Kamis, 30 Mei 2013

Skenario 4 Blok 6 Part 2



HIPERSENSITIVITAS
Suatu reaksi hipersensitivitas biasanya akan terjadi sesudah kontak pertama kali dengan sebuah antigen. Reaksi terjadi pada kontak ulang sesudah seseorang yang memiliki predisposisi mengalami sensitisasi. Sensitisasi memulai respon humoral atau pembentukan antibody. Untuk menambah pemahaman mengenai imunopatogenesis penyakit, reaksi hipersensitivitas telah diklasifikasikan oleh Gell dan Coombs menjadi 4 tipe reaksi yang spesifik.
1.      Hipersensitivitas Anafilaktik (Tipe I)
Keadaan ini merupakan hipersensitivitasanafilaktik seketika dengan reaksi yang dimulai dalam tempo beberapa menit sesudah terjadi kontak dengan antigen. Kalau mediator kimia terus dilepaskan, reaksi lambat dapat berlanjut sampai selama 24 jam. Reaksi ini diantarai oleh antibody IgE (reagin) dan bukan oleh antibody IgG atau IgM. Hipersensitivitas tipe I memerlukan kontak sebelumnya dengan antigen yang spesifik sehingga terjadi produksi antibody IgE oleh sel-sel plasma. Proses ini berlangsung dalam kelenjar limfe tempat sel-sel T helper membantu menggalakan rekasi ini. Antibody IgE akan terikat dengan reseptor membrane pada sel-sel mast yang dijumpai dalam jaringan ikat dan basofil. Pada saat kontak ulang, antigen akan terikat dnegan antibody IgE di dekatnya dan pengikatan ini mengaktifan reaksi seluler yang memicu proses degranulasi serta pelepasan mediator kimia. Mediator kimia primer bertanggung jawab atas berbagai gejala pada hipersensitivitas tipe I karena efeknya pada kulit, paru-paru dan traktus gastrointestinal.
2.      Hipersensitivitas Sitotoksik (Tipe II)
Hipersensitivitas sitotoksik terjadi kalau system kekebalan secara keliru mengenali konstituen tubuh yang normal sebagai benda asing. Reaksi ini mungkin merupakan akibat dari antibody yang melakukan reaksi silang dan pada akhirnya dapat menimbulkan kerusakan sel serta karingan. Hipersensitivitas tipe II meliputi pengikatan antiodi IgG atau IgM dengan antigenyang terikat sel. Akibat pengikatan antigen-antibodi berupa pengaktifan rantai komplemen dan destruksi sel yang menjadi empat antigen terikat.
Reaksi hipersensitivias tipe II terlibat dalam penyakit miastenia gravis dimana tubuh secara keliru menghasilkan antibody terhadap reseptor normal ujung saraf. Contoh lainnya adalah sindrom Goodpasture yang pada sindrom ini dihasilkan antibody terhadap jaringan paru dan ginjal sehingga terjadi kerusakan paru dan gagal ginjal. Anemia hemolitik imun karena obat, kelainan hemolitik Rh pada bayi baru lahir dan reaksi transfuse darah yang tidak kompatibel merupakan contoh hipersensitivitas tipe II yang menimbulkan destruksi sel darah merah.
3.      Hipersensitivitas Kompleks Imun (Tipe III)
Kompleks imun terbentuk ketika antigen terikat dengan antibody dan dibersihkan dari dalam sirkulasi darah lewat kerja fagositik. Kalau kompleks ini bertumpuk dalam jaringan atau endothelium vaskuler, terdapat dua buah factor yang turut menimbulkan cedera, yaitu : peningkatan jumlah kompleks imun yang beredar  dan adanya aminavasoaktif. Sebagai akibatnya terjadi peningkatan permeabilitas vaskuler dan cedera jaringn. Persendian dan ginjal merupakan organ yang terutama rentan terhadap cedera ini. Hipersensitivitas tipe III berkaitan dengan sistemik lupus eritematosus, atritis remaotid, serum sickness, tipe tertentu nefritis dan beberapa tipe endokarditis bakterialis.
4.      Hipersensitivitas tipe Lambat (Tiper IV)
Reaksi ini yang juga dikenal sebgaai hipersensitivitas seluler, terjadi 24 hingga 72 jam sesudah kontak dengan allergen. Hipersensitivitas tipe IV diantarai oleh makrofag dari sel-sel T yang sudah tersensitisasi. Contoh reaksi ini adalah efek penyuntikan intradermal antigen tuberculin atau PPD (purified protein derivative). Sel-sel T yang tersensitisasi akan bereaksi dengan antigen pada atau didekat tempat penyuntikan. Pelepasan limfokin akan menarik, mengaktifkan dan mempertahankan sel-sel makrofag pada tempat tersebut. Lisozim yang dilepas oleh sel-sel makrofag akan menimbulkan kerusakan jaringan. Edema dan fibrin merupakan penyebab timbulnya reaksi tuberculin yang positif. Dermatitis kontak merupaka hipersensitivitas tipe IV yang terjadi akibat kontak dengan allergen seperti kosmetika, plester, obat-obatan topical, bahan aditif obat dan racun tanaman. Kontak primer akan menimbulkan sensitiasasi, kontak ulang menyebabkan reaksi hipersensitivitas yang tersusun dari molekul dengan berat molekul rendah atau hapten yang terikat dengan protein atau pembawa dan kemudian diproses oleh sel-sel Langerhans dalam kulit. Gejala yang terjadi mencangkup keluhan gatal-gatal. Eritema dan lesi yang menonjol.

