dehidrasi hipotonik ditandai dengan rendahnya kadar natrium serum (kurang dari 135mmol/liter) dan osmolalitas efektif serum (kurang dari 270 mosmol/liter).
Kekurangan cairan atau dehidrasi terjadi jika cairan yang dikeluarkan tubuh melebihi cairan yangmasuk. Tentu, mekanisme tubuh manusia yang sangat dinamis menjaga manusia untuk terhindar dari kekurangan banyak cairan.Ketika keseimbangan cairan dalam tubuh mulai terganggu, misalnya rasa haus akan muncul.Tubuh lalu menghasilkan hormon anti-diuretik (ADH) untuk mereduksi produksi kencing diginjal. Tujuannya menjaga agar cairan yang keluar tidak banyak. Nah, air yang kita minumumumnya cukup untuk mengganti cairan yang hilang saat beraktivitas normal seperti bernapas, berkeringat, buang air kecil, atau buang air besar.
Ketika keseimbangan cairan dalam tubuh mulai terganggu, misalnya rasa haus akan muncul.Tubuh lalu menghasilkan hormon anti-diuretik (ADH) untuk mereduksi produksi kencing diginjal. Tujuannya menjaga agar cairan yang keluar tidak banyak. Nah, air yang kita minumumumnya cukup untuk mengganti cairan yang hilang saat beraktivitas normal seperti bernapas, berkeringat, buang air kecil, atau buang air besar.
Saat dehidrasi, tubuh tidak hanya kehilangan air, tapi juga kehilangan elektrolit dan glukosa. Tak heran tubuh akan langsung merespons dehidrasi awal (kehilangan sekitar 2 persen cairan tubuh). Mulanya adalah rasa haus yang teramat sangat. Mulut dan lidah kering, air liur pun berkurang. Produksi kencing pun menurun.
Apabila hilangnya air meningkat menjadi 3-4 persen dari berat badan, terjadi penurunangangguan performa tubuh. Suhu tubuh menjadi panas dan naik, biasanya diikuti meriang. Tubuh menjadi sangat tidak nyaman. Nafsu makan hilang, kulit kering dan memerah, dan muncul rasa mual. (Author : Didit dan Velly)
Ketika cairan yang hilang mencapai 5 persen-6 persen dari berat badan, frekuensi nadi meningkat, denyut jantung menjadi cepat. Frekuensi pernapasan juga makin tinggi, napas jadi memburu. Yang terjadi selanjutnya adalah penurunan konsentrasi, sakit kepala, mual, dan rasa mengantuk yang teramat sangat.
Kehilangan cairan tubuh 10 persen-15 persen dapat menyebabkan otot menjadi kaku, kulitkeriput, gangguan penglihatan, gangguan buang air kecil, dan gangguan kesadaran. Dan apabila mencapai lebih dari 15 persen akan mengakibatkan kegagalan multi-organ dan mengakibatkan kematian.
Mekanismenya hampir sama dengan mekanisme haus!
4)      Pengertian Hipertemia
Hipertermi/hipertermia adalah keadaan ketika seorang individu mengalami atau beresiko untuk mengalami kanaikan suhu tubuh terus menerus lebih tinggi dari 37,8˚C per oral atau 38,8˚C per rectal karena faktor eksternal. Atau suatu keadaan dimana suhu tubuh sangat tinggi (mencapai sekitar 40˚C yang disebabkan gangguan otak atau akibat bahan toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu tubuh .
Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas titik pengaturan hipotalamus bila mekanisme pengeluaran panas terganggu (oleh obat dan penyakit) atau dipengarhuioleh panas eksternal (lingkungan) atau internal (metabolik)Sengatan panas (heat stroke) per definisi adalah penyakit berat dengan ciritemperatur inti > 40 derajat celcius disertai kulit panas dan kering serta abnormalitassistem saraf pusat seperti delirium, kejang, atau koma yang disebabkan oleh pajanan panaslingkungan (sengatan panas klasik) atau kegiatan fisik yang berat. Lingkungan yang terlalupanas juga berbahaya bagi bayi. Keadaan ini terjadi bila bayi diletakkan dekat dengansumber panas, dalam ruangan yang udaranya panas, terlalu banyak pakaian dan selimut.
Author : Didit dan Velly