OBAT KORTIKOSTEROID

Kortikosteroid adalah golongan obat hormonal. Bekerja dengan mempengaruhi ekspresi gen pada inti sel tubuh sehingga secara luas mempengaruhi efek kerja tubuh meliputi metabolisme elemen penting tubuh seperti karbohidrat, protein, lemak, dan keseimbangan cairan serta elektrolit tubuh. Selain itu ia mempengaruhi kerja sistem peredaran darah, imunitas, sistem kerja otot dan tulang, hormon, dan syaraf. Ia juga menekan efek peradangan yang erat kaitannya dengan kerja sistem imun.
Berdasarkan khasiatnya, kortikosteroid dibagi menjadi mineralokortikoid dan glukokortikoid. Mineralokortikoid mempunyai efek terhadap metabolisme elektrolit Na dan K, yaitu menimbulkan efek retensi Na dan deplesi K, maka mineralokortikoid jarang digunakan dalam terapi. Sedangkan glukokortikoid mempunyai efek terhadap metabolisme glukosa, anti imunitas, efek neuroendokrinologik dan efek sitotoksik.  Kortikosteroid bekerja sinergistik dengan agonis β2 dalam menaikkan kadar cAMP dalam sel. Kortikosteroid yang beredar di Indonesia di antaranya dexamethasone, betamethasone, methylprednisolone, prednisone, dan triamcinolone
Pengaruh kortikosteroid terhadap fungsi dan organ tubuh ialah sebagai berikut :

Metabolisme
Metabolisme karbohidrat dan protein.

Glukokortikoid meningkatkan kadar glukosa darah sehingga merangsang pelepasan insulin dan menghambat masuknya glukosa ke dalam sel otot. Glukokortikoid juga merangsang lipase yang sensitive dan menyebabkan lipolisis. Peningkatan kadar insulin merangsang lipogenesis dan sedikit menghambat lipolisis sehingga hasil akhirnya adalah peningkatan deposit lemak, peningkatan pelepasan asam lemak, dan gliserol ke dalam darah. Efek ini paling nyata pada kondisi puasa, dimana kadar glukosa otak dipertahankan dengan cara glukoneogenesis, katabolisme protein otot melepas asam amino, perangsangan lipolisis, dan hambatan ambilan glukosa di jaringan perifer.

Hormone ini menyebabkan glukoneogenesis di perifer dan di hepar. Di perifer steroid mempunyai efek katabolic. Efek katabolik inilah yang menyebabkan terjadinya atrofi jaringan limfoid, pengurangan massa jaringan otot, terjadi osteoporosis tulang, penipisan kulit, dan keseimbangan nitrogen menjadi negative. Asam amino tersebut dibawa ke hepar dan digunakan sebagai substrat enzim yang berperan dalam produksi glukosa dan glikogen.

Metabolisme lemak

Pada penggunaan glukokortikoid dosis besar jangka panjang atau pada sindrom cushing, terjadi gangguan distribusi lemak tubuh yang khas. Lemak akan terkumpul secara berlebihan pada depot lemak; leher bagian belakang (buffalo hump), daerah supraklavikula dan juga di muka (moon face), sebaliknya lemak di daerah ekstremitas akan menghilang.

Keseimbangan air dan elektrolit

Mineralokortikoid dapat meningkatkan reabsorpsi Na+ serta ekskresi K+ dan H+ di tubuli distal. Dengan dasar mekanisme inilah, pada hiperkortisisme terjadi: retensi Na yang disertai ekspansi volume cairan ekstrasel, hipokalemia, dan alkalosis. Pada hipokortisisme terjadi keadaan sebaliknya: hiponatremia, hiperkalemia, volume cairan ekstrasel berkurang dan hidrasi sel.


.

Indikasi Pemberian Obat Kortikosteroid


  1. Terapi pengganti (substitusi) pada insufisiensi adrenal primer akut dan kronis (disebut Addison’s disease), insufisiensi adrenal sekunder dan tersier.
  2. Diagnosis hipersekresi glukokortikoid (sindroma Cushing).
  3. Menghilangkan gejala peradangan : peradangan rematoid, peradangan tulang sendi (osteoartritis) dan peradangan kulit, termasuk kemerahan, bengkak, panas dan nyeri yang biasanya menyertai peradangan.
  4. Terapi alergi. Digunakan pada pengobatan reaksi alergi obat, serum dan transfusi, asma bronkhiale dan rinitis alergi

Efek samping obat kortikosteroid

1. Efek samping jangka pendek

  • Peningkatan tekanan cairan di mata (glaukoma)
  • Retensi cairan, menyebabkan pembengkakan di tungkai.
  • Peningkatan tekanan darah
  • Peningkatan deposit lemak di perut, wajah dan leher bagian belakang *orangnya jadi tambah tembem*


2. Efek samping jangka panjang.
  • Katarak
  • Penurunan kalsium tulang yang menyebabkan osteoporosis dan tulang rapuh sehingga mudah patah.
  • Menurunkan produksi hormon oleh kelenjar adrenal
  • Menstruasi tidak teratur
  • Mudah terinfeksi
  • Penyembuhan luka yang lama


Skenario 4 Blok 12 Part 2

ETIOLOGI INFEKSI KULIT
Penyakit kulit adalah penyakit infeksi yang paling umum, terjadi pada orang-orang dari segala usia. Sebagian besar pengobatan infeksi kulit membutuhkan waktu lama untuk menunjukkan efek. Masalahnya menjadi lebih mencemaskan jika penyakit tidak merespon terhadap pengobatan. Tidak banyak statistik yang membuktikan bahwa frekuensi yang tepat dari penyakit kulit, namun kesan umum sekitar 10-20 persen pasien mencari nasehat medis jika menderita penyakit pada kulit. Matahari adalah salah satu sumber yang paling menonjol dari kanker kulit dan trauma terkait.
Penyakit kulit untuk sebagian orang terutama wanita akan menghasilkan kesengsaraan, penderitaan, ketidakmampuan sampai kerugian ekonomi. Selain itu, mereka menganggap cacat besar dalam masyarakat. Namun akibat kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu kedokteran bekas luka kulit dapat berhasil dilepas dengan perencanaan plastik, terapi laser, pencangkokan kulit dan lain sebagainya.
Beberapa Penyebab Penyakit Kulit:
1. Kebersihan diri yang buruk
2. Virus
3. Bakteri
4. Reaksi Alergi
5. Daya tahan tubuh rendah

ANTIVIRUS
Virus adalah jasad biologis, bukan hewan, bukan tanaman, tanpa struktur sel dan tidak berdaya untuk hidup dan memperbanyak diri secara mandiri. Mikroorganisme harus menggunakan system enzim dari sel tuan rumah untuk sintesis asam nukleat,protein-proteinnya, dan perkembangbiakannya. Selanjutnya virus adalah mikroorganisme hidup yang terkecil (besarnya 20-300 mikron) kecuali prion yaitu penyebab penyakit sapi gila BSE dan P.
Infeksi virus
Penularan virus dimulai dengan pelekatan virus pada dinding sel, yang dihidrolisa oleh enzim-enzim.  Lalu DNA atau RNA memasuki sel, sedangakan salut proteinnya ditinggalkan diluar. Didalam sel virus bertindak sebagai parasit dan menggunakan proses-proses asimilasi sel yang bersangkutan untuk membentuk vrion-vrion baru. Dengan demikian perbanyakan (replikasi) tidak berlangsung melalui pembelahan vrion induk seperti bakteri. Pada proses ini sel-sel yang dimasukinya dirusak tetapi gejala-gejala penyakit baru mulai tampak bila perbanyakan vrion sudah mencapai puncaknya.
Penggolongan Virus
Virus yang paling sering mengakibatkan penyakit pada manusia dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yakni virus DNA dan virus RNA, dengan masing-masing DNA dan RNA di dalam intinya.
a.      Virus DNA meliputi antara lain kelompok herpes : herpes simplex (penyebab antara lain penyakit kelamin), herpes zoster (penyebab sinannaga, “shingles”). Dan varicella zoster (cacar air). Juga virus Epstein-Barr (demam kelenjar/”kissing disease”/ mono –nucleuosis infectiosa), parvovirus,adenovirus (gastroenteritis), variiola ( cacar, “sinallpox”), dan cytomegalovirus= CMV (pada pasien AIDS) termasuk kelompok virus ini juga. Human papillomavirus (HPV), yang menjadi penyebab kutil genital dan kanker cervix, menurut perkiraan ditularkan secara seksual.

b.      Virus RNA terpenting adalah HIV (penyebab AIDS), virus-virus hepatitis (penyakit kuning), rhinovirus ( salesma) dan polio virus ( penyebab lumpuh pada anak-anak polio myelitis). Begitu pula virus influenza (flu), rotavirus (diare), virus rubella (rode hond), bermacam-macam paramyxovirus : virus rubeola= morbili (campak=”measles”) dan virus beguk (“mumps”) serta berbagai flavivirus (yellow fever= demam kuning, dengue = demam berdarah).


Pengobatan infeksi virus
1.    Saluran pernapasan
A.    Amantadin dan rimantadin.
Khasiatnya beberapa obat antivirus berguna sebagai obat profillaktik misalnya amantadin dan derivatnya rimantadin menunjukan sama efektivnya dalam mencegah infeksi influenza A. (Amantadin juga efektif untuk pengobatan beberapa kasus penyakit Parkinson, diketahui bahwa antivirus amantadin yang digunakan dalam pengobatan influenza berpengaruh pula sebagai antiparkinson dimana fungsinya meningkatkan sintesis, pengeluaran atau ambilan dopamine dari neuron yang sehat.

Mekanisme kerjanya, mekanisme antivirus yang tepat untuk amantadin dan rimantadin belum diketahui pasti. Bukti-bukti terakhir menunjukan penghambatan terhadap protein membrane matrik dari virus, M2 yang berfungsi sebagai saluran ion. Saluran ini diperlukan untuk fusi beberapa membrane virus dengan membrane sel yang kemudian membentuk endosom. ( terbentuk bila virus masuk sel dengan cara endositosis).