Referensi :
ü  Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran edisi 11. Jakarta : EGC; 2008
ü  Fauci, et al. Harrison’s Principles of Internal medicine. United States of America : The McGraw-Hill Companies, Inc; 2008
ü  Marieb EN, Hoehn K. Human Anatomy & Physiology. United States of America : Pearson Education. Inc; 2007
ü  Sherwood L. Human physiology 7th ed. Canada : Brooks/Cole Cengage Learning; 2007.
ü  Texbook.
ü  Power point dosen
ü  Modul FKIK Blok4
ü  MISC FPD 2009/2010

Rabu, 04 Januari 2012

KETERAMPILAN MEDIK RADIOLOGI THORAX NORMAL DAN ABDOMEN NORMAL


Oleh : dr. Ana Majdawati
Author : Didit, Nisa, Lita, Kintan, Radius, Destha
1.      THORAX NORMAL
Gambaran radiologi (imaging) untuk foto polos pemeriksaan thorax tidak jauh berbeda dengan gambaran anatomi thorax manusia normal. Manusia harus sudah mempelajari secara seksama anatomi rongga thorax berikut organ-organ dalam rongga thorax serta vaskularisasinya. Sebelum mahasiswa mengenal berbagai penyakit paru jantung dan organ yang terlibat dalam rongga thorax, sudah seharusnya mahasiswa mempelajari gambaran radiologi thorax yang normal sehingga nantinya bila menjumpai kelainan yang berhubungan dengan thorax mahasiswa dapat mengidentifikasi dengan baik.

Gb. Normal Thorax
Pada foto thorax normal, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
1)      Posisi
2)      Simetrisasi
3)      Inspirasi
4)      Kondisi
2)      Author : Didit, Nisa, Lita, Kintan, Radius, Destha

1)      Posisi
Foto thorax sedapat mungkin dalam posisi berdiri (erect), kecuali pada pasien anak dan pada pasien dengan keadaan umum yang buruk maka foto dapat dibuat dengan posisi supine. Arah sinar proyeksi dari posisi PA (Posteroanterior) yang merupakan standar untuk foto thorax atau AP untuk melihat kondisi tulang.
Untuk membedakan posisi erect dan supine :
·         Erect : dibawah hemidiafragma sinistra terdapat gambaran udara dalam fundus gaster, yang disebut megenbalase;
·         Supine : udara dalam gaster bergerak ke bawah, sehingga karena superposisi dengan organ intra abdomen, udara ini tidak terlihat;
·         Erect : proyeksi PA;
·         Supine : proyeksi AP;
·         Erect : skapula tidak menutupi lapangan paru;
·         Supine : skapula berada dalam lapangan paru;
·         Supine : gambaran vertebra tampak jelas sampai thorakal ke 12.

2)      Simetrisasi
Foto thorax dibuat dalam kondisi simetri, yaitu melalui bidang yang melewati garis median, yang ditarik melalui titik-titik prosesus spinosus. Disebut simetris bila bidang tersebut berjarak sama antara sendi aternoclavicula kanan-kiri.

3)      Inspirasi
Foto thorax harus dibuat dalam keadaan inspirasi maksimal, karena bila tidak maka akan tampak pada foto :
·         Ukuran jantung dan mediastinum meningkat;
·         Corakan bronkovaskular meningkat.
Bila inspirasi cukup, maka akan tampak diafragma setinggi rawan costa VI didepan atau setinggi VTh X dibagian belakang.