Efek samping amantadin sebagian besar berhubungan dengan SSP. Gejala neurologi ringan termasuk imsonia, pusing dan ataxia. Efek yang lebih berat pernah dilaporkan ( Misalnya halusinasi, kejang). Obat harus diberikan hati-hati pada pasien dengan masalah psikaterik, aterosklerosis otak, gangguan ginjal atau epilepsy. Rimantadin menyebabkan reaksi SSP lebih sedikit karena tidak banyak melintasi sawar otak darah. Amantadin dan rimantadin harus digunakan hati-hati pada wanita hamil dan menyusui,  karena terbukti bersifat embriotoksik dan teratogenik pada tikus.

B.    Ribavirin
Khasiatnya digunakan untuk mengobati bayi dan anak-anak dengan infeksi RSV yang berat. Rerspon yang baik dari hepatitis A akut dan influenza A dan influenza B. ribavirin dapat menurunkan mortalitas dan viremia demam lassa.
Cara kerja obat ini dipelajari hanya untuk influenza. Ribavirin pertama diubah menjadi derivate prima-phosfat, hasil pertama berupa senyawa ribavirin triphosfat (RTP), yang  di phostulasikan bersifat antivirus dengan menghambat sintesis MRNA virus.
Efek samping : efek samping dilaporkan pada penggunaaan oral atau suntiakn ribavirin termasuk anemia tergantung dosis pada penderita demam lassa. Peningkatan bili rubin juga telah dilaporkan. Aerosol dapat lebih aman meskipun fungsi pernapasan pada bayi dapat memburuk  cepat setelah permulaan pengobatan aerosol dan karena itu monitoring sangat perlu. Karena terdapat efek teratogenik pada hewan percobaan, ribavirin dikontara indikasikan pada kehamilan.

2.    Pengobatan infeksi virus Herpes
A.    Asiklovir
Merupakan obat antivirus yang paling banyak digunakan karena efektif terhadap virus herpes.
Cara kerja : suatu analog guanosin yang tidak memilki gugus glukosa, menggalami monofosforilasi dalam sel oleh enzim yang dikode herves virus, timidin kinase. Karena itu, sel-sel yang di infeksi virus sangat rentan. Analog mono fosfat diubah ke bentuk di-dan trifosfat oleh sel penjamu. Trifosfat asiklovir berpacu denga deoksiguanosintrifosfat ( dGTP) sebagai suatu substrat untuk DNA polymerase dan masuk kedalam DNA virus yang menyebabkan terminasi rantai DNA yang premature. Ikatan yang ireversibel dari tempelate primer yang mengandung asiklovir ke DNA polymerase melumpuhkan enzim. Zat ini kurang efektif terhadap enzim penjamu.

3.    Pengobatan penyakit defisiansi imun didapat (aids)
A.    Zidovudin
Salah satu oabat yang paling efektif dan terakhir disetujui untuk pengobatan infeksi HIV dan AIDS adalah anolog pirimidin, tiga-azido-tiga-deokcitimidin ( AZT).
Cara kerja : AZt harus diubah menjadi nukleosid trifosfat yang sesuai dengan timidin kinase penjamu utnuk mendapatkan aktifitas antivirusnya. AZT-trifosfat kemudian dimasukkan ke dalam rantai DNA virus yang bertumbuh ( tetapi bukan iti prenjamu) oleh cadangan transcriptase. Karena AZT tidak memiliki hidroksil pada posisi 3’, kaitan 5’ sampai 3’ fosfodiester lain tidak terbentuk. Akibatnya sintesis rantai DNA terhenti dan reflikasi virus tidak terjadi.kekurangan relative transcriptase reverse virus ini disebabkan karena masuknya AZT keadalam proses yang dikatalisasi virus ; DNA-polimerase selular lebih efektif. Selain itu fosforilase asanm deoksitimidilat ( dTMP) menjadi difosfat ( dTDP) dihambat oleh azido-timidin-monofosfat ( AZT-MP).
Efek samping : meskipun kelihatannya bersifat spesifik AZT toksik terhadap sumsum tulang. Misalnay anemi dan ,leucopenia berat dapat terjadi pada pasien yang mendapat dosis tinggi. Sakit kepala juga dapat sering terjadi. Kejang telah dilaporkan pada pasien AIDS lanjut. Toksisistas AZT diperkuat jika glukuronidasi berkurang karena pemberian obat-obat seperti probenesid, asetaminophen, klorazepam, indometasin dan cimitidin.

4.    Iterveron
Iterveron merupakan glikoprotein yang terjadi alamiah jika ada perangsangan dan mengganggu kemampuan virus menginfeksi sel. Meskipun Interveron menghambat pertumbuhan bergbagai virus invitro, aktifitas invivo pada virus mengecewakan. Pada waktu ini iterveron disintesis dengan teknologi DNA rekombinan. Ada tiga jenis interferon yaitu alfa, beta dan gamma salah asatu dari 15 jenis alfa interveron, alfa 2 B telah disetujui untuk pengobatn hepatitis B dan C, dan terhadap kanker seperti leukemia sel berambut dan sarcoma Kaposi. Mekanisme kerjanya menyangkut induksi enzim sel penjamu ( misalnya: suatu protein kinase, 2’, 5’- oligoadenilat sintase dan fosfodiesterase) yang menghambat translasi RNA virus dan akhirnya menyebabkan degradasi mRNA dan tRNA iterveron diberikan secraa intravena dan masuk ke cairan sumsum tulang. Efek samping termasuk demam, letragi, depresi sumsum tulang, fgangguan kardiovaskular seperti gagal jantung kongestiv dan reaksi hipersensitif akut. Gagal hati dan infiltrasi paru jarang.

Obat Anti Inflamasi
Obat anti inflamasi dibagi menjadi dua, yaitu Steroid dan AINS.
Obat anti inflamasi (anti radang) non steroid, atau yang lebih dikenal dengan sebutan NSAID (Non Steroidal Anti-inflammatory Drugs)/AINS adalah suatu golongan obat yang memiliki khasiat analgesik (pereda nyeri), anti piretik (penurun panas), dan anti inflamasi (anti radang). Istilah "non steroid" digunakan untuk membedakan jenis obat-obatan ini dengan steroid, yang juga memiliki khasiat serupa. AINS bukan tergolong obat-obatan jenis narkotika. Inflamasi adalah salah satu respon utama dari system kekebalan tubuh terhadap infeksi atauiritasi. Adapun tanda – tanda inflamasi adalah :
1. tumor atau membengkak
2. calor atau menghangat
3. dolor atau nyeri
4. rubor atau memerah
5. functio laesa atau daya pergerakan menurun dan kemungkinan disfungsi organ atau jaringan

Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja anti-inflamsi non steroid (AINS) berhubungan dengan sistem biosintesis prostaglandin yaitu dengan menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam arakhidonat menjadi PGG2 menjadi terganggu. Enzim siklooksigenase terdapat dalam 2 isoform yang disebut COX-1 dan COX-2. Kedua isoform tersebut dikode oleh gen yang berbeda. Secara garis besar KOKS-1 esensial dalam pemelihraan berbagai fungsi dalam keadaan normal di berbagai jaringan khususnya ginjal, saluran cerna, dan trombosit. Di mukosa lambung aktivitas COX-1 menghasilakan prostasiklin yang bersifat protektif. Siklooksigenase 2 diinduksi berbagi stimulus inflamatoar, termasuk sitokin, endotoksindan growth factors. Teromboksan A2 yang di sintesis trombosit oleh COX-1 menyebabkan agregasi trombosit vasokontriksi dan proliferasi otot polos. Sebaliknya prostasiklin PGL2 yang disintesis oleh COX-2 di endotel malro vasikuler melawan efek tersebut dan menyebabkan penghambatan agregasi trombosit.
Contoh Obat-Obat Analgetik Anti Inflamasi Non Steroid (AINS)
Di bawah ini adalah obat-obat yang tergolong AINS, yaitu :

1.      Asam mefenamat dan Meklofenamat
Asam mefenamat digunakan sebagai analgetika dan anti-inflamasi, asam mefenamat kurang efektif dibandingkan dengan aspirin. Meklofenamat digunakan sebagai obat anti-inflamasi pada reumatoid dan osteoartritis. Asam mefenamat dan meklofenamat merupakan golongan antranilat. Asam mefenamat terikat kuat pada pada protein plasma. Dengan demikian interaksi dengan oabt antikoagulan harus diperhatikan.
 Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dispepsia, diare sampai diare berdarah dan gejala iritasi terhadap mukosa lambung. Dosis asam mefenamat adalah 2-3 kali 250-500 mg sehari. Sedangakan dosis meklofenamat untuk terapi penyakit sendi adalah 240-400 mg sehari. Karena efek toksisnya di Amerika Serikat obat ini tidak dianjurkan kepada anak dibawah 14 tahun dan ibu hamil dan pemberian tidak melebihi 7 hari.

2.      Diklofenak
Diklofenak merupakan derivat asam fenilasetat.  Absorpsi obat ini melalui saluran cerna berlangsung lengkap dan cepat. Obat ini terikat pada protein plasma 99% dan mengalami efek metabolisma lintas pertama (first-pass) sebesar 40-50%. Walaupun waktu paruh singkat 1-3 jam, dilklofenakl diakumulasi di cairan sinoval yang menjelaskan efek terapi di sendi jauh lebih panjang dari waktu paruh obat tersebut.
Efek samping yang lazim ialah mual, gastritis, eritema kulit dan sakit kepala sama seperti semua AINS, pemakaian obat ini harus berhati-hati pada pasien tukak lambung. Pemakaian selama kehamilan tidak dianjurkan. Dosis orang dewasa 100-150 mg sehari terbagi dua atau tiga dosis.

3.      Ibuprofen
Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang diperkenalkan pertama kali dibanyak negara. Obat ini bersifat analgesik dengan daya efek anti-inflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama seperti aspirin, sedangkan efek anti-inflamasinya terlihat pada dosis 1200-2400 mg sehari. Absorpsi ibuprofen cepat melalui lambung dan kadar maksimum dalam plasma dicapai dicapai setelah 1-2 jam. 90% ibuprofen terikat dalam protein plasma, ekskresinya berlangsung cepat dan lengkap.
Pemberian bersama warfarin harus waspada dan pada obat anti hipertensi karena dapat mengurangi efek antihipertensi, efek ini mungkin akibat hambatan biosintesis prostaglandin ginjal. Efek samping terhadap saluran cerna lebih ringan dibandingkan dengan aspirin. Ibuprofen tidak dianjurkan diminum wanita hamil dan menyusui. Ibuprofen dijual sebagai obat generik bebas dibeberapa negara yaitu inggris dan amerika karena tidak menimbulkan efek samping serius pada dosis analgesik dan relatif lama dikenal.