4)      Kondisi
Yaitu faktor yang menentukan kualitas sinar X pada saat exposure. Pada kondisi kurang, foto thorax akan terlihat putih/samar, pada kondisi cukup vertebra akan tampak seluruhnya mulai dari V CI s/d VTh IV dan kondisi keras akan terlihat sampai vertebra Thorakal XII.
Setelah hal-hal tersebut dievaluasi, kemudian dilakukan pembacaan foto, supaya tidak ada yang terlewatkan bisa dilakukan dari lateral ke medial atau sebaliknya dari superior ke inferior, dsb. Yang dinilai :
a)      Corakan bronkovaskular : normalnya semakin ke lateral semakin menghilang. Bila corakan makin tampak pada daerah lateral paru, berarti corakan bronkovaskular meningkat;
b)      Parenkin paru : normalnya tidak tampak gambaran kalsifikasi atau infiltrat dilapangan paru;
c)      Keadaan hilus;
d)      Sinus costofrenikus : normalnya sinus costrofrenikus kanan kiri lancip dan tidak tertutup apapun;
e)      Diafragma : normalnya diafragma kanan-kiri licin, berbentuk konkav kearah paru;
f)       Cor : dinilai ukuran dan bentuknya. Pada dewasa normalnya berbentuk seperti sepatu dan CTR (Cardio Thorasis Ratio) kurang dari 0,5.
Faktor-faktor penting yang lain dalam membaca sebuah foto : identitas, yaitu : nama pasien, umur, tanggal dan waktu baca, marker.
Contoh pembacaan Foto Thorax normal posisi :
Foto thorax PA, errect, simetris, inspirasi dan kondisi cukup
·         Tampak kedua apex paru tenang;
·         Tampak corakan bronkovaskuler dikedua lapangan paru normal;
·         Sinus costophrenicus kanan-kiri lancip;
·         Diafragma kanan-kiri licin;
·         Cor : CTR kurang dari 0,56.
Kesan : Paru dan cor dalam batas normal.
Author : Didit, Nisa, Lita, Kintan, Radius, Destha

2.      ABDOMEN NORMAL

Gb. Abdomen Normal
Pada foto polos abdomen ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
1)      Gambaran Udara daam Usus
Gambaran udara dalam lumen saluran pencernaan pada foto polos abdomen tampak berwarna lusen dengan terlihat gambaran garis (dari lumen pada intestinal). Gambaran normal udara dalam abdomen : normal terdapat dalam lambung. Duodenum, usus halus terisi sedikit udara dan akan terlihat lagi dengan jelas di colon. Usus halus biasanya terlihat di sentral dan berukuran kecil sedang usus besar di perifer dan berukuran relatif lebih besar.

2)      Jaringan lunak (soft tissue) dan garis luar dari organ-organ intra abdominal (viscera outlines).
Garis luar pada jaringan lunak memberikan gambaran radiolusen karena adanya lapisan lemak yang melingkupi organ-organ intra abdomen tersebut. Beberapa organ yang kadang-kadang bisa terlihat : hepar, lien, kedua ginjal (renal out line), muscullus psoas mayor dan muscullus quadratus lumborum (psoas line).
Dalam jejenum tampak valvulae conniventes : garis tipis teratur membentang seluruh diameter lumen. Dalam ileum tak menyebabkan tampaknya pola lipatan mukosa ileum. Normal diameter usus halus tak lebih dari 3cm.

Gambaran Foto Polos Abdomen Pada Anak
Gambaran foto polos abdomen pada neonatus menunjukkan adanya udara di lambung (10-15 menit setelah kelahiran), udara di proksimal usus halus 30-60 menit setelah kelahiran, udara di bagian distal usus halus ± 6 jam setelah kelahiran dan udara di colon dan rektum ± 24 jam setelah lahir.
Secara umum foto polos abdomen pada anak berbeda dengan orang dewasa :
1.      Anak-anak mempunyai lemak (preperitoneal fat line) yang lebih sedikit dibanding dewasa, gambaran organ-organ dalam abdomen seperti renal fat outline, muscullus psoas sign tidak sebaik pada dewasa. Kita dapat melihat batas inferior dari hepar dan lien bila udara usus tidak menutupinya (superposisi).
Pada neonatus dan anak-anak mempunyai udara yang lebih banyak dibanding dewasa, kita dapat melihat udara diusus halus maupun usus besar. Kita tidak dapat membedakan gambaran udara diusus halus atau usus besar pada neonatus dan anak-anak karena tidak punya lipatan mukosa (mucosa folds). Kadang-kadang posisi udara dalam rongga abdomen bisa membedakan apakah dari usus halus atau usus besar. Jika terdapat gambaran udara dalam usus pada tepi kemungkinan besar adalah dari usus besar, tetapi kalu dicentral kemungkinan dari usus halus. Author : Didit, Nisa, Lita, Kintan, Radius, Destha
Contoh Video Radiologi :



Silahkan download video dan data-data lainnya dengan meng-klik link di bawah ini! Selamat mencoba!
LINK DOWNLOAD : 

Author : Didit, Nisa, Lita, Kintan, Radius, Destha
References :
·         Modul Basic Medical Sciences 1 FKIK UMY
·         Power Point Skills Lab
·         Text book