4.      Fenbufen
Berbeda dengan AINS lainnya, fenbufen merupakan suatu pro-drug. Jadi fenbufen bersifat inaktif dan metabolit aktifnya adalah asam 4-bifenil-asetat. Zat ini memiliki waktu paruh 10 jam sehingga cukup diberikan 1-2 kali sehari. Absorpsi obat melalui lambung dan kadar puncak metabolit aktif dicapai dalam 7.5 jam. Efek samping obat ini sama seperti AINS lainnya, pemakaian pada pasien tukak lambung harus berhati-hati. Pada gangguan ginjal dosis harus dikurangi. Dosis untuk reumatik sendi adalah 2 kali 300 mg sehari dan dosis pemeliharaan 1 kali 600 mg sebelum tidur.

5.      Indometasin
Merupakan derivat indol-asam asetat. Obat ini sudah dikenal sejak 1963 untuk pengobatan artritis reumatoid dan sejenisnya. Walaupun obat ini efektif tetapi karena toksik maka penggunaan obat ini dibatasi. Indometasin memiliki efek anti-inflamasi sebanding dengan aspirin, serta memiliki efek analgesik perifer maupun sentral. In vitro indometasin menghambat enzim siklooksigenase, seperti kolkisin.
Absorpsi pada pemberian oral cukup baik 92-99%. Indometasin terikat pada protein plasma dan metabolisme terjadi di hati. Di ekskresi melalui urin dan empedu, waktu paruh 2- 4 jam. Efek samping pada dosis terapi yaitu pada saluran cerna berupa nyeri abdomen, diare, perdarahan lambung dan pankreatis. Sakit kepala hebat dialami oleh kira-kira 20-25% pasien dan disertai pusing. Hiperkalemia dapat terjadi akibat penghambatan yang kuat terhadap biosintesis prostaglandin di ginjal.
Karena toksisitasnya tidak dianjurka pada anak, wanita hamil, gangguan psikiatrik dan pada gangguan lambung. Penggunaanya hanya bila AINS lain kurang berhasil. Dosis lazim indometasin yaitu 2-4 kali 25 mg sehari, untuk mengurangi reumatik di malam hari 50-100 mg sebelum tidur.

6.      Piroksikam dan Meloksikam
Piroksikam merupakan salah satu AINS dengan struktur baru yaitu oksikam, derivat asam enolat. Waktu paruh dalam plasma 45 jam sehingga diberikan sekali sehari. Absorpsi berlangsung cepat di lambung, terikat 99% pada protein plasma. Frekuensi kejadian efek samping dengan piroksikam mencapai 11-46% dan 4-12%. Efek samping adalah gangguan saluran cerna, dan efek lainnya adalah pusing, tinitus, nyeri kepala dan eritema kulit. Piroksikam tidak dianjurkan pada wanita hamil, pasien tukak lambung dan yang sedang minum antikoagulan. Dosis 10-20 mg sehari.
Meloksikam cenderung menghambat KOKS-2 dari pada KOKS-1. Efek samping meloksikam terhadap saluran cerna kurang dari piroksikam.

7.      Salisilat
Asam asetil salisilat yang lebih dikenal dengan asetosal atau aspirin adalah analgesik antipiretik dan anti inflamasi yang sangat luas digunakan. Asam salisilat sangat iritatif, sehingga hanya digunakan sebagai obat luar. Derivatnya yang dapat dipakai secara sistemik adalah ester salisilat dengan substitusi pada gugus hidroksil, misalnya asetosal. Untuk memperoleh efek anti-inflamasi yang baik dalam kadar plasma perlu dipertahankan antara 250-300 mg/ml. Pada pemberian oral sebagian salisilat diabsorpsi dengan cepat dalam bentuk utuh di lambung. Kadar tertinggi dicapai kira-kira 2 jam setelah pemberian. Setelah diabsorpsi salisilat segera menyebar ke jaringan tubuh dan cairan transeluler sehingga ditemukan dalam cairan sinoval. Efek samping yang paling sering terjadi adalah induksi tukak lambung atau tukak peptik, efek samping lain adalah gangguan fungsi trombosit akibat penghambatan biosintesa tromboksan.

8.      Diflunsial
Obat ini merupakan derivat difluorofenil dari asam salisilat, bersifat analgetik dan anti inflamasi tetapi hampir tidak bersifat antipiretik. Kadar puncak yang dicapai 2-3 jam. 99% diflunsial terikat albumin plasma dan waktu paruh berkisar 8-12 jam. Indikasi untuk nyeri sedang sampai ringan dengan dosis awal 250-500 mg  tipa 8-12 jam. Untuk osteoartritis dosis awal 2 kali 250-500 mg  sehari. Efek samping lebih ringan dari asetosal.

9.      Fenilbutazon dan Oksifenbutazon
Fenilbitazon dan oksifenbutazon merupakan derivat pirazolon. Dengan adanya AINS yang lebih aman, fenilbutazon dan oksifenbutazon tidak lagi dianjurkan digunakan sebagai anti-inflamasi kecuali obat lain tidak efektif.
Derivat pirazolon ini memiliki khasiat antiflogistik yang lebih kuat dari pada kerja analgetiknya jadi golongan ini hanya digunakan sebagai obat rematik. Fenilbutazon dimasukan secara diam-diam dengan maksud untuk mengobati keadaan lesu dan letih, otot-otot lemah dan nyeri.  Efek samping derivat pirazolon dapat menyebabkan agranulositosis, anemia aplastik, dan trombositopenia.


Author : Velly

Senin, 27 Mei 2013

Skenario 4 Part 1 2012

Skenario:
Seorang laki-laki 40 tahun dibawa ke rumah sakit karena sesak nafas mendadak. Keluhan ini muncul kurang lebih 15 menit setelah minum obat penghilang sakit gigi yang dia beli di toko obat. Pasien juga mengeluh keringat dingin, bibir bengkak dan bintik-bintik merah di seluruh badannya. Penderita memiliki riwayat sakit asma sejak 10 tahun yang lalu dan sering kumat-kumatan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan lemah, dengan tekanan darah 70/40 mmHg.
Pasien segera mendapatkan epinefrin subkutaneous (1:1.000, 0,3 mL), dan klorfeniramin intravena 45 mg dan metilprednisolon 60 mg. Tekanan darah meningkat menjadi normal kembali beberapa saat setelah pemberian epinefrin, dan lesi-lesi kulitnya mulai sembuh dalam beberapa menit. Pasien tetap diamati selama 5 jam dan dia sembuh total.


1.       Apa yang terjadi pada pasien tersebut?
2.       Mengapa pasien mendapatkan epinefrin,klorfeniramin dan metilprednison?
3.       Jenis- jenis alergi?
4.       Patofisiologi alergi?
5.       Mekanisme alergi?


1.       Pasien tersebut mengalami syok anafilatik akibat manifestasi dari reaksi hipersensitivitas tipe 1 akibat minum obat penghilang sakit gigi. Karena ada obat penghilang sakit gigi yang dapat menyebabkan efek samping berupa bronkokontriksi dan reaksi alergi dikulit
Reaksi Hipersensitivitas yaitu reaksi imun yang patologik, terjadi akibat respon imun yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan jaringan tubuh. Reaksi hipersensitivitas menurut Coombs dan Gell dibagi menjadi 4 tipe reaksi berdasarkan kecepatan dan mekanisme imun yang terjadi, yaitu tipe I, II, III, dan IV. Kemudian Janeway dan Travers merivisi tipe IV Gell dan Coombs menjadi tipe IVa dan IVb.
Reaksi tipe I yang disebut juga reaksi cepat atau reaksi anafilaksis atau reaksi alergi timbul segera setelah tubuh terpajan dengan alergen. Pada reaksi tipe I, alergen yang masuk ke dalam tubuh menimbulkan respon imun berupa produksi IgE dan penyakit alergi seperti rinitis alergi, asma, dan dermatitis atopi.
Etiologi tersering dari reaksi anafilaksis yaitu alergi makanan, obat-obatan, sengatan lebah (Hymenoptera) dan lateks. Anafilaksis yang terjadi pada pasien rawat inap terutama karena reaksi alergi terhadap pengobatan dan lateks, sedangkan anafilaksis yang terjadi di luar rumah sakit paling banyak disebabkan oleh alergi makanan.
Uji diagnostik yang dapat digunakan untuk mendeteksi hipersensitivitas tipe I adalah tes kulit (tusukan dan intradermal) danELISA untuk mengukur IgE total dan antibodi IgE spesifik untuk melawan alergen (antigen tertentu penyebab alergi) yang dicurigai. Peningkatan kadar IgE merupakan salah satu penanda terjadinya alergi akibat hipersensitivitas pada bagian yang tidak terpapar langsung oleh alergen). Namun, peningkatan IgE juga dapat dikarenakan beberapa penyakit non-atopik seperti infeksi cacing, mieloma, dll. Pengobatan yang dapat ditempuh untuk mengatasi hipersensitivitas tipe I adalah menggunakan anti-histamin untuk memblokir reseptor histamin, penggunaan Imunoglobulin G (IgG), hyposensitization (imunoterapi atau desensitization) untuk beberapa alergi tertentu.
2.       Indikasi epinefrin : menaikkan tekanan darah
Indikasi feniramin : Anti histamin
Indikasi metilprednison : drenokortikoid, antiinflamasi dan imunosupresan.
3.       Jenis- jenis alergi
a. Alergi makanan
Nah alergi makanan ini banyak sekali menyerang masyarakat di dunia tidak pandang bulu nah biasanya alergi makanan ini di sebabkan oleh Zat (alergen) bisa berupa protein yang tidak rusak ketika proses memasak atau saat berada di keasaman lambung. Akibatnya, alergen dapat masuk ke peredaran darah hingga mencapai organ tertentu dan menimbulkan reaksi alergi.nah makanan yang dapat menyebabkan alergi adalah seperti telur, susu, seafood, kacang-kacangan, makanan berpengawet, dan wijen.nah apabila seseorang mengalami alergi makanan,maka akan menimbulkan gejala seperti:
· Lidah dan tenggorokan terasa kering dan gatal
· Napas menjadi tersengal-sengal dan sesak
· Perut mual, kembung, nyeri ulu hati
· Diare dan/atau muntah
· Kulit menjadi gatal-gatal atau ruam
· Mata juga terasa gatal, merah, dan perih
· Batuk
· Bibir dan tenggorokan bengkak
· Hidung berair dan tersumbat
b. Alergi debu
Debu-debu yang tersebar di berbagai sudut rumah perlu anda waspdai karena debu ini akan menimbulkan alergi.dengan cara si debu akan terhirup oleh kita ketika menghirup napas.dan tungau yang hidup di kasur atau bantal berisi kapuk, kain, karpet, tirai, mainan berbulu, selimut, dan sebagainya,juga perlu di waspdai sebab binatang yang sangat kecil ini akan menimbulkan alergi.nah alergi debu ini akan menimbulkan gejala seperti bersin-bersin dengan frekuensi yang sering, pilek, hidung berair, rasa gatal pada hidung, dan hidung tersumbat.
c. Alergi kulit
Penderita alergi kulit sangat rentan terhadap zat-zat atau bahan kimia tertentu yang biasa terkandung dalam kosmetik, detergen, sabun mandi, karet, perhiasan imitasi, dan sebagainya yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Alergi kulit ini cenderung bersifat penyakit turunan.Gejala pada alergi kulit ditandai dengan gatal-gatal atau ruam pada kulit, kulit berwarna kemerahan, bengkak, dan lecet. Jika Anda menderita alergi kulit, perhatikan alergen penyebab reaksi alergi. Sebaiknya, Anda menghindari kontak langsung dengan bahan atau senyawa yang bisa menimbulkan iritasi pada kulit. Upayakan untuk tidak menggaruk kulit jika terasa gatal.
d. Alergi udara dingin
Alergi terhadap udara dingin merupakan peradangan di sekitar saluran hidung (mukosa) yang ditimbulkan oleh alergen berupa udara dingin. Alergi udara dingin ini menyerang sistem kekebalan tubuh yang bisa mengakibatkan bengkak pada jaringan dalam hidung, sehingga hidung pun tersumbat.Alergi udara dingin sering kali diidentikkan dengan penyakit flu. Padahal, keduanya adalah penyakit berbeda. Pada penderita alergi udara dingin biasanya tidak menunjukkan gejala demam. Namun, pederita sering mengalami bersin-bersin, tenggorokan terasa gatal, dan biasanya disertai mata merah dan berair.
e. Alergi matahari
Alergi ini merupakan reaksi sistem kekebalan terhadap sinar matahari yang sering membuat penderitanya mengalami sakit kepala, ruam gatal dan mual, tetapi juga dapat menyebabkan gejala separah lecet dan pendarahan di bawah kulit.
f. Alergi Keringat
Keringat bisa mengandung banyak racun yang dikeluarkan oleh tubuh. Orang-orang yang memiliki kulit sangat sensitif bisa bereaksi terhadap racun tersebut. Gejalanya: kemerahan, gatal, bahkan luka yang sangat sakit dan berlangsung selama beberapa jam.Seperti halnya beberapa alergi lain, dokter belum menemukan penyebabnya. Tapi dengan pengobatan sederhana, gejala bisa ditekan

4.       Patofisiologi alergi



Keterangan
·         A             : Alergen alergi memasuki tubuh
·         B             : Suatu molekul APC mengambil molekul alergen dan menyajikan ke epitop melalui MHC II ke permukaan.  Antigen sel diaktifkan dan berpindah ke KGB terdekat
·         C             :Kemudian mengaktifkan sel T yang mengenali alergen
·         D             : Pada saat yang sama sel B diaktifkan
·         E              : Sel Th 2 juga diaktifkan
·         F              : Sel B berdiferensiasi menjadi sel plasma kemuadian mengeluarkan imunoglobulin Ig E
·         G             : Ig E berikatan dengan mast cell dan kemudian mengeluarkan granula nya yang berisi histamin, prostatglandin, leukotrin dll
H             : Proses pengenalan ulang pada alergen yang sama pada pajanan berikutnya , yaitu langsung keluarnya mediator dari sel mast seperti histamin yang menyebabkan 5 gejala peradangan alergi : Panas, nyeri, kemerahan, bengkak dan gatal
               
5.       Mekanisme Alergi Hipersensitivitas Tipe I
Hipersensitivitas tipe I terjadi dalam reaksi jaringan terjadi dalam beberapa menit setelah antigen bergabung dengan antibodi yang sesuai. Ini dapat terjadi sebagai anafilaksis sistemik (misalnya setelah pemberian protein heterolog) atau sebagai reaksi lokal (misalnya alergi atopik seperti demam hay) (Brooks et.al, 2005). Urutan kejadian reaksi tipe I adalah sebagai berikut:
  1. Fase Sensitisasi, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan IgE sampai diikatnya oleh reseptor spesifik (Fcε-R) pada permukaan sel mast dan basofil.
  2. Fase Aktivasi, yaitu waktu yang diperlukan antara pajanan ulang dengan antigen yang spesifik dan sel mast melepas isinya yang berisikan granul yang menimbulkan reaksi.
  3. Fase Efektor, yaitu waktu terjadi respons yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek mediator-mediator yang dilepas sel mast dengan aktivitas farmakologik (Baratawidjaja, 2006).